AKU DUDA KAU MAU APA?

AKU DUDA KAU MAU APA?
8. ADKMA-8


__ADS_3

”Pasti sakit sekali, siapa yang sudah melakukan ini semua?” lirih Muna seraya membersihkan luka lebam di wajah Jamal.


”Sudahlah aku baik-baik saja, tak perlu mengkhawatirkannya,” jelas Jamal, dia tak ingin Muna khawatir dan akhirnya menuduh orang lain tanpa bukti.


”Apa kamu mengenal orang yang mengeroyok dirimu kemarin sore?”


Jamal hanya menggeleng lagipula cahaya di tempat kejadian tidak terlalu jelas jadi mana mungkin dia mengenal mereka terlebih wajahnya pun tertutup masker.


”Aku akan lapor pada pihak berwajib!”


”Jangan biar aku selesaikan ini sendiri saja, lagipula aku baik-baik saja.”


”Astaga seperti ini kamu bilang baik-baik saja, terlalu! Aku tidak rela wajah tampan ini jadi jelek!” keluh Muna bibirnya mengerucut membuat Jamal gemas melihatnya.


”Apa kamu sedang menggodaku?”


”Tidak, untuk apa aku menggoda dirimu tanpa aku melakukannya pun aku yakin kamu sudah tertarik denganku!”


”Lah itu tadi bibirmu kenapa manyun begitu?”


”Astaga itu ekspresi kesal,aku kesal dengan orang yang sudah menghajar wajahmu ini. Apa sebaiknya aku melapor dengan Bang Regan saja,” ujar Muna.


”Jangan, kamu jangan memberitahukan orang-orang di rumah mengenai kejadian ini, aku khawatir akan menambah masalah baru.”


”Ada benarnya juga, baiklah aku akan diam saja tapi aku mohon kamu juga harus terbuka denganku jangan sampai menyembunyikan sesuatu dariku mengerti!”


”Baik.”


”Sekarang minum obatnya!” Muna memberikan obat penghilang nyeri dan kembali mengoleskan salep di wajah Jamal.


”Awh, bisakah mengolesnya dengan pelan,” pinta Jamal.


”Baiklah-baiklah. Huh! Cerewet sekali kamu,” keluh Muna.


Jamal menatap wajah Muna dari jarak dekat bahkan sangat dekat wajah gadis itu terlihat cantik bahkan tanpa cela tapi kenapa gadis itu justru menyukai dirinya yang hanya pria kampung bahkan statusnya adalah seorang duda.


”Kenapa menatapku seperti itu, jangan bilang jika kamu mulai menyukaiku!”


”Tidak, bahkan kamu bukanlah tipeku,” kilah Jamal.


”Benarkah? Lalu seperti apa kriteria wanita pilihanmu itu?”

__ADS_1


”Kamu mau tahu?” Jamal mendekat membuat Muna merona seketika.


”Iya, aku ingin tahu wanita seperti apa yang mampu menaklukkan hatimu.” Muna beringsut mundur namun naasnya lengannya justru tergelincir karena tubuhnya sudah mentok di sudut sofa membuatnya terjatuh ke belakang.


”Awh!” teriak Muna dengan cepat Jamal meraih tangan Muna dan tak bisa dihindari lagi kedua bibir mereka saling bersentuhan. Kedua bola mata Muna membulat sempurna karena ciuman pertamanya telah diambil oleh Jamal.


Muna mundur seketika merasa malu dan juga merasa canggung dengan kejadian yang baru saja terjadi. ”Biar aku bereskan dulu semua ini, kamu istirahatlah!”


Jamal diam saja tak menanggapi perkataan Muna dirinya sendiri merasakan hal aneh yang belum pernah dia rasakan bahkan dengan mantan istrinya sekalipun.


”Sadar Jamal, kamu hanya duda kere!” gumam Jamal mencoba mengalihkan perasaannya.


Dirinya tidak mau menghambat kehidupan Muna terlebih dia adalah anak orang kaya dan orang tuanya pasti tidak akan mengijinkan putri satu-satunya bersama dengan seorang pria miskin seperti dirinya. Jamal harus bisa belajar dari kesalahan masa lalunya bukan.


”Aku akan tinggal di sini.”


”Apa?”


”Iya, kenapa tidak boleh?”


”Bukan begitu, aku khawatir soal papamu jika beliau tahu kamu berada di sini bersama denganku pasti beliau akan marah dan semakin tidak menyukaiku, sampai di sini kamu faham?”


”Benar juga tapi aku juga tidak akan membiarkanmu sendirian apalagi kondisimu seperti ini.”


Muna menyeringai mendengar perkataan Jamal. ”Aku tidak takut, justru kamu yang bakal merugi.”


”Astaga kamu benar-benar keras kepala,” sahut Muna.


”Segera istirahat aku akan memesan makanan untuk makan siang satu jam lagi.”


Jamal menghela nafasnya pikirannya sudah tidak menentu dirinya khawatir jika tindakan Muna akan berimbas buruk pada dirinya mengingat Pak Rizal telah memperingatkannya.


Jam dua siang Muna telah berada di kamarnya Jamal dan tengah memandangi wajah teduh yang sedang terlelap dalam tidurnya. Orang yang belakangan ini selalu mengusik hatinya dan seakan tidak mau yang lain kecuali dia, Jamal.


Perlahan Jamal membuka matanya dan dirinya terkejut melihat Muna sudah ada di sampingnya, menatapnya.


”Astaga, apa kamu tidak memiliki pekerjaan lain selain memandangi wajahku dan juga bisakah kamu tidak membuat diriku jadi jantungan!” ucap Jamal kesal karena kehadiran Muna membuat detak jantungnya berdebar lebih kencang.


”Aku menyukaimu!”


Jamal membelalak mendengar pengakuan Muna. ”Tidak boleh!”

__ADS_1


”Kenapa tidak boleh? Bukankah kamu tidak sedang terikat hubungan dengan siapapun maka aku juga bebas bersama denganmu,” bisik Muna.


”Ya Allah, godaan apalagi ini!” Jamal kembali memekik dalam hati mendapati sikap Muna yang selalu saja menggodanya.


”Ayo bangun kita makan dulu, aku sudah sangat larut sekali.” Muna bangkit dan mengulurkan tangannya ke arah Jamal.


Jamal mencoba bangun sendiri menyibakkan selimutnya dan mengabaikan perlakuan Muna, bukannya kesal Muna justru semakin tertantang untuk mengalahkan Jamal.


”Tidak masalah kamu acuh padaku, aku yakin besok kamu akan bertekuk lutut padaku,” lirih Muna mengikuti Jamal yang sudah lebih dulu keluar kamarnya.


”Kamu yang menyiapkan semua ini?” tanya Jamal melihat banyak sekali makanan tersaji di meja makan.


”Iya, bagaimana kamu suka?”


”Aku akan menyukainya jika kamu sendiri yang memasaknya, aku bukan orang yang suka jajan bagiku memasak sendiri lebih irit dan juga lebih bersih dan aku menyukai wanita yang pandai memasak.”


Fix, tanpa sadar Jamal mengatakannya sendiri tanpa Muna repot-repot menggalinya.


”Baiklah lain kali aku akan memasaknya untukmu,” ucap Muna spontan.


”Memangnya kamu bisa? Setahuku kamu hanya bisa shoping ke mall, jalan-jalan membuang uang papamu.”


”Jangan menghinaku aku akan buktikan padamu lihat saja nanti. Lagipula media internet juga membantu kita untuk belajar kenapa mesti takut.”


”Baik, aku akan menunggunya.”


Sedangkan di rumah keluarga Rizal, sang pemilik rumah sedang uring-uringan karena putri satu-satunya sulit sekali untuk dihubungi.


”Regan, apa adikmu tidak memberitahukan padamu kemana dia akan pergi hari ini? Atau mungkin dia pergi dengan pria yang tempo hari datang ke rumah ini.” Rizal menatap Regan curiga pada putra sulungnya karena hanya dialah pria paling dekat dengan Muna di rumah.


”Tidak, biarkan saja jika dia merasa lelah aku yakin dia akan pulang dengan sendirinya,” sahut Regan.


”Regan benar, Pa. Papa jangan terlalu risau memikirkan adik kecil kita, dia juga sudah dewasa pasti tahu mana yang terbaik untuknya,” tambah Brian membenarkan perkataan Regan.


”Papa tidak percaya, ya sudah papa mau melanjutkan pekerjaan yang tertunda tadi siang.” Dengan langkah cepat Rizal masuk ke ruang kerjanya dan menghubungi seseorang.


”Tolong kamu selidik dia dan jangan sampai keluargaku tahu soal ini, mengerti!”


”Siap.”


Bip.

__ADS_1


Rizal menyeringai tidak lama lagi dia akan tahu siapa Jamal pria yang disukai oleh putrinya saat ini.


__ADS_2