
...Alana Story : Jangan Lakukan ...
...by : Faisolnur2 ...
...Aku masih tidak mengerti. Arya tiba - tiba melepas kancing bajunya, melepas baju nya di atas kasur lalu membuangnya ke lantai. Dia mendekat padaku dan mulai mencium aku. Ciumannya terasa lembut di bibirku. ...
...***...
Laila POV 🌜
Pagi itu Arya tiba-tiba menelepon aku. Aku masih rebahan di atas tempat tidur aku.
"Ada apa Arya? Tumben kamu menelepon aku pagi-pagi..?"
"Aku ingin mengajak kamu ke hotel. Kamu mau kan sayang..?"
Arya merayu aku dengan halus dan lembut. Aku tidak tau maksud Arya sebenarnya. Perasaan aku jadi tidak enak.
"Tapi kamu tidak mau macam-macam kan Arya?"
"Tidak, percayalah padaku. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku bersama kamu di hotel." ucapnya datar.
"Oke, tapi aku mau mandi dulu!" kataku ke Arya.
"Oke, nanti aku jemput kamu di rumah kamu. Kamu tunggu aku di rumah kamu pukul 8.00 Wib." lanjut Arya padaku.
"Oke." kataku ke Arya dengan rasa senang di hati. Oh Tuhan, aku senang bisa di sayang oleh Arya apalagi aku di ajaknya ke hotel berdua bersama dia. Moga saja Arya tidak macam-macam.
Arya menjemput aku tepat pukul 8.05 Wib saat aku masih pakai bedak dan parfum di kamar. Aku melihat dari arah jendela, Arya tidak masuk ke halaman. Arya, kenapa kamu tidak masuk saja? Ucapku dalam hati.
Setelah selesai aku langsung pergi ke Arya di depan pagar halaman rumah aku. Oh Tuhan, Arya terlihat tampan pagi itu.
"Kamu cantik sekali pagi ini." ucapnya padaku saat aku tiba di depan dia.
"Terima kasih." ucapku langsung.
"Yuk naik!"
Arya mengajak aku untuk naik ke atas motornya. Meski aku sedikit malu tapi aku tahan sebisanya. Karena aku tau Arya bukan orang berada. Aku tau Arya tidak mungkin punya mobil seperti Ayahku. Ingin sekali suatu saat nanti Arya lah yang menyetir mobil Ayahku setelah aku dan Arya menikah.
Meski aku tau Arya adalah orang yang sedikit dungu dan bodoh. Sampai sekarang Arya tidak melamar aku. Sudah jauh hari aku dengar Arya ingin melamar aku tapi keputusan itu belum aku terima sampai sekarang.
Di atas motor, aku sempatkan diri untuk mengobrol dengan Arya seputar pertunangan itu.
"Arya, status kita masih teman kan?"
Arya belum pernah menembak aku untuk jadi pacar dia. Aku tau hubungan aku dan Arya tidak begitu jelas. Aku dan Arya bisa dekat seperti ini karena peristiwa di rumah sakit saat aku jenguk Adera yang sakit tiga bulan yang lalu.
__ADS_1
Secara tidak langsung aku bertemu dengan Arya yang ada di rumah sakit waktu itu. Aku dan Arya saling menatap dan duduk berdua saat keluarga Adera datang menemui Adera di rumah sakit itu.
Aku masih ingat ketika Arya melihat ke arah aku dan bicara padaku.
Flashback:
"Kamu anak SMA Taruna kan..?" Arya menanyai aku.
"Iya, kamu kenal aku..?" aku kaget mendengar Arya bertanya begitu padaku.
"Aku pernah lihat kamu di sekolah Taruna." jelas Arya padaku.
"Iya, aku anak kelas 11." jawabku datar. Aku pura-pura fokus ke hp aku di saat aku duduk berdua dengan Arya di tempat duduk di luar kamar rumah sakit itu.
Besoknya aku bertemu dengan Arya lagi, aku mengobrol di luar bareng Arya dengan sedikit topik yang buat aku suka. Arya bilang kalau dia suka sekali menaklukkan hati perempuan. Aku tersenyum mendengarnya.
Sampai aku berniat dalam hati untuk bis jadi temannya. Akhirnya aku dan Arya tukeran nomor hp. Dan besoknya aku dengar kalau Adera mau di bawa ke Jerman untuk berobat. Aku dan Arya saling telepon kasih kabar dan cukup cemas dengan kondisi teman aku yang satu itu yaitu Adera.
Untunglah Adera bisa sembuh sehabis di rawat di Jerman.
Flash On:
Aku masih menatap sekitar jalanan, Arya masih fokus menyetir motonya.
"Arya, kapan kamu mau menembak aku untuk jadi pacar kamu..?"
"Iya, aku mau. Aku aku Arya jadi pacar kamu. Lalu, kapan kamu akan melamar aku untuk jadi tunangan kamu..?"
"Sabar dulu, semuanya butuh proses Laila. Kita pacaran dulu ya!"
"Iya."
Aku senang sekali bisa jadi pacar Arya. Aku sempat bermimpi untuk bisa jadi tunangan Arya suatu saat nanti.
...***...
Aku tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku mau saja di ajak oleh Arya ke hotel. tempatnya cukup bagus meski aku pernah ke situ sekali bersama teman aku karena satu alasan yaitu alasan pekerjaan.
Aku turun dari motor, Arya masih menuju tempat parkir sepeda motor. Arya menghilang di belakang dinding hotel. Aku menunggu dia di depan pintu masuk hotel. Arya datang dengan jaket abu - abunya.
"Yuk!" Arya mengajak aku masuk ke dalam. Aku menurutinya. Aku masuk ke dalam bersama Arya. Meski sedikit perasaan takut dan curiga menyelimuti aku.
Aku menulis nama dan alamat ku di buku tamu, Arya juga. Arya di berikan kunci kamar setelah dia bayar uang kamar hotel. Aku berjalan berdua dengan Arya menuju kamar hotel.
Kamar nomor 09 adalah kamar yang kami tuju. Arya membuka pintu kamar itu dan mengajak aku untuk masuk ke dalam. Kamarnya lumayan bagus dan bersih tapi sedikit sempit.
"Kamarnya lumayan." kataku mencairkan suasana.
__ADS_1
Arya melepas jaketnya dan melihat sekeliling. Dia melihat ke arah jendela.
"Arya, kita sampai jam berapa di sini..?"
"Sampai sore, sekitar pukul empat Wib." katanya menjawab.
"Oh." ucapku.
Aku masih berpikir untuk mengambil tempat duduk yang nyaman sebelum aku melangkah lebih jauh.
"Arya, kita mau ngapain di sini..?" tanyaku penasaran.
Arya lalu melangkah beberapa langkah dan mencoba untuk duduk di atas kasur hotel yang bersih dan empuk. Dia lalu berkata padaku,
"Laila, sebelum aku menikah aku ingin kita bisa saling terbuka."
"Maksud kamu?"
Aku masih tidak mengerti. Arya tiba - tiba melepas kancing bajunya, melepas baju nya di atas kasur lalu membuangnya ke lantai. Dia mendekat padaku dan mulai mencium aku. Ciumannya terasa lembut di bibirku.
Setelah berciuman Arya mulai melepas kancing bajuku. Pertama aku biarkan saja tapi setelah aku sadar kalau hal itu tidak mungkin aku lakukan sebelum aku menikah dengan Arya.
"Tidak Arya, maafkan aku. Aku tidak mau melakukannya! Ini tidak baik buat kita."
Aku langsung menghindari Arya dan mencoba untuk pergi. Tapi Arya malah mengejar aku dan menangkap aku dalam pelukannya. Arya memeluk aku dari arah belakang dan mencium tengkuk leher aku.
Aku merasakan kenikmatan itu dan ingin terus bermain dengan Arya dengan kecupannya itu.
"Maaf Arya, aku tidak bisa melakukan ini di sini bersama kamu. Aku tau aku suka hal itu tapi bukan saat ini. Maaf, aku harus pergi Arya!"
Aku berusaha untuk membuka pintu kamar hotel tapi Arya malah mengunci pintu kamar itu, aku mencoba untuk membuka pintu itu dengan paksa tapi tidak bisa. Aku tidak bisa keluar dari kamar itu.
"Laila, kuncinya ada di sini. Kamu tidak bisa membuka pintu itu."
Arya bilang padaku sambil menunjukkan kunci yang ada di tangannya. Dia berdiri sambil melihat aku dalam posisi tenang. Aku sedikit takut melihat Arya Saloka. Aku baru tau kalau Arya tega berbuat paksa padaku. Dia tidak mungkin ingin memperkosa aku sekarang.
Aku jadi ingat saat di mana aku pernah melihat Alana yang sedang lemas di sekolah, mukanya pucat. Dia bilang padaku kalau dia habis dari hotel.
"Ngapain Alana ke hotel..?"
"Ada deh...!"
Alana menutupinya dari aku. Aku sama Alana memang tidak begitu akrab karena Alana suka berteman sama teman-teman cowoknya seperti Adera, Dimas, Alfi dan Arya. Aku tidak mungkin menuduh mereka berempat adalah sekelompok penjahat yang tidak aku tau.
"Laila, tolong jangan pergi, kamu layani aku di sini. Aku calon suami kamu. Aku berhak mengajak kamu untuk melayani aku di sini."
Bersambung
__ADS_1