AKU DUDA KAU MAU APA?

AKU DUDA KAU MAU APA?
20. ADKMA-20


__ADS_3

”Bang ... ”


Jamal tersentak mendengar seseorang memanggilnya, dirinya mengangkat kepalanya yang menunduk dilihatnya Rara mantan istrinya ada di depannya.


”Rara, sedang apa kamu di sini?” tanya Jamal masih dengan keterkejutannya.


”Aku sedang memeriksakan kandunganku,” balas Rara mengusap perutnya yang sedikit membuncit.


”Oh. Mana suamimu?” Jamal mencari-cari mantan mandornya yang dulu.


”Dia ada di parkiran sedang mengambil mobil, Abang sendiri di sini ngapain?” tanya Rara penuh selidik.


”Aku mau menjenguk temanku yang dirawat di sini,” balas Jamal.


”Oh. Bang, apakah kamu sudah menikah lagi?”


”Untuk apa kamu bertanya hal itu padaku?” Jamal memalingkan wajahnya enggan menatap Rara.


”Apakah sedalam itu luka yang aku torehkan di hatimu sehingga kamu belum juga move on dariku?” ucap Rara sangat percaya diri sekali.


”Hah? Apa maksudmu berkata begitu?”


”Ya karena Bang Jamal begitu mencintaiku sehingga tidak bisa melupakanku begitukah?” tebak Rara.


”Ck! Bahkan jika dunia ini sudah tidak ada lagi wanita aku tidak akan kembali denganmu Ra, tolong cepat menjauh dariku aku tidak mau suamimu jadi salah paham denganku.”


”Dia tidak akan tahu Bang, oh iya jika memang Bang Jamal tidak bisa melupakanku aku akan dengan senang hati meninggalkan suamiku dan kembali padamu,” bisik Rara kemudian.


”Dasar sinting! Itu tidak akan pernah terjadi!” kesal Jamal melihat Rara pergi meninggalkannya.


Kenapa dunia ini sempit sekali dan dirinya diharuskan bertemu lagi dengan Rara mantan istrinya dan sekarang justru dia semakin mengejek keadaannya. Jamal kembali menunduk begitu melihat pergerakan Haris dan Sinta keluar dari ruangan Muna. Jamal bergegas menyelinap masuk ke ruangan Muna.


”Ja-jamal,” pekik Muna terkejut melihat sosok yang dirindukannya ada di ruangan ini. ”Ini bukan mimpi kan? Bagaimana kamu bisa masuk ke sini?”


”Itu tidak penting bagaimana keadaanmu?” tanya Jamal khawatir setelah melihat kondisi Muna yang terlihat lemas di tempat tidur. Bagaimana tidak gadis itu menyiksa dirinya sendiri dengan tidak makan dan minum berhari-hari.


”Jamal ayo kita kawin lari!” ajak Muna dan hal itu membuat Jamal kembali frustasi mendengarnya.


”Tidak adakah cara lain untuk bersama selain hal itu, tidak bisakah kamu menungguku sedikit saja karena aku sedang membuktikan pada papamu jika aku mampu membuatmu bahagia meskipun uangku tidaklah banyak.”


Muna menangis mendengar kalimat yang diucapkan oleh Jamal dirinya merasa bersalah karena kurang bersabar. Muna menatap ke arah jam yang menempel di dinding. ”Jamal sebaiknya kamu cepat pergi karena papaku sebentar lagi akan datang.”

__ADS_1


Tak ingin ada masalah baru dengan berat hati terpaksa Jamal pergi meninggalkan Muna sendirian di ruangan tersebut. Benar saja belum ada lima menit kepergian Jamal, pria itu berpapasan dengan rombongannya Rizal dan kedua putranya yang datang untuk menjenguk adiknya.


Jamal menunduk membenarkan posisi topinya namun Regan sangat mengenalinya dan dalam diam pria itu tersenyum senang karena ternyata Jamal ada keinginan untuk bertemu dengan adiknya.


***


”Kamu tahu, papa sangat menyayangkan tindakanmu ini,” ucap Rizal begitu sampai di ruangan putrinya.


Muna hanya diam mendengarkan perkataan papanya tanpa berniat membalasnya, tak selang berapa lama Dirga datang untuk menjenguk tunangannya.


”Bagaimana keadaan Muna, Om?” tanya Dirga yang membawa sekeranjang buah dan sebuket bunga.


”Baik, kamu datang sendiri?” Rizal balik bertanya pada calon menantunya.


”Iya Om, papa sama mama sedang keluar kota. Beliau titip salam buat Om dan tante Sinta,” ucap Dirga.


Rizal mengangguk, ”Tolong jaga dia baik-baik karena Om, juga harus pergi.”


”Baik Om,” sahut Dirga sedangkan Regan dan Brian mengikuti langkah Rizal keluar setelah membisikkan beberapa kalimat pada Muna.


”Kamu mau buah, aku kupas untukmu bagaimana?” tawar Dirga mencoba memberikan perhatian lebih pada calon istrinya.


”Tidak.” Muna langsung menolaknya. ”Sebaiknya kamu pergi saja karena aku juga mau istirahat.”


”Ya ampun, kamu begitu bebal ya,” ucap Muna berdecak kesal melihat sikap Dirga.


”Kamu gadis manja yang pernah aku kenal, tapi aku sangat menyukaimu. Kamu sungguh menantang dan aku tidak bisa untuk menyia-nyiakan kesempatan langka ini karena sangat jarang papamu memberikan kepercayaannya itu pada setiap orang.”


”Apa maksudmu?”


”Ya dengan begini setidaknya aku terlihat baik di depan papamu,” ujar Dirga.


”Dasar brengsek!”


”Astaga mulutmu pedas sekali tapi apapun itu aku tidak peduli.” Dirga mengambil ponselnya dan kembali bermain game di sofa dirinya mulai merasa jenuh apalagi Muna mengacuhkan dirinya.


Tepat saat Dirga akan tertidur, Haris dan Sinta datang, melihat kehadiran Dirga tentu saja Haris merasa kesal karena saat ini saingannya bertambah satu.


”Sejak kapan kamu di sini?” tanya Haris.


”Apa hubungannya denganmu, bukankah ini rumah sakit dan setiap orang bebas datang dan pergi,” jawab Dirga santai.

__ADS_1


”Ck! Kamu tidak tahu siapa aku?” tantang Haris.


Dirga justru mengejeknya. ”Kamu yang seharusnya tahu siapa aku.”


”Aku adalah calon suaminya jadi aku berhak di sini menunggunya hingga dia sembuh total!” seru Dirga.


”Pede sekali kamu! Kamu tidak tahu jika dia sudah memiliki kekasih?” ucap Haris membuat Dirga mengepalkan tangannya.


”Apa maksudmu bicara begitu!”


”Huh! Meskipun dia adalah calon istrimu tapi di luar dia jadi kekasih seseorang dan kamu sama sekali tidak mengetahuinya, kasihan sekali kamu itu!” ejek Haris.


”Siapa yang kamu maksud?” Dirga semakin penasaran.


”Kamu sungguh mau tahu?” ejek Haris.


”Cukup Haris jangan menambah masalah untukku, aku sedang penat dan butuh istirahat sebaiknya kalian keluar saja daripada mengganggu ketenanganku,” pinta Muna.


”Nak,” ucap Sinta yang mendengar pertengkaran ketiga anak muda itu.


”Sebaiknya kalian berdua keluar biar tante saja yang menjaganya,” seru Sinta.


Kedua pria itupun menurut dan segera keluar dari ruangan tersebut.


”Nak, tadi mama melihat Jamal di rumah sakit apakah dia sudah menemuimu?” tanya Sinta begitu keduanya keluar.


”Mama melihatnya?” jawab Muna.


”Tentu saja meskipun dia memakai topi dan berdandan lain sekalipun mama bisa mengenalinya. Nak, hati-hati ya. Mama tidak yakin jika papamu tidak akan marah jika mengetahui hal ini.”


”Mama tenang saja karena sepertinya papa tidak tahu, karena tadi Bang Regan juga memberitahukan padaku sebelum dia kembali ke kantor.”


”Jadi papamu juga ke sini dengan abangmu?”


Muna mengangguk, ”Ma, apakah mama merestui hubunganku dengan pria itu? Dia pria yang baik, sangat baik.”


”Muna baik saja tidak cukup Sayang, kamu tahu bagaimana papamu bukan?”


”Tapi kami saling mencintai, Ma! Apakah mama tega membiarkan kami berdua dalam keadaan putus asa karena papa tidak memberikan restunya, bisakah mama bantu kami nantinya dengan membujuk papa agar membatalkan pernikahanku dengan Dirga dan menyetujui hubunganku dengan Jamal.”


Sinta merasa berat karena dirinya sangat tahu bagaimana watak suaminya terlebih Jamal adalah seorang duda dan tidak memiliki harta seperti yang diagung-agungkan oleh Rizal selama ini.

__ADS_1


”Mama juga tidak yakin Sayang, tapi ...”


”Tolong kami, Ma.”


__ADS_2