
Jamal masih merasa tidak percaya jika hari ini Muna masih satu atap bersama dengannya di apartemen milik gadis itu. Jamal menyiapkan sarapan pagi nasi goreng rumahan plus kerupuknya hal yang sering dia lakukan sewaktu masih di kampung.
Begitu makanan sudah siap dirinya segera memanggil Muna keluar untuk sarapan bersama.
”Muna, ayo bangun!” teriak Jamal.
”Ish, ada apa sih pagi-pagi udah teriak-teriak terus!” sahut Muna membuka pintunya.
”Aku sudah buatkan sarapan, ayo kita sarapan bersama!” Jamal mendorong Muna ke kamar mandi.
”Segera cuci muka aku tunggu di luar!” Jamal segera keluar dari kamar Muna menunggu gadis itu di meja makan.
Butuh waktu sepuluh menit sebelum akhirnya Muna keluar sudah dalam keadaan segar. ”Apa aku terlalu lama?” Muna duduk di depan Jamal.
”Tidak juga bahkan kamu terlalu cepat untuk ukuran mandi seorang wanita karena biasanya mereka akan menghabiskan waktu berjam-jam di kamar mandi entah apa yang mereka lakukan di sana,” terang Jamal membuat Muna kembali memanyunkan bibirnya.
”Bukankah apa yang aku katakan benar? Kalian para wanita biasanya melakukan serangkaian perawatan diri mereka sendiri membuat para pria jengkel karena harus menunggu berjam-jam di luar sendirian,” tambahnya.
”Itu tidak benar, tidak semua wanita seperti itu! Apa semua ini kamu yang memasaknya?”
”Tapi kebanyakan iya, benar kan? Tentu saja siapa lagi hanya aku pria serba bisa dan juga tampan! Cepat lanjutkan sarapannya dan segera pulang aku khawatir papamu akan mencarimu dan melakukan hal-hal yang tidak aku sukai.”
Apa yang dikatakan Jamal benar tapi rasanya Muna enggan untuk pulang dirinya ingin berlama-lama di sini bersama dengan pria itu.
”Apa kamu tidak apa-apa jika aku tinggal?”
”Tentu saja tidak dan aku harus kembali bekerja mengerti!”
”Tidak tolong jangan dulu pergi ke sana aku khawatir orang-orang itu masih mengincar dirimu, sebaiknya kamu libur dulu atau aku akan meminta ijin pada bosmu nanti.”
”Tidak perlu aku sendiri yang akan bicara padanya nanti, sebaiknya kamu pulang.”
”Oke aku akan pulang tapi nanti setelah jam makan siang karena aku tidak mau bertemu dengan papaku, aku yakin beliau Asti masih di rumah hingga nanti jam makan siang.”
”Terserah jika kamu tidak mau kembali maka aku yang akan keluar dari tempat ini.”
”Aku tidak yakin kamu mampu melakukannya.”
”Kenapa tidak!”
”Kalau begitu aku tidak akan pulang, aku akan tetap di sini menemanimu!”
__ADS_1
”Astaga apakah aku harus menyeret dirimu dari apartemen milikmu sendiri?”
Mendadak Jamal merasa migrain kembali menyerangnya, berlama-lama debat dengan Muna kepalanya sakit.
”Terserah kamu saja yang penting kamu bahagia.” Jamal segera membawa piring dan membereskan meja makan.
”Aku merasa hidup bersama denganmu sangat nyaman dan juga kebahagiaan yang akan didapatkan,” ucap Muna.
Jamal hanya tersenyum samar mendengar perkataan Muna. Gadis itu mendekati Jamal yang sedang berdiri mencuci piring.
”Benar begitu kan?” Muna menyandar pada kabinet berlawanan dengan Jamal.
”Kenapa bisa demikian?”
”Karena kamu pria spesial selain tampan kamu juga pria yang serba bisa, bukankah demikian?” puji Muna.
Jamal hanya melirik sekilas lalu beralih ke lemari pendingin mengambil air minum dan menegak satu botol air mineral hingga tandas.
”Jadi menurutmu aku tampan? Kenapa baru sekarang kamu menyadarinya?” tanya Jamal memancing Muna mengakui perasaannya.
”Tidak sejak awal aku melihatmu di bengkel aku sudah jatuh hati,” ucap Muna.
”Bagus.”
”Jadi aku tidak usah capek-capek mencari tahu karena kamu sendiri telah mengakuinya, terima kasih.”
Muna merona mendengarnya ternyata Jamal memang sengaja memancingnya dan soalnya dirinya tidak tahu sehingga dengan jujurnya mengakui semuanya sekarang.
”Tapi aku tidak akan mengajakmu kencan ataupun jalan bersama, cukup menjalani kontrak perjanjian yang telah kita sepakati bersama jika sudah selesai berarti aku bebas kan?”
”Kenapa bisa demikian, apa aku kurang cantik buatmu?”
Jamal memasang wajah datar, dirinya tidak mau jika perasaannya justru akan menyakiti gadis yang perlahan mulai mengisi hatinya terlebih keluarganya sangat menentangnya terutama papanya.
”Aku yakin kamu pasti pasti tahu jawabannya Muna.”
Muna terdiam mendengarnya dia sangat yakin jika keluarganya adalah penghalang utaman dalam hubungannya bersama dengan Jamal.
***
Rizal masih di rumahnya padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh dirinya enggan untuk pergi ke kantor dan hanya menunggu Muna putri kecilnya yang sejak beberapa hari belum juga pulang dan tidak memberinya kabar.
__ADS_1
”Dimana Regan?” tanya Rizal pada Sinta yang sedang membaca majalah di teras belakang.
”Kamu mencari putramu? Jika dia tidak di kamarnya maka di kantor adalah markasnya, kemana lagi dia bahkan sama sepertimu gila kerja dan tidak memikirkan pasangan hidupnya,” tukas Sinta menutup majalahnya.
”Apa putrimu ada memberi kabar padamu?” Rizal kembali bertanya pada Sinta.
”Pa, anak-anak kita sudah dewasa sebaiknya beri mereka sedikit kebebasan jangan terlalu mengekang karena yang ada mereka akan jadi pemberontak di belakang kita,” ucap Sinta.
”Sok tahu kamu, Ma. Papa itu hanya ingin menjaga dia dari segala bentuk kejahatan, mama tahu kan bagaimana hidup di kota besar dan anak kita itu seorang gadis yang sedang ranum, dia cantik sexy.”
Panggilan ponsel milik Rizal mengalihkan perhatian mereka.
”Hallo, bagaimana apa kamu sudah menyelidikinya?”
”Sudah Tuan, semua berkasnya sudah saya kirimkan lewat email Anda tolong segera diperiksa. Saya siap menanti tugas berikutnya.”
”Baiklah saya akan mengeceknya sekarang, terima kasih bayarannya akan saya transfer segera.”
Bip.
Sinta yang mendengarkan pembicaraan tersebut langsung faham jika suaminya sedang melakukan sesuatu tanpa sepengetahuannya.
”Apa yang sedang papa kerjakan di belakang kita semua?” selidik Sinta.
”Tidak ada,” balas Rizal segera mengecek email yang masuk di ponselnya mendadak wajahnya merah padam kedua tangannya mengepal kuat seakan ingin menghantam seseorang.
”Apa yang terjadi?” Sinta khawatir dengan kesehatan suaminya terlebih melihat reaksinya setelah membuka ponselnya pasti ada sesuatu yang terjadi di luar sana.
”Coba mama hubungi Muna sekarang dan minta dia secepatnya kembali.”
Tanpa membantah lagi Sinta pun menuruti keinginan suaminya untuk menghubungi putrinya Muna. Beberapa kali panggilan tidak bisa terhubung membuat Sinta ikut khawatir.
”Dia tidak dapat dihubungi, bagaimana ini?” ucap Sinta cemas.
”Nah inilah yang aku khawatirkan dari yang namanya ’kebebasan’ yang tadi mama bicarakan, jika sudah begini bagaimana coba?”
Sinta gemetar mendengar perkataan Rizal. ”Lalu bagaimana Pa?”
Rizal memberikan ponselnya pada Sinta, jelas Sinta membaca sendiri laporan dari orang yang dipercaya suaminya.
”Ini bukankah pria yang dibawa putri kita tempo hari, Pa?”
__ADS_1
”Mama benar, statusnya seorang duda dan hanya bekerja di bengkel mobil. Papa tidak akan membiarkan Muna menjalin hubungan dengannya, apalagi dia hanya seorang pria kere yang tidak tahu diri.”
Kemarahan Rizal semakin besar pada Muna, dia marah karena mengetahui siapa Jamal yang sebenarnya, ditambah Muna putrinya jarang pulang ke rumah membuat kemarahannya semakin meledak-ledak. Rizal tidak merestui hubungan keduanya dan hendak melakukan apapun untuk memisahkan keduanya.