Alana Story

Alana Story
Chapter 12


__ADS_3

Sewaktu di suapi, Adera tanya ke ibunya tentang Alana yang tidak dia lihat sehari itu di rumah sakit. Adera tidak tahu kalau itu adalah rumah sakit Jerman. Beberapa orang bule yang lewat di depan kamar itu tidak Adera kenal atau pun dia ketahui.


"A." kata ibunya. Ibunya Adera menyuruh Adera untuk buka mulut untuk di makan buburnya dari sendok yang ada di tangannya. Adera membuka mulut lalu mengunyah bubur itu.


Sambil mengunyah, Adera tanya, "Ibu, Alana ke mana, kok tidak kelihatan, biasanya dia kan ke sini kalau dia tahu kalau aku sakit. Alana belum tahu aku sakit atau dia memang sengaja tidak mau tahu kalau aku sakit, atau dia tidak mau ke sini ya Bu?" kata Adera bertanya panjang sekali.


Tiga pertanyaan yang buat Ibu Adera tidak enak. Ibu Adera tidak suka Adera menyebut nama perempuan itu lagi. Gara-gara dia Adera jatuh sakit seperti ini. Biayanya mahal, banyak uang tabungan dia yang telah di ambilnya untuk biaya pengobatan Adera. Adera sendiri tidak merasa kalau orang tuanya telah banyak mengeluarkan uang untuk dia. Malah dia ingat-ingat Alana si penjahat itu lagi. Mana dirinya masih sakit, belum sembuh masih minta di suapi, ngerepotin orang saja. Itu kata hati Yanti Ibunya Adera.


Besoknya Adera pulang turun dari kapal dengan kursi roda. Adera masih belum sembuh total. Alana mendengar kabar itu dari Adera. Dia langsung pergi dengan perut yang sedikit membuncit.


Alana datang bersama Adera. Mereka masuk ke rumah Adera. "Hai," Arya menyapa Adera yang sedang rebahan di dalam kamarnya.


"Syukurlah kalian datang juga. Aku lama sekali rindu sama kalian, Alana juga. Kamu masih sehat kan sayang..?" Adera enak sekali bicaranya.


"Iya, aku masih sehat. Kamu tidak depresi lagi kan lihat aku begini?" kata Alana lanjut.


"Tidak, aku sudah sembuh sekarang. Silahkan duduk." kata Adera langsung.


"Aku akan cerita banyak tentang peristiwa aku di Jerman. Aku juga tidak tahu kenapa aku punya pengalaman depresi seperti itu, entahlah. Aku juga bingung." kata Adera menjelaskan.


Alana masih melihat Arya, dia ingin Arya menjaga dirinya bukan Adera. Tapi beda dengan Adera yang berharap bisa bermesraan lagi dengan Alana. Adera ingin Arya pergi.


Arya langsung memeluk Adera karena rindu, Alana tidak, dia memilih untuk duduk sambil melihat Adera dan Arya. "Kamu masih hamil ya Al..?"


Alana bingung mau jawab apa. "Iya, aku masih hamil."


"Perut kamu tambah besar. Itu janin yang ada di perut kamu, itu anak aku atau anak.. Arya?"


Arya menoleh, dia kaget mendengar Adera bilang seperti itu. "Sebaiknya kita tidak perlu bahas ini dulu, kita bahas bayi ini besok saja. Aku tidak mau kamu depresi lagi seperti kemarin Adera. Aku tidak mau hal itu terulang lagi, kamu tidak usah mikir macam-macam. Aku ingin kamu kembali sehat tanpa memikirkan aku sedikit pun. Pikirkan kesehatan kamu saja, tidak perlu pikir yang lain. Semuanya sudah lewat Adera."


"Tapi Alana, anak itu butuh ayah."


"Iya, aku tahu. Tapi itu buka urusan kamu, aku dan Arya sudah mau mengurus anak ini dari sejak kamu ke Jerman, jadi kamu tidak perlu repot ok!" Alana menjelaskannya ke Adera. Laki-laki itu jadi bingung, kenapa bisa jadi begini.


"Sudahlah, kamu pikirkan kesehatan kamu dulu, mau kan Adera..?"


"Apa itu berarti aku tidak boleh mengakui kalau bayi itu adalah anak aku?"


"Bukan begitu, besok kita akan bicarakan soal bayi ini. Arya, tolong jelaskan ke Adera, dia tidak mau mengerti!" kata Alana ke Arya.


"Ade, kamu istirahat dulu. Kita pergi sekarang Alana."


"Iya, kita mau pergi Adera. Kamu jaga diri baik-baik dulu. Tidak usah pikirkan kami." jelas Alana ke Adera.


"Tunggu! Kalian tidak boleh pergi begitu saja. Aku masih belum lama sama kalian."


"Aku masih ingin bicara sama kalian. Kalian mau jadi musuh aku?" Arya menoleh tapi mereka terus jalan.


"Jangan harap kalian bisa ke rumah besok." Adera mengancam.


Alana kaget. Tapi mereka terus jalan. Mereka pulang dengan naik motor.


"Aku harus pergi dulu Alana." Arya pamit.


"Besok kita bisa kan ke rumah Adera lagi?"


"Iya, bisa saja kalau Adera mau menerima kita."


"Terus bayi ini, siapa yang mau mengakui?"


"Tidak tau. Bisa aku atau Adera. Itu urusan gampang Alana. Kamu diam saja dulu tidak usah berpikir yang macam-macam."


"Tapi, perut aku sakit arya. Tak ada seorang pun yang mau menjaga aku."

__ADS_1


"Kan ada ibu kamu!"


"Tidak Arya, aku mau kamu yang jagain aku. Kamu mau kan Arya?"


"Alana, kamu bicara apaan. Aku bukan ayah dari anak ini. Harusnya kamu bilang itu ke Adera. Tapi, aku tidak mau Adera depresi lagi."


"Kamu buat aku bingung Arya! Sudah kamu pergi saja. Biar rada sakit ini aku yang nanggung. Kamu tidak mengerti maksud aku, sana pergi!" Alana mengusir Arya. Laki-laki itu tambah bingung. Kenapa Alana sekeras itu ke dia.


Arya langsung menelepon Lidya. "Halo, Lidya, aku butuh kamu sekarang."


...---...


Alana POV


Sehabis subuh aku bangun, aku teringat sama Adera. Oh iya, aku lupa kalau Adera sudah balik. Aku harus ketemu Adera sekarang, lebih cepat lebih baik. Aku ingin bicara dengan dia secara personal.


Umur aku kian hari kian berjumlah.


Aku akhirnya bertemu Adera, dia ada di belakang rumah.


"Adera, maaf, bukan begitu aku kesini ingin dengar cerita perasaan kamu saat kamu tertidur lama. Aku ingin tahu bagaimana sikap kamu saat aku tak ada di sisi kamu..?"


"Aku ingin tahu, apakah kamu sedih saat aku tak ada di sisi kamu. Apa kamu rindu sama aku atau tidak?"


Adera :


"Yang jelas aku tidak sadar Alana. Aku tidak sadar karena depresi, depresi total. Kata dokter aku tidak boleh dengar kabar yang menyebabkan penyakit aku kambuh lagi. Aku tidak boleh dengar kabar-kabar buruk yang dapat meresahkan aku."


"Itu tidak boleh.


Alana:


"Maaf kalau aku ke sini membawa penyakit buat kamu.


Adera :


Alana :


"Bagaimana perasaan kamu sekarang?"


Adera :


"Biasa, aku biasa saja. Yang aku pikirkan adalah apakah aku bisa menerima kamu dan bayi yang ada di dalam kandungan kamu itu?"


"Apakah aku bisa menghadapi hidup sebagai seorang ayah?"


"Apakah aku bisa hidup bersama kamu di dalam kehidupan yang baru? Itu saja, selebihnya aku pasrah sama orang tua aku juga pada teman-teman aku."


Alana:


"Aku yakin kamu bisa Adera. Aku akan tetap mendukung kamu dalam hidup aku kalau kamu memang benar benar ingin jadi suami aku nantinya. Tapi, apakah kamu siap menjadi suami aku?"


Adera:


"Jujur aku masih belum siap Alana, tapi mau bagaimana lagi kalau bayi kamu itu semakin hari semakin bertambah besar, sedang aku tidak bisa berbuat apa-apa di sini..?"


Alana:


"Lihat Adera, bayi ini bergerak lincah di dalam, bayi ini tahu kalau ayahnya sedang bicara!"


"Kamu tahu kan kalau bayi itu punya firasat dalam kandungan?"


Adera: "Firasat, firasat apa maksud kamu?"

__ADS_1


Alana: "Firasat kalau kamu adalah bapaknya. Dia ingin segera bertemu sama kamu. Bayi ini adalah bayi kamu Adera, bayi kita. Kita Yang telah melakukannya pertama kali. Meski, yang lain juga ikut merasakannya."


Adera: "Itulah yang buat aku ragu, apa betul bayi itu adalah bayi aku Alana?"


Alana: "Kamu ragu kalau bayi ini adalah bayi kamu?"


Adera melihat aku lama sekali, dia curiga kalau ada orang yang telah menghamili aku waktu itu.


"Kita akan tes janin nanti." Kataku ke Adera.


"Tidak perlu, aku sudah yakin kalau itu anak aku."


"Ibu kamu sudah tau, bapak kamu juga..?"


"Belum."


"Lalu kapan kita akan bisa menikah, hidup bersama?"


"Adera waktunya makan. Maaf, baiknya kamu pulang dulu, Adera ada jam makan." kata Sulastri ke Alana. Sulastri adalah Ibu Adera.


Alana pergi tanpa pamit dahulu, Adera mengerti kalau Alana tidak tau etika. "Lain kali, kamu tidak perlu dekat-dekat dengan perempuan itu lagi, pamali."


"Maksud ibu?"


"Dia sedang hamil, hamil di luar nikah ya?"


Adera bingung mau jawab apa. "Siapa yang menghamili dia Adera?"


"Tidak tau ibu, ibu tanya sendiri ke orangnya."


"Pastinya kamu tau siapa yang menghamili, dia kan teman kamu."


"Aku tidak tau ibu."


"Sudah, sekarang kamu makan dulu biar ibu suapi."


Alana sudah mau sampai rumah, naik sepeda motor. Dia merasa sakit di perut, besok dia harus periksa. Meski sulit dan susah Alana tidak mau buat repot orang lain. Di rumah Adera kepikiran sama Alana.


Dalam hati Adera berkata, "Adera, Alana sekarang sudah bisa kamu temui, kamu ada di depan dia dengan masalah yang ada. Alana sekarang bukan Alana yang dulu lagi, yang bisa kamu bawa ke mana-mana. Ke hotel, atau ke kafe. Alana sekarang adalah Alana yang sedang hamil. Sedang mengandung bayi di perutnya.


"Kapan kamu mau tanggung jawab..?"


"Bayi itu bukan bayi aku, aku belum siap untuk menerimanya." Adera masih saja tidak mau menerima bayi itu. Di lain pihak ada Arya yang sedang sendiri di rumahnya. Dia sudah lama putus kontak dengan Laila. Suatu hari Laila menelepon Arya dan bicara.


"Arya, kamu apa kabar?"


"Baik. Kamu?"


"Aku baik, kabarnya Adera datang ya. Aku belum ke rumah dia. Mau kamu antar aku ke rumah Adera Arya?"


"Iya, kapan mau ke rumah Adera?"


"Mungkin besok, aku akan jemput kamu kalau kamu mau."


"Iya aku tunggu kamu di rumah."


"Baik."


Besoknya Laila datang ke rumah Arya, Laila senang sekali melihat Arya setelah lama tak berjumpa. "Arya, sekarang kita pergi ke rumah Adera berdua, kamu yang nyetir motor aku."


Arya tersenyum dan langsung mengambil sepeda motor itu. Keduanya bersamaan jalan ke rumah Adera.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2