
”Mau apa kamu kesini?” Jamal kesal karena Rara berada di bengkelnya.
”Aku hanya ingin bertemu denganmu saja, tidak boleh? Bukankah ini sudah waktunya pulang kerja?”
”Aku lembur jadi tolong jangan ganggu pekerjaanku,” sahut Jamal.
”Astaga semakin kamu marah semakin mempesona dan aku suka, aku benar-benar menyesal meninggalkanmu waktu itu.” Rara hendak mendekati Jamal namun segera beringsut mundur.
”Jika sudah tidak ada yang mau dibicarakan tolong segera pulang karena ini di tempat kerja,” ucap Jamal.
”Oh, aku akan menunggumu di luar jika begitu lanjutkan saja pekerjaanmu.” Rara segera berbalik menuju teras bengkel dan duduk di kursi yang disediakan di sana.
Tepat pukul lima Jamal mengendap-endap keluar lewat pintu samping karena tak ingin kembali bertemu dengan mantannya, dengan cepat dia sudah keluar menuju ke halte menunggu bus. Jamal ingin segera sampai ke apartemen untuk istirahat.
Di bengkel.
”Eh Bang tunggu!” Rara berteriak.
”Loh masih di sini?” ucap Ahmadi heran.
”Iya, aku menunggu Bang Jamal keluar, apa dia masih di dalam?” Rara celingukan mencari Jamal.
Ahmadi tersenyum, ”Sayang sekali dia sudah pulang sejak tadi.”
”Apa? Tapi bagaimana bisa, sejak tadi aku menunggunya di sini.”
”Ya begitulah.” Ahmadi mengedikkan bahunya. ”Aku permisi dulu.’"
Rara terlihat kecewa karena tidak berhasil bertemu dengan mantan suaminya. ”Awas saja kamu, Bang. Aku yakin besok pasti akan bertemu denganmu lagi.”
Apartemen Muna.
Jamal tergesa-gesa masuk begitu sampai di ruang tamu bau wangi masakan tercium dengan cepat dia menuju ke dapur.
”Tante?” Jamal terkejut melihat kedatangan Sinta di sini, apakah Muna juga berada di sini. Melihat keadaan Jamal, Sinta langsung memberitahukannya jika Muna berada di dalam kamarnya.
”Dia ada di kamarnya, kami sengaja ke sini lebih dulu setelah pulang dari rumah sakit,” ujar Sinta.
”Saya temui dia dulu, Tante,” ucap Jamal berpamitan pada Sinta.
Jamal langsung masuk ke kamar Muna tanpa mengetuk pintu lebih dulu karena khawatir akan mengganggunya. Gadis itu tengah terbaring di tempat tidur.
”Eh kamu sudah pulang?” Muna mencoba duduk.
”Iya, berbaring saja jika belum kuat.” Jamal membantu Muna duduk.
”Baru pulang?” Muna menatap intens pada Jamal.
”Mm. Kamu mau minum?” tawar Jamal.
”Tidak, aku baru saja minum. Bagaimana pekerjaanmu?” Muna memegang tangan Jamal.
”Baik, kenapa kamu ke sini?”
__ADS_1
”Tidak boleh?”
”Bukan begitu aku khawatir papamu akan marah padaku karena telah membawa kabur putrinya.”
”Menikahlah denganku,” pinta Muna.
”Sayang, bukannya aku menolak tapi sungguh aku belum siap mengingat papamu sangat menginginkan menantu yang sempurna.”
”Ya aku tahu, tapi aku juga tidak ingin berlarut-larut dalam keadaan yang tidak jelas seperti ini.”
”Bersabarlah, kita pasti bisa meluluhkan hati papamu.”
”Ayo kita makan malam!” ajak Sinta tiba-tiba datang menghampiri keduanya. ”Mama sudah masak bubur untukmu, Jamal ajak dia keluar!”
”Baik Tante.” Jamal pun menggendong Muna keluar menuju meja makan.
***
Jamal terlambat ke bengkel itu karena Muna merengek tak ingin ditinggal, gadis itu enggan untuk pulang dan ingin tetap di apartemen hingga Jamal pulang kerja. Namun Jamal tak ingin ada masalah baru yang datang ketika masalah yang lama belum terselesaikan.
”Kenapa dengan mobilnya Pak?” tanya Jamal begitu melihat mobil Lamborghini terparkir di tepi jalan. Jamal seakan mengenal mobil tersebut.
”Tiba-tiba mati, Mas,” jawab sang sopir.
”Boleh saya cek?”
”Silakan.”
Pak sopir hanya menggeleng.
”Begini bapak, di sana ada bengkel kebetulan saya kerja di sana bapak bisa percayakan ini sama saya.”
”Oh begitu baiklah, terima kasih.”
”Sama-sama Pak.” Jamal kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan pak sopir segera mengambil alat-alatnya untuk mengganti akinya.
”Kamu terlambat!” tegur Ahmadi.
”Maaf, aku harus membantu mobil yang mogok di tepi jalan.” Jamal terlihat terburu-buru membuat Ahmadi keheranan melihatnya.
”Ayo ikut aku bantu aku memperbaiki mobilnya!” Ahmadi hanya menurut mengikuti langkah Jamal menuju ke arah mobil yang mogok. Dengan cepat Jamal bekerja memastikan sistem kelistrikan aman sebelum melakukan pengisian aki tersebut.
”Silakan dicoba!” titah Jamal.
Mesin pun kembali dinyalakan. ”Alhamdulillah, terima kasih banyak atas bantuannya. Berapa total semuanya?” tanya Pak sopir.
”Silakan dengan teman saya karena dia yang akan mengurusnya,” jawab Jamal menutup kap mobilnya membereskan perlengkapan yang dibawa olehnya.
”Mas, sepertinya kita pernah ketemu?” ucapnya Pak Sopir.
”Benarkah?” Jamal ingin memastikan karena dirinya pun merasa familiar dengan pria paruh baya di depannya ini.
”Anda pernah datang ke rumahnya Pak Rizal bersama dengan Non Muna,” jelasnya.
__ADS_1
”Ya ampun, Anda benar jadi ...?”
”Ini mobil saya yang bawa dan Pak Rizal sudah pulang lebih dulu menggunakan taxi karena khawatir dengan keadaan putrinya.”
”Oh.”
”Apa Mas Jamal sudah menemuinya? Non Muna di rumah sakit tapi sudah pulang ke rumah.”
”Iya saya sudah bertemu dengannya, titip salam ya,” ucap Jamal.
”Kalau begitu terima kasih saya pamit dulu.”
Jamal mengangguk. ”Hati-hati.”
Keduanya menatap mobil yang pergi melesat menjauh dari tempat itu.
”Jadi kamu baru saja bertemu dengan kekasihmu makanya kamu datang terlambat?” tanya Ahmadi.
”Bukan baru saja tapi sejak kemarin sore dia ada di apartemen bersama dengan mamanya.” Jamal terlihat lesu setelahnya.
”Apakah ada masalah lagi?”
”Aku sedang bingung karena gadis itu memaksaku dan terus saja menggodaku semalaman. Kamu tahu kan aku ini pria normal, jika disuguhi hal semacam itu apakah imanku kuat?”
”Hah? Maksudmu?”
”Semalam dia memintaku untuk menidurinya dengan alasan jika dia hamil papanya bakal merestui hubungan kita, tapi aku yakin bukannya restu yang didapatkan justru aku yang dihajar habis-habisan oleh kedua kakaknya.” Ahmadi tergelak mendengar penjelasan Jamal.
”Jangan menertawakan diriku!”
”Aku tidak habis pikir dengan pemikiran gadis ini, dia begitu agresif terhadapmu padahal dia cantik tapi kenapa justru mengejar dirimu yang hanya seorang duda biasa. Biasanya orang-orang kaya akan selalu menjodohkan anaknya dengan orang yang sepadan dengan mereka,” jelas Ahmadi.
”Sok tahu, kamu pikir aku tidak layak untuknya?” kesal Jamal.
”Bukan begitu, Ish! Makanya nonton drama! Kisahmu ini seperti kisah di drama-drama gitu.”
”Hem, mana ada pria nonton drama. Ck! kurang kerjaan saja.”
”Aku mendengar juga dari istriku karena dia yang suka melihatnya setiap hari,” jelas Ahmadi.
”Ah iya aku hampir lupa jika kamu sudah beristri.”
”Kemungkinan kekasihmu itu sudah kehabisan akal dan ingin mempraktekkan apa yang dilihatnya di drama tersebut, itu sih yang aku tangkap.”
”Astaghfirullah, sejauh itu kamu berpikir.”
”Ya apalagi, hubungan kalian berdua ditentang papanya mungkin jalan pikirannya buntu jadi hasil akhirnya begini. Sudah jangan terlalu dipikirkan, ayo kita kembali bekerja!”
Sepanjang hari Jamal hanya memikirkan perkataan Ahmadi jika benar itu yang terjadi apakah dia harus menuruti keinginan kekasihnya itu.
Bug!
”Apakah begini saja pekerjaanmu? Memalukan!”
__ADS_1