
...Happy Reading...
Aku masih ingat ketika Arya sempat meniduri aku di kamar itu. Perasaan aku jadi tidak enak sama diri aku sendiri dan pada yang lain. Aku keenakan merasakan sesuatu yang keluar masuk di lobang ****** aku. Aku merasakan tusukan itu lezat sekali, terasa kenyal di dalam lobang itu.
Tusukan alat vital yang berukuran cukup besar. Oh Arya, kamu sangat lihai sekali dalam bermain. Permainan yang di mainkan oleh Arya lebih baik daripada permainan yang di mainkan oleh Adera. Meski dia bukanlah orang yang pertama yang membuka selaput daraku.
Aku terengah-engah merasakan dorongan itu berkali-kali yang berasal dari kedua paha Arya. Aku melihat Arya memainkan permainan itu di atas aku. Aku merengkuh tubuh Arya dari bawah, dia lalu tidak tahan dan mencium bibir aku.
"Aahh, aahh..!" aku mendesah merasakan kenikmatan itu.
Aku tersadar dan memilih untuk mengambil napas. Aku tidak tahu kabar Adera sekarang, aku coba menelepon Arya. "Halo Arya, kamu tahu kabar Adera sekarang?"
"Tidak, aku belum tahu, aku masih di rumah. Aku akan tanya nanti ke keluarganya."
"Oke, aku tunggu kabarnya dari kamu. Kamu sendirian di rumah?"
"Iya, kenapa, kamu sendirian juga?"
"Iya, aku kesepian di rumah. Aku tidak punya teman.
Aku jadi ingat kalau aku sedang hamil. "Kabar perut kamu bagaimana, kamu sudah periksa?"
"Belum, aku belum periksa. Aku tidak apa-apa kok, perut aku masih sehat."
"Baiknya kamu periksa ke dokter."
"Aku tidak punya uang."
"Aku yang bayar buat bayi kamu itu!"
"Nanti saja kalau aku sudah siap. Sudah dulu ya Arya!"
"Aku akan ke rumah kamu nanti, atau kota ketemu di tempat lain..?"
"Aku akan SMS kamu kalau aku bisa." ucapku di telepon sambil menutup ponsel itu. Aku rindu Adera, harusnya kalau dia tidak sakit aku pasti sudah di ajaknya jalan pakai mobil.
Aku tidak tahu kabar dia bagaimana sekarang. Aku masih menunggu waktu untuk bertemu seseorang lagi.
__ADS_1
Aku duduk sambil memikirkan nasib, tidak ada yang tahu kabar seseorang kecuali dirinya sendiri. Aku dengar suara sepeda motor, dan itu adalah Bapak aku yang sedang pulang dari kerja.
Dia masuk ke rumah, melepas jaket dan melihat aku yang sedang duduk di kursi ruang tamu. "Alana, kamu sehat Nak..?"
"Iya, Bapak aku sehat."
Wajah aku sedikit pucat, aku seperti orang sakit.
"Kamu makan ya sayang..?"
"Aku belum lapar Pak, aku makannya nanti saja. Aku masih ingin sendiri." ucapku ke Bapak.
Aku masih ingin duduk sendiri sambil melewati waktu di rumah, tak ada yang harus aku lakukan di rumah, seperti di saat aku masih belum hamil. Orang tua aku belum tahu soal itu. Aku lalu pergi ke ibu di dapur dan menceritakannya.
"Alana, itu musibah buat ibu juga buat kamu. Ibu akan segera menemui orang tua anak itu, dia harus tanggung jawab atas perbuatannya."
"Tidak bisa sekarang ibu, anaknya masih sakit, dia koma. Dia sekarang sedang di bawa ke Jerman. Ibu tidak tahu kalau aku banyak menginap di rumah sakit..?"
"Ibu hanya curiga saja ke kamu, aku sedikit baca cerita kamu bersama teman laki-laki kamu itu, ke mana saja sampai kamu menginap di mana-mana. Ada apa sebenarnya..?"
"Iya ibu, aku dari rumah sakit menjaga Adera."
"Laki-laki teman kamu itu siapa..?"
"Dia Arya ibu, aku, Adera, dan Arya satu sekolah. Kami kadang di ajak jalan bareng sama Adera, hik hik."
Aku menangis tidak tega melihat Adera masih koma sampai sekarang.
"Sampai kamu kena musibah seperti ini. Itu kamu sendiri yang salah Alana, ibu tidak tahu apa-apa masalah kamu!"
"Ada apa Ibu, kenapa ribut-ribut..?"
"Alana Pak, dia hamil!"
Bapak aku datang langsung menemui aku dan ibu di dapur. Bapak langsung marah setelah tahu peristiwa itu. Dia langsung marah dan berkata macam-macam. Aku menangis dan ingin mengadukan semua itu pada Adera nantinya. Aku tidak mau tinggal di rumah, aku ingin tinggal bersama Adera saja. Dia akan selalu menjaga aku dan akan membuat aku tenang.
"Ya Allah, tolong sembuhkan Adera, tolong sembuhkan dia demi aku!"
__ADS_1
Suara gemuruh terdengar dari luar, langit seketika mendung dan akan turun hujan. Aku ijin pergi ke kamar untuk beristirahat. Aku ingin bertemu Adera, kenapa Adera jauh sekali dari aku. Aku pun tertidur dengan segala yang ada padaku.
Pukul satu siang aku bangun, di rumah sepi. Aku sudah menunggu kedatangan Arya ke rumah tapi laki-laki belum datang juga. Hp aku juga tidak ada SMS dari dia.
Di tempat lain Arya sudah siap-siap untuk menemui Alana. Laki-laki itu datang ke rumah. Alana langsung membukakan pintu dan menghampiri Arya.
"Alana, kamu mau ke mana, ibu tidak mau kamu menemui laki-laki itu, kamu ingin menambah masalah lagi?
Aku berhenti berjalan melihat ibu mengomel di depan aku. Arya juga ikut berdiri menyaksikan hal itu.
"Setelah kamu hamil sama pacar kamu itu, kamu masih berharap sama laki-laki lain..?"
"Tidak ibu, Arya adalah teman aku, di baik sama aku ibu. Arya lah yang jadi teman aku di rumah sakit!"
Aku langsung berjalan lagi menghampiri Arya.
"Arya, kamu masuk sekarang!" kataku sambil menyeret Arya masuk ke dalam rumah. Ibuku melihat itu, Arya ikut aku masuk. Dia mengikuti langkah aku dari belakang.
Setelah sampai di ruang tamu aku menyuruh Arya untuk duduk. "Arya duduk, aku banyak masalah sekarang, aku tidak kuat di rumah. Aku ingin menginap di rumah kamu, Arya!"
"Ngapain menginap di rumah kau Alana, rumah aku kecil, tidak seperti rumah kamu!"
"Aku tidak kuat di sini, aku di marahi terus sama orang tua aku! Aku ingin pergi Arya, tolong bawa aku pergi dari sini!"
"Maaf Alana, aku tidak bisa. Aku tidak bisa bawa kamu ke mana-mana!"
'"Ke rumah kamu saja, tidak bisa!"
"Ada ibu aku di situ, aku tidak mau cari masalah sama ibu aku. Kamu di sini saja Alana, kamu bisa telepon aku kalau ada masalah oke!"
Aku menelan ludah dan akhirnya duduk. Ya tuhan, aku telah berlaku salah pada Arya.
"Maafkan aku Arya, aku telah berbuat salah sama kamu. Aku telah memaksa kamu barusan."
"Tidak masalah Alana, aku tahu kamu sedang dalam masalah, makanya aku ke sini. Aku tidak mungkin meninggalkan kamu sendirian, apalagi janin yang ada di dalam perut kamu itu..," kata-kata Arya menggantung.
Bersambung.
__ADS_1