AKU DUDA KAU MAU APA?

AKU DUDA KAU MAU APA?
17. ADKMA-17


__ADS_3

Plak!


Tamparan keras mendarat di pipi Muna gadis itu meringis menahan panas namun itu hanya sebentar karena setelahnya Muna justru menatap tajam ke arah Rizal.


”Pa, apa yang papa lakukan?” seru Regan.


”Papa tidak suka dibantah!”


”Papa memang egois, tidak mengerti sama sekali keinginan anak-anaknya untuk apa dulu Muna dilahirkan jika diharuskan menuruti semua perintahmu!” Airmata mulai jatuh dirinya merasa tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Rizal.


Rizal sendiri akhirnya keluar karena enggan berdebat dengan putrinya. Regan memeluk Muna seharusnya adiknya itu dimanja mengingat dia adalah anak gadis satu-satunya di keluarga ini tapi papanya justru mengekangnya.


”Sudah jangan menangis kita akan cari solusi agar kamu bisa keluar menemuinya, percayalah kita tidak akan tinggal diam melihat semua ini,” ujar Regan mencoba menenangkan adiknya.


”Sekarang makanlah!” perintah Sinta yang masuk dengan nampan berisikan makanan.


Muna terpaksa memakan makanan yang diberikan Sinta karena tidak ingin saudara dan mamanya mengkhawatirkan keadaannya. ”Kamu tidak bekerja, Bang?” tanya Muna.


”Tentu saja tapi agak siangan karena aku harus menunggu Brian pulang lebih dulu,” jawab Regan.


”Oh.”


”Cepatlah makan!”


Muna mengurung diri di kamarnya dirinya enggan keluar bahkan meski dirinya butuh minum sekalipun. Hal tersebut membuat Sinta semakin khawatir dan meminta putranya untuk tetap mengawasi adiknya.


Suasana di rumah menjadi sepi karena Muna yang biasanya cerewet lebih sering mengurung diri di kamarnya. Melihat adiknya yang tertekan kedua saudara kembarnya tidak tega melihatnya dan berencana untuk membantunya. Brian dan Regan mengatur pertemuan adiknya dengan Jamal secara sembunyi-sembunyi.


”Apa kamu yakin dengan semua ini karena papa pasti akan marah jika mengetahui kita melawannya secara diam-diam,” ujar Brian.


”Yang pasti papa akan sangat marah tapi apakah kita akan membiarkan adik kita tersiksa seperti itu?” ucap Regan tegas.


”Ah sudahlah aku bingung jika harus bicara denganmu karena kamu lebih suka dengan pria itu ketimbang diriku, apa itu benar?”


”Brian, aku memang menyukai Jamal itu karena aku merasa yakin jika pria itu mampu melindungi adik kita bukan karena hal lain. Aku rasa jika mereka bersama sekalipun takkan pernah kekurangan apapun nantinya,” seru Regan.


”Kita harus membantu mereka berdua,” lanjutnya.


”Baiklah tapi jika ada sesuatu nantinya kamu yang harus bertanggung jawab sepenuhnya karena aku sendiri ragu mengingat sifat papa yang keras kepala juga,” ucap Brian.


”Baik, kamu serahkan saja padaku semua. Aku hanya butuh dukungan darimu, aku tidak tega melihat adikku sendiri tersiksa oleh sikap papa.”

__ADS_1


Keduanya pun berencana mempertemukan Muna dengan Jamal berharap keduanya bisa sama-sama faham dengan keadaan masing-masing.


***


Hari ini Jamal menerima panggilan kerja di ’Garden Speed’ dirinya sangat yakin jika kali ini dia bisa berhasil mengumpulkan pundi-pundi uang yang akan dia gunakan untuk melamar Muna nantinya. Jamal sangat optimis sekali jika suatu saat nanti Rizal pasti akan luluh dengan ketulusannya.


”Kenapa senyum-senyum sendiri, apa kamu mulai tidak waras?” tegur Ahmadi.


”Iya aku sudah mulai tidak waras karena keadaanku saat ini. Aku tidak bisa bertemu dengan kekasihku, entahlah sebenarnya aku rindu sekali dengannya tapi mau bagaimana lagi aku lelah,” tutur Jamal.


”Sebaiknya kamu jangan terlalu berharap ada gadis itu karena faktanya orang tuanya saja tidak memberikan restu bagaimana kalian mau hidup ke depannya.”


Jamal terdiam mendengar penuturan Ahmadi lalu haruskah dia menyerah?


”Tapi aku sangat mencintainya, kenapa cinta hanya untuk orang kaya saja sedangkan orang yang seperti kita dianggap hina oleh mereka,” ujar Jamal.


”Tenang kamu hanya perlu bersabar saja jodoh takkan kemana percayalah,” ucap Ahmadi mencoba menghibur temannya meskipun sebenarnya dia sendiri ragu.


”Ayo kita kerja jangan sampai bos marah karena kita terlambat mengerjakan tugas kita. Ingat di sini sangat ketat peraturannya dari tempat lain,” ucap Ahmadi mengingatkan Jamal.


”Oke. Terima kasih.” Jamal berjalan sejajar dengan Jamal.


”Hai, ponselmu bunyi sangat mengganggu cepat buka!” sahut yang lain.


Jamal segera menggesernya dan keluar ruangan tersebut.


”Hallo dengan siapa ini?”


”Hallo Jamal, ini aku kakaknya Muna. Bisakah kita ketemu nanti sekarang?”


”Aku sedang bekerja sekarang bagaimana jika nanti sore?”


”Baik, nanti aku konfirmasi alamatnya. Sampai jumpa.”


Bip.


Jamal pun bertanya-tanya kenapa Regan menghubunginya apakah terjadi sesuatu dengan Muna mengingat Regan adalah kakaknya yang paling dekat.


”Siapa yang menghubungimu?” tanya Ahmadi.


”Dia kakaknya gadis yang kemarin itu,” jawab Jamal.

__ADS_1


”Aish, kamu bahkan mengenalnya?” Ahmadi tidak hbis pikir dengan keadaan Jamal.


”Tentu saja kami pernah bertemu saat Muna mengajakku makan malam di rumahnya jadi aku tahu betul bagaimana keluarga mereka.”


”Baiklah apapun itu semoga semua berjalan dengan baik. Ayo kita lanjutkan pekerjaan kita.” Keduanya kembali masuk ke tempat kerjanya.


Sore tepat jam lima Jamal sudah berdiri di depan pintu gerbang tempat kerjanya sampai sebuah mobil menghampirinya.


”Hai, masuklah!” titah Regan sedikit berteriak pada Jamal karena suara lalu lalang kendaraan mengharuskannya bersuara keras.


Jamal pun masuk mengikuti instruksi Regan menuju ke sebuah kafe ternyata di sana sudah ada Muna dan Brian sedang menikmati camilan di sudut ruangan.


”Kalian ngobrol saja kami akan mengawasi situasi di sini, jangan khawatir papa sedang berada di luar kota jadi kalian bisa menggunakan kesempatan ini untuk bertemu.”


Regan dan Brian menuju ke bangku lain dan mengawasi situasi di luar khawatir orang suruhan papanya akan mengikuti keduanya.


”Bagaimana kabarmu?” Muna menatap ke arah Jamal yang terlihat lebih kurusan dan wajahnya sedikit ditumbuhi bulu halus.


”Kabarku baik semoga kamu juga demikian.”


”Aku tidak dapat makan dengan baik, apakah kmu juga merasakan hal yang sama denganku?” Muna menahan genangan air matanya yang hendak keluar.


”Aku merasakan hal yang sama seperti denganmu tapi ... aku sendiri tidak mampu melakukan apapun bukan karena tidak memiliki nyali tapi aku segan pada papamu, aku masih menghormatinya sebagai orang tuamu,” papar Jamal.


”Ya aku tahu akan hal itu. Jamal, apakah tidak ada pikiran dalam dirimu untuk kawin lari?”


Jamal terkekeh mendengar kembali ajakan Muna untuk melakukan hal bodoh itu lagi. ”Sampai kapanpun aku tidak akan melakukan hal itu terlebih kamu adalah seorang wanita yang seharusnya menjaga martabat keluargamu.”


Muna menunduk seakan tidak mampu lagi untuk menatap pria yang ada di depannya.


”Aku tahu kamu sendiri tersiksa dengan perasaanmu, yakinlah pasti ada jalan keluarnya.”


Muna mengangkat wajahnya bagaimana bisa dia melepaskan pria yang bersikap sangat dewasa ini, lebih ngemong pada pasangannya dan kenapa mantan istrinya dengan bodohnya melepaskannya hanya karena dia tidak memiliki harta.


”Kamu mau kan bertahan menungguku sampai aku benar-benar bisa dikatakan layak oleh papamu untuk menjadi suamimu?”


Muna tersenyum mencoba untuk tetap tenang meskipun hatinya ragu, ragu karena sewaktu-waktu Rizal bisa saja memaksanya untuk segera menikah dengan Dirga.


”Muna ayo kita pulang sekarang, papa sedang dalam perjalanan pulang ke rumah!” seru Brian.


”Apa?”

__ADS_1


__ADS_2