AKU DUDA KAU MAU APA?

AKU DUDA KAU MAU APA?
24. ADKMA-24


__ADS_3

”Sudah selesai silakan bawa pulang mobilnya!” seru Jamal pada Rara.


”Makasih Mas, berapa bayarnya?” sahut Rara.


”Jangan tanyakan padaku tapi datanglah ke admin, dia yang akan memberitahukannya,” tunjuk Jamal pada meja kasir.


”Duh, kenapa kamu semakin judes semakin mempesona Mas? Kenapa gak dari dulu kamu begini padaku, rasanya aku nyesel udah selingkuh denganmu. Apa masih ada kesempatan kedua untukku?” seru Rara membuat beberapa pegawai lain menatap ke arah mereka.


”Dasar sinting! Tidak akan pernah, kamu dengar sendiri kan pria tadi bicara apa denganmu? Aku calon adik iparnya itu berarti aku memiliki seorang kekasih jadi tolong jangan membuat perkara baru, sekarang bayarlah dan segera pulang aku tidak yakin jika suamimu tidak akan memarahi dirimu karena pulang terlambat!”


”Itu tidak akan terjadi karena dia sedang keluar kota menemui istri tuanya,” ucap Rara.


”Apa? Jadi kamu ... ?”


”Ternyata aku istri ketiganya Mas, dia bukan pria sejati sepertimu jika di ranjang. Aku nyesel udah ninggalin kamu,” lirih Rara mulai menangis membuat Jamal tak enak hati karena semua teman-temannya mulai berbisik-bisik dan menertawakannya.


”Sudahlah jangan bahas masa lalu, aku mau bekerja lagi. Maaf aku tinggal!” pamit Jamal, dirinya segera ke belakang menenangkan dirinya. Meskipun sudah tidak ada lagi perasaan untuk mantan istrinya namun mendengar penuturannya membuat Jamal tidak tega.


Sepersekian menit berlalu Ahmadi datang menepuk bahu Jamal mengagetkannya.


”Dia sudah pergi,” ucap Ahmadi.


Jamal menoleh, ”Jangan suka mengagetkan orang jika memiliki penyakit jantung bagaimana?”


”Sorry, lagian kamu bengong saja dari tadi. Apa kamu menyesal sekarang sudah merelakan dia dengan mantan bosmu itu?”


”Tidak ada kata menyesal dalam kamusku karena sebelum mengambil keputusan sudah aku pikirkan baik buruknya, aku hanya kasihan saja dengannya tidak lebih.”


”Oke ayo kita kembali kerja!”


Jamal menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu, dia ingin segera pulang ke apartemen dan membersihkan sisa-sisa kekacauan yang belum sempat dilakukannya tadi pagi.


”Kenapa lampunya menyala?” Jamal mengitari setiap ruangan berharap ada orang yang dia cari namun tak ada siapapun dan apartemen dalam keadaan bersih.


”Apa ada tukang beres-beres datang ke sini perasaan aku tidak memanggil siapapun.” Ponselnya bergetar dengan cepat Jamal membukanya begitu tahu siapa yang menghubunginya.


”Hallo, kamu baru pulang?”


”Ya baru saja sampai, tapi kenapa tempat ini sangat bersih padahal tadi pagi sangat berantakan.”


”Oh, itu aku meminta cleaning service datang jadi kamu bisa istirahat setelah pulang kerja. Bagaimana pekerjaanmu?”


”Lancar, tumben kamu bisa menelpon ku?”


”Aku sedang di kamar dan tidak ada orang di rumah makanya aku bisa menelpon dirimu. Aku merindukanmu.”

__ADS_1


”Ck! Baru juga tadi pagi berpisah baru beberapa jam.”


”Iya memang, tapi aku benar-benar ingin sekali bersama denganmu. Ayo kita menikah!”


”Mm ... itu lagi yang kamu katakan, aku tidak bisa menjawabnya. Bagi seorang laki-laki pernikahan itu butuh persiapan yang banyak dan lagi aku tidak mau mengecewakanmu membawamu dalam derita karena aku bukanlah orang kaya terlebih yang paling penting aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama seperti di masa lalu.”


”Aku mengerti, maafkan aku.”


”Oh iya tadi aku bertemu dengan Bang Regan ternyata dia adalah temannya bosku dan yang merekomendasikan diriku adalah dia.”


”Iya dia banyak teman karena dirinya suka berpetualang, baiklah kamu segera istirahat sepertinya ada orang datang. Bye!”


Bip.


***


Muna bahagia karena keluarga Dirga tidak jadi datang ke rumah hal itulah yang dikatakan oleh Rizal satu jam yang lalu dan yang lebih membahagiakan dirinya Rizal akan melakukan perjalanan bisnisnya ke luar negeri tentu saja dia akan bebas bertemu dengan Jamal.


”Muna, mama dan papa menunggumu di bawah!” teriak Brian.


”Baik Bang,” sahut Muna segera membuka pintu.


”Astaga apa kamu ... ”


”Apa yang salah, Bang?”


”Ingat kalian jaga dia dengan baik, jika papa mendengar hal buruk tentang adikmu maka jangan harap papa akan memberi kalian berdua makan,” seru Rizal mengancam kedua putranya.


Regan dan Brian hanya mengangguk cepat itu mereka lakukan agar Rizal segera pergi dan tidak menambah rentetan kalimat pada mereka. Mobil pun membawa keduanya pergi ke bandara.


”Asyik! Yeay, bebas!” seru Muna kegirangan namun baru beberapa detik dia kembali terdiam karena melihat tatapan horor kedua kakaknya.


”Muna tidak bisakah kamu sedikit lebih sopan?” ucap Brian kesal.


”Memangnya ada apa dengannya?” tanya Regan.


”Lihat saja penampilannya kayak anak AbeGeh saja, dia itu udah besar,” jawab Brian.


”Biarkan saja toh dia tidak kemana-mana, tapi jika dia memakai baju seperti itu saat keluar rumah jangan harap masih bisa pulang ke rumah,” seru Regan.


Mereka memang kembar tapi Regan dan Brian berbeda pandangan dalam segala hal dan hal itu sering membuat keduanya bertengkar. Muna, gadis itu kerap menjadi panengah bagi keduanya.


”Bang, papa kan udah gak ada di rumah,” ucap Muna.


”Lalu?” sahut Brian.

__ADS_1


”Kamu tetap di rumah!” ucap Regan cepat dirinya langsung faham dengan maksud dan keinginan adiknya itu.


”Yah, aku kan juga butuh hiburan, Bang. Terlebih kemarin aku sakit gak bisa kemana-mana, boleh ya please!” rengek Muna.


”Tidak boleh!” ucap Regan tegas berbeda dengan Brian yang kebingungan dengan pertengkaran yang sedang terjadi di antara keduanya.


Regan buru-buru ke kamarnya. ”Awas saja kalau kamu berani keluar, aku tidak akan membantumu jika mendapat masalah.”


Blam!


Suara pintu dibanting terdengar mengejutkan keduanya. Muna dan Brian saling pandang, Brian bergegas menyusul Regan sebelum adiknya itu merengek padanya.


”Ish dasar menyebalkan!” keluh Muna. Dia harus bersabar setidaknya untuk malam ini saja. Gadis itu menyeringai memikirkan apa yang akan dilakukannya besok pagi.


”Pagi, apakah semalam kamu bisa istirahat dengan baik?” sapa Regan duduk menikmati sarapannya.


”Tentu saja,” sahut Muna duduk di depan Regan.


”Apa kamu mau pergi?”


”Apa ini kentara sekali?” bisik Muna.


”Ganti pakaiannya sebelum Brian bangun dan memaksamu.” Regan memperhatikan Muna intens.


”Ish, aku mau keluar sebentar saja gak akan kok. Ya, please!” Muna merengek pada Regan.


”Ganti dulu bajunya!” titah Regan tak ingin ada bantahan.


”Baik aku akan menggantinya tapi nanti aku mau sarapan dulu.”


Regan segera bangun dan mengambil tasnya dirinya akan pergi ke kantor. Muna terlihat senang karena sebentar lagi dia benar-benar bebas.


”Aku pergi dulu, ingat ganti pakaiannya.”


Setelah memastikan Regan pergi Muna segera mengambil kunci mobilnya dan bergerak menuju ke apartemennya. Dia berharap Jamal belum berangkat kerja.


Muna segera masuk ke apartemennya yang terlihat sepi diliriknya jam tangan baru jam setengah delapan seharusnya Jamal belum berangkat. Muna mencari keberadaan Jamal di kamarnya, pria itu masih meringkuk di ranjangnya.


”Sayang, kenapa belum bangun?” bisik Muna.


Jamal mengerjapkan matanya mendengar suara yang sangat dikenalnya, apa dirinya sedang bermimpi.


”Kamu, kenapa sepagi ini sudah ada di sini?” Jamal terkejut melihat penampilan Muna yang seakan sedang menggodanya.


”Astaga, bagaimana aku bisa bertahan jika dia saja begini,” pekik Jamal menutup kedua matanya betapa Muna terlihat lebih sexy dari biasanya.

__ADS_1


”Kamu kenapa? Apa kamu sakit?” Muna terkejut melihat Jamal yang terlihat pucat.


”Ak-aku ... ” Jamal sangat frustasi.


__ADS_2