
Adera POV
Aku pulang setelah aku bertemu Alana do rumahnya. Aku menyesal tidak dapat melihat bayi mungil itu tadi. Bayi Alana yang tidak aku anggap. Aku sampai di rumah tak berapa lama.
Aku rebahan sebentar di kamar dan menelpon Laila.
Adera
Halo, Laila.
Laila
Iya, apa? Tumben telepon aku jam segini?
Aku menelepon Laila pada jam dua belas siang sepulang dari rumah Alana.
Adera
Aku baru saja dari rumah Alana. Aku bertemu dia di rumahnya.
Laila
Bagaiman kabar Alana? Baik lah?
Adera
Baik, Alana sehat dan terlihat lebih berisi. Aku suka.
Laila
Jangan bilang itu, aku cemburu.
Adera
Benarkah? Jangan begitu Laila, kamu harus tanggung jawab.
Laila
Hehe.
Adera
Laila, tadi Alana bicara padaku.
Laila
Bicara apa?
Adera
Dia bilang kalau dia kesepian. Dia bilang kalau dia butuh aku. Butuh pendamping.
Laila
__ADS_1
Betulkah? Kasihan sekali. Kenapa kamu tidak bujuk dia atau Rayi dia?
Adera
Tidak Laila, aku masih kecewa ke Alana. Aku tidak habis pikir kenapa dia tega berbuat seperti itu di belakang aku. Aku benci Alana.
Laila
Aku juga sih. Tapi, itu pasti kerjaan Arya. Alana telah tertipu oleh Arya.
Adera
Entahlah. Aku tidak suka mengingat itu. Aku ingin urusan ini cepat selesai.
Laila
Iya, semoga.
Adera, aku mau belanja, mau kah kamu mengantar aku?
Adera
Ke mana?
Laila
Supermarket.
Adera
Laila
Baiklah, biar aku jalan sendiri saja.
Adera
Hati-hati Laila.
Laila
Trims.
Aku menutup ponsel aku dan kembali menyadarkan diri di dalam kamar. Aku masih rindu pada Alana. Tapi aku tidak bisa bilang jujur ke dia. Aku telah munafik di depan orang. Khususnya pada Alana.
Ibu laku datang padaku sambil membuka pintu kamar. "Dera,kamu sudah makan?"
"Belum ibu bentar lagi aku makan. Aku mau tidur dulu."
"Tadi kamu pergi ke mana? Ibu lihat tadi kamu keluar pakai motor."
"Aku ke rumah Alana Ibu. Maafkan aku tidak ijin dulu ke Ibu."
"Lain kali ijin dulu ke Ibu sebelum pergi. Apa bayi Alana sudah lahir?" aku kaget Ibu bertanya bayi itu.
__ADS_1
"Kabarnya sih iya, tapi tadi aku tidak melihat bayi itu di rumahnya." jawabku ke Ibu.
"Apa perut Alana masih buncit..?"
"Kenapa Ibu bertanya terus? Bukan kah ibu tidak suka sama Alana..?"
"Ibu hanya ingin tau saja. Soalnya ibu juga perempuan. Ibu pernah hamil. Ibu telah salah paham.
"Tapi Ibu tidak mau kalau Alana jadi istri kamu. Ibu akan pilih yang terbaik buat kamu, buat anak ibu."
Aku tersenyum kecewa. Harapan pertama aku adalah Alana. Dia lah yang telah merusak semua rencana aku sebelumnya. Alana telah mengaku kalau anak itu bukanlah anakku.
Anak itu adalah hasil dari perbuatan Arya.
"Adera..! Kamu sedang melamun..?" suara Ibu menyadarkan aku. Aku lalu rebahan sebentar sambil memejamkan mataku.
Ibu lalu pergi meninggalkan aku. Mataku terbuka. Ingatan aku tertuju ke Laila. Dia pasti sudah pergi ke kota untuk belanja.
Aku lalu mencoba untuk memejamkan mataku sambil mencoba untuk menghilangkan ingatan aku tentang seseorang.
Tak ada yang tau kalau hatiku luka akibat perempuan yang telah meninggalkan aku. Atau aku yang bodoh karena meninggalkan dia. Alasan adalah perempuan yang aku suka pertama kali.
Aku ingat kalau dia adalah cewek tercantik di sekolah. Banyak teman-teman yang mengejar dia tapi Alana lebih memilih aku.
Flash Back
Aku dan Alana sedang berada di sekolah lagi itu. Alana dan aku sedang duduk di taman. Aku bertanya ke Alana.
"Alana, kenapa kamu memilih aku untuk jadi pacar kamu?"
Alam waktu itu sedang makan es krim. Aku yang belikan untuk Alana. "Kenapa, bisa di ulang..?"
Alana tidak fokus dengan pertanyaan aku. Aku lalu mengulang pertanyaan itu. Alana lalu menjawab,
"Aku pilih kamu karena aku suka ke kamu. Aku suka cowok tipe seperti kamu yang norak, urakan, bebas dan nakal."
"Aku tidak nakal Alana. Ibu selalu menjaga aku di rumah. Ini hanya penampilan luar aku saja. Kamu percaya itu."
Aku melihat Alana masih fokus pada Es krimnya.
"Adera, bukan maksud aku untuk menghina kamu. Tapi aku suka cowok seperti kamu. Itu saja. Nakal atau tidak itu kan terserah kamu." jelas Alana padaku.
"Iya, aku bebas memang. Tapi aku tidak nakal Alana. Aku masih bisa jaga diri."
"Adera, kamu pacar aku sekarang. Aku tidak mungkin buat kamu sedih. Percaya padaku. Kamu pacar aku yang paling aku sayang."
Aku tersenyum. Aku tidak begitu percaya sama mulut gombal Alana. Dia suka memuji aku saat dia butuh aku. Tapi aku sayang ke Alana. Aku lalu memeluk Alana dari belang.
Alana mencium pipi kananku. Lalu beralih ke kedua bibirku. Aku membalas ciuman itu dengan semangat dan nafsu yang ada di diriku saat itu.
To Be Continue.
[Maaf kalau ada Typo.]
__ADS_1
slm.