Alana Story

Alana Story
Chapter 21


__ADS_3

Adera POV


Aku lalu ambil rokok untuk aku nikmati. Aku akan menyusul Ayah ke kebun setelah itu. Aku pergi ke kebun jeruk dengan naik motor. Aku melihat Ayah sedang memberikan obat pengusir hama. Aku membantu Ayah sebentar.


Ayah lalu bilang padaku. "Kenapa menyusul? Tidak tidur saja di rumah?"


"Aku ingin bantu Ayah. Ayah tidak suka?"


"Suka." Ayah lalu membiarkan aku melakukan apa saja semau aku. Aku memetik daun buah yang telah kering agar pohon kembali segar.


Kebun itu lumayan luas. Aku bersyukur pada Tuhan dan berterima kasih ke Ayah.


"Adera, cangkul tiap pohon yang ada. Biar tanahnya subur." aku melakukan apa yang ayah perintahkan padaku. Aku menggembur kan tanah dengan cangkul.


Aku melihat perempuan datang ke arah ku. Seperti Laila yang datang. Aku ijin ke Ayah dan permisi untuk bertemu Laila.


Aku melangkah menghampiri perempuan itu. "Kenapa bisa ke sini? Dari mana kamu tau jalan ini?"


"Aku tanya ke Ibumu. Aku pernah lewat di sekitar jalan ini. Ini kebun milik Ayahmu?"


"Iya,milik Ayahku. Dulu sempat di jadikan Lapangan sepak bola lalu Ayah berubah pikiran." jelas aku ke Laila.


Laila tersenyum padaku.


"Aku kesepian di rumah. Boleh aku temani kamu di sini?"


"Boleh, sambil memetik jeruk kalau kamu mau?"


"Ada yang masak?"


"Ada tapi tidak banyak."


"Yuk!"


Laila mengajak aku dengan perasaan senang. Mau berjalan keliling kebun untuk mencari buah jeruk yang setengah masak. Buah jeruk itu masih kecil-kecil dan perlu waktu yang lama untuk bisa besar dan berwarna merah.


Satu buah jeruk berhasil Laila petik. Aku juga menemukan satu jeruk yang sedikit masak.


"Manis tapi masih kuning."


"Kurang masak. Nanti kamu balik ke sini kamu sudah masak."


"Iya. Tapi aku tidak janji."


"Bagaimana belanjaannya tadi?"


"Cukup menyenangkan. Aku jadi terbiasa belanja sendiri di supermarket di kota. Oh Iya, apa Alana tau tempat ini..?"

__ADS_1


"Tidak, Alana tidak tau. Dia hanya tau aku di sekolah dan di rumah. Itu saja. Beda sama kamu." ucapku ke Laila.


Baru-baru ini hubungan aku dengan Laila cukup dekat.


"Kenapa tidak kamu ajak? Katanya cinta? Atau kamu tidak suka Alana tau tempat ini?"


"Tidak tau, cuma belum takdir saja. Mungkin lain kali saja Alana aku ajak ke sini."


"Boleh. Kasihan dia. Harusnya kamu ada di dekat dia. Di samping dia. Bukannya malah di tinggal pergi."


"Alana sudah tenang di rumahnya. Dia tidak butuh siapa pun. Dia sudah punya bayi yang lucu. Aku merasa bersalah ke dia."


"Sudahlah, itu sudah resiko kehidupan tidak perlu di sesali. Aku mau keliling tempat ini, bisa kamu temani?"


"Boleh, tapi jangan lama, aku capai nantinya."


"Iya. Aku hanya berkeliling sebentar."


Aku dan Laila berkeliling sebentar di kebun itu. Sedikit banyak Laila bercerita tentang masa kecilnya. Aku cukup mendengarkannya saja.


Laila melihat pohon-pohon jeruk yang tumbuh di sekelilingnya. Daunnya cukup lebat dan rindang.


Aku dan Laila lalu balik ke tempat semula, ke arah pintu depan pagar kebun.


"Akhirnya selesai juga keliling kebun."


Dia bertanya padaku setelah sampai di pintu depan kebun.


"Adera, apa kamu tidak kesepian di rumah?"


"Tidak, kenapa tanya begitu? Sekarang banyak aplikasi di hp. Kita tinggal mengunduhnya saja. Apa kamu belum tau?"


"Taulah. Tapi, maksud aku, apa kamu tidak butuh teman bermain..?"


"Apa ini tidak cukup buat aku? Aku sudah bersyukur bisa kenal kamu. Kamu baik sekali padaku. Tanpa aku suruh kamu mau datang menemui aku. Apa itu masih belum cukup buat aku?


"Atau, ada sesuatu yang lain selain itu?"


Aku dan Laila saling berpandangan dan saling beradu mata. Aku merapatkan wajahku ke Laila. Dan kecupan itu mendarat di bibirnya.


Aku berhasil mengecup bibir Laila yang merah. Aku minta maaf ke Laila setelah aku sadar.


"Tidak apa. Santai saja. Aku tau kita telah dewasa dan hal itu biasa terjadi." jelas Laila padaku sambil memegang pagar yang melintang di depannya.


"Maafkan aku Laila. Aku tidak bermaksud menghina kamu." aku mencoba untuk merendah.


"Biasa saja. Lupakan semuanya. Aku tidak mau bahas itu lagi. Aku ijin pulang. Terima kasih atas semuanya."

__ADS_1


Laila pergi meninggalkan aku di kebun itu. Aku berbalik melihat pohon jeruk yang masih berbuah biru. Aku tidak dapat memetiknya.


Aku balik ke rumah dengan sepeda motor Beat aku yang warna putih. Aku tau kalau sepeda motor itu bensinnya tinggal sedikit semoga ayah bisa mengisinya nanti. Oh Tuhan, aku masih saja resah sampai sekarang. Kelakuan aku saja cuma di kebun tidak pernah di ajak jala. keluar dan tidak banyu ibu di rumah.


Oh Tuhan.


Aku pergi melangkah rebahan di rumah tepatnya di dalam kamar. Oh Tuhan, betapa enaknya kalau tidur sambil rebahan tanpa ada uang sepeser pun yang aku terima tapi benar aku bisa pakai internet sekarang.


Yang lain aku tidak tau. Oh Tuhan, sampai kapan aku akan bernasib seperti ini atau aku harus terima kehidupan yang seperti ini dengan makan enak dan menulis teru sambil main apk.


Aku menelepon Laila akhirnya. Aku pegang hp aku, aku klik layar seketika layar itu langsung menyala dengan beberapa aplikasi yang ada. Senang sekali bisa seperti itu. Ingin buka aplikasi sebenarnya tapi sudahlah.


Aku harus mencari nomor telepon Laila. 085785xxx. Aku klik tanda call yang warna biru, dan mulai tersambung.


Adera


Halo Laila


Laila


Ya Adera, maaf aku lagi mau mandi nih. Mau bersih-bersih badan dulu. Kotor soalnya. Maaf ya Adera.


Adera


Ya


Klik. Telepon itu langsung terputus. Harapan aku lenyap sudah. Tidak ada yang bisa aku harapkan sekarang.


Aku lalu ingat nama Alana yang sudah lama tidak aku temui. Aku lalu ambil buku harian dan aku tulis sesuatu di buku itu untuk Alana kekasih lamaku.


Buku Harian


Alana terkasih, aku tidak tau apa yang telah terjadi padaku. Aku biasa ke kebun dan aku ikut kerja dengan bapak aku.


Bapak aku masih di kebun dan belum pulang kerja menyiram pohon jeruk di kebun itu. Maaf kalau aku menyimpan sesuatu dari kamu Alana.


Ada yang tidak kamu tau tentang hubungan aku dengan seseorang. Oh Tuhan, sebaik apa pun itu, aku masih merasa tidak nyaman dan tidak enak. Masih berapa lama kah hal ini akan terjadi ya Tuhan?


Apa iya, aku bisa bertahan seperti ini terus..? Semoga saja aku lupa pada uang yang hilang atau di ambil orang. Terus kapan aku bisa dapat uang? Atau jalan-jalan dengan ramah tamah seperti biasa. Oh Tuhan, berikan aku kekuatan, berikan aku ketabahan kalau seperti ini caranya.


Semoga bisa jalan keluar dengan cara apa pun. Entah dengan uang siapa nanti aku berjalan. Dan yang di sini dengan uang amal yang tidak aku harap. Berkah selalu amin.


Selebihnya aku masih ingin menulis tentang kisah aku yang mungkin ngeres ya.


To Be Continue.


[Maaf kalau ada Typo.]

__ADS_1


__ADS_2