Alana Story

Alana Story
Chapter 17


__ADS_3

...Aku dan Adera seperti dua pulau yang berseberangan." ...


...Laila. ...


Laila POV


Sekarang aku jadi tau siapa sebenarnya Arya. Di sekolah aku  masuk dengan sedikit rasa takut karena harus bertemu dengan Arya di SMA Taruna. Aku ngeri ketika mengingat nama Arya. 


Adera dan Alana sudah lama berhenti dari sekolah. Sejak peristiwa Adera yang sakit dan di bawa ke Jerman sedang Alana dengan kehamilannya itu.


Semua cerita berawal dari Alana sendiri di mana Adera dan Alana sempat pacaran. Yang tersisa sekarang adalah aku, Arya, Dimas dan Alfi.


Aku melihat Ratih ada sekolah. Aku jadi ingat Adera. Dulu sewaktu Adera masih sekolah, Ratih suka manja ke Adera dan suka ikut Adera naik mobil.


Ratih adalah perempuan yang polos, lucu imut dan cerewet. Aku tau Ratih hanya sepintas, beda sama Alana yang berani mengobrol dengan Ratih. Aku tidak tau anggapan Ratih padaku karena aku hanya sebatas tau siapa Ratih. Dia adik Adera yang lucu.


Aku terus saja melangkah masuk ke kelas. Saat menuju ke arah taman yang ada di depan kelas sebelas, aku melihat Arya, Alfi dan Dimas. Mereka duduk bertiga di taman itu. Aku mendengar suara yang memanggil namaku.


"Laila..!" panggilnya.


Aku langsung menoleh ke arah datangnya suara. Dimas tersenyum padaku. Heran, kenapa laki-laki itu tiba-tiba sok akrab padaku. Padahal aku sama sekali tidak kenal siapa Dimas. Aku curiga Arya menyuruh Dimas untuk memanggil namaku.


"Laila, ke sini. Ada Arya di sini! Dia mau minta maaf ke kamu!" ucap Dimas padaku.


Meski aku tidak banyak mengenal Dimas, tapi aku tau kalau orang itu adalah Dimas. Dengan muka putih bersih, badan sedikit berisi, rambut lurus, dan suka pakai jaket kuning.


"Maaf, aku masih mau ke kelas." jawabku ke Dimas.


Aku menolak langsung permintaan Dimas lagi itu. Jujur aku ingin lari tapi aku tahan. Aku ingin mereka datang padaku ke kalas.


Tidak ada siapa-siapa di kelas. Aku merasa kesepian. Aku lalu membuka hp ku. Aku melihat sosmed sebentar.


Alana berkirim status dengan gambar  menggendong bayi. Alana sudah lahiran. Kau tidak tau. Arya mungkin sudah tau kalau Alana sudah melahirkan bayi laki-laki.


Itu berita bahagia untuk aku. Aku akan pergi ke rumah Alana untuk melihat anaknya. Andai saja Arya tidak berbuat jahat padaku, mungkin aku akan mengajak dia ke rumah Alana. Tapi mungkin itu tidak penting. Aku lalu di sekap dari belakang. Aku tidak bisa bernapas dan aku oleng.


Tidak sadarkan diri.


Kedua mataku mulai mengerjap, mataku terganggu dengan lampu yang bersinar terang di atas ku. Aku melihat ke sekitar. Aku dalam posisi tertidur di atas bangku sekolah.


"Di mana ini..?" kataku ke beberapa laki-laki yang sedang duduk di sekeliling aku.


Tidak, Tidak! Oh Tuhan! Aku terjebak! Arya telah berada di sarang ular yang sebentar lagi akan menerkam aku. Aku melihat Dimas, Alfi dan Arya dengan sikap biasa.


"Mau ngapain kalian? Lepas kan aku!"


Aku berteriak, tangan dan kaki aku di ikat dan tak bisa lepas. Aku mencoba untuk melepasnya tapi tidak bisa. Aku berteriak.


"Tolong.. tolong..!!"


Tak ada siapa pun yang mau menolong aku. Aku lihat Dimas tertawa padaku. Alfi menunduk malu. Kau mencoba ingin meminta belas kasihan Alfi, 


"Alfi, tolong aku! Kamu tidak mungkin berbuat jahat bukan! Aku tau kamu tidak mungkin tega melihat aku di ikat seperti ini. Alfi tolong lepas ikatan ini! Alfi Tolong..!!"

__ADS_1


Aku melihat ke arah Arya. Dia masih tetap duduk dengan tenang.


"Laki-laki bejat! Jahat! Beraninya kamu padaku, Arya! Lepaskan aku!"


Aku berteriak sekencang - kencangnya. Aku tidak mau mengalah dalam hal ini. Arya tega menyakiti aku. Buat aku marah.


"Dimas, beraninya kamu berteman dengan Arya? Akan aku laporkan kalian semua ke polisi! Akan aku laporkan perbuatan kalian ke guru - guru di sekolah ini! Awas kalian!"


Aku berteriak kepada tiga orang itu sebisa mungkin.


"Lepaskan aku! Adera tolong aku!"


Aku berteriak lagi kencang sambil sedikit meringis. Aku mencoba untuk diam.


"Apa yang akan kalian lakukan padaku. Kalian jahat. Kalian tega melihat aku seperti ini!" ucapku lanjut. Aku sudah capai dan lemas.


Arya menghampiri aku. Dia mengangkat mukaku ke atas.


"Laila, aku baru tau kalau kamu bisa berteriak sekencang itu. Teriakan kamu enak sekali sampai telinga aku terganggu tau!"


"Dimas, lakukan apa yang ingin kamu lakukan sekarang!"


Arya menyuruh Dimas melakukan sesuatu padaku. Aku ketakutan, aku tidak mau Dimas melakukan hal yang aneh padaku. Aku tidak mau Dimas berbuat macam-macam.


Dimas berjalan mendekat padaku dan mencengkram rambut aku dari belakang. Mukanya mendekat padaku, bibirnya mencium bibirku dengan kecupan lama. Tubuhku bergerak ingin lepas dari ciumannya.


Aku langsung meludah ke muka Dimas. Dimas mengusap air ludah itu dengan tangannya dan melepas cengkraman tangannya di rambutku.


"Tolong.." aku minta tolong tapi tak ada yang mendengar. Arya aku lihat sedang menyulut rokok.


"Teriak lah dengan keras..! Hahaha..!" Dimas tertawa di susul oleh Dimas dan Alfi. Arya melihat ke arah jendela, melihat pemandangan yang ada.


Arya menyuruh Alfi untuk mencium aku. Alfi melakukannya dengan senang hati. Aku menangis, tega sekali anak-anak ini padaku. Akan aku laporkan ke dewan guru di kantor biar tau rasa nanti!


"Laila, aku akan melepas kamu tapi kamu hati-hati jangan sampai ada yang tau di sekolah ini. Mengerti!"


Arya menyuruh Dimas melepas tali yang mengikat tangan dan kaki aku. Aku berjalan pelan sambil keluar dari kelas itu. Aku menangis sambil berjalan. Kelas sudah kosong tak ada orang. Anak-anak sudah pada pulang. Aku mengambil tas aku di kelas 11.


Aku pulang sambil melihat situasi di sekolah. Takut ada yang lihat. Aku pulang dengan baik ojek. Sesampainya di rumah aku di sambut oleh Ibu.


"Laila kamu sudah pulang? Ibu sudah masak telor dan mie buat kamu." aku berjalan gontai dan langsung memeluk ibu.


"Laila, kamu kenapa?"


Aku menangis di samping ibu. Aku ingin melepas beban ini. "Kamu menangis..?" Ibu mengusap air mataku dan menyuruh aku mencuci muka. Aku pergi ke kamar setelah mencuci muka. Ibu menemui aku di kamar.


"Ada masalah apa Laila. Bilang ke Ibu. Kamu di apakah sama teman sekolahmu, biar Ibu yang melapor nanti!" ucap Ibuku padaku.


"Tidak ada Ibu. Aku cuma kangen Ibu." aku menutupi. Aku tidak mau Ibu sampai melapor ke dewan guru di sekolah, yang nanti bisa membahayakan aku. Meski sebenarnya aku tidak takut ancaman Arya. "Ayo bilang ke Ibu..!"


"Tidak Ibu, tidak ada. Aku mau makan dulu. Di mana mie dan telornya." aku pura-pura minta makan ke Ibu dan pergi ke dapur mengambil makanan.


Aku makan mie dan telor buatan ibu. Usai makan aku langsung balik ke kamar dan menutup pintu. Aku lalu menelepon Adera.

__ADS_1


Laila


Halo Adera?


Adera


Iya,halo? Tumben nelpon, ada apa?


Laila


Tadi Arya menghukum aku. Dia menyuruh Dimas dan Alfi mencium aku.


Adera


Santai, anggap semuanya itu rejeki. Kamu akan terbiasa nanti.


Laila


Apaan kamu! Kamu pikir aku cewek murahan?


Adera


Laila, aku benci kamu bilang seperti itu! Aku tidak suka!


Laila


Maaf.


Adera


Kita bertemu sekarang.


Laila


Di mana?


Adera


Di kafe Kopi Kita.


Laila


Ngapain?


Adera


Aku ingin kejelasan dari kamu. Sambil minum kopi, kamu bisa kan?


Laila


Iya bisa. Kita bertemu sekarang. Kamu tunggu di kafe?


Adera

__ADS_1


Iya.


Bersambung.


__ADS_2