AKU DUDA KAU MAU APA?

AKU DUDA KAU MAU APA?
13. ADKMA-13


__ADS_3

Jamal nekad datang ke rumah Muna namun baru saja dia sampai di pintu gerbang, dia melihat beberapa mobil berjejer rapi di halaman depan rumah besar keluarga Rizal membuatnya urung untuk masuk ke rumah tersebut.


Jamal hanya menatap dari seberang jalan dilihatnya Pak Rizal tengah tersenyum bahagia menyambut tamu yang datang sedangkan Jamal hanya dapat tersenyum miris melihat dirinya sendiri, siapakah dia yang hanya seorang pria miskin tak memiliki harta dan tampang keren bukanlah jaminan dia lolos kriteria karena jaman sekarang uang lah yang dapat mengubah segalanya.


Jamal pun memberanikan diri untuk maju ke pos sekuriti bertanya pada petugas yang menjaga rumah tersebut.


”Selamat siang Pak, boleh tanya sesuatu?” tanya Jamal.


”Maaf di sini sedang tidak ada lowongan pekerjaan, Mas. Tapi nanti saya coba tanyakan sama majikan saya jika beliau sudah keluar barangkali butuh tukang kebon karena beberapa hari yang lalu baru saja pulang kampung,” balas Pak Satpam.


”Eh, bukan begitu Pak. Saya mau tanya soal Nona Muna apakah dia berada di rumah?” jelas Jamal.


”Oh Nona Muna, ada kok dia dipingit gak boleh keluar rumah sama juragan karena mau dijodohkan.”


”Dijodohkan? Dengan siapa Pak, kalau boleh saya tahu?” Jamal terkejut tapi juga merasa tidak ikhlas jika Muna menikah dengan orang lain.


”Boleh tahu kamu siapanya Nona Muna, takutnya salah bicara nanti soalnya juragan melarang saya kasih tahu orang luar,” ucap Pak Satpam hati-hati.


”Saya temannya sudah beberapa hari ini dia tidak kelihatan makanya saya ke sini karena khawatir tentang keadaannya. Ponselnya juga gak bisa saya hubungi, kira-kira kenapa ya Pak?”


”Wah kalau soal itu saya kurang tahu, tapi memang belakangan ini Nona Muna jarang sekali keluar itu juga karena larangan juragan jika tidak menurut maka dia gak dapat apapun. Itu sih yang saya dengar tempo hari.”


Jamal mengangguk setidaknya dia tahu keadaan Muna baik-baik saja dia sudah tenang. ”Pak tolong nanti sampaikan padanya jika saya datang mencarinya tapi tolong jangan sampai juragan besar tahu ya, khawatirnya beliau malah marah pada Nona Muna.”


”Baik nanti saya sampaikan.”


”Terima kasih.” Jamal pun pergi meskipun hatinya cukup kecewa mendengar kabar tentang perjodohan yang sedang terjadi namun dirinya berusaha untuk tetap tenang dan menunggu keputusan final dari Muna.


***


Suasana di dalam rumah Rizal cukup ramai terlebih Dirga selalu saja mencuri-curi pandang pada Muna dan hal itu membuat gadis itu risih dan juga kesal.


”Bang, kamu lihat kan bagaimana dia. Bagaimana menurutmu, bukankah lebih baik Jamal kemana-mana,” bisik Muna pada Regan. Regan pun tersenyum mendengar adik kecilnya menilai pria yang ada di depannya itu, adiknya memang cerdas.


”Kamu bisa saja,” sahut Regan.


”Tapi memang benar kan jika Jamal lebih baik darinya, lihatlah dia kekanak-kanakan sekali. Cih, aku sama sekali tidak menyukainya.”

__ADS_1


”Abang percaya kok kamu bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk.”


”Dia bukanlah tipeku!” bisik Muna kemudian Regan hanya dapat menahan tawanya mendengar pengakuan adiknya.


”Muna bagaimana, Nak?” tanya Abraham membuat gadis itu tersentak mendengar perkataan papanya.


”Eh apa bagaimana maksud papa?” Muna balik bertanya.


”Astaga anak ini,” geram Abraham.


”Maaf Pa,” lirih Muna.


”Jadi sejak tadi kamu tidak menyimak pembicaraan kami semuanya?” tebak Abraham. Muna hanya menggeleng pelan dirinya memang asyik bisik-bisik dengan Regan daripada mendengarkan pembahasan utamanya.


”Sudahlah Mas, jangan dipaksakan nanti juga lama-lama mereka akan terbiasa dengan sendirinya.”


Keluarga Pramono pun pulang dan Dirga seakan tidak mau berpisah dengan Muna.


”Om, bagaimana jika saya mengajak Muna pergi besok,” ucap Dirga sebelum masuk ke mobilnya.


”Makasih Om,” sahut Dirga senang mendapatkan respon Rizal yang mendukungnya berbeda dengan Muna yang tampak mencibir Dirga di belakang Regan.


”Ampun deh si papa memang nyebelin banget,” cerocos Muna setelah tamunya pergi.


Benar saja baru sehari setelah pertemuan keluarga, Dirga sangat aktif mengirim pesan pada Muna mulai dari sekedar menanyakan kabar bahkan mengajaknya jalan keluar namun Muna selalu mengabaikan pesan-pesan tersebut.


”Astaga ini membuatku gila. Bagaimana mungkin dia tidak menanyakan kabarku sama sekali padahal sudah beberapa hari aku tidak bertemu dengannya,” lirih Muna segera ke depan berniat mencari udara segar karena merasa suntuk berdiam diri di dalam kamarnya.


”Pagi Non, tumben keluar?” sapa Pak Satpam begitu melihat Muna keluar dari rumah.


”Bosen Pak, beberapa hari gak keluar meskipun sekedar jalan di mall.” Muna tersenyum miris bahkan kartu kreditnya pun disita oleh Rizal.


”Eh iya Non, tempo hari ada pria mengaku bernama Jamal datang ke sini.”


”Siapa Pak, Ja-Jamal?” ucap Muna spontan kaget.


”Benar, kalau gak salah waktu itu ada tamu lamarannya Non Muna,” jelas Pak Satpam.

__ADS_1


”Apa?” Muna terkejut mendengar penjelasan tersebut. ”Lalu dia bagaimana Pak?”


”Gak bagaimana sih Non, hanya saja di menanyakan perihal pesan yang tidak dibalas sama Non Muna dan lagi dia sudah senang jika mendengar Nona dalam keadaan baik-baik saja.”


”Ya ampun bapak makasih banyak ya Pak atas informasinya.” Tanpa melihat lagi, Muna segera berlari masuk ke kamarnya dan mengambil ponselnya mengecek pesan yang masuk ke sana dan benar saja dia melihat puluhan pesan dan ratusan miss call di sana.


Tiba-tiba Muna menyesal kenapa tidak dari kemarin dia mengaktifkan ponselnya. Muna mencoba menghubungi Jamal, jujur dia sangat merindukan pria itu hanya saja dirinya tidak tahu harus bagaimana karena takut jika nantinya Jamal pun akan terkena imbasnya.


”Hallo.”


Suara serak terdengar di ujung ponselnya.


”Maafkan aku karena baru membuka ponsel dan mengetahui pesanmu.”


”Bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu.”


Blush! Wajah Muna merah merona mendengar pernyataan Jamal yang membuatnya seakan melayang hingga langit ke tujuh.


”Apa kamu sedang merayuku?”


”Tidak, aku benar-benar merindukanmu. Muna kapan kamu ada waktu dan kita bisa bertemu?”


”Aku tidak tahu tapi akan aku usahakan agar aku bisa keluar dan bertemu denganmu.”


”Muna ayo cepat keluar ada Dirga di bawah!” teriak Sinta membuat Muna terkejut mendengarnya.


”Iya sebentar, Ma.”


Muna kembali menempelkan ponselnya di telinga kanannya.


”Aku akan mencari waktu yang tepat untuk bertemu denganmu, aku temui tamu dulu ya. Sampai nanti, bye!”


Muna segera menutup sambungan teleponnya, dirinya akan segera menemui Dirga dan berencana mengajaknya keluar dirinya berharap rencananya berhasil kali ini.


Menerima ajakan Dirga pergi keluar meskipun dirinya tidak menyukai pria itu tapi Muna berharap bisa menjadi jalan baginya untuk bertemu dengan Jamal.


”Aku akan segera bertemu denganmu, Jamal.”

__ADS_1


__ADS_2