
Alana pov
Aku pikir aku akan end di sini ternyata masih lanjut.
Aku adalah Alana yang masih merindukan Adera..Di rumah sambil menggendong bayi, aku bertanya ke Ibu.
Bayi itu adalah bayi milik Adera dan aku. Kamu masih ingat kan siapa pelakunya? Adera bukan teman Adera. Aku berbohong.
"Ibu tolong pegang ini, aku ingin menemui Adera." aku pamit ke Ibu untuk bertemu dengan Adera setelah lama tidak jumpa. Ibu menerima bayi itu dan aku lekas pergi dari rumah sambil mengambil sepeda motor yang ada di depan rumah aku.
Entahlah, menurut aku, aku terlalu tergesa-gesa untuk mengambil keputusan itu tetapi aku mau bertemu Adera dulu di rumahnya.
Aku mengendarai sepeda motor di jalan dengan semangat dan resah, karena bensin yang belum aku isi. Tuhan, kenapa begitu. Sesampainya di rumah Adera aku turun dan melihat halaman rumah Adera yang masih sepi dengan lampu penerangan seadanya.
Aku sedikit takut untuk masuk ke rumah itu. Aku takut sekali. Apalagi rumah itu sepi. Apa yang akan aku lakukan di sana?
Aku masih bingung mau aku lanjutkan ke mana cerita ini. Keterlibatan uang buat aku bingung dan pengen meski sudah tau larinya ke mana, dapatnya dari mana. Ganti posisi kerja. Masih senang bisa bagi hasil ke orang lain.
Saatnya khodam ganti posisi padahal sama saja jalannya. Begini begitu kerjaan cari uang. Dan memang benar, tak ada uang seperti orang kelaparan. Pengen ini pengen itu. Tau taunya sudah banyak yang di ambil. Tapi sama saja seperti kemarin karena jalannya seperti itu.
Dan begini begitu ceritanya ikatan lagi buat tujuan hidup. Dan begini begitu begitu saja. Dan aku pilih sendiri di rumah karena yang mau ketua. Ada yang mau menikah dan lanjut kerja.
Seperti biasa. Sebenarnya ini hanya cerita saja selebihnya aku lebih suka menulis tanpa harus di paksa. Menulis sesuatu yang aku inginkan dan semoga aku bisa lupa dengan apa yang terjadi barusan. Aku mending ingat pada teman aku tanpa harus ingat lagi apa yang telah ada.
Lokasi : Rumah Adera.
Aku melangkah ke rumah Adera yang di tumbuhi rumput di depan rumahnya. Aku juga tidak tau itu rumah siapa. Yang aku tau itu adalah rumah buatan aku untuk seseorang yang ada di sini ya itu aku sendiri.
Rumah itu tidak ada orang, aku lalu menghadirkan satu orang yaitu Adera yang tiba saja keluar dari rumahnya sambil menutup pintu dan kaget karena tahu aku datang.
"Siapa itu..?" Adera berkata. Dia masih menerka siapa yang datang ke rumahnya itu secara tiba-tiba. Adera berdiri dengan keadaan sedikit ragu.
Adera diam saja sambil menunggu aku. Aku lalu memanggil nama Adera. Heran sekali kenapa aku masih bisa ke rumah dia, padahal aku sudah lama menghilang dari rumah Adera sejak aku melahirkan bayi anak pertamanya itu dengan Adera.
Adera jadi ingat kalau aku sudah melahirkan satu orang anak dan dia sama sekali tidak mau tanggung jawab atas lahirnya bayi itu. Sikap Adera jadi lain sekarang padaku.
__ADS_1
Aku tambah mendekat ke arah Adera. Buat Adera tambah takut dan jadi tambah takut lagi padaku yang sudah setiap hari mengurus anak bayinya itu yang sampai sekarang Adera si penjahat itu atau orang yang telah menelantarkan aku sampai sekarang, tidak tau siapa nama anaknya itu.
Aku tetap menganggap anak itu adalah Anak Adera. Karena itu adalah anak Adera. Tapi, salahnya aku kenapa aku tidak mau membawa bayi itu ke hadapan Adera.
Tuhan, maafkanlah sikap Adera yang seperti itu, karena Adera memang anak yang polos, anak Mama yang tidak bisa di tinggal dari Mamanya. Benar, Adera tidak bisa berbuat apa-apa.
Aku tidak tau niat Adera mau pergi ke mana? Entahlah. Aku tidak tau ke mana tujuan Adera pergi.
Sekarang saatnya aku bersuara ke Adera mantan pacar aku itu. Adera, kalau boleh aku bicara, kenapa kamu setega itu padaku. Meninggalkan aku dengan satu anak bayi laki-laki titipan kamu itu? Jujur aku masih sedikit merasa sedih sekarang meski sebenarnya aku bahagia karena Adera masih ada dan masih hidup.
Aku tidak pernah merasa kehilangan Adera karena Adera masih ada si sini, di dunia ini dengan harapan yang sama mungkin. Tapi, keangkuhan aku dan Adera masih tetap sama yaitu sama-sama tidak ingin bertemu. Sama-sama ingin menutupi rasa cintanya padaku atau mungkin pada orang lain. Nanti, kalau aku sudah bertemu dengan mantan kekasihku itu, aku akan bertanya pada dia,
"apakah dia sudah punya kekasih lain selain aku?"
"Permisi." ucapku ketakutan di depan Adera mantan kekasihku itu yang punya sifat jahat dan tidak mau tanggung jawab.
Aku takut sekali menghadap Adera karena menurut aku, aku sudah lancang masuk ke tanah halaman rumah Adera yang jelas tanah halaman itu adalah tanah milik Orang tua Adera, bapak Ibunya Adera. Harta warisan istilahnya.
Ya begitulah hidup awal-awalnya sebelum ada rumah, ada tanah terlebih dahulu.
"Ya." Adera menunduk kan muka sekilas karena merasa malu padaku, karena dirinya yang tidak tanggung jawab pada anak pertamanya itu yaitu Aries.
Oh Tuhan, siapa yang tidak ingin yang baik-baik berarti dia tidak baik. Siapa yang menginginkan kan baik-baik berarti dia baik. Dan ingin yang baik.
Tinggalkan ke tidak baikan.
"A..de..ra..," kaku sekali aku berucap nama Adera itu. Apa yang ingin aku ucapkan masih aku pikirkan.
Pemirsa: Emang enak begitu? Sakit tau?
Aku tetap diam saja meski orang ke tiga berkata yang lain hal yang tidak aku harapkan. Hal yang tidak aku mengerti dan ingin paham tapi tidak bisa. Karena aku terus saja ingin menghadap Adera yang sudah ingin jalan dan ingin pergi ke luar.
Adera sudah melangkah pergi ke samping rumah, dia ingin mengambil sepeda motornya itu dengan sikap agak sedikit tergesa. Entahlah, apa yang akan terjadi nanti kalau-kalau Adera memang beneran pergi dari hadapanku? Oh Tuhan, kenapa seperti itu caranya?
Harapan aku, andai Adera tidak pergi dari hadapan aku, mungkin aku bisa bicara dengan Dera.
__ADS_1
Adera terus saja mengambil sepeda motornya sambil pamit padaku sebelum pergi.
"Maaf, A..lana. Aku harus pergi, aku mau ke toko sebentar. Maafkan aku." kata Adera padaku.
Adera sengaja pergi pagi itu meninggalkan aku. Tidak tau kalau aku masih tetap berharap padanya. Apa yang akan aku pikirkan, apa yang akan aku jalankan sekarang adalah harapan yang hilang di telan keinginan Adera sendiri.
Aku akan menunggu kamu Adera di sini sampai kamu datang. Itu ucapan aku sampai saat itu di dalam hati aku. Entahlah, kenapa juga aku bisa punya keputusan seperti itu.
Adera terus saja berlalu dari hadapanku sedang aku masih menunggu Adera datang.
Adera pov
Aku terus berjalan dengan sepeda motor Beat milik Ayah.
Dalam hati dan pikiran aku, masih saja ada seorang Alana, perempuan yang aku cintai dan aku rindukan.
Aku berpikir sendiri sambil menyetir. Kenapa aku sekejam itu pada Alana hingga aku mau meninggalkan Alana sebegitu kejamnya.
Kenapa aku begitu kejam pada Alana? Padahal Alana sudah memberikan yang terbaik padaku.
Kenapa begitu? Oh Tuhan. Aku adalah penjahat bagi Alana.
Hal yang mungkin dan tidak mungkin terjadi telah terjadi padaku dan Alana.
Awalnya aku pikir, aku tidak akan keluar setelah tau Alana datang. Tapi, aku sengaja keluar dan pergi dari Alana karena aku merasa belum siapa untuk mengahadapi dia. Entah nanti kalau sudah balik ke rumah. Moga saja Alana cepat pergi dari rumah aku dan tidak mau bertemu lagi dengan aku. Aku tidak bisa berharap hal lain lagi selain sendirian di rumah tanpa Alana.
Perempuan itu telah buat hidup aku tidak nyaman. Buat aku masuk rumah sakit dan buat aku stres dan bingung. Untuk apa dia datang lagi padaku sudah tau aku tidak ingin bertemu dia lagi?
Sebenarnya Alana tidak begitu Awalnya. Aku yang telah mencoba mendekat pada dia pertama kali di sekolah Taruna itu. Dan kisah itu masih belum ada si sini.
Aku terus saja menyetir dan rasa sedih itu akan ada atau akan terus terjadi dan terjadi lagi.
Tuhan, apa yang akan terjadi padaku nantinya? Tolong lindungi aku dari keburukan atau sifat buruk dari ku atau sifat buruk orang lain.
Toko swalayan itu masih kurang beberapa meter lagi, aku jadi tersadar kalau aku masih duduk di atas motor dengan posisi di jalan raya Kelurahan Wonoasih.
__ADS_1
Aku membelok sepeda motor, parkir dan masuk ke toko swalayan itu.
salam