
Jamal terlihat kesal dengan sikap Muna yang terlalu kekanak-kanakan menurutnya tidak bisakah dia bersikap dewasa sedikit saja dan gadis itu telah melanggar aturan yang dibuatnya sendiri.
”Pulanglah!” Jamal meminta Muna untuk kembali ke rumahnya karena dia khawatir jika keluarga gadis itu mencarinya.
”Kau tenang saja aku sudah ijin dengan kakakku,” balas Muna.
”Tapi bagiku itu tidaklah cukup karena papamu pasti akan marah karena hal ini,” kilah Jamal.
”Astaga kamu mengkhawatirkan diriku?” Muna mendekati Jamal membuat pria itu bergidik ngeri karena sikap gadis itu.
”Tolong dengarkan aku bicara, bagaimanapun beliau adalah papamu terkait kau tidak suka dengan sikapnya jangan pernah kamu melupakan bagaimana beliau berjuang mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya,” tutur Jamal.
Muna tersenyum mendengar perkataan Jamal, ”Kamu benar papaku memang orang yang hebat saking hebatnya beliau melarang diriku berbuat sesuka hatiku, padahal kedua kakakku tidak ada masalah dengan mereka.”
”Karena kau itu seorang perempuan jadi kamu dibuat spesial oleh keluargamu, aku yakin orang tuamu pasti ingin memberikan yang terbaik untukmu kenapa kau justru melawannya,” ucap Jamal.
”Aku semakin suka denganmu rupanya aku tidak salah menentukan pilihanku kemarin. Kau pria dewasa,” lirih Muna seraya memainkan jari-jarinya di pipi Jamal seakan sedang menggodanya.
Jamal menatap ke arah Muna dengan tatapan kesal, ”Tolong lepaskan tanganmu, jangan menggodaku!”
”Semakin marah semakin menantang! Aku suka,” bisik Muna.
”Astaga kau ...”
Muna beranjak bangkit dari duduknya dan segera merapikan pakaian dan juga tasnya. ”Aku akan pulang tapi besok aku akan ke sini lagi tolong jangan pergi bekerja karena jujur aku kurang suka dengan gadis yang bersama denganmu di bengkel tadi sore.”
”Kau jujur sekali apakah kau sedang merasa cemburu?” sindir Jamal dengan berani berkata demikian karena merasa yakin jika Muna memang menyimpan rasa untuknya di awal pertama kali bertemu dengannya.
”Kamu percaya diri sekali, ya anggaplah demikian. Anda puas kan? Aku pulang sampai ketemu besok pagi, bye!”
Jamal mengacak rambutnya kasar setelah Muna pergi dari apartemen tersebut, ”Dia pintar menggoda apakah aku bisa bertahan bersama dengannya.”
Jamal mengingat bagaimana sikap Pak Rizal yang super galak tempo hari dan kembali nyalinya menciut karena statusnya hanyalah seorang duda dan berasal dari ekonomi menengah ke bawah bukan golongan seperti keluarganya Muna jadi pantas saja jika Pak Rizal sangat tidak menyukainya.
”Astaga kenapa aku harus berada dalam posisi yang membingungkan saat ini.”
Jamal segera mandi dan merebahkan tubuhnya di kasur hal itu lebih baik daripada pikirannya travelling kemana-mana.
__ADS_1
***
Jamal menggeliat manakala sinar matahari masuk ke kamarnya dan saat itu juga dirinya terkejut karena tangannya menyentuh sesuatu.
”Astaga tangan siapa ini?” gumam Jamal perlahan membuka matanya.
”Ya ampun, apa yang kamu lakukan?” pekik Jamal melihat Muna sangat dekat dengannya bahkan hanya beberapa centi saja di depannya.
”Maafkan aku kamu pasti terkejut kan?” seru Muna.
”I-iya kenapa kamu melakukan ini?” sahut Jamal.
”Maaf jika membuatmu tidak nyaman, aku sengaja datang lebih pagi agar bisa membawakan dirimu sarapan pagi ini.”
”Benarkah tapi tolong jangan tidur di sini!” ucap Jamal jujur dirinya merasa malu karena sikap Muna yang seakan sedang memancingnya.
”Kenapa? Bukankah aku juga cantik dan menarik. Tolong katakan padaku apakah mantan istrimu juga memiliki aras yang cantik seperti diriku?” selidik Muna.
”Kau ingin tahu?”
Jamal tersenyum miris mengingat kisah pernikahan yang harus kandas hanya karena masalah ekonomi.
”Maaf jika hal ini membuatmu tidak nyaman,” ucap Muna kemudian begitu menyadari raut wajah Jamal yang berubah sendu.
”Ayo bangun dan bersiaplah kita pergi ke kafe hari ini bagaimana?” tawar Muna.
”Aku harus bekerja,” tolak Jamal.
Muna pun langsung bangun dan segera menarik selimut yang dipakai olehnya membuat Jamal memekik karena tindakan gadis itu.
”Pergi atau kamu tidak akan bisa bergerak sama sekali!” ancam Muna.
”Ck! Kenapa dia jadi agresif sekali!” gumam Jamal.
”Baiklah aku akan bangun dan mari kita pergi!” sahut Jamal membuat Muna merasa senang karena keinginannya terpenuhi.
Muna pun menghubungi seseorang dan mengajaknya bertemu di kafe itulah yang terdengar di pendengaran Jamal.
__ADS_1
Di sinilah sekarang mereka bertiga sekarang. Muna membawa Jamal keluar dan duduk di kafe dengan temannya Haris.
”Jadi jelaskan padaku apa maksud semua ini?” desak Haris yang sudah tidak tahan lagi melihat sikap manja yang dilakukan oleh sahabatnya Muna.
”Apa kau sudah mengetahuinya jika kami sekarang sedang dalam masa berkencan!”
Jamal menoleh ke arah Muna sama dengan Haris yang terkejut mendengar pengakuan sahabatnya itu.
”Astaga tidak bisakah biasa saja, aku merasa kalian berlebihan,” ucap Muna kesal melihat sika kedua pria yang ada di depannya ini. ”Aku serius!” lanjutnya.
Haris menatap ke arah Muna dan Jamal bergantian dan berharap apa yang dikatakan Muna adalah sebuah kebohongan juga. ”Apakah papamu tahu akan hal ini?”
”Justru cinta ini tumbuh karena larangannya, aku tidak bisa untuk diam saja,” seru Muna. ”Kau tahu papaku bukan? Aku lelah jika harus menurut padanya,” tambah Muna.
Haris terlihat tidak suka dengan perkataan Muna teman bermainnya sejak kecil dirinya merasa tersingkirkan karena kehadiran Jamal pria yang baru dikenal Muna.
”Kamu sudah tahu jika papamu tidak menyukainya kenapa kau masih nekad bersama dengannya bukankah itu sama halnya dengan kau mematik api! Kau pasti tahu bagaimana watak papamu, Muna!”
”Ck! Jadi kamu membelanya dan mendukungnya dengan perjodohan yang akan dilakukannya padaku,” ujar Muna. kesal.
”Muna sudahlah lebih baik kita pulang saja!” ucap Jamal menengahi pertengkaran tersebut.
”Tidak Jamal, dia tidak mengerti seseorang melakukan sesuatu yang bertentangan pasti ada alasannya jadi kenapa kita harus menyalahkan orang lain yang belum tentu dia bersalah,” ucap Muna kesal pada Haris. ”Apakah kamu bersedia dijodohkan dengan orang yang sama sekali tidak kamu cintai?” tambahnya.
Haris hanya diam dan merasa bersalah mendengar perkataan Muna, dia sangat yakin jika gadis yang duduk di depannya sedang kesal padanya.
”Ayo kita pulang!” Muna menarik kursinya dengan cepat berdiri dan meraih tangan Jamal hal yang mengagetkan Jamal sekaligus Haris yang baru saja melihat Muna marah, tidak biasanya Muna bersikap seperti itu rupanya ucapan Haris sudah membuatnya semakin kesal.
”Muna maafkan aku, bukan maksudku untuk ...”
”Kamu tak perlu minta maaf, aku sendiri yang salah maafkan aku. Jamal, ayo kita pulang!” ucap Muna.
Keduanya meninggalkan kafe tersebut dan beralih ke tempat lain. ”Bagaimana jika kita nonton?”
Jamal membelalakkan kedua matanya, apa katanya tadi nonton? ”Tidak, aku bukanlah anak muda yang suka bersenang-senang menghamburkan uang hanya untuk kesenangan sesaat. Ayo kita pulang saja!”
Giliran Jamal yang menyeret Muna kembali ke apartemen. ”Pulang!”
__ADS_1