Alana Story

Alana Story
Chapter 11


__ADS_3

"Kenapa Arya, kamu mengakui kalau anak ini adalah anak kamu juga, begitu?"


"Ya iyalah Alana, kamu lupa kalau aku juga ikut melakukannya?"


"Tidak Arya, ini anak aku sama Adera, Adera lah yang pertama kali meniduri aku, kamu yang kedua. Dan ****** kamu tidak mungkin jadi di rahim aku!"


Aku telah kasar sama Arya waktu itu, aku tidak sadar kalau hal itu buat Arya jadi sedih dan sakit.


"Dari dulu kamu begitu Alana, aku jadi tahu siapa kamu sebenarnya. Mungkin, aku telah salah datang ke sini." Arya langsung ingin pergi dari rumah aku.


"Arya, kamu mau ke mana, Arya! Tunggu! Kamu tidak akan pergi secepat ini, ini bukan sifat kamu Arya! Oke, sekarang anak ini adalah anak kamu juga, tapi tolong kamu jangan pergi dulu sekarang, aku butuh kamu di sini, Arya!


"Aku meminta Arya untuk tinggal di rumah aku dulu sejenak."


"Tidak Alana aku harus pergi, kamu bisa ke rumah kalau kamu mau." Arya pergi meninggalkan aku. Aku jadi bingung.


Aku melepas Arya dan aku niat pergi ke umah Arya. "Alana, mau ke mana?"


"Ke rumah Arya. Aku ingin pergi ke rumah Arya, aku ingin mengobrol sama dia dan cari tahu kabar Adera."


Aku pergi naik sepeda motor. Dan terasa mencekam. "Arya, aku datang."


"Masuk, duduk." Nyaman sekali tinggal di rumah Arya. "Ibu kamu ke mana?"


"Ada di belakang."


"Maafkan aku tadi."


"Tidak masalah. Aku maafkan."


"Aku ke sini ingin mengadu nasib. Kamu tahu aku hamil, Adera sedang sakit. Aku ingin anak ini punya bapak yang mau mengakui dia."


"Dia punya paman, aku masih ada. Kamu tunggu sampai Adera sembuh."


"Aku ingin kamu jadi bapaknya sementara."


"Sama saja, nggak ada baiknya. Mau aku mau Adera, Alfi, Dimas, semuanya sama saja, tidak ada bedanya sama sekali Alana. Kamu hanya penyakit buat aku dan Adera."


"Apa katamu, sejak kapan kamu punya pikiran seperti itu, tega sekali kamu bilang seperti itu padaku Adera, jadi begitu kamu menilai aku selama ini, iya!?"


"Iya, dan aku bosan lihat kamu seperti ini Alana, menyusahkan aku saja!"


"Terus kamu mau apa dari aku, mau membuang aku jauh-jauh dari kamu, begitu, ingin membunuh aku atau.."


"Tidak, aku tidak akan mungkin sampai membunuh kamu, akal aku masih waras Alana!" sentak Arya ke Alana. "Kamu mau minum?" Arya minta ke Alana.


"Iya, aku haus tapi aku ingin cepat pulang."


"Ngapain pulang, lebih baik di sini ada temannya!" kata Arya. Kalau di pikir-pikir sih memang iya, tapi kan Arya masih suka sama Alana.


"Arya, diam-diam kamu suka sama aku ya?"

__ADS_1


"Suka tidak suka Alana, semuanya pasti terjadi. Begonya kita kalau tidak sempat jenguk Ade di Jerman. Semoga dia cepat balik, heran juga kenapa cuma lihat kamu saja, Ade sampai segitu pingsannya dan tidak sadar sampai sekarang?"


"Iya juga sih, tapi apa itu juga karena pengaruh obat-obatan juga?"


"Bisa juga. Tapi kan yang tahu Adera itu kamu, dan Adera sendiri?"


"Apa Adera sebelumnya punya penyakit?"


"Tidak, dia baik-baik saja. Atau dia punya komplikasi yang buat dirinya ambruk seperti itu."


"Iya juga sih."


"Tidak masuk di akal. Kenapa Adera jadi lemah dan tidak mau bangkit?"


Di lain tempat, tangan Adera bergerak seiring percakapan yang ada antara Arya dan Alana. Kedua mata Adera mengerjap. Alana yang sebelumnya memegang gelas airnya jadi tumpah dengan sendirinya.


"Aduh, kenapa air ini jadi tumpah?" kata Alana lanjut.


"Sudah, biar aku bersihkan sendiri. Aku ambil lap dulu." Arya membersihkan lantai itu dengan lap.


"Maafkan aku Arya, aku tidak dapat membantu kamu!"


"Tidak masalah, kamu duduk saja. Kamu tamu aku."


"Kamu tidak dengar kabar dari keluarga Adera?"


"Selama ini masih belum, mungkin Adera masih belum sadar." Alana diam dan berhenti berpikir. Dia ingin menenangkan dirinya.


"Adera, kamu sudah sembuh Nak?" Ibu Anggi langsung pergi memanggil dokter. Dokter datang dan memeriksa Adera. "Syukurlah anak Ibu sudah sembuh dari koma, dia melewati masa kritisnya."


"Terimakasih dokter. Aku akan bicara pada anak aku sekarang."


"Baik ibu, selamat atas kesembuhan anak ibu."


"Iya dokter."


"Mama, di mana ini?" Adera tanya dalam ketidak tahuannya.


"Ini di rumah sakit Nak, ini di Jerman. Kamu sudah tiga hari di sini. Mama bahagia sekali, sebentar lagi Mama akan hubungi teman-teman kamu di Indonesia!"


"Iya Mama. Aku sayang Mama."


"Mama juga." Anggi mencium kening Adera. Papanya Ari datang melihat anak kesayangannya itu. Anggi menelepon Arya, dia kasih tahu kalau Adera sudah sembuh."


"Alhamdulilah, syukurlah Tante kalau begitu, aku akan kasih tahu kabar ini ke Alana." ucap Adera di telepon.


"Tidak Adera, jangan dulu, cukup kamu saja yang tahu. Ini rahasia. Kamu mengerti Arya..?"


"Tante, ada apa Tante, apa yang sebenarnya terjadi sama Tante..?"


"Tante akan ceritakan nanti, Tante tidak mau perempuan itu tahu kabar ini. Tante tidak mau Adera di ganggu lagi sama perempuan itu! Tolong kamu rahasiakan dulu kabar ini, jangan bilang ke siapa-siapa!"

__ADS_1


"Mengerti Tante!" Arya mulai gelisah, sebenarnya ada apa, kenapa Tante harus merahasiakan kabar itu dari Alana. Dan kenapa pula Alana tidak boleh tahu kabar itu.


Sebuah rahasia. Semalaman Arya berpikir bagaimana bisa Tante Anggi bersikap seperti itu, bukankah itu kabar baik buat Alana dan aku, juga buat teman-teman di sekolah. Besoknya Arya pergi ke sekolah, dengan pakaian biasa.


"Arya, buat apa kamu ke sini?" tanya Dimas yang baru tahu Arya datang.


"Aku ke sini cuma ingin bertemu kalian saja."


"Bagaimana kabar Adera, ibu Tantri tanya terus keadaan dia. Juga kabar kamu dan Alana, pihak sekolah berharap kamu dan Alana masuk lagi seperti biasa!" tatapan mata Dimas serius sekali. Dia rindu Arya bisa bergabung lagi sama mereka.


"Doakan saja, sebenarnya aku mau kasih tahu ke kalian, kalau Adera sudah sembuh."


"Beneran Arya, kamu tidak bohong kan..!?" Dimas kaget bukan main.


"Kamu tidak bohong kan Arya, beneran Adera sembuh?" Dimas senang bukan main, hal itu memicu Alfi datang menghampiri dia.


"Ada apa?" Alfi tanya tidak tahu.


"Adera sembuh Alfi, Adera sembuh! Dia sembuh sekarang! Hore.. Adera sembuh, dia sembuh sekarang..!" Dimas berlari sekeliling sekolah.


"Eh teman-teman Adera sembuh, Adera telah sembuh..!" Dimas berteriak buat orang-orang kantor jadi terusik.


"Ada apa di luar Ibu, tolong ibu cek keluar!" Pak Rahmat kepala sekolah SMA Taruna kasih perintah.


"Baik Pak!" Bu Dewi segera pergi bertemu Dimas.


"Dimas, Dimas, tolong berhenti jangan lari seperti itu!" Ibu Dewi mencegah Dimas. Laki-laki itu melihat Ibu Dewi yang berdiri di samping taman. Dia menghampiri perempuan itu.


"Ibu, Ibu, Adera sembuh, Adera sembuh Ibu!"


"Apa, yang benar kamu Dimas..?"


"Iya Ibu, Adera telah sembuh, itu Arya datang kasih kabar! Ayo ikut aku Ibu..!" Dimas mengajak Ibu Dewi untuk ikut Dimas bertemu Arya.


Arya melihat Dimas dan Ibu Dewi datang bertemu dia. "Arya, selamat datang di sekolah Taruna ini, semoga kamu selalu di berkati Tuhan." ucap Ibu Dewi ke Arya.


"Iya Ibu Terimakasih."


"Ibu dengar dari Dimas kalau Adera sudah sembuh, apa betul begitu, Nak Arya?"


"Iya betul Ibu. Sekarang Adera masih di Jerman, Arya masih tidak tahu kabar selanjutnya."


"Syukurlah, dewan guru harus tahu juga kabar ini. Ibu tidak mau merahasiakan kabar ini. Kesembuhan Adera adalah anugerah bagi kami semua khususnya kalian, teman-teman Adera!" Ibu Dewi sempat menangis karena terbawa suasana.


"Baiklah Ibu, Arya pamit pergi dulu. Arya tidak mau lama-lama di sini."


Bu Dewi mengangguk, Arya bersalaman sama Ibu Dewi dan pergi dari sekolah itu.


Di rumah sakit Adera di kasih makan bubur dan Abon ikan sapi, dia sudah mulai belajar makan sekarang. Dia di suapi oleh Mamanya Anggi.


To be Continue.

__ADS_1


Jangan lupa untuk kasih vote dan komen.


__ADS_2