
”Jamal saya tidak bisa bantu kamu, kamu tahu kan bagaimana sifat suamiku?” ucap Sinta dirinya tak ingin memberikan janji manis pada pria yang disukai putrinya meskipun dirinya sebenarnya tidak tega melihat keduanya tidak bisa bersama dan selalu tertekan.
”Saya faham Tante, maafkan saya juga karena merepotkan Tante selama ini.”
”Tidak masalah, saya khawatir saja jika suami saya justru semakin menyulitkan kalian nantinya,” ucap Sinta.
”Saya hanya ingin melindungi putriku meskipun sebenarnya saya sendiri tidak setuju dengan setiap keputusan yang dilakukan oleh suamiku sendiri. Terlebih kedua abangnya Muna juga tidak bisa membantunya apalah daya Tante yang hanya seorang wanita.”
”Ma, apakah Muna boleh bersama dengan Jamal sehari saja.” Muna menghampiri keduanya.
”Kenapa kamu bangun Nak? Apakah kamu butuh sesuatu?” tanya Sinta.
”Aku bosan berada di kamar makanya Muna keluar.”
”Baiklah jika kamu ingin jalan-jalan silakan saja tapi ingat jangan lama-lama karena mama khawatir nanti papa akan melihat kalian berdua di sini.”
”Makasih Ma,” ucap Muna memeluk Sinta barang sejenak.
Jamal membantu Muna duduk di bangku kursi taman. ”Apakah sudah lebih baik?” Jamal ikut duduk di samping Muna.
”Lumayan, apakah kamu masih tinggal di apartemenku?”
Jamal tersenyum kecut mendengar perkataan Muna, ”Memangnya aku mau tinggal dimana lagi? Apakah boleh aku keluar dari sana dan memilih mengontrak di tempat lain?”
”Jangan!” Muna menoleh ke arah Jamal. ”Kamu memang senang melihatku seperti ini begitu kan?”
”Tidak jangan salah paham aku tidak mau kamu terluka apalagi hanya karena hal yang sepele, percayalah!”
Muna menggenggam erat tangan Jamal. ”Aku percaya padamu.”
”Istirahatlah di dalam, aku akan pergi,” pamit Jamal membuat Muna bersedih. ”Kenapa?” tanya Jamal begitu melihat perubahan wajah Muna.
”Apakah kita bisa bertemu lagi seperti ini?” sahut Muna.
”Aku tidak tahu tapi setidaknya kita bisa mencobanya nanti. Jangan khawatir, oke!”
Muna terdiam dirinya tidak yakin akan bisa bertemu dengan Jamal mengingat papanya sangat ketat dalam menerapkan aturan.
”Masuklah, aku akan tanya keadaanmu lewat Bang Regan dan Bang Brian,” ucap Jamal mencoba menenangkan hati kekasihnya.
”Baiklah.” Jamal mengantarkan Muna hingga ke kamarnya dirinya tidak ingin berlama-lama karena khawatir sewaktu-waktu Rizal akan datang menjenguk Muna.
”Aku pulang sampai nanti ya.” Dengan berat hati Jamal melangkah namun baru dua langkah lengannya ditarik oleh Muna.
’Cup’ kecupan singkat mendarat di pipi Jamal. ”Aku akan merindukanmu,” ucap Muna.
***
Jamal kembali bekerja seperti biasanya dia tidak ingin berlarut-larut dalam kesendirian lebih baik menyibukkan dirinya di tempat kerja daripada melamun tak jelas di apartemen milik Muna.
”Rajin sekali kamu, jam segini sudah datang,” ucap Ahmadi.
__ADS_1
”Kamu ini sedang memujiku atau mengejekku?” sahut Jamal.
”Dua-duanya,” balas Ahmadi cekikikan.
”Astaga aku hanya sedang tidak mood di rumah sendirian jadi lebih baik aku datang ke sini sebelum waktunya.”
”Apa kamu sudah kembali bertemu dengan kekasihmu?” Ahmadi memberikan secangkir kopi pada Jamal.
”Kemarin aku datang ke rumah sakit.”
”Maksudmu, dia sakit?”
”Benar, aku yakin itu karena tekanan dari papanya membuatnya stres dan akhirnya penyakitnya kambuh lagi.”
”Oh. Lalu apakah kamu akan berdiam diri tanpa melakukan sesuatu apapun? Setidaknya tunjukan jika kamu benar-benar mencintainya.”
”Aku belum memikirkan langkah apa yang akan aku lakukan karena pikiranku masih tidak menentu.”
”Baiklah, lebih baik kamu ganti baju sekarang, mau segera bekerja kan?” Ahmadi bangun dari duduknya seraya menepuk bahu Jamal.
Menjelang siang Ahmadi mengajak Jamal makan di warung tenda depan Garden Speed, Ahmadi ingin sahabatnya itu tidak larut dalam kesedihan. ”Ayo makan! Kamu tidak boleh dzolim pada tubuhmu.” Ahmadi menarik lengan Jamal membuat pria itu terkejut.
”Kamu sangat perhatian sekali,” ucap Jamal dirinya melangkah dengan malas keluar bengkel.
Jamal makan dengan lahapnya dia tidak peduli jika dirinya sedang diperhatikan oleh seseorang.
”Kamu memiliki banyak penggemar,” bisik Ahmadi.
Ahmadi memberi kode pada Jamal menunjuk wanita hamil yang sedang duduk senyum-senyum menatap ke arah Jamal.
”Astaga,” lirih Jamal menepuk dahinya sendiri. ”Kenapa nasibku apes sekali.”
”Siapa dia? Apa kamu mengenalnya?” tanya Ahmadi penuh selidik.
Jamal bangkit dari duduknya, ”Kamu yang bayar ya, aku mau langsung ke bengkel.” Jamal langsung keluar membuat Rara terkejut seketika.
”Eh Bang Jamal tunggu!” teriak Rara membuat Ahmadi menatap pada keduanya.
”Ada apalagi?” sahut Jamal dengan malas.
”Apa kamu kerja di sini?” tanya Rara menggoda.
”Apakah itu penting buatmu?” balas Jamal.
”Bang, tawaranku di rumah sakit masih berlaku loh. Apa Bang Jamal yakin gak tertarik?”
”Tidak sama sekali, aku lebih suka hidup men-jomlo daripada harus balikan denganmu!”
”Astaga, Bang Jamal kenapa kamu berbicara seperti itu padaku.”
”Itu faktanya apakah ada yang salah? Sudahlah aku lelah sebaiknya kamu jangan memperlihatkan dirimu di sekitarku aku khawatir suamimu akan mengamuk padaku.”
__ADS_1
”Tidak akan dia sedang keluar kota mana mungkin dia mengetahuinya.”
Jamal enggan meladeni Rara memilih pergi sebelum mantan istrinya kembali berbicara.
”Ini untuk bayarannya, terima kasih.” Ahmadi menyusul Jamal.
”Eh Bang tunggu!” teriak Rara pada Ahmadi.
”Saya?” Ahmadi berbalik.
”Iya, kamu Bang.” Rara menoleh kiri kanan. ”Ini uangnya aku balikin, bilang sama Bang Jamal ya, jika aku masih menunggu jawabannya.”
Ahmadi kebingungan namun tetap menerima uang tersebut dan memasukkannya ke kantong celananya. ”Terima kasih.”
Jamal terlihat kesal karena sudah dua hari selalu bertemu dengan mantan istrinya, dia tidak ingin membuat masalah baru terlebih dia sangat tahu bagaimana watak mandornya yang dulu.
”Kenapa melamun? Siapa wanita itu?” tanya Ahmadi penasaran.
”Jangan bahas dia aku sedang pusing dengan masalah kekasihku sekarang dia tiba-tiba muncul membuatku semakin kesal saja,” keluh Jamal.
”Tapi tadi kita makan gratis di depan.”
”Apa?”
Ahmadi mengangguk, ”Dia gak mau dibayar, ya lumayan lah perut kenyang duit gak melayang!” ucap Ahmadi terkekeh.
”Ya ampun.” Jamal memijat pelipisnya sendiri. ”Dia itu mantan istriku.”
”Apa?” teriak Ahmadi membuat Jamal membungkam mulut pria yang ada di sampingnya.
”Pelankan suaramu!” bisik Jamal menoleh ke sekitarnya dia khawatir karena orang-orang memandang ke arah mereka berdua.
”Jadi itu wanita yang dulu mengejar dirimu?” Ahmadi geleng-geleng kepala mendengar pengakuan Jamal. ”Cantik sih, tidak kalah dengan kekasihmu yang sekarang tapi sepertinya mantanmu itu terlalu agresif sekali.”
”Dimana-mana wanita sama,” ujar Jamal.
”Benarkah? Jangan bilang jika Muna berbeda,” goda Ahmadi.
”Sudah jangan bahas dia dulu kepalaku rasanya mau meledak jika memikirkan nasib cinta ini.”
”Tunggu, kamu dan mantanmu kenapa bisa berpisah?” selidik Ahmadi.
”Semua karena materi, dia wanita materialistis jadi jangan harap bisa bersamanya jika kita pria kere.”
Ahmadi melotot mendengar penuturan Jamal, ”Jadi kamu berpisah dengannya karena masalah ekonomi, lalu siapa yang menaruh benih di perutnya bukankah kamu belum lama bercerai dan perutnya sudah besar begitu.”
”Bang ada tamu di luar,” seru karyawan lain.
”Siapa?”
”Lihat saja sendiri,” ucapnya.
__ADS_1
Jamal buru-buru datang ke depan dan terkejut melihat siapa yang tengah menunggunya.