Alana Story

Alana Story
Chapter 6


__ADS_3

Aku masih di rumah sakit di mana Adera masih belum siuman. Karena merasa pusing aku pergi untuk pulang. Aku bertemu dengan mas Rifki di rumah.


"Alana, dari mana saja kamu. Ini mas Rifki datang, dia datang untuk menemui kamu, katanya kangen. Temui dia, ibu mau buatkan teh dulu." kata Ibuku sambil duduk.


Aku bingung mau ngapain. Pikiran aku tidak fokus pada diriku atau pun orang lain. Aku takut dan cemas pada Adera yang masih tertidur di rumah sakit dokter Soleh.


"Iya, Ibu aku akan temui Mas Rifki tapi setelah aku ganti baju." kataku menjawab panggilan ibu. Aku masuk ke dalam kamar aku dan aku menghembuskan napas sebentar.


Aku berdoa, ya tuhan, kenapa engkau turunkan orang ini padahal aku tidak berharap dia datang hari ini. Tolong berikan aku alasan untuk bisa jauh dari mas Rifki.


Setelah keluar, aku melihat ibu dan ayah tidak ada lagi di situ. Mas Rifki langsung bilang ke aku, kalau dia tidak bisa lama-lama di situ. Maksudnya di rumah.


"Maaf Mas, mas Rifki naik apa ke sini?" tanyaku ke dia. Aku masih heran kenapa laki-laki ini datang ke sini.


"Naik motor." Ih naik motor jaman kayak begini naik mobil lebih hebat. Setelah aku pikir kembali, ternyata Adera lebih hebat daripada Mas Rifki.


"Aku ke sini ingin kasih kamu sesuatu, aku kasih kamu ini." kata Mas Rifki sambil kasih aku undangan.


"Mas Rifki mau menikah?" aku kaget, aku telah buruk sangka ke dia. Aku kaget sekali, cowok seganteng dan sebaik mas Rifki sudah pada mau menikah dan aku tidak tahu calonnya siapa.


Ya tuhan, Rifki, kenapa kamu tidak ngomong ke aku dulu, padahal dulu-dulu nya sebelum aku kenal sama Adera dan kawan-kawan, aku masih suka rindu Mas Rifki, suka minta pergi ke rumah dia bersama Ibu aku berdua saja. Mas Rifki adalah saudara sepupu aku yang tinggal di Bekasi sedang aku tinggal di Bogor.


"Sebenarnya niat aku menginap di sini tetapi, ibu nyuruh aku cepat pulang!" kata Mas Rifki padaku. Aku jadi tidak enak. Memang sih mas Rifki suka menginap dulu waktu aku masih SMP, tapi sekarang sudah tidak lagi.


"Kalau mas mau menginap,menginap saja tapi aku tidak bisa temani mas di sini, aku ada kerjaan yang lain."


"Kerjaan apa, kamu ada kerjaan sampingan..?" kata mas Rifki padaku. Aku langsung jawab,


"Tidak, bukan itu mas Rifki. Ini masalah nasib seseorang yang sedang aku tanggung sekarang."


"Masalah apa, kamu berurusan sama sama orang lain sekarang. Kamu punya pacar?" mas Rifki langsung mengerti, aku melihat wajah mas Rifki, aku tidak langsung menjawab.


"Maaf mas, aku harus pergi sekarang, aku tidak bisa berlama-lama di sini." kataku ke mas Rifki.


"Alana, aku ikut." mas Rifki memanggil aku. Langkah aku terhenti, aku menoleh ke arah dia.


"Mas Rifki boleh ikut." kataku ke rumah sakit. Aku mengambil sepeda motor aku dan langsung pergi ke rumah sakit.


Aku jalan bareng mas Rifki ke rumah sakit berdua, aku tidak tahu apa aku salah dalam melangkah atau tidak.


"Mas Rifki kenapa mau ikut aku, ini masalah pribadi aku mas, mas Rifki tidak boleh macam-macam di sini. Aku punya banyak teman."


"Aku hanya sebentar di sini." katanya lanjut.


Aku langsung ke ruangan Adera, di situ sudah ada Arya yang menunggui Adera. "Alana, kamu datang juga. Aku bingung dari tadi tadi, di sini tidak ada orang."


"Keluarga Adera kemana, sepertinya mereka harus segera di hubungi." kataku ke Arya.


"Itu siapa?" Arya tanya.


"Ini mas Rifki, di datang dari malang."


"Arya."


"Rifki."


Keduanya saling jabat tangan dan mengobrol. Aku melihat Adera yang masih koma.


"Ana." suara itu berbisik padaku. Aku jadi tersadar.


"Iya..?" ucapku.


Mungkin mas Rifki tahu kalau aku sedih, sedih sekali. Harapan aku untuk bahagia sekarang sudah berubah. Tidak ada yang bisa merubah kebahagiaan aku kecuali Adera.


"Arya!"


"Iya?"

__ADS_1


"Kapan Adera sadar, aku ingin dia cepat sadar, aku tidak bisa seperti ini terus Arya!" kataku sambil menangis.


"Kamu yang sabar Alana, Adera akan sadar pada waktunya." aku diam masih merajuk diri sendiri.


"Alana?" mas Rifki memanggil aku.


"Iya?"


"Aku pergi dulu, aku akan datang lagi nanti kalau ada waktu." kata mas Rifki pelan.


"Iya mas, mas rifki tidak repot kalau balik ke sini lagi?" tanyaku.


"Tidak, aku tidak repot, kamu tenang saja." jawabnya.


"Boleh kau minta no hp mas Rifki?"


"Iya boleh, berapa nomor kamu?"


Aku langsung tukeran nomor hp sama mas Rifki. Setelah itu aku berterima kasih ke dia. Semalaman aku menunggui Adera sambil tidur di sebelah dia. Di luar Arya seperti menelepon keluarganya Adera.


Aku melihat Arya dari tempat duduk aku di samping Adera. Dalam pikir aku, Adera makan apa, dia di infus sekarang. Kenapa Arya bisa bisa shock seperti ini, hanya gara-gara janin yang ada di perut aku.


Aku pergi keluar. Aku ingin bertemu Arya. Arya menutup telepon setelah aku aku menunggu dia.


"Arya..!" aku memanggil.


"Ada apa Alana, aku sudah menelepon orang tua Adera barusan, katanya besok mereka akan datang." jawabnya padaku.


"Baguslah, semoga mereka bisa membuat Adera bangun. Kalau boleh pilih, aku lebih baik tidak hamil daripada Adera tidak sadar seperti itu. Aku lebih pilih Adera ketimbang bayi ini Arya?" kataku memaksa.


"Alana, kamu yang kuat, kamu yang sabar. Kamu tidak boleh gugurkan bayi ini, bayi itu.." Arya tercekat. Mungkin dia ingat kalau dia juga ikut andil dalam hal itu.


"Kenapa Arya, kamu merasa kalau anak ini adalah anak kamu juga. Aku tidak tahu harus ngapain, ini semua adalah kesalahan yang tidak bisa di rubah kecuali aku mau mengaborsi janin ini."


"Terserah kamu, kalau itu yang terbaik." kata Arya padaku. Aku kaget sekali. Aku akan menunggu Adera sadar, aku masih ingat kalau Adera mau menikah dengan aku. Aku masih ingat, kalau Adera mau bertanggung jawab.


"Belum." jawabku.


"Biar aku belikan nasi goreng aja, kamu tunggu di sini."


"Gak usah, aku tidak lapar."


"Tidak boleh gitu, kamu harus makan, biar Adera cepat sembuh dan dan ada yang nemenin." lanjutnya ke aku.


Aku tersenyum, saat Arya keluar. Laila ke mana ya? Aku lalu bertanya tentang Laila ke Arya setelah aku dan dia makan nasi goreng berdua di samping Adera yang masih tidak sadar. "Laila ke mana..?"


"Dia ada, ada di rumahnya. Aku selalu ngelarang dia tiap kali dia mau ke sini. Aku gak mau dia ribut lagi sama kamu kayak kemarin. Aku takut Adera tambah sakit."


"Kan ada dokter, lain kali gak boleh gitu, kasian Laila, dia juga pengen tau kabar Adera. Kamu punya nomor HP-nya, biar aku hubungi dia nanti." kataku sambil makan.


"Tidak perlu, biar aku saja yang ngomong. Laila itu urusan aku, kamu gak usah ikut campur urusan dia. Takutnya terjadi sesuatu sama kamu, Laila itu orangnya keras, kamu tahu sendiri kan, dia kayak gimana?"


"Pantas kalau kamu suka ke dia, kamu kan orangnya kayak malaikat penyelamat, hehe.." kataku tertawa. Arya ikut tertawa. Tiba-tiba aku kaget dengan sesuatu yang terjadi langsung ketika itu, tangan Adera tiba-tiba bergerak pindah ke atas bungkus nasi goreng yang aku pegang,


"Astaghfirullahal 'adzim..!" kataku kaget. Pring yang aku pegang tidak sadar langsung aku lepas, piring itu jadi pecah dan berserakan di lantai."


"Alana..!?" Arya kaget. Aku langsung menoleh ke Adera.


"Adera bergerak Arya, Adera bergerak, dia mulai ada reaksi!" kataku menjerit senang.


"Kamu tenang saja, biar aku panggil dokter." kata Arya ke aku. Arya langsung pergi ke dokter Fahri. Dokter itu datang dan langsung memeriksa Adera. Aku dan Arya fokus ke Adera.


Setelah di periksa, aku tanya ke dr.Fahri. "Gimana dok kesehatan Adera sekarang, apa ada kemajuan?"


"Ya ada, dia sekarang mulai bereaksi. Tingkat depresinya mulai turun, kenapa tadi bisa begitu?"


Aku cerita ke dr.Fahri apa yang telah kami lakukan di samping Adera. "Oh jadi kalian mengobrol di sebelah pasien..? Baguslah, coba saja terus, siapa tahu ada keajaiban." kata dr.Fahri ke aku dan Arya.

__ADS_1


Aku mengangguk paham. Aku bernapas sambil diam. "Alana..?" Arya memanggil aku.


"Iya?"


"Kita duduk lagi di sini sambil jagain Adera. Aku takut Adera kenapa-kenapa."


"Iya, kita duduk di sini sambil jagain Adera. Sambil lalu mengobrol." kataku ke Arya. Tapi tidak lama Arya pergi meninggalkan aku, katanya dia ada perlu sebentar.


Tak lama setelah itu kelurga Adera datang, dua orang tuanya dan satu lagi perempuan, dia adik Adera.


"Adera, ya Allah.. anakku! Kenapa kamu sampai begitu Nak!" kata Bu Laksmi ke anaknya.


"Aku sudah bilang Yah, kalau perempuan ini penyebabnya!" kata Bu Laksmi padaku.


"Sudahlah Bu, kamu sabar saja. Ini ujian." kata Pak Saleh ke istrinya. Bu Laksmi terus bicara ke Adera ini itu, aku hanya melihat saja dari dekat, setelah itu dia mengajak aku untuk bicara.


"Nak, kenapa Adera bisa begitu, apa ada sesuatu yang terjadi pada kalian..?" tanya Bu Laksmi padaku di luar.


Arya datang dan melihat aku, lalu dia masuk ke kamar Adera, dia menemui Pak Saleh di situ.


"Kenapa Nak Alana? Ibu tahu kalau kamu sama anak Ibu pacaran, tapi kenapa bisa jadi begini?" lanjut Bu Laksmi padaku.


"Ceritanya panjang Ibu, kalau ibu mau dengar tidak apa-apa, asal ibu sanggup mendengar ceritanya." kataku ke Bu Laksmi parau.


"Kalau memang ada masalah, cerita ke ibu, jangan di pendam begitu saja, nanti kamu bisa sakit, Adera juga!" kata Bu Laksmi jelas.


"Iya, aku akan cerita loh Bu, aku akan cerita semuanya ke Ibu, tapi Ibu tidak boleh kecewa sama aku." jawabku ke Bu Laksmi yang sudah siap mendengar cerita itu dari tadi.


Aku ceritakan peristiwa itu dari awal, dari saat aku jalan bareng berdua bersama Adera sampai akhirnya kami pacaran dan berkumpul di kafe.


"Nah, beneran kan, kalau Alana akan jadi pacar kamu!?" kata Dimas ke Adera. Adera cuma bisa tersenyum pada teman-temannya.


"Aku pikir sah-sah saja. Adera kan lumayan cakep di banding yang lain, iya kan Alana..?" kata Arya padaku. Aku bingung mau menjawab apa.


"Enggak, bukan begitu, aku dan Adera itu awalnya suka ketemuan di perpus saat aku pinjam buku, aku penasaran ke dia, jadi aku ajak ngobrol dia. Adera-nya mau, jadi terus nyambung deh!" kataku ke Arya, Dimas, dan Alfi.


"Jadi kita ini telat..!!" kata Dimas ke kami berempat.


"Ya iyalah, siapa suruh kenal sama Alana doang, cewek mah banyak di luar!" kata Alfi menyahut.


"Tapi kan yang paling cantik di kelas itu Alana, kalau yang lain mah lewat!" kata Dimas memuji aku, aku jadi malu.


"Tidak boleh begitu, semua perempuan di dunia ini sama saja, tidak ada yang sempurna, mereka pasti memiliki kekurangan masing-masing,


"terutama aku, aku selalu di nasehatin sama Arya kalau aku sudah ngambek dan nangis di depan dia cuma masalah kecil, seperti kenapa nggak di jemput, kenapa Adera tiba-tiba ninggalin aku, dan macam-macam." kataku jelas di depan teman-teman aku.


Peristiwa itu sulit untuk aku lupakan. Kami lalu bersulang bersama dengan segelas anggur yang ada di meja. Tapi setelah beberapa menit, kenapa tiba-tiba kepala aku jadi pusing..?


Aku pegang kepala aku, aku coba untuk menetralisir rada pusing itu.


...Sakit hati aku terasa sekarang ini, seperti tertekan kayaknya, entah kenapa. Jadi diri sendiri adalah lebih baik dan menerima apa adanya. ...


...Jika kamu mencintai seseorang, maka ingatlah dia. Maka dia akan datang. ...


...Seseorang yang terasa jauh akan terasa dekat dalam ingatan. ...


...•••...


...Sampai di sini dulu ceritanya, semoga kalian suka dan ingat tiap detik peristiwa yang ada di situ. ...


...Adera dan Alana memang masih di uji oleh Tuhan, Alana harus kuat dan tabah menerima ujian itu. ...


...Dia harus kuat dan tenang. Arya selalu ada buat Alana. ...


...Up : 1/12/2021...


...Sulastri Eris ...

__ADS_1


__ADS_2