
Alana Story |75
Bangun dari tidur bertemu teman. Anang namanya. Aku suka dia, dia teman aku.
Bismillah
Alana Pov
Jujur aku kesal sekali sama Adera, kesal sekali! Tau tidak? Apa penyebab Adera tidak mau dekat sama aku? Kenapa Adera sampai sekarang meninggalkan aku begitu saja?
Entahlah, mungkin aku adalah gadis terjelek sedunia. Tapi aku belum coba telepon dia. Aku akan cek nomor hp dia di ponsel Android aku. Tapi, aku ragu. Tapi nomor telepon itu tetap aku pencet.
Tut.. Tut.. Tut.
Hp itu berdering merdu di telinga. Beberapa ingatan yang ada berkelebat di benak aku.
Tapi telepon itu tidak di angkat. Aku lepas saja telepon itu. Adera tidak bisa di hubungi. Oh Tuhan. Aku harus menunggu waktu untuk bisa dapat jawaban.
"Alana, kamu masih di kamar..?" Ibuku menyapa aku pagi itu saat di mana hati aku masih berpikir tentang Adera. Ibu tiba-tiba menyadarkan aku dari lamunan aku.
Oh Tuhan.
"Alana..?"
"Iya Ibu..?"
"Anak kamu masih tidur..?"
Ibu ingat sama bayi laki-laki yang aku beri nama Aries. Dia adalah anak aku satu-satunya dari buah karya kami berdua yaitu aku dan Adera.
Tuhan.
"Alana, kamu bantu Ibu dulu ya di dapur..!?"
"Ya Ibu."
Aku lalu bantu ibu memasak di dapur. Aku tidak fokus bantu Ibu di dapur. Tiba-tiba aku dengar Aries nangis di dalam kamar. Aku cepat-cepat pergi ke kamar untuk bertemu Aries.
"Aries Sayang..!!"
Aku menyapa bayi itu pagi itu dengan wajah penuh bahagia. Aries adalah pengganti Adera buat aku. Dia yang telah menguatkan aku sampai detik ini. Aries lah yang akan membela aku nanti kalau pas aku di sakiti oleh Adera di penjahat kelamin itu!
Adera jahat! Mimpi aku, andai aku bisa, aku akan laporkan ke polisi karena Adera yang sangat tidak sopan!
__ADS_1
Setelah manis sepah di buang. Apa sih yang di inginkan Adera selama ini? Aku hamil juga karena dia. Berharap orang lain aku salah.
Aku lalu mengambil Aries yang masih tergeletak di atas kasur. Oh Tuhan! Selamatkan lah aku dan keluarga aku, juga Adera! Amin.
Aku lalu bawa Aries ke dapur sambil sambil niat bantu Ibu masak di dapur. Ibu melihat aku tidak nyaman setelah aku menggendong Adera.
Aku tau kalau Ibu tidak suka pada Aries. Padahal dia cucu satu-satunya Ibu. Aries aku kasih ASI pagi itu. Dia diam kalau sudah di kasih ASI.
Aku tersenyum pada Aries. Wajahnya mirip sekali dengan Adera. Ada yang bilang kalau dia mirip dengan wajahku.
"Aries.. panggil bapakmu sayang..!"
"Alana, kamu masuk saja ke dalam, tidak usah di sini! Ibu bisa masak sendiri kok."
"Ya Ibu." aku mengiyakan perintah Ibu. Tapi aku langsung merasa kesepian di dalam rumah tanpa adanya orang tua. Aku merasa jauh dari Ibu. Ingin sekali aku bunuh anak tidak berdosa ini saking bencinya aku sama Adera.
Tuhan! Lindungilah bayi ini dari sifat buruk aku.
"Maafkan aku sayang. Bapak kamu jahat sekali!"
Aku niat ingin bertemu Adera besok pagi. Aku akan beranikan diri bertemu dengan Adera apa pun caranya. Aku tidak akan bawa nama Ibu atau siapa pun di sini.
Aku tau, kalau Adera bukan siapa-siapa di rumah ini. Adera adalah kekasih haram ku. Aku harus kroscek dari awal siapa Adera sebenarnya.
Kalau ingat Adera, dia anak gampangan. Di sekolah SMA Taruna, aku suka sekali lihat Adera sedang ngerokok. Biasanya dia berempat sama temannya. Ada Alfi, Dimas dan Arya.
"Aries mana? Dia sudah tidur..?" Ibuku bertanya setelah aku pergi menuju dapur.
"Aries sudah tidur Bu di kamar." jawabku datar. Aku masih mengeluh pada diri aku sendiri. Kenapa nasib bisa begitu. Mungkin, ini adalah takdir atau siksa yang harus aku terima atas dosa-dosa aku selama ini.
Maafkan aku Tuhan. Aku melakukan itu dengan Adera, karena aku sangat sayang ke dia. Adera adalah laki-laki harapan aku satu-satunya.
Oh Tuhan, berikan lah petunjuk kamu buat Adera, dan juga aku.
Adera Pov
Tiba-tiba ada angin lewat di dapan aku. Aku merasakan ada sesuatu yang terjadi. Aku ingat pada Alana dan juga bayi itu. Bayi yang baru terlahir dari rahimnya.
"Tuhan, dia adalah anakku." ucapku lirih. Sudahlah. Aku menepis ingatan itu tanpa perlu tau lagi atau ingat lagi nama Alana dalam hidup aku.
Jujur, aku tidak mau sakit-sakit lagi seperti kemarin yang buat aku tidak sadar gara-gara Alana. Itu semua gara-gara Alana. Alana lah yang buat aku depresi hingga aku shock dan tidak sadarkan diri di rumah Arya kemarin.
Kamu masih ingat peristiwa itu kan? Peristiwa di rumah Arya! (Baca episode sebelumnya).
__ADS_1
Aku lalu pergi ke kamar dengan niat mengambil gitar. Gitar yang sudah lama tidak aku petik.
Aku petik gitar itu dan aku pun bernyanyi.
Menghitung hari detik demi detik.." lagu itu aku nyanyikan dengan merdu. Kadang aku menangis ketika ingatan aku tiba pada nama Alana.
Aku kalau meletakkan gitar itu di balik dinding kamar aku. Aku ambil ponsel Android, lalu aku cari nama Alana.
Tapi aku ingat teman aku Laila. Perempuan yang sempat aku temui di kebun aku kemarin. Sangat bodoh! Aku adalah laki-laki tidak setia pada satu orang perempuan bernama Alana.
"Adera..!" tiba-tiba Ibu aku yang paling baik memanggil aku.
"Iya Mama..!" aku langsung jawab panggilan itu. Aku berdiri di dekat pintu kamar aku dan menghadap Ibu.
"Sayang, nasi sama lauk pauknya udah masak. Yuk! Ikut Mama! Kamu pasti sudah lapar!" kata Mama padaku.
Aku langsung tersenyum dan langsung mengangguk.
"Baik Mama. Aku juga sudah lapar." lanjut aku menjawab sambil mengikuti langkah Mama ke arah dapur.
Aku membuka tirai rumah dan langsung menuju dapur.
"Nih, Mama sudah bawakan semur lodeh buat kamu. Masih hangat, enak loh sayur lodeh buatan Mama.." kata Mama padaku. Senang sekali aku mendengar perkataan Mama padaku waktu itu.
Mama adalah sosok perempuan yang selalu buat aku bahagia. Dia adalah sebagian kebahagiaan aku di rumah ini.
"Papa ke mana Ma..?"
"Papa udah berangkat ke kantor sayang. Kamu ada perlu sama Papa..?"
Aku berpikir untuk menjawab pertanyaan Mama.
"Nggak sih, cuma nanya aja." kataku simpel.
"Ya sudah, kalau begitu kamu ambil nasinya. Ambil itu nasi, ikan, sayur lodeh. Mama masak itu buat Papa dan sama kamu, anak Mama satu-satunya. Dan satu pesan Mama, jangan pernah ingat sama Alana, ya!
Deg.
Aku langsung berhenti untuk berpikir. Dadaku seperti sesak napas setelah Mama berkata seperti itu. Kenapa harus Alana yang Mama benci? Padahal, aku adalah laki-laki satu-satunya yang telah merusak hidup Alana.
Aku adalah penjahat bagi Alana. Oh Tuhan, siapa sebenarnya yang salah di sini? Ibu selalu tidak merestui aku untuk berhubungan sama Alana.
"Adera, kamu kenapa Nak..?"
__ADS_1
Perasaan aku tambah tidak enak. Maaf Ma, aku permisi ke kamar dulu!" aku langsung geram dan tidak tahan seakan ingin menangis saja.
salam.