
”Regan,” panggil Sinta ketika putra bungsunya pulang ke rumah.
”Ada apa, Ma?” sahut Regan menghampiri Sinta yang sedang sibuk di dapur. Regan menyadari jika ada masalah yang sedang terjadi terlihat dari raut wajah Sinta yang terlihat sedih.
”Mama mau minta tolong padamu, Nak.” Sinta pun mulai menceritakan kronologinya pada Regan, pria itu tahu jika mamanya sedang kebingungan menghadapi masalah yang sedang terjadi.
”Menurutmu bagaimana?”
”Regan sebenarnya kurang setuju dengan rencananya papa, Ma. Bagaimanapun Muna juga memiliki hak untuk menentukan langkah hidupnya.”
”Ya mama ngerti akan hal itu, tapi sifat papamu itu sulit sekali ditebak dan sesuka hatinya dalam menentukan langkah anak-anaknya.”
”Sabar kita cari solusi sama-sama. Ya sudah mama jangan khawatir, Regan mandi dulu nanti biar Regan nasehatin Muna.”
Sinta mengangguk dan membiarkannya pergi lalu menyiapkan makan malam untuk Muna yang memang tidak mau turun untuk makan bersama sore tadi, Sinta berencana meminta Regan untuk membawa makan malamnya ke kamar.
Regan menarik nafasnya ketika berada di depan pintu kamar adiknya, dia yakin pasti Muna adiknya dalam keadaan buruk saat ini.
”Dek, boleh gak Bang Regan masuk!” ucap Regan pelan.
Pintu kamar pun terbuka memperlihatkan Muna yang berantakan dengan rambut acak-acakan. dan mata sembab habis menangis. Regan menurunkan bahunya manakala adiknya menatapnya meskipun tanpa senyum di wajah cantiknya.
”Makan dulu!” Regan meletakkan nampan di meja dan mengambil sisir di meja rias lalu merapikan rambut adiknya.
”Abang tahu kok kamu sedang dalam masalah, tapi kamu juga perlu makan. Bagaimana menghadapi papa jika tubuhmu saja tidak sehat.”
”Bang, Muna benci papa dia sudah benar-benar menyebalkan dan sekarang masalahnya papa udah kelewatan,” ucap Muna memekik.
”Apa yang sudah beliau lakukan?” tanya Regan.
”Abang tidak tahu?” tanya Muna dan Regan hanya menggelengkan kepala menanggapi perkataan adiknya dirinya memang tidak tahu menahu akan hal ini karena seharian sibuk di kantor.
”Papa memecat Jamal dari kerjaannya,” ucap Muna menggelengkan kepalanya merasa tidak percaya jika Rizal papanya tega melakukan hal itu pada kekasih bayarannya.
”Kamu yakin jika papa yang melakukan hal ini atau hanya spekulasi kamu saja,” tanya Regan.
__ADS_1
”Muna sangat yakin, Bang! Abang ingatkan bengkel yang biasa service mobil itu? Di sana Jamal kerja.”
Regan mengangguk jika benar demikian berarti papanya ada campur tangan dalam pemecatan Jamal. ”Sabar, nanti Bang Regan akan coba ngomong sama papa masalah ini. Makan yang banyak mengerti!” Regan mengacak rambut Muna gemas. Setelah dirasa cukup bicara dengan adiknya Regan segera menemui Rizal di ruang kerjanya.
”Jangan bilang jika adikmu yang memintanya!” Rizal nampak tidak suka dengan Regan yang selalu saja ikut campur urusannya.
”Bukankah papa sebagai orang tua seharusnya cukup menasehatinya saja, kenapa harus memecat orang. Pa, papa gak tahu bagaimana nasibnya di kampung halaman sehingga dia nekad pindah ke kota hanya untuk mencapai tujuannya.”
”Pria itu pikir di kota itu sangatlah mudah tanpa tekanan dan bisa hidup nyaman, dia keliru Regan!”
”Pa, setidaknya tidak mencampuri urusan keduanya itu sudah jauh lebih baik. Papa tega lihat Muna tidak makan dan mengurung diri di kamarnya? Jika dia sakit bagaimana, papa mau dia seperti dulu waktu kita mengabaikannya dia masuk rumah sakit.”
”Lalu papa harus mengalah padanya begitu?” Rizal berdecak kesal mendengar masukan dari Regan. ”Papa yang akan putuskan bagaimana Muna ke depan.”
Mendengar hal itu Regan sudah tidak dapat berkata apapun lagi dirinya memilih keluar ruangan tersebut dan menemui adiknya.
***
”Dek, buka pintunya!” teriak Regan.
”Udah jangan banyak tanya ini soal adikmu yang sedang ngambek!” balas Regan.
”Dia, kenapa lagi?” Brian memang jarang berkomunikasi dengan Muna oleh sebab itulah Muna lebih dekat pada Regan daripada dirinya.
Pintu terbuka Muna terlihat kusut dengan penampilan yang acak-acakan. Brian menatap Regan sedangkan Regan hanya mengedikkan bahunya singkat.
”Jangan bilang kalian berdua diminta papa ataupun mama untuk membujukku karena itu takkan mempan!” seru Muna.
”Tidak. Abang ke sini bukan karena disuruh mereka berdua, ini murni keinginan Abang sendiri,” ucap Regan. ”Abang udah dengar semuanya dari mama maupun papa, please jangan kekanak-kanakan, Dek!” lanjut Regan.
”Siapa yang kekanak-kanakan Bang? Justru papa lah yang kayak anak kecil. Ck! Suruh orang main pecat saja, memangnya cari kerja mudah apa?” protes Muna.
”Ya sudah nanti Abang pasti bantu dia cariin kerjaan asalkan kamu juga janji gak kasih tahu papa soal ini dan satu lagi, sekarang makan!” titah Regan.
”Beneran ya Bang, aku gak tahu mau minta tolong sama siapa sedangkan dia sendiri tidak memiliki kerabat di sini.”
__ADS_1
”Memangnya apa yang sedang terjadi, apa aku ketinggalan info?” tanya Brian menatap Regan dan Muna bergantian.
”Jangan beritahu dia, Bang!”
”Kenapa aku benar-benar tidak tahu!” ujar Brian.
Regan pun akhirnya menceritakan semuanya pada Brian meskipun sebenarnya dirinya juga ragu khawatir jika nantinya akan mengadu pada papanya mengingat Brian lebih dekat dengan papanya.
”Tolong kamu jaga rahasia ini, mengerti!”
”Baiklah.”
”Bang, bantu aku bertemu dengannya, jujur aku tidak bisa jika harus berlama-lama seperti ini,” ucap Muna membuat Regan justru terkekeh.
”Rupanya adik kecilku ini sudah beranjak dewasa sekarang,” ujar Regan.
”Bukan begitu, aku benar-benar ingin bersama dengannya, Bang. Bagiku dia berbeda,” ucap Muna membuat kedua saudara kembarnya saling tatap.
”Astaga sepertinya kita akan disalip olehnya Bang!” seru Brian.
Mereka bertiga pun menyusun rencana Regan membantu Jamal sedangkan Brian akan membantu Muna bertemu dengan Jamal lebih dulu.
”Ingat jangan sampai papa tahu soal rencana kita bertiga mengerti!” ucap Regan mengingatkan kedua saudaranya.
Keramaian terdengar di bawah, membuat ketiganya beranjak keluar melihat apa yang sedang terjadi di sana. Muna membelalakkan matanya melihat sosok yang dikenalnya.
”Astaga papa benar-benar ingin memaksakan keinginannya padaku, apa yang harus aku lakukan, Bang?” lirih Muna mencengkram lengan Regan.
”Tenang Dek, pasti ada jalan keluar,” bisik Regan.
Di apartemen Muna, Jamal tengah berjalan mondar-mandir bak setrika yang sedang bekerja merapikan pakaian lusuh. Pikirannya tak menentu karena beberapa hari ini Muna sulit sekali dihubungi dirinya ingin menemuinya dengan datang ke rumahnya namun urung dia lakukan karena khawatir justru akan mempersulit gadis itu.
”Aish, kenapa aku justru merindukan gadis itu padahal aku sadar tidak mungkin untukku memilikinya,” lirih Jamal. Apapun yang dilakukan olehnya rasanya tidak enak, pikirannya selalu tertuju pada gadis itu.
Jamal pun kembali mencoba menghubungi gadis itu tapi ponselnya justru dalam keadaan off. ”Kemana sebenarnya dia pergi kenapa tidak memberitahukan aku di sini, terakhir datang dia bilang akan ke sini setiap hari. Pasti ada yang tidak beres.”
__ADS_1
Jamal dalam kebimbangan apakah dia harus pergi menemui Muna yang belakangan ini mengisi hatinya.