
...Alana Story : Cerita Baru...
...☺️☺️...
...Selamat membaca!...
...✉️...
...Kadang air mata mengartikan akan kesedihan atas kehilangan atau melupakan....
...Alana harus rela berpisah dengan Adera karena Alana yang merasa tidak pantas untuk Adera hingga Adera menemukan Leni dalam hidupnya....
...***...
Adera masih tertidur pagi itu. Alana masih berpikir bagaimana caranya aku bisa bertemu dengan Adera yang telah lama tidak aku temui. Alana ijin keluar ke Ibunya.
"Bu, aku ijin dulu keluar."
"Ke mana?"
"Ke rumah Adera." Alana langsung pergi berjalan melewati lantai -lantai rumah dan mengambil sepeda motornya. Alana keluar dari rumah itu pagi-pagi.
Alana pergi ke rumah Adera. Di halaman rumah dia bertemu dengan Pak kebun. Alana tanya ke Pak kebun yang sedang menyiram tanaman.
"Pak, Adera nya ada..?" Pak kebun itu berbalik ke arah Alana. "Iya Nak..?" kata Pak kebun itu sambil meletakkan selang air yang di letakkan nya di rerumputan yang lebat di halaman rumah Adera.
"Sebentar, saya tanya ke Ibu dulu." kata Pak kebun itu. Alana menunggu di halaman sambil melihat jalannya air yang keluar dari selang air itu.
Pak kebun itu keluar, dan bilang ke Alana kalau Adera ada. Alana bilang makasih ke Pak kebun dan Adera pun keluar. Perut Alana masih mengandung anak dari Arya.
"Adera, aku mau bilang ke kamu sekarang." ucap Alana sambil berdiri.
"Masuk dulu, tidak baik bicara di sini." Adera mengajak masuk Alana dan mengajak Alana untuk duduk.
"Jujur Alana, aku minta maaf karena tidak bisa pergi ke rumah kamu. Aku tidak bisa apa-apa sebagai lelaki yang seperti tidak berguna saja bagi orang lain."
"Maksud kamu?"
"Aku tidak bisa ke rumah kamu untuk lihat perut kamu yang sedang hamil. Karena.."
"Tidak Adera, kamu tidak salah. Aku yang salah sama Arya."
"Maksud kamu?"
"Anak ini bukan anak hasil dari perbuatan kamu. Anak ini adalah anak dari Arya."
"Maksud kamu, yang menghamili kamu adalah Arya..?"
"Iya. Arya yang telah menghamili aku. Jadi kamu tidak perlu tanggung jawab apa pun di sini. Kamu sudah tau kan Adera, jadi aku minta maaf kalau selama ini aku telah salah sama kamu. Maaf, aku pergi dulu, aku tidak bisa lama-lama di sini."
"Alana, sebentar. Kamu tidak boleh pergi dulu dari sini. Aku masih butuh kamu untuk mengobrol sebentar saja. Paling tidak sepuluh menit atau lima menit saja."
"Buat apa? Kamu sudah tau kan kalau aku salah..? Semuanya sudah tidak penting lagi buat kamu Adera..!" Alana kesal ke Adera karena menurut dia Alana tidak berarti apa-apa. Tapi tidak untuk Adera.
"Alana tunggu. Kamu harus tau kalau aku masih suka sama kamu. Aku akan menikahi kamu secepatnya. Aku akan bilang ke orang tua aku. Aku ingin jadi teman kamu seumur hidup aku Alana. Aku serius."
Adera serius bicara di depan Alana. Dia sangat berharap bisa bersama Alana. Adera tidak ingin kehilangan Alana.
__ADS_1
"Adera, aku bukan perempuan baik-baik. Aku perempuan jahat yang punya banyak salah ke kamu. Aku tidak pantas buat kamu."
"Alana, kamu masih teman aku, Alasan aku yang dulu. Aku tidak bisa melepaskan kamu atau melupakan kamu begitu saja. Jujur, aku masih mencintai kamu Alana. Meski aku sempat kecewa karena kamu telah berani berbuat tidak baik bersama Arya. Kenapa kamu lakukan itu Alana..?"
"Aku dan Arya ingin memeras kamu Adera. Tapi setelah Arya memutuskan untuk menikah sama Laila, aku jadi tau kalau Arya tidak sesayang itu ke aku.
"Aku jadi sadar, kalau orang yang sebenarnya sayang ke aku adalah kamu. Tapi selebihnya, aku telah salah sama kamu. Jadi aku tidak bisa ada di keluarga kamu. Keluarga kamu terhormat Arya. Aku tidak pantas buat kamu. Aku malu sama Ibu kamu dan semua keluarga kamu yang ada di sini.
"Jadi kamu cari perempuan lain selain aku. Aku akan diam di rumah saja tanpa berharap siapa-siapa selain anak ini. Anak dari Arya."
"Oke, kalau kamu lebih suka anak itu daripada aku. Aku akan lepas kamu. Silahkan kamu hidup bersama anak itu. Aku akan menikah dengan perempuan lain kalau itu mau kamu. Meski perasaan ini masih memilih kamu Alana. Berat buat aku untuk bisa melupakan kamu." Adera sedih harus melepas Alana begitu saja.
"Adera, kamu lupakan aku. Aku yakin kamu bisa. Aku akan coba berdoa supaya kamu bisa melupakan aku. Aku yakin, kamu bisa melupakan aku. Mungkin aku juga akan berusaha untuk melupakan kamu. Aku pergi dulu." Alana pergi meninggalkan Adera untuk sementara waktu atau selamanya.
Sedikit-sedikit perut Alana mual dan mules. Seakan-akan mau lahiran. Alana melahirkan pada keesokan harinya. Anaknya laki-laki. Arya dan Laila datang berdua untuk bertemu Alana.
Tuhan, kenapa Adera tidak datang untuk bertemu Alana. Arya kasih kabar ke Adera kalau Alana lahir. Tapi Adera berjanji untuk tidak bertemu dengan Alana lagi. Dia sudah berjanji untuk melupakan Alana.
Sampai akhirnya Adera kenal dengan perempuan bernama Leni. Dia adalah saudara sepupu Adera yang ada di Jakarta. Adera tidak sengaja bertemu dengan Leni di rumah Tante Mirna yang saat itu kebetulan Reni Ibu Adera sedang bertamu ke rumah Mirna saudara Iparnya itu.
Jakarta
Lokasi : Rumah Mirna
Adera duduk di ruang tamu bersama Ibu Reni, Pak Brata dan Tante Mirna. Leni datang untuk membawakan teh untuk tiga orang tamunya. Sejak itu Adera suka pada Leni. Meski prosesnya lama, tapi Adera terus berusaha untuk mendapatkan hal itu.
"Tante, boleh tanya..?"
"Tanya apa Nak Adera, jadi penasaran Tante." ucap Mirna setengah bercanda.
"Oh Leni, boleh. Sebentar aku ke Leni dulu, sepertinya dia sedang di kamarnya." kata Mirna sambil pergi ke kamar Leni. Dia sedang baca buku di kamarnya.
Reni jadi curiga kenapa Adera pengin kenalan sama Leni. "Kamu ngapain kenalan sama Leni, tidak baik. Jangan nakal di rumah orang. Leni itu anak baik-baik."
"Mama, aku cuma pengen kenalan saja. Leni kan saudara Adera juga!"
"Diam!" Reni tidak suka anaknya itu macam-macam di rumah saudara jauhnya itu. Reni masih menunggu Adam saudaranya. Adam masih di jalan menuju pulang.
Leni keluar bersama Mirna. Leni melihat Adera dengan perasaan tidak enak.
"Ada apa Kak..?" Leni langsung bertanya ke Adera.
"Adera, Leni, kalian bisa mengobrol di taman berdua. Mau kan..? Di taman pemandangannya bagus loh!" kata Mirna lanjut. Perempuan itu lebih pengalaman ketimbang Reni yang pasif dan selalu mengekang Adera. Adera tidak suka sikap ibunya itu.
"Iya boleh Tante. Leni mau kan aku ajak ke Taman..?"
"Iya, Leni temani Kak Adera dulu, dia mau kenalan sama Leni katanya." Mirna lanjut berucap. Dia ingin yang terbaik buat Adera ponakannya itu.
Leni langsung menjawab, "Baik, tapi jangan lama ya kak. Leni takut." katanya polos.
"Iya, tidak akan lama. Sebentar saja." jawab Adera.
"Yuk!" Leni mengajak Adera ke Taman. Adera mengikuti langkah Leni. Dari belakang Adera melihat lekuk tubuh Leni yang putih dan bersih. Leni memakai kaos kuning dan celana pendek berwarna hitam.
Sambil berjalan menuju taman, Adera terus melihat langkah Leni. Leni sedikit gugup harus berjalan berdua dengan orang yang tidak dia kenal.
Setelah sampai di taman, Leni langsung mengajak Adera untuk duduk di kursi taman.
__ADS_1
"Duduk Kak." Leni mempersilahkan Adera untuk duduk.
"Terima kasih." ucap Adera.
"Ada keperluan apa Kak Sampai Kakak mau berkenalan sama aku..?"
"Tidak ada, aku hanya ingin kenal sama kamu lebih jauh saja."
"Oh. Tapi, Leni orangnya suka malu Kak. Leni orangnya tidak bebas. Leni tidak enak kalau dekat - dekat sama laki-laki." kata Leni langsung.
Leni duduk berdua dengan Adera di kursi taman sambil malu-malu. Jarak keduanya hanya beberapa meter saja. Adera masih melihat paha Leni yang mulus.
"Kakak lihat apa? Yang sopan ya Kak!" kata Leni ke Adera.
"Iya. Maaf." Adera jadi tidak enak.
"Nama kamu Leni siapa..?"
"Leni Febiola Kak." jawab Leni.
"Oh. Kenapa nama kamu Febiola..? Kamu suka biola..?" Adera setengah bercanda.
"Tidak Kak, apaan sih. Aku tidak suka biola Kak. Kata Ibu, nama Febiola itu dia ambil dari kata Februari karena aku lahirnya bulan Februari Kak."
"Oh gitu. Kalau aku bulan Januari." lanjut Adera.
"Oh. Dekat ya bulannya."
"Iya dekat seperti bersisian. Kamu lahir tanggal berapa..?"
"Aku lahir tanggal 11 Februari Kak. Kenapa Kak..?"
"Tidak ada. Cuma pengen tau saja." jawab Adera ke Reni.
"Aku suka sama bunga Kak. Aku yang menanam bunga mawar itu." kata Leni lanjut bicara.
"Bagus, bunga yang mana..?"
"Yang itu, yang di bawah. Masih kecil Kak." kata Leni lanjut.
"Bagus. Kakak suka. Tapi Kakak tidak terlalu suka sama taman. Kakak lebih suka buku, buku-buku fiksi yang suka di jual di toko buku." jelas Adera lanjut.
"Oh begitu. Maaf, Kak Leni harus balik ke kamar dulu. Yuk Kak!" Leni mengajak Adera untuk balik ke rumah tamu bersama kedua orang tuanya.
"Oke." Adera setuju. Dalam hati, Adera bilang kalau waktu itu cukup cepat berlalu. Entahlah, apa itu semua karena adanya Leni. Semoga saja iya. Adera tidak bisa menutupi kalau dia suka sama Leni saudaranya itu.
Adera datang bersama Leni ke ruang tamu. Di situ sudah ada Pak Adam, Tante Mirna, Pak Brata dan Ibu Reni.
slm.
FN.
Jangan lupa Vote / Komen.
Sobat, maaf ceritanya aku rangkai cukup lama soalnya kamu tau sendiri kalau aku fokus pada beberapa cerita. Jadi beberapa cerita aku aku Off publish.
Trims.
__ADS_1