AKU DUDA KAU MAU APA?

AKU DUDA KAU MAU APA?
15. ADKMA - 15


__ADS_3

”Aku ingin tidur di sini malam ini!”


Jamal menatap Muna lalu menggeleng pelan. ”Jangan.”


”Kenapa tidak boleh? Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak saling meninggalkan satu sama lain,” ucap Muna seakan mengingatkan Jamal.


”Aku tahu tapi situasi saat ini tidak memungkinkan untuk kita bersama, tidak bisakah kamu menunggu untuk beberapa saat setidaknya sampai aku benar-benar membuktikan pada papamu jika aku juga bisa menjadi menantu yang baik untuknya.”


Muna memeluk Jamal, ”Maafkan aku tapi sungguh aku tidak bisa jika harus menunggumu berlama-lama. Bagaimana jika kita kawin lari saja.”


Muna menarik diri dari Jamal lalu memainkan kedua matanya agar Jamal menyetujui idenya.


”Itu sebuah ide konyol, jika kita lakukan itu sama saja dengan kita mempermalukan diri sendiri.”


”Kenapa begitu, kita saling mencintai bukan?” ujar Muna.


”Bukan begitu, kita tidak boleh ambil tindakan yang merugikan diri sendiri. Muna, percayalah aku tidak akan pergi kemana-mana lagipula aku juga sedang mencari pekerjaan baru.”


”Maafkan aku ... aku hanya tidak mau dijodohkan dengan Dirga. Hampir setiap hari dia terus saja menempel padaku dan aku tidak suka itu.”


”Sabar, hanya itu yang bisa kita lakukan setidaknya untuk saat ini,” ujar Jamal berusaha menenangkan Muna meski hatinya sendiri merasa tidak tenang mengingat Rizal adalah seorang ayah yang sangat pemaksa.


”Baiklah aku akan mencobanya.”


”Sekarang pulang,” perintah Jamal.


”Tapi ... ” Jamal mendorong tubuh Muna keluar lalu mengajaknya ke bawah dan menghentikan taksi untuknya.


”Aku akan datang lagi besok.”


”Tidak perlu memikirkan hal ini kita masih bisa bertemu sewaktu-waktu kan? Pergilah!” Jamal membukakan pintu taksi untuk Muna. Jamal hanya dapat memandang kepergian gadis itu, tekadnya makin kuat untuk segera mencari pekerjaan agar dirinya tidak lagi dipandang sebelah mata oleh Rizal.


”Besok aku akan mencari pekerjaan lagi semoga ada hasilnya,” lirih Jamal kembali ke apartemen.


Di tempat lain, Rizal terlihat kesal karena Muna tidak bersama dengan Dirga lantas kemana perginya anak itu. ”Regan, apa Muna ada menghubungimu?”


Regan yang sedang menata berkas pun mengalihkan perhatiannya pada Rizal. ”Tidak, Pa. Kenapa papa tidak memberikannya kebebasan seperti yang lain.”


”Astaga anak ini, tolonglah jangan coba-coba menasehati papa mengerti!”


”Pa, Muna itu adikku mana mungkin aku tidak ambil suara. Justru regan minta sama papa sebaiknya papa hentikan semuanya sebelum Muna nekad melakukan hal yang tidak kita inginkan, ingat Pa, dia itu seorang wanita berbeda dengan laki-laki yang kebanyakan nurut.”

__ADS_1


Rizal terkekeh mendengar penjelasan Regan, ”Jadi kamu sedang menakut-nakuti papa begitu ceritanya? Ck! Yang benar saja, papa mana mungkin kalah dengan gadis kemarin sore.”


”Ya anggap saja begitu karena papa belum tahu artinya the power of love!”


”Segera cari dia, papa akan menghukumnya nanti malam!” titah Rizal.


”Jika papa memarahinya dan sampai dia pergi jangan salahkan kami para abangnya karena kami mana mungkin membiarkan adiknya menangis!”


”Silakan karena papa benar-benar akan menindak tegas setiap kelakuan buruknya.” Rizal melangkah pergi setelah merapikan pakaiannya.


”Semoga papa bisa berubah meskipun terlambat, kasihan Muna,” lirih Regan.


***


Muna mengurung diri di kamarnya setelah pulang dari apartemennya, dia takut bertemu dengan Rizal dan hal itu tidak bisa dia hindari karena pastinya papanya itu akan sangat marah jika tahu bahwa hari ini dia telah membohonginya karena telah memanfaatkan keadaan dengan pergi bersama Dirga.


Sinta yang tahu akan hal ini pun hanya bisa pasrah mana mungkin dia bisa membantu putrinya karena semua tunduk pada aturan yang diucapkan oleh Rizal. Sinta merasa iba pada putrinya namun tidak dapat berbuat banyak untuk membantu.


”Sayang, keluarlah kita makan makan malam dulu!” teriak Sinta dari balik pintu.


Pintu terbuka Muna tersenyum. ”Ma, apa papa sudah pulang?” tanya Muna.


”Belum segera makan dan cepatlah naik!” titah Sinta hanya ini yang bisa dia lakukan untuk putrinya sekarang.


”Ya ampun anak ini, cepatlah makan dan kembali masuk mama tidak bisa membantumu jika papa kembali marah!” seru Sinta. Muna sendiri merasa terharu dengan perlakuan wanita paruh baya di depannya ini, meskipun papanya galak tapi Sinta berhati lembut.


Muna makan dengan lahapnya Sinta pun memandangnya dengan perasaan lega karena hingga detik ini suaminya belum juga pulang. Hingga tepat pukul tujuh malam, suara deru mesin mobil terdengar.


”Ma ... ” lirih Muna.


”Segera masuk ke kamarmu!”


Baru saja menarik kursi ke belakang, Rizal sudah lebih dulu masuk ke ruangan. ”Mau kemana kamu Muna?”


Muna menghentikan langkahnya menoleh ke belakang dengan senyum yang dia paksakan.


”Kemana kamu seharian ini bersama dengan Dirga?” Rizal menatap tajam ke arah Muna.


”Eh? It-itu ... ”


”Kamu mau bohongi papa?” teriak Rizal suaranya menggema di ruang makan.

__ADS_1


Rizal marah pada Muna dan hal ini berimbas pada Muna, dia dilarang keluar rumah meskipun bersama dengan Dirga sekalipun. Muna benar-benar dihukum karena telah membohongi pria itu.


Sedangkan di apartemen, Jamal tengah gelisah karena Muna kembali sulit dihubungi membuat pria itu frustasi.


”Aku harus mencari pekerjaan, agar bisa melepaskan dirimu Muna. Astaga kenapa sekarang aku jadi seperti anak muda yang labil hanya karena cinta,” pekik Jamal.


Sudah dua hari Muna tidak datang ke apartemennya dan dirinya pun berniat keluar untuk mencari pekerjaan baru karena tidak mungkin untuknya berdiam diri tanpa melakukan apapun.


Jamal memasukkan CV miliknya ke ’Garden Speed’ berharap dirinya bisa bekerja di sana, perusahaan yang sedang berkembang pesat belakangan ini. Harapan Jamal tidak muluk-muluk bisa membuktikan pada Rizal jika dia mampu menghidupi Muna nantinya.


”Kamu kan yang namanya Jamal, benar bukan?” tebak seorang mekanik bername tag Ahmadi.


Jamal mengingat-ingat sosok yang ada di depannya itu, seakan-akan sudah familiar dengan wajahnya.


”Astaga kamu pasti lupa kan siapa aku?”


Jamal menatap ke arah baju biru yang dipakai pria itu, ”Ahmadi?” pikir Jamal mengingat-ingat. ”Ya ampun, aku mengingatkannya. Apa kamu juga kerja di sini?”


”Benar, bukankah kamu sudah kerja bersama Arya?” tanya Ahmadi.


”Ada masalah di tempat lama, tapi yang jelas bukan karena kinerjaku yang tidak bagus melainkan ... ”


Ahmadi menunggu Jamal melanjutkan perkataannya yang terjeda dan mengikuti arah pandang pria itu.


”Siapa dia? Apa kamu mengenalnya?” tanya Ahmadi.


”Sebentar." Jamal segera menghampiri Muna yang sedang duduk bersama dengan seorang pria.


”Ja-jamal,” ucap Muna gugup dia tidak menyangka jika akan bertemu dengan pria itu di sini.


”Sedang apa kamu di sini?” Jamal menatap Muna lalu beralih pada sosok pria yang duduk di depan gadis itu.


”Aku makan siang dengannya kamu sendiri, kenapa ada di sini?” Muna balik bertanya.


”Itu tidak penting bagimu, jadi ini alasan kamu tidak datang.”


”Bukan begitu Jamal, kamu salah faham,” jelas Muna.


”Siapa dia Muna?” Dirga menatap penuh kebencian pada Jamal.


”Dia ... ”

__ADS_1


”Aku kekasihnya, kamu mau apa?”


__ADS_2