Alana Story

Alana Story
Chapter 13


__ADS_3

Arya POV


Aku berhenti di tengah jalan saat Laila berada di belakang sambil boncengan dengan aku.


"Arya, kenapa kamu berhenti, ada masalah? Ban kempes, atau ada yang lain?"


Laila bertanya padaku setelah dia turun dari sepeda motor dia.


Laila bertanya padaku yang mendadak kaget karena aku berhenti di tengah jalan.


"Bentar, boleh aku ngomong sama kamu? Soalnya penting." ucapku ke Laila.


Aku jadi waswas untuk mengatakan hal itu.


"Kamu sebenarnya pengin ngomong apa? Kita ke rumah Adera dulu nanti pulang nya kita ngobrol di mana gitu. Di kafe kek, di pinggir jalan kek, atau di warung kopi mungkin." kata Laila sok elit.


"Baiklah, aku ikuti perintah kamu." Aku menjawab. Aku dan Laila lalu berjalan sambil melihat sekeliling jalan, senang rasanya bisa jalan berdua bareng Arya. Itu kata hati Laila sebenarnya.


Sampai juga di rumah Adera. Laila turun dari motornya, kakinya menapaki tanah. Aku siap siap untuk turun dari sepeda motor.


Aki meletakkan sepeda motor Laila di depan halaman rumah Adera. Aku dan Laila berjalan di halaman rumah Adera. Aku dan Laila melangkah berdua dan lalu memanggil seseorang. Siapa lagi kalau bukan Adera.


"Permisi.. assalamualaikum..!" Laila mengucap salam, aku melihat ke arah dinding rumah. Tidak ada orang, sepi.


"Hey..!" seseorang menyapa dari belakang rumah Adera. Adera sekarang ada di taman halaman depan rumah. Dia sedang menyiram tanaman.


"Adera, itu Adera! Ya tuhan! Adera..!!" Laila senang melihat Adera sembuh.


Laila lari dan kabur ke arah Adera. Dia kangen banget melihat Adera yang sehat walafiyat. Adera yang tengah berdiri dengan baju loreng biru putih, celana Levis biru dengan rambut panjang seleher dan ikal.


"Adera..!! Aku kangen banget sama kamu!" Laila tidak dapat menahan emosinya di depan Adera. Adera dan Laila akhirnya berpelukan.


"Kangen banget..!!" kata Laila sambil memeluk Adera. Pelukan hangat sekarang sahabat.


Meski Laila tidak begitu dekat dengan Adera tapi Laila kangen banget karena lama tidak melihat Adera sembuh dan sehat seperti itu.


Lama sekali Adera menghilang dari kehidupan Laila. Meski Laila tidak sedekat Alana tapi Laila suka menyapa Adera di sekolah atau mengobrol bareng Adera sebentar.


Kadang Adera curhat sesuatu tentang Alana. Arya maju mendekat ke arah Laila.


"Arya, kamu yang antar Laila ke sini?"


"Iya, katanya dia ingin bertemu kamu, ingin jenguk kamu katanya." Adera tersenyum.


"Yuk masuk!" Adera menyuruh tamunya untuk masuk. Arya masuk bersama Laila. Arya sedikit terusik dengan hal itu karena biasannya Arya jalan bareng Alana.


"Alana tidak ikut?" Adera tanya. Laila tercekat seketika.


"Tidak, hal ini tidak ada hubungannya dengan Alana. Ini murni niat Laila sendiri." kata Arya jelas.


"Oh silakan duduk."


Laila melihat Adera yang sudah sehat. "Arya, aku tidak bisa lama lama di sini. Aku harus segera pergi!"


"Ngapain kamu pergi, katanya mau bertemu Adera?"


"Tidak Arya, aku ada urusan di luar."


"Tunggu Adera keluar."


Akhirnya aku dan Laila pamit pergi setelah Adera keluar.


Author


Alana masih di dalam rumah dengan perut buncit, dia belum lahir. Dia lahir setelah sebulan di hari itu. Adera dengar kalau Alana lahiran.


Dia menelepon Arya, Arya mengiyakan. Tapi Arya tidak bisa apa-apa. Ibunya tidak mengijinkan dia pergi ke rumah Alana lagi.


Arya pergi ke rumah Alana bersama Laila.


"Arya, kamu ke rumah aku?"

__ADS_1


"Iya, aku bareng Laila."


Alana menyilakan Arya dan Laila untuk masuk dan duduk. Laila angkat bicara.


"Alana, pertama aku ingin minta maaf padamu."


"Soal apa?"


"Soal Arya."


"Arya, kenapa dengan Arya. Hubungan kalian baik-baik saja bukan?"


Laila melihat ke arah Arya. Mereka seperti tengah menyimpan sesuatu.


"Aku akan jelaskan sekarang ke kamu, kalau aku dan Laila sudah bertunangan." jelas Arya tegas ke Alana.


"Aku menyangka sebelumnya, karena aku liat kalian cukup akrab. Selamat ya!" Alana memberikan senyuman pada dua temannya itu.


"Terus, hubungan kamu sama Adera bagaimana..?"


"Ya begitulah, baik-baik saja."


"Apanya yang baik? Aku tau hubungan kamu sama Adera tidak berjalan mulus. Kemarin Adera telepon ke aku, kalau dia tidak di bolehin sama Ibunya untuk pergi ke rumah kamu."


"Oh, jadi si brengsek itu ingin datang ke sini, ngapain? Kurang kerjaan aja!" Alana langsung benci dan sinis mendengar berita itu.


"Tolong maafkan Adera, dia tidak salah apa-apa."


"Oh, jadi anak itu, bukan salah Adera? Mikir kamu Arya! Aku seperti ini itu karena ulah Adera juga!"


"Kamu juga kan, yang mau tidur sama Adera!"


"Tunggu, kalian bahas apa, bahas masa lalu? Maaf, aku tidak bisa di sini, aku tunggu di luar saja!" Laila merasa tidak nyaman.


"Boleh, kamu boleh di luar dulu." Arya mengijinkan.


"Tidak Laila, kamu harus di sini, kamu wajib tau seperti apa kelakuan calon suami kamu ini!"


"Kamu boleh kasih tau ke Laila kalau aku juga ikut campur atas lahirnya bayi itu."


"Apa..?" Laila kaget. "Jadi, kamu..?"


"Iya, Laila. Aku juga ikut tidur bareng Alana malam itu." Arya menjawab jujur. Laila jadi sedih.


"Lalu anak itu?" Laila masih bingung.


"Kenapa, kamu bingung siapa bapaknya? Yang jelas bukan Arya tunangan kamu yang akan aku kasih tanggung jawab. Aku sudah kadung mengakui kalau anak itu adalah anak Adera, meski Adera sama sekali tidak menyentuh aku, malam itu." jelas Laila kemudian.


"Semua cerita dari awal, itu adalah karangan aku sama Arya. Adera sama sekali tidak menyentuh aku. Adera mabuk waktu itu. Arya dengan paksa telah melepas semua pakaian Adera. Seakan-akan Adera lah yang bertanggung jawab atas peristiwa itu. Makanya, Arya jadi frustasi dan sakit karena dia memang orang suci yang tidak mungkin mampu untuk berbuat seperti itu." jelas Alana dengan baik di depan Laili juga Arya.


"Maafkan aku Arya, aku harus jujur sekarang."


"Oke, hanya di depan Laili saja sebagai calon istri aku."


"Tidak lagi Arya, aku tidak mungkin menikah dengan orang yang telah meniduri perempuan lain."


Laila ingin beranjak pergi tapi tangan Arya menahan Laili untuk pergi. "Tolong jangan pergi dulu, kamu harus dengar kebenarannya dulu sebelum kamu salah paham."


Laila tidak jadi pergi akhirnya.


"Oke, aku akan lanjutkan. Awalnya, aku dan Arya telah merencanakan sesuatu. Aku dan Arya ingin harta yang di miliki oleh Adera. Makanya, aku berniat untuk pacaran sama Adera dulu untuk bisa dekat dengan dia."


"Aku tidak menyangka kalau kalian punya niat jahat pada Adera. Adera harus tau hal ini." Laila berujar.


"Sudahlah Laila, Adera sudah tau semuanya. Dia tau dari Dimas dan teman-teman yang lain.


"Tapi, kenapa kalian tega merusak hidup Adera sampai Adera sakit? Apa salah Adera ke kalian?"


"Kamu dengar kan dulu, aku belum selesai cerita. Setelah peristiwa itu, Tidak ada reaksi apa-apa. Aku mencoba untuk periksa ke dokter, tapi hasilnya nihil."


Flashback.

__ADS_1


"Apa, hasilnya nihil?" Arya tidak terima. Dia emosi.


"Maafkan aku Arya, aku tidak bisa hamil." Alana takut.


"Pasti bisa! Kamu itu perempuan normal!"


"Tapi kenyataannya, aku tidak hamil bukan?"


"Bukan masalah itu! Kamu perlu di suntik lagi untuk bisa hamil. Kalau tidak, kita tidak bisa ngapa-ngapain harta Arya. Kita sudah berhasil ambil ATM di dompet Adera, tinggal satu lagi, mobilnya." Arya cukup bernafsu.


"Tidak Arya, aku tidak mau lagi. Itu sudah cukup. Aku tidak mau masuk penjara!"


"Alana, kamu tidak perlu takut, masih ada aku di sini. Sekarang kamu lepas semua pakaian kamu, dan kita harus melakukannya berdua!"


"Boleh, asal uang yang ada di ATM itu lima puluh persennya buat aku!"


"Dua puluh persen."


"Deal!"


Akhirnya malam itu aku dan Arya melakukannya. Dan setelah periksa, akhirnya aku berhasil hamil. Tapi masalah terjadi, hubungan aku sama Arya tidak lagi seromantis dan semesta sebelumnya.


"Aku dan Arya harus berkorban untuk hati dan perasaan untuk bisa mendapatkan respon dari Adera. Dan beruntung lah aku dan Arya, yang telah bisa merebut hati Adera. Adera tertipu oleh kami berdua.


"Maafkan aku Laila, bukan nya kami ingin berbuat jahat padamu, tapi kamu harus tau kebenarannya."


"Kalian harus kasih tau Adera kebenarannya. Kalian harus mengaku di depan Adera kalau Adera tidak bersalah. Kalian harus mau!"


"Iya, aku mau, aku akan mengaku di depan Adera begitu juga Arya."


"Tidak, rencana aku tidak seperti itu. Kita harus tetap menyimpan rahasia ini sampai Arya menikah dengan kamu."


"Masih masih tetap saja bernafsu Arya! Aku tidak mungkin bisa menikah dengan kamu setelah tau kebenaran ini!"


Laila langsung pergi dan meninggalkan Arya dan Alana.


"Hebat, kamu hebat. Kamu telah buat cerita baru di sini!"


"Kamu tidak bisa pergi dari aku begitu saja Arya. Karena anak itu, anak kamu juga!"


"Sampai kapan?"


"Sampai Adera mau menikah dengan aku!"


"Oke, terserah kamu. Yang pasti harapan aku akan musnah kalau sampai Laila pergi dari hidup aku. Kamu telah mengarang cerita hebat kali ini!"


"Bukan begitu Arya."


"Apa lagi, masih belum puas kamu buat Laila sedih dan pergi tadi?"


"Masih ada aku di sini yang bersedia menemani kamu meski kamu tidak seperti dulu lagi. Aku kecewa pada sikap kamu sekarang, Arya! Tega-teganya kamu dekati Laila di saat aku seperti ini?


"Aku masih menderita Arya, dan kamu? Kamu sudah berencana untuk menikah dengan Laila dan ingin hidup bahagia..? Tidak Arya, sebelum Adera menyerah di depan aku, aku tidak akan biarkan kamu menikah dengan Laila, ingat itu! Sekarang kamu boleh pergi!"


Arya pergi dari rumah Alana dengan perasaan kesal. Harus ke siapa lagi dia akan menumpahkan nafsunya nanti.


"Maafkan aku Arya, aku terpaksa melakukan ini karena aku tidak mau Adera melihat kamu bahagia. Karena selama ini, Adera lah yang menahan luka. Adera terlalu pintar untuk menyimpan lukanya dari orang - orang yang dia sayang. Sampai sekarang, dia tidak menemui aku yang masih berstatus pacarnya.


"Adera adalah laki-laki tangguh yang tidak mungkin bisa aku dapatkan secara mudah. Aku harus bisa menaklukkan hati Adera sebisa mungkin. Aku harus bisa menyadarkan dia kalau perbuatannya itu salah.


"Adera harus ada di samping aku sekarang, andai aku bisa. Aku tidak bis menahan perasaan aku ini pada Adera. Karena aku benar-benar sayang sama dia.


"Maafkan aku Adera! Kamu pacar aku yang paling baik."


salam.


Oke guys, sampai di sini dulu ceritanya. Yang mau komen silahkan. Masalah hati tidak ada yang tau.


Kalau baper? Nangis Saja. Karena air mata adalah tanda bahagia.


FN.

__ADS_1


__ADS_2