Alana Story

Alana Story
Chapter 18


__ADS_3

Aku lalu pergi ke luar tanpa ijin dulu ke Ibu. Aku naik motor ke jalan menuju kota Tangerang dan langsung ke arah kafe kopi kota seperti yang Adera bilang. Kafe itu masih sepi, aku masih menunggu Adera datang sambil duduk di atas sepeda motor Beat yang aku bawa.


Aku melihat jalanan yang cukup sepi. Beberapa kendaraan bermotor lewat di depan aku. Tak lama Adera datang dengan motornya.


"Lama menunggu?" tanya Adera padaku.


"Lumayan. Langsung masuk? lanjut-ku ke Adera. Adera setuju. Aku dan Adera masuk ke halaman kafe dan memarkir motor kami di dekat pagar. Aku melangkah bareng Adera menuju meja dan kursi yang telah ada dan masih terlihat kosong.


Aku memilih kursi dan meja yang ada di tengah di ikuti oleh Adera. "Kamu pesan apa..?"


"Pesan kopi saja."


Aku memanggil pelayan dan pesan dua kopi untuk aku dan Adera. Satu kopi hitam untuk Adera, satu kopi susu buat aku. "Langsung saja, bagaimana ceritanya? Kenapa bisa Arya melakukan itu padamu? Kamu punya salah ke Arya?"


"Tidak tau, tiba-tiba Arya menyekap aku dan membawa aku ke kelas yang kosong. Arya jahat sekali!"


"Sudah tau Ary jahat masih saja kamu temani. Dari dulu Arya itu jahat! Suka menyiksa perempuan! Apa kamu tidak sadar..?"


"Sadarlah sedikit, kamu pasti tau!" Adera menyulut rokoknya di depan aku. Kopi pesanan datang, aku masih sedih sambil menghibur diri dengan melihat tingkah Adera di depanku.


"Bagaimana kabar Alana..?"


"Tidak tau, aku sudah lama tidak bertemu dia. Katanya dia sudah lahir."


"Aku bingung. Apa kamu percaya kalau Arya yang telah memperkosa Alana..?"


"Tidak juga, aku juga ikut ambil bagian. Aku, Arya, Dimas, dan Alfi ada di dalam hotel yang sama." jelas Arya padaku.


"Jadi kamu juga sudah melakukannya?"


"Laila, kamu tidak perlu bahas masa lalu. Aku tidak ingin mengingat itu lagi. Alana adalah masa lalu aku, kamu teman aku sekarang."


"Adera, aku pernah berharap kamu jadi pacar aku tapi aku tak bisa menerima kamu. Aku lebih suka sama Arya yang ternyata jahat."

__ADS_1


Adera tertawa kecil, dia seperti menertawakan aku. Aku meminum kopi yang ada di meja. Tidak mudah untuk bisa tenang. Aku masih saja terusik oleh jiwa yang ada di diriku.


"Adera, apakah kamu senang melihat aku seperti ini? Di siksa oleh Arya si kelas tanpa ada siapa pun yang menolong?"


Hehehe. Adera tertawa lagi padaku. Aku menggeleng kepalaku. Adera seperti melecehkan aku di depan dirinya. "Apakah aku seperti perempuan murahan..?"


Adera menoleh ke arahku. "Laila,aku tidak bicara seperti itu. Aku cuma ingin kamu tenang di samping aku, itu saja. Aku minta maaf tidak bisa menjaga kamu di sekolah."


"Apa kamu tidak akan kembali ke sekolah seperti dulu lagi?"


"Aku rindu anakku. Aku ingin bertemu Alana. Aku sudah tidak berharap ke situ. Aku sudah yakin kalau ini adalah nasib aku kedepannya. Aku tidak mungkin balik lagi ke sekolah."


Aku diam sambil mencoba untuk mencerna dan memahami apa yang telah ada. Tak ada kata lain selain bersedih. Aku dan Adera seperti dua pulau yang berseberangan.


"Apa yang terjadi padamu di kelas..?" lanjut Adera tanya padaku. Dia masih ingin tau peristiwa di dalam kelas.


Aku cerita kalau Dimas dan Alfi telah mencium aku. Mencium bibirku dengan seenaknya. Aku malu bilang itu di depan Adera.


"Kejam sekali Arya, biar aku kasih tau dia nanti. Beraninya dia main kasar seperti itu! Bikin aku kesal saja!" Adera seperti tidak terima.


"Tidak akan. Aku akan bicara baik-baik ke dia."


"Buat apa? Sudah tau dia orang jahat masih saja kamu pelihara! Mending kamu kasih dia pelajaran kalau perlu!" Adera melihat aku yang langsung emosi.


"Kamu yang sabar Laila. Kamu bisa pindah dari sekolah itu biar bisa jauh dari Arya!"


"Tidak mungkin, aku tidak bisa pindah dari sekolah itu. Aku tidak mau mempersulit diriku. Aku akan lapor ke dewan guru kalau itu penting. Aku sambil berjaga-jaga."


"Bagus, itu perlu. Arya memang harus di kasih pelajaran." lanjut Adera padaku. Adera menyedot rokoknya santai di depan aku.


"Adera, kamu bilang tadi kamu rindu ke anakmu? Apa kamu akan pergi bertemu Alana..?"


"Nanti saja aku masih belum siap. Alana masalah buat aku. Aku tidak mau mendekati masalah terbesar dalam hidup aku. Aku bisa sakit saat melihat Alana di depanku."

__ADS_1


"Aku tau. Tapi, apa Alana akan menerima kamu?"


"Itu masalahnya. Aku tidak sekuat itu menghadap Alana. Aku penakut."


"Sama, aku juga. Arya seperti penjahat nomor satu di hidup kita. Tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kita seperti orang bodoh!"


"Diam! Kita masih bisa berencana. Tapi nanti saja. Kita bisa buat rencana kapan saja. Yang penting kamu aman sekarang. Usul ku kamu jangan masuk sekolah dulu."


"Kenapa?"


"Aku tidak mau Arya ganggu kamu lagi! Bodoh kamu!"


"Tapi Arya tidak mungkin melakukan itu, dia sudah memaafkan aku! Aku tidak mau bolos sekolah seperti kamu dulu."


Adera melihat aku. "Kalau bolos sekolah emang kenapa? Bolos itu enak Laila!" Adera kesal padaku sepertinya. Nada bicaranya berbeda dari sebelumnya.


"Aku akan bolos tiga hari. Apakah itu cukup?"


"Satu Minggu!"


"Untuk apa Adera! Itu akan membuat aku tersiksa di rumah. Aku tidak bisa ngapa-ngapain di rumah."


"Kamu lebih suka Arya menyiksa kamu di sekolah? Ingat kalimat ku ini.! Di sekolah Ada Arya, kamu lupa?"


"Tapi aku tidak takut. Aku bisa menghadapi dia di sekolah, apa pun yang terjadi. Aku bisa hadapi itu." ucapku jelas ke Adera.


Meski sebenarnya aku sedikit takut untuk berhadapan dengan Arya.


Adera lalu pamit pergi dariku. Dia meninggalkan aku di kafe itu. Adera tidak pikir untuk membayar uang kopi yang telah aku pesan tadi.


Adera langsung pulang tanpa membayar uang kopi itu. Aku yang harus membayarnya. Demi bisa bersama Adera.


To Be Continue.

__ADS_1


[Maaf kalau ada Typo.]


__ADS_2