AKU DUDA KAU MAU APA?

AKU DUDA KAU MAU APA?
11. ADKMA-11


__ADS_3

Jamal menarik nafas dalam-dalam tidak mungkin baginya jujur tentang apa yang sedang menimpanya mengingat hubungan Muna dan papanya tidak baik-baik saja.


”Kamu tidak perlu khawatir aku hanya lelah saja dan butuh sedikit istirahat,” ucap Jamal melempar senyum manisnya agar Muna percaya dengan perkataannya tapi sayangnya Muna bukanlah gadis yang mudah untuk dibohongi.


”Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dariku, tolong jujur padaku!” desak Muna merangsek masuk ke kamar Jamal dan duduk di tepi ranjang.


Jamal mendongakkan kepala menatap langit kamarnya sejenak lalu kembali menoleh ke arah Muna. ”Lalu apa maumu?”


”Bicara semuanya agar aku bisa membantumu!” pinta Muna.


”Aku sungguh tidak apa-apa jadi tak perlu khawatir.”


”Awas saja jika kamu membohongiku,” ancam Muna.


Jamal mengedikkan bahunya, ”Sekarang tolong kamu keluar dari sini aku butuh istirahat.”


”Aku tidak yakin jika kamu benar-benar berisitirahat.”


”Terserah kamu saja.” Jamal tak menghiraukan kehadiran Muna dirinya sudah teramat lelah dengan situasi yang sedang dihadapinya. Jamal memilih membaringkan tubuhnya dan memejamkan kedua matanya mengacuhkan gadis yang sejak tadi menatapnya intens.


”Sepertinya aku mulai menyukaimu,” bisik Muna.


Jamal membuka mata kanannya melihat posisi Muna dan dirinya, Jamal terkejut karena gadis itu sangat dekat dengannya. ”Astaga apa yang kamu lakukan?” Jamal beringsut ke kiri Muna pun ikut bergeser maju mengikuti pergerakan Jamal.


”Aish, diam di tempatmu jangan menggodaku!”


Giliran Muna yang mengabaikan perkataan Jamal dirinya justru semakin dekat pada ke arah Jamal.


”Ish.” Jamal berbalik dan menutup kepalanya dengan bantal.


Muna berdecak kesal karena tidak ditanggapi oleh pria yang entah sejak kapan mulai mengisi hatinya, dirinya memilih berbaring di sebelah Jamal menunggu pria itu membuka bantalnya.


Bukan Jamal namanya jika tidak memiliki prinsip, dirinya benar-benar mengabaikan Muna hingga gadis itu tertidur di sampingnya.


”Dasar bodoh!” Jamal beranjak keluar memilih menonton televisi daripada senam jantung di dekat Muna.


Jamal mengakui kecantikan gadis itu dan dirinya adalah pria normal karena itulah dia tidak ingin terbawa oleh keadaan menghindari lebih baik bukan. Jamal pun akhirnya tertidur di sofa yang berada di depan tv.


”Bangunlah, ini sudah sore,” bisik Muna mengagetkan Jamal.


”Kamu mengagetkan diriku,” ucap Jamal bangun perlahan.


”Maaf, kamu begitu lelap aku harus pulang jadi terpaksa membangunkan dirimu. Jamal, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku.”

__ADS_1


Jamal mengusap wajahnya, ”Aku diberhentikan dari pekerjaanku.” Jamal tersenyum hambar.


”Kenapa? Apa kamu melakukan kesalahan?”


Jamal menggeleng. ”Lalu kenapa bisa diberhentikan?”


Jamal mengedikkan bahunya, ”Sudahlah yang penting aku sudah memberitahukan alasanku pulang lebih awal, sekarang kamu puas kan tidak ada lagi penasaran di hatimu.”


”Ya ... aku akan bantu cari pekerjaan lain nanti,” ucap Muna. ”Aku sudah order makanan, makanlah aku akan ke sini lagi besok.”


”Hati-hati.”


Cup!


Kecupan singkat mendarat di kening Jamal. ”Astaga,” pekik Jamal kaget sekaligus kesal karena perlakuan Muna yang tiba-tiba sedangkan gadis itu hanya tersenyum kecil melihat sikap Jamal.


”Bye!”


***


Muna sengaja pulang sore karena ingin langsung menemui papanya dirinya sangat yakin jika apa yang dialami oleh Jamal adalah campur tangan papanya. Tempo hari dia sempat bertengkar hebat karena beberapa hari tidak pulang ke rumah dan hal itu membuat Rizal marah.


Sekarang Muna dalam keadaaan marah karena Rizal berbuat sesukanya tanpa memikirkan perasaannya.


”Astaga Muna, tidakkah kamu memiliki etika bagaimana menemui orang yang lebih tua,” seru Rizal melihat ke arah pintu, putri semata wayangnya tengah berdiri dengan tangan terlipat di dada.


”Jadi ini alasanmu menemui papa? Apa kamu punya buktinya?” Rizal menyandarkan tubuhnya di kursi memainkan pena yang ada di tangannya.


”Kenapa papa tega melakukan itu padanya, Pa? Dia itu kekasih Muna, apakah papa tidak memiliki belas kasihan padaku?” cecar Muna.


”Karena papa kasihan padamu makanya papa ingin memisahkan dirimu darinya, apa sih kelebihannya? Dia itu pendatang, tidak memiliki apapun bahkan dia itu seorang duda karena istrinya selingkuh dengan pria yang kaya.”


”Astaga papa ...”


”Papa tidak mau putri papa satu-satunya menderita karena tidak bisa makan enak, belanja di mall dan lagi papa juga malu punya menantu miskin macam dia.”


”Papa jahat tahu!”


”Papa akan menjodohkan kamu dengan putra mitra bisnis papa, namanya Dirgantara.”


”Apa? Muna tidak mau!” tolak Muna tegas.


”Terserah, kamu boleh menolaknya tapi keputusan tetap ada di tangan papa mengerti!”

__ADS_1


”Papa jahat, Muna benci Papa!” Muna berlari ke kamarnya meluapkan semuanya di kamarnya.


”Ada apa?” Sinta mengkhawatirkan keadaan putrinya yang hampir saja menabraknya saat keluar dari ruangan Rizal.


”Anak itu terlalu kita manja beginilah hasilnya, papa memintanya menjauhi pria itu tapi justru dia yang balik marah padaku.”


”Pa, Muna itu sudah dewasa sebaiknya kita tidak terlalu mencampuri urusan pribadinya. Mama yakin dia tahu yang terbaik untuk masa depannya sendiri.”


Rizal memejamkan matanya mengingat perkataan Muna yang mengatakan dirinya jahat, hal itu sangatlah menyakitkan hatinya, seburuk itukah dirinya di depan keluarganya.


”Tidak ada orang tua yang berniat jahat, Ma. Papa hanya mau kasih yang terbaik untuknya itu saja,” ucap Rizal dirinya tidak mau disalahkan.


Rizal meraih ponselnya dan menghubungi Pramono rekan bisnisnya.


”Hallo, ada apa Mas Rizal menghubungiku? Apakah ada hal yang sangat penting?”


”Kamu benar, kapan ada waktu untuk membicarakan perjodohan anak kita?”


”Aku nurut saja, Mas. Silakan atur waktunya aku akan memberitahukan putraku nantinya.”


”Baiklah jika begitu, aku akan memikirkannya lagi dengan keluargaku nanti aku kabari lagi waktunya.”


”Baiklah sampai nanti.”


Bip.


”Papa yakin?”


”Dukung papa ya, Ma. Tolong yakinkan Muna agar dia mau menerima perjodohan ini dan tidak lagi memikirkan Jamal pria gak jelas itu.”


”Mama tidak janji, Pa.”


Sinta keluar meninggalkan Rizal dengan perasaan kecewa dirinya sendiri tidak mau menyakiti putrinya hanya karena ego semata.


Rizal memutuskan untuk keluar menemui Damian. ”Apa kamu sudah memecatnya?” tanya Rizal.


”Sudah, aku langsung memberhentikannya tadi pagi,” sahut Damian.


”Bagus, tolong jangan memberikannya pekerjaan apapun padanya.”


”Sebenarnya aku tidak tega karena dia memiliki skill yang bagus dan sangat sulit mencari pekerja sepertinya.”


Rizal pun mengangguk membenarkan perkataan Damian. Dia tahu jika Jamal adalah pria yang memiliki skill yang baik dalam bidang teknisi mobil tapi mengingat status dan juga finansial di bawah standar yang dimiliki oleh pria itu membuat Rizal tidak menyetujui hubungan tersebut. Rizal berkeinginan punya menantu yang terhormat dan juga kaya agar Muna tidak hidup menderita.

__ADS_1


”Bagaimana jika besok putrimu datang ke bengkel?”


”Bilang saja seperti apa yang aku katakan tempo hari.” Rizal melangkah pergi meninggalkan bengkel tersebut.


__ADS_2