AKU DUDA KAU MAU APA?

AKU DUDA KAU MAU APA?
7. ADKMA-7


__ADS_3

Haruskah Muna bahagia karena menemukan sosok pria yang dewasa. Ya, Jamal bersikap selayaknya pria yang dapat melindunginya dan juga menjadi penasehatnya apalagi kejadian di mall tadi siang membuatnya mengerti kenapa Jamal bisa dikatakan pria yang keren dan baru kali ini ada pria yang menolaknya jalan bersama.


”Dia sungguh keren!” gumam Muna melemparkan senyumnya.


”Apa yang terjadi jangan bilang jika adikku ini sudah gila!” tegur Regan yang sejak tadi mengamati mimik wajah adiknya diam-diam.


”Aish, kamu mengagetkan diriku Bang!” kesal Muna.


”Karena sejak tadi aku mengamatimu kamu seperti orang gila terkadang senyum terkadang cemberut jika bukan gila apa namanya? Lalu apa yang membuat adikku ini bahagia, huh!”


”Bang, apa Bang Regan pernah jatuh cinta?”


”Kenapa kamu bertanya begitu?”


”Ya, Muna hanya ingin tahu saja tidak lebih.”


”Pernah tapi dia menolak Abang karena orang tuanya mau menjodohkannya dengan pria lain.”


”Duh kasihan sekali, padahal Abang ganteng loh!” ujar Muna.


”Abang memang dari dulu juga sudah ganteng, apa kamu baru sadar?” seru Regan dengan penuh percaya diri membuat Muna meringis karena malu mendengar pengakuan itu.


”Sok ganteng!”


”Iya memang faktanya kan? Btw, bagaimana kabar hubunganmu dengan Jamal?”


”Bang, jatuh cinta itu memang buta, ya?”


”Apa maksudmu?” Regan menoleh ke arah Muna.


”Sepertinya aku benar-benar mencintainya.”


”Sungguh?”


Muna mengangguk, ”Tolong bantu Muna untuk mendapatkannya, Bang!”


”Akhirnya kamu mengakui juga jika dia orang yang kamu sukai tapi bagaimana dengan status keluarganya?”


Muna terdiam seketika mendengar pertanyaan Regan senyum yang awalnya mengembang di wajahnya perlahan menghilang.


”Apa ada yang salah dengan pertanyaan Abang, maaf jika kamu belum bisa menjawabnya tidak masalah yang terpenting kamu bahagia.” Regan menepuk bahu adiknya dan meninggalkan Muna di ruang tengah.


”Aish, kenapa tidak terpikirkan olehku sejak awal tapi dia sudah cukup baik dan aku tidak meragukannya lalu apalagi?” gumam Muna dalam hati.


”Muna, ayo bersiap untuk makan siang sebentar lagi papamu akan pulang kita makan siang bersama-sama,” seru Sinta yang diam-diam memperhatikan putri tunggalnya.


”Oh baiklah, Ma. Aku mau ke kamar dulu.” Muna beralih ke kamarnya mencari ponselnya dirinya ingin sekali menghubungi Jamal yang sedang bekerja.


Muna mengotak-atik ponselnya mencari nama Jamal.

__ADS_1


”Hallo, ada apa kamu menghubungiku?”


”Hallo, apa kamu sudah makan siang?”


”Sudah.”


Panggilan dialihkan menjadi video call.


”Kenapa kamu mengganti mode sambungannya?” Jamal terlihat kesal karena wajahnya dalam keadaan kotor penuh dengan oli.


”Aku hanya ingin melihatmu saja.”


”Ya ampun bahkan wajahku sedang dalam keadaan kotor!”


”Tidak masalah justru kamu terlihat sexy.”


”Astaga, siang-siang begini sudah mengajak mesum! Katakan ada apa lagi kamu menghubungiku?”


”Huh! Kenapa kamu begitu menyebalkan sekali sekarang! Aku menghubungimu karena aku merindukanmu, sudahlah lupakan saja aku tutup teleponnya sekarang!”


Bip.


”Sungguh menjengkelkan habis A ganti B semudah itukah?” Muna kesal dengan sikap Jamal.


***


Jamal terdiam setelah menerima telepon dari Muna dirinya seakan dibawa terbang namun hanya sebentar karena setelahnya dia kembali dihempaskan membuatnya terjatuh untuk kesekian kalinya.


”Apa yang kamu maksud gadis itu?” Arya menghampiri Jamal yang tengah berbicara sendiri.


”Kau mengagetkan diriku saja, hampir semua wanita begitu kan?”


”Tidak juga, bisa jadi kamu kurang peka dengan keinginannya sehingga wanita itu sering mengajakmu bertengkar karena kamu tidak memahaminya, mengerti?”


”Rupanya kamu lebih ahli dari yang aku kira,” seru Jamal.


”Tentu saja dan kamu harus belajar dariku mengerti!” ujar Arya berlagak sombong pada Jamal.


”Ini sudah sore, aku mau pulang dulu.” Jamal bersiap membersihkan dirinya dan bersiap untuk pulang.


”Aku duluan ya!” Arya meninggalkan Jamal lebih dulu ini adalah akhir pekan dan Arya merupakan salah satu pria yang lebih suka menghabiskan waktu untuk bersenang-senang berbeda dengan Jamal yang lebih memilih berdiam diri daripada di tempat keramaian.


Jamal melangkahkan kakinya menunggu taxi dan pulang ke apartemen milik Muna, sungguh dia ingin sekali menghindari dari semuanya tapi apalah daya dia sudah terlanjur masuk dan sulit baginya untuk bisa lepas terlebih Muna, gadis itu sangat posesif terhadapnya.


Taxi tak kunjung datang membuatnya memilih untuk berjalan lebih dulu seraya menoleh ke belakang berharap ada taxi yang lewat. Jamal terus melangkah kedua tangannya masuk ke kantong jaketnya, tepat di persimpangan ada beberapa orang yang seakan sedang menunggu kedatangannya.


”Hai, sini kamu!” teriak salah satu di antara mereka.


”Aku?” Jamal menunjuk ke arah wajahnya sendiri.

__ADS_1


”Iya kamu siapa lagi!”


”Maaf kita tidak saling kenal!” ujar Jamal.


”Iya kita memang tidak saling kenal maka dari itu ayo kita berkenalan.”


Bug!


Bug!


Bug!


Tiga kali pukulan mendarat di rahang maupun perut Jamal, meskipun pria itu bisa bela diri dirinya tetap kalah karena dikeroyok oleh beberapa orang.


”Tampang begini saja sudah berlagak sok paling tampan. Cih!” Salah satu dari mereka meludah ke wajah Jamal.


Bug!


Bogem mentah kembali mendarat di perut Jamal namun dia hanya dapat menahannya tidak ada orang yang lewat di sana karena jalanan sepi tidak mungkin dia berteriak meminta pertolongan ditambah dengan cahaya yang remang-remang mendukung para preman untuk menghajarnya habis-habisan.


”Ayo kita pergi sebelum ada patroli! Ingat jangan dekati lagi gadis itu jika masih saja melakukannya maka nyawamu yang akan melayang!” ancam salah satu pria yang diyakini adalah ketuanya.


Mereka pergi meninggalkan Jamal yang terkapar di pinggir jalan tubuhnya terasa nyeri semua dan dirinya tidak yakin apakah bisa pulang ke apartemen malam ini.


Jamal menghubungi Arya meminta bantuannya untuk mengantarkannya ke apartemen. Sahabatnya itu terkejut melihat keadaan temannya itu.


”Temani aku di sini ya!” pinta Jamal.


”Aku tidak mau, bagaimana jika gadis itu justru menyalahkan diriku karena tidak bisa menjaga kekasihnya ini,” ujar Arya.


”Semalam saja bukankah besok libur!” desak Jamal.


”Astaga aku tidak mau terlibat dalam urusan percintaan kalian, aku yakin ini ada kaitannya dengan gadis pemilik apartemen ini.”


”Kami benar, mereka mengancam diriku tadi.”


Jamal terlalu lelah lebih memilih tidur dan membiarkan Arya berjalan kesana kemari melihat isi apartemen milik Muna.


Siang harinya pintu terbuka Muna masuk ke apartemennya dan tidak menyadari jika Jamal ada di dalam sana.


”Astaga apa ini kenapa berantakan sekali?” pekik Muna melihat kotak obat masih berserakan di meja ruang tengah.


”Tunggu apakah dia baik-baik saja?”


Muna panik dan bergegas ke kamar Jamal pria itu tengah tertidur pulas dengan wajahnya yang penuh dengan luka lebam.


”Astaga apa yang terjadi, Jamal.”


Jamal terkejut karena mendengar teriakan Muna yang mengagetkan dirinya. ”Apa yang kamu lakukan!”

__ADS_1


”Aku yang seharusnya bertanya kenapa kamu seperti ini? Mana yang sakit apa sudah ke Dokter?” Muna memeriksa Jamal dan hal itu membuatnya merasa risih karena terlalu berlebihan menurutnya.


”Siapa yang melakukan semua ini, katakan padaku!”


__ADS_2