
Aku masih menunggu ojek online untuk bisa sampai ke rumah, akhirnya ojek itu datang dan aku naik di motor itu sendiri. Di saat perjalanan, aku senang sekali bisa berjalan sendiri sambil melihat pemandangan luar. Meski aku masih belum punya teman sekarang.
Aku sampai di rumah setelah aku turun dari ojek itu. Perasaan aku sedikit lega meski pikiran aku masih sumpek karena kepergian Adera.
"Alana, sudah pulang, teman kamu itu sudah sembuh?" kata ibuku menyambut aku.
"Tidak ibu, dia di bawa ke Jerman."
"Jauh sekali!"
"Iya, di sini dia tidak ada perkembangan makanya di bawa ke Jerman." ucapku lanjut.
Aku masih bingung ingin bertemu sama Arya. Mungkin Arya dan Laila sudah bahagia berdua. Tidak ada telepon atau apa pun di sini, jauh dari Adera dan Arya buat aku sedih. Aku lupa kalau masih ada Dimas, aku mau telepon dia.
"Halo Dimas, kamu di mana?"
"Aku di rumah, maaf ya aku tidak bisa datang ke RS, kabarnya Adera di bawa ke Jerman ya?"
"Iya, Adera di bawa berobat ke Jerman. Itu keputusan keluarganya, aku tidak bisa menghalangi Adera pergi."
"Kasihan juga, kamu-nya tidak di ajak ke Jerman pula."
"Ya enggaklah Dimas, biayanya mahal, aku tunggu kabar dari keluarganya saja. Entah berapa hari mereka di Jerman. Semoga saja Adera bisa sembuh dan balik lagi seperti semula."
"Amin."
Telepon itu aku tutup setelah pamit ke Dimas. Aku berpikir kenapa hidup aku tambah rumit ya, setelah Adera pergi. Aku coba untuk duduk di depan rumah, aku sempat lupa kalau aku tengah mengandung anaknya Adera.
Ya tuhan, harus aku bagaimana kan anak ini nantinya. Ini beban buat aku, tapi, apa aku harus bunuh janin bayi ini? Padahal Adera masih berharap untuk bisa berkumpul dan menikah dengan aku lagi.
Ponsel aku berdering, itu pasti dari Arya. "Halo, Arya, ada apa..?"
"Aku lupa mengantar pakaian kamu, kamu di mana sekarang?"
"Aku di rumah. Aku kesal Arya, aku capai. Hidup aku tambah susah setelah Adera pergi!"
"Aku tahu alasannya, itu karena kamu tidak hidup lagi di rumah sakit, betul kan Alana?"
"Iya sih, betul sekali. Tapi, apa aku harus cari orang untuk bisa kumpul lagi sama orang-orang padahal hanya kamu dan teman-teman kamu saja yang aku kenal, aku tidak punya siapa-siapa di sini!"
"Sabar Alana, masih ada aku di sini. Aku sudah bertemu Laila tadi, makasih ya sudah mau dukung aku sama Laila. Kau baru tahu kalau hubungan itu harus di jaga dan di pelihara." kata Arya padaku.
"Iya betul sekali. Dan kamu tahu kan kalau aku telah kehilangan orang yang aku sayang sejak lima hari yang lalu, tepatnya di rumah kamu,
__ADS_1
"jujur aku masih belum bahagia lagi Arya, aku butuh Adera dan kamu untuk bisa kembali lagi bersama seperti dulu."
"Oke, aku akan ajak teman-teman untuk gabungan lagi seperti kemarin tanpa Adera, aku akan mengajak Laila, boleh kan?" Arya merajuk.
"Tidak Arya, itu tidak mungkin. Aku tidak mau Laila tahu masalah ini." kataku bersikeras.
"Bukan begitu Alana, aku sudah cerita ke Laila tentang masalah kamu itu. Laila sudah tahu kalau kamu itu hamil anaknya Adera!"
"Ya tuhan Arya! Kamu tega banget sama aku. Aku jadi sedih sekarang. Tapi tolong jangan ajak Laila untuk kumpul, aku tidak mau. Kapan kita bisa kumpul bareng lagi, eh maksud aku cuma ngumpul bareng bukan nge-*** bareng."
"Itu penting sekali Alana, aku akan hubungi Dimas dulu dan Alfi. Dan satu orang lagi kalau perlu!"
"Siapa Arya?" tanyaku penasaran.
"Tunggu saja, dia pasti akan datang." suara Arya seperti misterius.
Klik. Telepon aku tutup, aku punya semangat lagi untuk hidup, paling tidak aku bisa kumpul lagi bersama teman-teman aku nantinya.
Aku diam dulu di rumah dan aku kedatangan seseorang dan itu adalah Mas Rifki. Aku tidak tahu perlu dia apa, dia menemui ibuku untuk sekedar mengobrol santai.
"Permisi, Mas Rifki datang ke sini lagi?"
"Iya Alana, kamu sehat?"
"Alhamdulilah sehat." jawabku.
"Tidak dia ada di rumahnya. Kamu baik-baik saja bukan?"
"Alhamdulilah baik."
Mas Rifki dan Ibu sampai sekarang tidak tahu kalau aku sedang hamil muda. Aku sengaja merahasiakan hal itu dari mereka biar tidak terjadi masalah dan di buat bahan pembicaraan.
Aku dengar suara sepeda motor datang menghampiri halaman rumah aku. Itu Arya, dia turun dari atas sepeda motornya.
Aku berjalan menghampiri Arya, di saksikan oleh mas Rifki dan Ibu. "Kamu cepat datang ke sini, ya?" kataku ke Arya setengah berbisik.
Di belakang Ibu seperti curiga atau bagaimana aku tidak tahu.
"Alana, suruh teman kamu masuk, biar ibu buatkan minum." kata ibuku berujar.
"Baik Ibu, yuk masuk." aku mengajak Arya untuk pergi masuk ke dalam rumah aku.
Aku berjalan berdua bersama Arya masuk ke dalam rumah. Arya masih bawa tas yang di bawanya dari rumah sakit.
__ADS_1
"Duduk Arya!" aku menyuruh Arya untuk duduk, lalu menutup pintu depan rumah aku.
"Arya, kenapa kamu datang sekarang, malam-malam lagi?" aku sempat kuatir saat mengambil tempat duduk.
"Alana, kamu kenapa, kamu kelihatannya cemas, ya?"
"Iya Arya, aku cemas sekali kamu datang, aku kuatir ibu dengar berita itu."
"Ibu kamu masih belum tahu kamu hamil..?"
"Arya, kamu tidak tahu rupanya kalau aku masalah ini sifatnya rahasia. Makanya, kamu cepat pulang saja, tidak enak lama-lama di rumah, takut ketahuan Ibu! Kalau ibu sudah tahu, Ibu pasti marahin aku dan aku tidak akan mungkin jadi sama Adera, Ibu tidak mau aku jadian sama Adera!
"Adera dulu sempat ke sini, Ibu langsung mengusir Adera karena Ibu tidak mau aku di ganggu sama laki-laki seperti Adera atau yang lain!"
"Kenapa sama aku tidak Alana?"
"Itu karena aku cerita ke Ibu pasal Adera yang sakit. Mungkin dia sadar kali ya?"
"Entahlah, cepat kamu ambil baju-baju kamu, setelah itu aku langsung pulang." kata Arya pamit padaku.
"Maafin aku Arya, aku tidak bermaksud mengusir kamu, oh iya rencana kamu sama teman-teman bagaimana?" tanyaku lanjut.
"Kita bicara di telepon saja, tidak enak sama ibu kamu. Kenapa kamu ingin sekali rencana itu terjadi Alana, bukankah ibu kamu melarang kamu untuk bergaul dengan laki-laki..?"
"Arya, tutup mulut kamu! Yang melarang itu ibu, bukan aku! Mengerti kan kamu!"
"Tapi seenggaknya, kamu mau nurut sama ibu kamu, bukan begitu Alana?"
"Arya, dengar ya! Aku hidup butuh bahagia, dan bahagia aku adalah kamu dan teman-teman kamu itu, bukan keluarga aku! Keluarga aku mah sampingan!" kataku di depan Arya.
"Alana, jaga mulut kamu! Bisa-bisa kamu di usir dari rumah ini, masalahnya akan tambah rumit lagi, mengerti kamu Alana!"
"Iya, aku mengerti! Aku ambil baju-baju aku dulu." lanjut ku. Aku langsung mengambil baju-baju itu dari dalam tas Arya. Ibu datang membawa teh panas buat Arya.
"Di minum tehnya!" kata Ibuku bersuara. Aku masih mengemasi baju-baju aku untuk aku pindah ke lemari.
"Maafin aku Alana, aku tidak bisa bantu kamu."
"Tidak masalah, kamu memang tega lihatin aku capai begini!" aku balas sahutan Arya. Dia lalu datang membantu aku. Aku lihat dia sebentar, dan perasaan itu mulai ada.
Arya tidak masuk ke kamar aku, dia menunggu di ruang tamu. "Alana, maaf aku harus pergi dulu, nanti malam biar aku telepon kamu lagi."
"Iya, makasih Arya!"
__ADS_1
"Sama-sama." laki-laki itu pergi dari rumah aku, aku jadi tidak enak karena harus kumpul lagi bareng Mas Rifki yang masih betah duduk di luar rumah aku, di kursi duduk sendirian.
Bersambung.