
Ketiganya pulang telat waktu dan mencoba untuk tetap tenang tanpa melakukan hal yang mencurigakan agar Rizal tetap percaya terhadap keduanya.
”Apa kegiatanmu hari ini?” tanay Rizal pada Muna yang sedang menikmati nasi goreng buatan Sinta.
”Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh burung yang berada di dalam sangkarnya selain hanya makan dan tidur!” jawab Muna sengit.
”Astaga kenapa kamu semakin berani dengan orang tua!” bentak Rizal membanting sendok dan garpunya membuat kedua putra kembar dan istrinya terkejut. Muna masih bisa bersikap santai melihat kelakuan papanya.
”Jangan terkejut, Bang, Ma, bukankah watak papa memang begitu! Dia itu pria pemarah dan itu sangat menjengkelkan kan?” ucap Muna membuat Rizal semakin meradang mendengarnya.
”Kamu jangan bersikap begitu, Muna,” tegur Sinta.
”Tapi itu fakta kan mamaku yang cantik,” sahut Muna. ”Ingat, Pa. Orang sering marah-marah itu bukankah penyakit darah tinggi ya? Hati-hati lama-lama bisa stroke!” Giliran Muna yang meletakkan sendok dan garpunya namun terlihat lebih sopan daripada Rizal.
”Astaga anak itu sepertinya aku telah salah mendidiknya,” gerutu Rizal.
”Tidak ada yang salah denganmu Pa, dia memang berbeda lebih pemberani dibandingkan kedua kakaknya,” ujar Sinta.
Regan dan Brian saling tatap. ”Jadi mama kita kita berdua ini banci?” seru Brian angkat suara karena tidak terima dengan pernyataan mamanya.
”Bukan begitu, mama hanya suka saja melihatnya terlihat tegas seperti papamu itu. Pa, apakah kamu tidak melihat sisi liar putrimu itu adalah turunan darimu? Dia gadis yang keras kepala sama sepertimu waktu masih muda,” ungkap Sinta.
Mendengar pemaparan istrinya, Rizal tidak terima karena memang selama ini dirinya selalu saja egois dan tidak pernah mau mengalah terhadap istrinya.
”Sudahlah jangan berdebat bukankah kita semua keluarga kenapa masih saja meributkan hal-hal yang sepele,” tegur Regan setelah dirinya selesai menikmati makanannya dirinya langsung beranjak ke kamarnya. Jujur dirinya tidak suka tempat makan dijadikan ajang untuk bertengkar.
Brian pun ikut menyusul kakak dan adiknya dirinya seakan menjadi obat nyamuk ketika kedua orang tuanya saling bertengkar membicarakan sesuatu yang dianggapnya menyebalkan.
”Kamu lihat kan, Pa? Mereka semua enggan denganmu jadi jangan harap papa sudah berhasil menjadi seorang papa yang baik untuk anak-anaknya.” Sinta mendorong kursinya dan langsung ke kamarnya biarlah meja dan dapur menjadi tugas asistennya dirinya juga lelah dengan sikap Rizal yang selalu saja egois.
Ternyata Rizal tidak tinggal diam, dia mengikuti istrinya ke kamar.
”Ada apalagi?” tanya Sinta.
”Tolong ralat lagi perkataanmu itu, Ma!”
Sinta mengerutkan keningnya, ”Yang mana?”
__ADS_1
”Soal sikapku itu,” sahut Rizal.
”Tidak akan karena itu memang watakmu dan aku tidak akan mengubahnya selagi kamu masih sama seperti dulu. Ingat Pa, bukankah kita menikah pun atas dasar dijodohkan dan ini adalah hasil dari perjodohan itu. Apakah kamu yakin akan melakukannya terhadap putrimu sendiri?”
”Papa tega jika putri kita akhirnya menderita karena menikah dengan Dirga?”
Rizal diam sejenak. ”Tapi itu demi kebahagiannya sendiri, apakah mama tidak mengerti maksud dari tindakanku ini?”
”Tidak pernah dan bahkan aku sama sekali tidak mengenali suamiku lagi, sudah ya tolong jangan ganggu dia lagi hanya itu pinta mama.”
”Astaga,” Rizal kesal karena istrinya sendiri justru berada di pihak Muna.
***
Jamal bekerja dengan baik meskipun dia tergolong karyawan baru tapi cepat sekali beradaptasi dan hal itu membuat teman-temannya sangat menyukainya apalagi Jamal orang yang humble dalam bekerja.
”Kita makan siang di dalam saja ya?” ajak Ahmadi yang telah membeli dua nasi bungkus dan dua botol minuman.
”Makanlah!” pemerintah Ahmadi.
”Hidup di kota itu harus irit dan ingat tujuan awal kita datang ke tempat ini,” celetuk Ahmadi.
”Kamu benar.” Jamal mulai membuka bungkusan yang diberikan Ahmadi padanya. ”MasyaAllah nasi Padang, sepertinya enak sekali!”
”Iya memang aku membelinya pada adikku yang menikah dengan orang sana,” ungkap Ahmadi.
”Mulut penuh dilarang bicara, slow saja kamu seakan sedang kesambet karena mulutmu itu,” seru Jamal.
”Maaf,” ucapnya setelah meneguk air dalam botol. ”Menikah itu karena dua insan yang berbeda itulah keunikannya ketika sudah bersatu dalam satu ikatan akan menjadi unik karena biasanya akan banyak konflik yang bermunculan lalu apakah kamu sanggup jika menjalaninya bersama dengan gadis itu?”
”Kamu benar, tapi aku juga mencintainya,” tutur Ahmadi.
Pria itu hanya tersenyum mendengar pengakuan Jamal. ”Itu adalah hal yang wajar karena kamu kesepian dan tidak ada tempat untuk berkeluh kesah sehingga kamu berpikir dialah orang yang paling cocok.”
Jamal mengangguk mendengarkan nasihat dari temannya.
”Bukankah perasaan ini juga sama dengan dulu kamu saat masih bersama dengan mantan istrimu Rara?” lanjut Ahmadi.
__ADS_1
”Ya ampun kamu benar tapi tidak sepenuhnya semua benar karena saat aku bersama Rara aku tidak merasakan hal seperti ini,” keluh Jamal.
”Ya ampun kamu terlihat seperti ABG labil,” ujar Ahmadi kembali melanjutkan makannya.
Jamal terdiam merenungi perkataan temannya yang hampir seratus persen benar.
”Cepat habiskan makanannya kita harus menyelesaikan pekerjaan kita sebelum costumer datang!” tegur Ahmadi yang melihat Jamal kembali melamun.
”I-iya kamu benar.”
Baru seminggu Jamal bekerja bosnya sudah menyukainya karena memang kinerja pria itu bagus.
”Kenapa pulang terburu-buru?” seru Ahmadi.
”Aku akan berkencan dengan kekasihku!” sahut Jamal begitu keluar dari tempat kerjanya.
”Semoga sukses!” teriak Ahmadi sedangkan Jamal hanya mengacungkan jempolnya ke atas.
Kali ini Jamal akan menemui Mina di kafe langganannya. dia terlihat sangat bahagia sekali. Muna melambaikan tangannya begitu Jamal masuk ke kafe.
”Dimana abangmu?” Jamal mengedarkan pandangannya tak menemukan yang dia cari.
”Mereka banyak kerjaan jadi tidak bisa menemani tapi aku sendiri juga tidak akan lama di sini.”
”Kenapa apakah ada yang salah?” lanjut Muna begitu melihat ekspresi Jamal yang terlihat sedih.
”Sebenarnya aku hanya ingin mengucapkan terima kasih dengan mereka karena telah kembali membantu kita berdua, ini adalah ketiga kalinya kita bertemu bukan?”
”Kamu benar, jika bukan karena bantuan dari kedua abangku itu kita tidak akan pernah bertemu karena papaku sangat keras kepala dan lagi dia egois!”
”Kamu yang sabar ya, pasti akan ada jalan untuk kita berdua jadi kamu tenang saja aku tidak akan memikirkan semuanya semoga ini adalah jalan terbaik untuk kita nantinya,” ucap Jamal tangannya memegangi punggung tangan Muna yang berada di atas meja.
Muna pun tersipu namun itu hanyalah beberapa menit karena selanjutnya Rizal datang bagaikan bom yang siap meledak kapanpun.
”Jadi ini yang kamu lakukan selama papa tidak ada di rumah begitu?” teriak Rizal membuat seluruh pengunjung kafe beralih menatap padanya.
”Papa ... ”.
__ADS_1