
...Hari-hari berjalan tanpa Adera di sisi aku, tapi rasa sayang aku ke dia tak ubahnya seperti hati yang tersimpan rapat di dalam dada. ...
...Alana ...
...•...
...•...
...•...
...🐬...
...'Apa Yang Terjadi Padaku' ...
Aku terbangun dari tempat tidurku di sebelah Adera, dia masih tidak sadar. Aku perhatikan ruangan sepi meski sebagian sedang tidur. Oh tuhan, Arya ke mana aku lalu mencoba bangun dari tempat tidur aku. Aku lalu melihat darah keluar dari dalam rok aku. Ya tuhan, kenapa aku ini?
Aku langsung pergi ke kamar mandi dan langsung membersihkan mister V aku. Ada darah yang menggumpal keluar dari tempat itu, terasa sedikit nyeri dan firasat aku tidak enak, apa aku keguguran?
Aku cepat-cepat membersihkan mister V aku dan aku ingat kalau Adera sangat suka Mister V aku. Semoga saja dia cepat sadar nantinya dan bisa bermain lagi dengan aku. Aku keluar dari dalam kamar mandi dan pergi mencari dokter Fahri.
Aku pergi ke salah seorang suster yang ada di rumah sakit itu. "Suster, tolong aku, di mana ruangan yang mengurusi tentang kandungan?"
"Oh di sana, mari saya antar!" katanya padaku. Aku langsung pergi berjalan bersama suster itu lalu aku di antar ke ruangan yang di situ sudah ada dokter laki-laki bernama Rizki.
"Selamat pagi dok!" kataku sok dekat, aku masih belum mandi dan rambut aku sempat berantakan beli aku sisir.
"Iya, silahkan duduk." kata dr. Rizki padaku.
"Ada apa?" tanyanya padaku.
"Aku barusan keluar darah dok, dari mister V aku, sebelumnya aku hamil dokter." kataku jelas ke dr.Rizki.
"Mari, saya periksa dulu." aku lalu di periksa oleh dr.Rizki, perut aku juga di periksa. Laki-laki itu lalu menulis sesuatu di kertas kecil, setelah aku bangun dari tempat tidur itu, yang aku rasa cukup nyaman.
"Bagaimana dokter?" tanyaku ke dr.Rizki.
"Alhamdulilah, kandungan anda masih aman. Anda hati-hati saja dalam bergerak karena selaput rahim anda lunak sekali dan perlu perlindungan dari anda. Sebaiknya anda banyak istirahat dan tidak keluar dari rumah." kata dr.Rizki padaku yang buat aku jadi kuatir.
"Apa benar itu dokter..?" kataku sambil menangis. Pikiran aku melayang ke satu nama Adera yang masih sekarat sekarang.
"Iya, betul sekali ibu, suami anda di mana..?" tanya dr.Rizki lanjut.
"Ceritanya panjang dokter, yang jelas aku belum menikah dan, maaf dokter, aku tidak bisa cerita banyak soal ini. Aku harus cepat balik ke ruang flamboyan."
"Oh, ibu ada di sana, siapa yang sakit, keluarga anda?"
"Bukan dokter, dia adalah pacar aku, heran juga kenapa dia pas tidak sadar setelah tahu kalau aku hamil."
"Oh jadi begitu ceritanya, baiklah, ibu ketemu lagi sama aku nanti, biar aku kasih resep agar pacar Ibu cepat sadar nanti."
"Kenapa tidak sekarang saja dokter?
"Ah tidak Ibu, semuanya butuh proses, Ibu tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. Insya Allah."
"Terimakasih dokter, aku akan bertemu dokter kembali." ucapku langsung.
"Besok saja ya Ibu, besok pagi sekitar pukul delapan aku sudah ada di sini." jelasnya padaku.
"Terimakasih dokter." kataku ke dr.Rizki. Setelah itu aku pergi balik ke ruang Flamboyan. Ya Tuhan kapan musibah ini akan cepat berakhir, aku tidak mau berlarut-larut di sini terus!
Sesampainya di ruangan itu, aku bertemu Arya di situ. Arya seperti tengah berdialog dengan Adera. "Arya, kamu di situ, sudah dari tadi..?" kataku ke Arya yang melihat aku langsung.
"Baru saja, aku baru saja sampai ke sini. Aku naik sepeda motor."
__ADS_1
"Iya, kamu sudah sarapan?" kataku lanjut tanya.
"Sudah tadi di rumah, kamu sudah sarapan?" tanya Arya balik.
"Belum, aku belum sarapan. Aku masih ke dokter Rizki barusan." jelasku ke Arya.
"Kenapa dengan kamu, kamu sakit?" Arya tidak tahu kalau telah terjadi sesuatu padaku tadi.
"Tidak, bukan begitu. Tadi aku periksa kandungan aku ke dokter itu."
"Kandungan kamu kenapa, kandungan kamu kurang sehat?" tanya Arya balik.
"Tidak Arya, kandungan aku baik-baik saja, aku cuma butuh istirahat saja. Tadi di lobang ****** aku sempat keluar darah, aku langsung pergi menemui dr.Rizki." jelas aku lanjut.
"Alana, maafkan aku kalau aku datang terlambat, bukan maksud aku buat meninggalkan kamu. Aku masih ada kerjaan di rumah." kata Arya jelas padaku.
"Tidak Arya, kamu tidak salah. Aku masih bisa jaga diri aku baik-baik kok. Aku terimakasih ke kamu karena kamu setia sekali sama aku dan Adera. Aku tidak tahu harus bagaimana ke kamu, Arya!" kataku ke Arya yang tengah duduk di sebelah Adera.
"Santai saja, aku hanya ingin melihat Adera lekas sembuh. Aku juga sempat lupa kalau kamu sedang hamil, apa kamu perlu istirahat Alana?
"Atau, kamu ingin pulang ke rumah?"
Aku seakan ingin menangis setelah Arya bilang seperti itu, aku seakan ingin menangis di depan Arya, karena aku rindu keluarga aku, setelah lama aku menetap di rumah sakit dan cuma barang sebentar aku ada di rumah.
"Tidak, aku di sini saja. Aku tidak masalah kok lama-lama di sini, lagi pula aku masih kuat menunggu sampai Adera sembuh." kataku menjawab.
Dr.Fahri datang untuk periksa Adera, dia bilang ada perkembangan tetapi sedikit. Aku lalu meniup kedua mata Adera untuk kesembuhan dia agar kedua matanya itu dapat berkedip.
"Kenapa kamu lakukan itu?" kata Arya ke aku, aku jadi tertawa kecil.
"Tidak, tidak apa, aku hanya ingin Adera bisa berkedip saja, siapa tahu bisa." Arya langsung tertawa kecil mendengar kalimat itu.
"Adera, bangun Adera, aku ada di sini bersama Alana. Kalau kamu tidak suka di dunia ini, tolong jangan pergi. Aku tahu kamu masih ingin bersama kami, iya kan?" kata Arya memastikan, aku masih belum tahu kenapa Adera sebegitu sakitnya, segitu lemahnya di depan aku dan semua orang yang ada di dunia ini.
"Bagaimana Ibu, pacarnya sudah sembuh?" kata dr.Rizki padaku.
"Tidak dokter, keluarganya membawa Alana berobat ke Jerman, aku tidak bisa ikut."
"Padahal aku sudah siap untuk kasih obat ke dia, pacar anda itu!" kata dr.Rizki.
"Tidak mengapa dokter, dokter bisa kasih obat itu ke aku kalau dokter mau." kataku lanjut.
"Sepertinya tidak perlu, karena pasiennya sudah pindah ke Jerman, jadi percuma saja." kata dr.Rizki padaku.
Arya yang sedari tadi berkemas-kemas datang menghampiri aku, "Ayo kita pulang, semuanya sudah beres, kita tinggal menunggu kabar dari keluarga Adera!" kata Arya padaku.
"Iya, aku mau pamit dulu ke dr.Rizki." kataku ke Arya.
"Aku permisi dulu dokter." kataku ke dr.Rizki lanjut.
Aku berjalan berdua bareng Arya, dia membawa tas yang berisikan pakaian aku dan dia selama berada di rumah sakit. Dalam hati kau berkata, kenapa Arya tidak bilang saja, kalau aku adalah ayah dari anak itu, aku yang akan menggantikan posisi Adera Alana!
Itu kalimat yang aku harapkan dari Arya, kalimat keputusasaan yang tidak mungkin aku dengar dari mulut Arya sendiri.
"Arya! Hai!" seorang perempuan melambaikan tangan padaku, aku langsung kaget dan ciut.
"Ya tuhan, kenapa aku selalu di nista seperti itu. Kenapa aku tidak di bawa bersama Adera ke Jerman, atau paling tidak jangan Kau hadirkan Laila di depan aku Ya Tuhan!" kataku dalam hati.
Aku, Arya dan Laila akhirnya berdiri bersama dan saling berhadapan. "Laila, aku tidak suruh kamu datang jemput aku! Kamu tahu dari mana kalau Adera pindah..?"
"Ada deh, yuk! Aku bawa mobil loh!" kata Laila ke Arya.
"Aku bawa sepeda motor Laila, kamu bareng Alana saja, dia hamil loh!" cukup Arya, jangan berkata lagi, aku tidak mau bertengkar lagi dengan Laila.
__ADS_1
"Tidak Arya, aku mau jalan sendiri saja, tidak mau bawa Alana pergi!" kata Laila.
"Ya sudah, begini saja, biar adil, biar aku yang nyetir, kamu dan Alana duduk di belakang sambil bawa tas ini." kata Arya padaku.
"Aku bawa sopir loh Arya!" kata Laila.
"Ya sudah, aku naik ojek online saja." kataku melerai diri.
"Yuk Arya!" kata Laila dengan ekspresi senang.
Aku masih menatap Arya dari belakang, aku lepas barang-barang aku di tangan Arya.
"Laila, aku tidak bisa jalan bareng kamu, aku bawa sepeda motor, lagian siapa suruh kamu datang ke rumah sakit?" percakapan itu terus terjadi.
"Kamu bawa barang aku saja, ya! Aku mau bawa Alana pulang, kamu bawa tas ini ke dalam mobil kamu, nanti kita bawa tas itu ke rumah aku, ya!" jelas Arya ke Alana.
Laki-laki itu lalu menghampiri aku lagi, dengan tegas dan dengan harapan yang mendalam. Ya tuhan, kenapa kamu utus Arya di kehidupan aku, padahal aku tidak berharap dia untuk balik lagi ke dalam kehidupan aku sekarang..?
Aku masih diam dalam kaku.
"Alana, ayo kita pulang, tidak ada seorang pun yang boleh mengantar kamu untuk pulang selain aku. Aku adalah pengganti Adera untuk kamu. Ayo kita pulang!"
Kalimat itu jelas sekali terngiang di telinga aku. Tidak, ini bukan waktunya aku untuk menerima Arya, ada Laila di belakang yang tengah menunggu dia. Menunggu Arya untuk membuka tangan dan naik ke dalam mobil itu.
"Tidak Arya, aku sudah bilang tadi kalau aku akan naik ojek, aku tunggu ojek itu sampai datang. Kamu samperin Laila saja, kasihan dia." kataku ke Arya. Aku ingin Arya mengerti kalau Laila lebih baik untuk dia peroleh daripada aku.
"Tidak Alana, kita berdua di rumah sakit sudah lama, berdua bersama-sama Adera di situ. Dan sekarang, kamu ingin pergi sendiri?
"tidak Alana, masih ada aku di sini. Biarkan aku mengantar kamu pulang sekarang!" kata Arya padaku.
"Arya cukup! Kamu hampiri Laila sekarang, aku itu milik Adera, bukan milik kamu, kamu harus sadar itu Arya!" kataku jelas di telinga Arya. Meski separuh hati aku masih saja tetap pada nama Arya.
Aku telah tidak sadar atas kemauan aku sendiri, di mana Adera sudah pergi jauh dari hidup aku.
"Baiklah, kalau kamu mau begitu padaku, aku terima. Tapi tolong jangan salahkan aku kalau aku terjadi sesuatu pada kamu nanti!"
"Tidak akan Arya, insya Allah. Aku akan baik-baik saja tanpa kamu. Aku akan pulang selamat sampai rumah. Kita akan bertemu lagi nanti di sekolah Arya!
"aku akan masuk sekolah lagi, sama seperti kamu!"
"Terserah kamu sajalah, pikiran aku masih tidak fokus ke situ. Mungkin aku akan minta ijin ke orang tua Adera untuk menyusul dia ke Jerman. Aku tidak mau meninggalkan dia sendirian, Alana. Aku sayang dia, aku tidak mau kehilangan dia." kata Arya di depan aku.
Aku jadi merasa bersalah.
"Terserah kamu sajalah, aku hanya bisa bantu dengan doa, tapi kalau ada kesempatan bolehlah aku di ajak ke Jerman bareng kamu!"
"Tidak tahu Alana, kamu pikir sendiri, aku mau ke Laila, hati-hati." kata Arya padaku dan langsung pergi.
Aku baru tahu siapa Arya sebenarnya, dia tidak banyak kasih aku harapan ternyata untuk bisa bertemu Arya lagi. Arya sudah bertemu dengan Laila, dia masuk ke dalam mobil itu. Aku melihatnya sendiri, sekarang tinggal aku dan tukang ojek yang akan mengantar aku pulang.
Maafkan aku Adera, aku tidak dapat menemani kamu ke Jerman.
Tbc.
Vote dan komen jangan lupa!
***
Q n A
1.Bagaimana perasaan kamu setelah baca cerita ini?
2.Apa sebenarnya mau Arya?
__ADS_1
3.Kenapa Alana bersikeras untuk meninggalkan Arya?