Alana Story

Alana Story
Chapter 19


__ADS_3

Laila POV


Aku pulang dengan nada kesal di hati. Aku harus rela berkorban untuk Arya. Tidak ada yang tau apa yang sedang aku hadapi sekarang. Rasa sedih yang berlarut-larut.


Alana POV


Aku menggendong anak aku yang sudah aku mandikan. Tiba-tiba aku melihat Adera datang ke rumah aku. Dia naik motor dengan gagahnya.


Aku lalu meletakkan bayi itu yang aku beri nama Pandu. Anak laki-laki yang telah lahir dari rahim aku sendiri. Tapi maaf, aku masih belum menikah.  Anak itu adalah hasil hubungan aku dengan Arya dan Adera. Dan sampai saat ini tidak ada yang mau tanggung jawab.


Tapi aku tidak berharap itu, biar aku saja yang menanggung hidup bayi ini. Hidup bersama aku. Aku berjalan ke depan dan menghampiri Adera.


"Adera masuklah, aku sudah lama ingin bertemu kamu." aku menyuruh Adera untuk masuk sebelum tetangga tau.


"Aku di luar saja." pinta Adera padaku.


"Ada bayi di dalam. Apa kamu tidak mau melihat bayi itu?"


Adera diam tidak langsung menjawab. Aku tau dia masih berpikir betapa buruknya aku di depan dia. Salah aku juga telah berhubungan gelap dengan Arya sebelumnya.


Ini semua karena Arya sampai Adera harus ikut campur dalam urusan ini. Muka anak itu mirip sekali dengan Arya bukan Adera.


"Adera, kamu masuk saja, tidak baik di luar." aku lalu masuk ke dalam sambil melihat bayi di atas tempat tidurnya. Bayi itu masih tertidur lelap. Aku balik keluar dan melihat Adera sudah balik keluar menjnggalkan aku.


Adera pergi dari hidup aku seketika itu juga. Apa aku salah? Harusnya aku mau bertemu dia di luar. Aku lalu mengejar Adera sebelum dia pergi jauh.


"Adera tunggu!" aku memanggil nama Adera sambil berlari ke arahnya. Aku melewati rumput yang tumbuh lebat di atas halaman rumah aku. Laki-laki itu berhenti dari langkahnya yang sebelumnya berjalan. Adera berdiri tanpa melihat aku.


"Adera, masih kamu benci padaku?"


"Waktuku tidak lama Alana. Aku harus cepat pergi!" jawab Adera.


"Bagus! Bagus sekali! Kamu tidak tau betapa aku rindu padamu selama ini? Kamu telah lupa padaku, kamu lupa kalau aku pernah pacaran sama kamu. Kamu lupa, kalau aku pernah dekat sama kamu!


"Apa salahku Adera?"


"Bayi itu Alana! Kenapa kamu tega membohongi aku dan melakukan hal yang tidak pantas itu bersama Arya?


"Apa kamu saat dengan apa yang kamu perbuat? Tuhan tidak buta Alana. Tuhan tahu siapa yang salah di sini?"


"Aku yang salah, aku yang salah! Aku yang salah di sini. Aku yang telah melakukan nya bersama Arya!"


"Tapi kenapa kamu berharap aku sekarang? Apa itu tidak salah? Harusnya Arya yang kamu harap bukan aku!"


"Arya tidak mencintai aku. Dia memilih Laila sebagai pacarnya."


"Aku tau. Tadi aku habis bertemu Laila. Arya berulah lagi, dia hampir saja mencelakai Laila."


"Apa? Kapan itu terjadi?"


"Kemarin. Arya tega sekali pada perempuan. Laila jadi korban kedua setelah kamu. Kau menyuruh Laila untuk tidak masuk sekolah dulu. Aku tidak mau dia tidak aman di sekolah."

__ADS_1


"Aku pergi. Maafkan aku!" Adera pergi dengan motornya meninggalkan aku. Aku berdiri menatap kepergian Adera. Aku balik menemui Bayi mungil itu di dalam rumah. Sambil berharap bayi itu tersenyum.


Tuhan, tolong jangan buat aku merasa sepi. Aku butuh seorang teman untuk aku ajak bicara. Ibu lalu datang.


"Alana, bayinya sudah tidur?"


"Sudah Ibu. Bayinya sudah tidur. Tadi aku sempat menyusui dia dan memandikan dia. Ibu ke mana tadi?"


"Aku pergi ke rumah tetangga. Ibu sengaja meninggalkan kamu sama bayi itu. Ibu pikir bayi itu belum kamu mandikan. Tapi kamu bisa kan memandikan bayi itu?"


"Bisa Ibu. Aku memandikannya dengan hati-hati." ucapku lanjut ke Ibu.


"Sampai sekarang Ibu bingung. Siapa bapak anak ini? Kasihan anak ini tidak punya bapak." lanjut Ibuku padaku. Aku juga tidak habis pikir, kenapa aku harus bernasib seperti ini.


Mengingat Arya buat aku kesal saja. Apalagi aku harus putus sekolah sama seperti Adera. Semua ini gara-gara aku dan Arya. Aku telah berani berbuat hal yang tidak pantas dan aku harus menanggung malu di depan banyak orang.


Kemarin saat aku beli susu bayi ini, beberapa orang tetangga melihat sinis ke arahku. Tapi itu tak mengapa, aku bisa menahan rasa kesal itu.


Beberapa wak yang lalu sempat ada tanya soal bayi itu. Seorang Ibu-ibu.


"Bayi siapa itu, lucu sekali..?" aku tidak bisa langsung menjawab pertanyaan ibu yang tidak aku kenal itu. Aku memilih untuk diam.


"Kok tidak di jawab..?" tambahnya lagi padaku.


"Kamu punya telinga kan? Jawab kenapa?" kata Ibu itu memaksa. Aku masih bingung mau jawab apa.


Kebetulan ada Ibu. "Eh, Bu itu cucunya Ibu?"


"Iya cucuku. Anakku baru lahiran kemarin."


"Bapaknya sedang pergi ke luar kota." lanjut Ibuku padaku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa.


"Bu, baiknya kita pergi saja dari sini." kataku lanjut ke Ibu. Aku dan Ibu pergi dari tempat itu. Sakit sekali rasanya mengingat aku harus bernasib seperti itu. Aku akan telepon Arya.


Luna


Halo, Arya. Kamu bisa ke rumah aku?


Arya


Ngapain?


Alana


Ke sini saja. Aku ingin bicara ke kamu. Penting!


Arya


Oke.


Tak berapa lama Arya datang menemui aku. Aku langsung menyambut Arya.

__ADS_1


"Masuklah, kita bicara di dalam." Arya masuk ke rumah ku dan duduk di kursi.


"Arya, aku bingung. Aku hampir saja tidak kuat dengan apa yang menimpaku. Semua ini karena kamu!"


"Alana aku di suruh ke sini untuk di marahin kamu? Awas kamu ya! Aku bisa saja menyiksa kamu seperti Laila!"


"Enak saja. Bagus! Bagus sekali. Untung aku masih bisa sabar, kalau tidak, bisa aku buang anak itu! Anak haram!" aku kesal sekali ke Arya waktu itu. Masak iya, aku aku di beri seorang bayi dan harus merawatnya?


Aku hidup bukan untuk merawat bayi hasil dari kamu Arya. Untung bayi itu masih kelihatan suci. Kalau tidak, apa pun bisa terjadi pada bayi itu.


"Ini sedikit uang buat bayi itu." aku langsung ambil uang itu lalu aku simpan. "Sedikit sekali?"


"Aku tidak kerja. Kamu tau sendiri aku masih belum lulus sekolah. Aku harus menamatkan sekolah aku dulu, baru aku bisa kerja." lanjut Arya padaku.


"Aku tidak bisa Arya merawat anak itu! Kamu harus tanggung jawab!"


"Apa, tanggung jawab. Kamu bisa membuang bayi itu. Sudah aku sarankan ke kamu untuk membuang bayi itu. Aku tidak suka bayi itu lahir."


Aku diam sambil menahan emosi. Aku masih berpikir baiknya bagaimana. 


"Oh Iya, aku lupa. Aku dengar kamu sempat menyiksa Laila..?"


"Iya, kenapa? Laila pacar aku. Dia mau sama aku. Beda sama kamu!"


"Dari pertama aku tidak suka ke kamu Arya. Tapi kamu yang nyuruh aku untuk berlaku jahat ke Adera! Aku berdosa ke anak itu."


"Bukan urusan aku. Aku cuma mau pesan kalau kamu jaga bayi itu jangan sampai terjadi apa-apa. Aku sedikit berharap ke bayi itu bisa buat aku bahagia. Bisa menambah Rizki."


"Apaan. Aku tidak di kasih uang belanja juga. Maaf, apa kamu mau buatkan aku minum..?"


"Tentu saja. Aku haus dan ingin minum. Aku ingin minum susu milikmu."


"Setan kamu!" Arya bisa saja berkata aneh padaku. Kesal sekali.


Aku buatkan minuman untuk Arya di dapur. Ibuku tanya langsung ke aku ada apa. Aku bilang ke Ibu Arya datang melihat Bayi.


Aku bawa minuman itu untuk Arya. Minuman itu di minumnya langsung. Aku melihat Arya dengan tatapan tidak suka. Tuhan, ampuni aku.


"Bagaiman kabar Alfi atau Dimas..?"


"Sehat. Alfi sudah mencium bibir Laila di sekolah berdua dengan Dimas. Padahal aku cuma menggertak Laila saja. Bodoh mereka!"


"Bodoh. Apa kamu tidak bodoh telah menghamili aku?"


Arya diam. Arya sama sekali tidak merasa kalau dia telah berbuat salah selama ini padaku. Bodohnya aku tidak menuntut keadilan. Semua terjadi begitu saja.


"Di mana bayi itu sekarang?"


"Di dalam dia tidur." Arya pergi melihat bayi itu. Aku bermimpi bisa bersama Arya selamanya. Tapi apa yang bisa aku lakukan. Arya orang yang aku benci sedang Adera sama sekali tidak berharap padaku.


Tuhan, apakah ini nasib yang harus aku terima?

__ADS_1


Arya lalu pamit padaku, dia pergi dari rumahku. Bayangan bayi itu masih ada di benakku. Aku langsung pergi ke bayi itu lalu menemani dia tidur.


Bersambung.


__ADS_2