
Andra pasrah saja di pukul.
Hingga akhirnya ia memegang kedua tangan Alena yang meronta ronta itu.
Alena lalu terdiam,matanya tertuju pada mata Andra yang sekarang menatapnya.
Udah berhenti,hari ini kita ngedate aja ya.
Gino ikut mama dinas ke Bandung seminggu.
Mama tadi minta aku nyampein ke kamu..
Karena aku gak punya nomer kamu jadi pas kamu ke sini deh baru aku bisa bilangin.
Tapi Andra..
Tenang aja hari ini Lula piket kok.
Alena diam saja dan di detik berikutnya ia sudah ada di bioskop bersama Andra.
Mereka memilih menonton film bersama.
Sambi menontona,Andra memegang tangan Alena.
Alena kaget namu tidak menepisnya.
Membuat Andra tersenyum manis padanya.
Film itu berputar dan membuat waktu tidak tersa.
Andra tidak segan menggadeng tangan Alena di tempat umum.
Ia malah bangga dan senang karenanya.
Setelah nonton bioskop Andra membwa Alena ke kafe yang dulu menjadi tempatnya menyatakan cinta pada Alena.
Suasanya masih sama seperti dulu,hanya ruangan kafe ini sudah di renofasi dan lebih luas sekarang.
Andra memegang tangan Alena di atas meja..
Ia lalu meraihnya dan mengecup punggung tangan Alena.
Membuat Alena merinding hingga ke ujung kaki.
Alena masih ingat kan sama tempat ini.
Tempat kita dulu...
Iya,aku ingat tapi percuma juga...
Percuma kenapa?
__ADS_1
Kan kamu pergi tinggalin aku..
Hem..maaf ya..
Jangan marah lagi..
Jewer deh kuping aku kalau kamu belum puas.
Alena malah tertawa karena omongan Andra.
Ih...malah ketawa...
Alena memalingkan wajahnya sambil tertawa..
Tuh liat,cantik banget kan kalau senyum..
Ihhhh..gombal banget...
Alena dan Andra menikmati minuman sambil bernostalgia di cafe itu.
Mengenang masa lalu remaja mereka yang manis,semanis juice yang ada di atas meja.
Selepas itu mereka beranjak pulang.
Di dalam mobil Alena mengubrek ngubrek tasnya seperti mencari sesuatu..
Ada apa Alena?
Sekilas Andra ingat,rasa rasanya Andra ada melihat benda itu di meja belajar gino..
Oh...itu,bukannya di meja Gino ya.
Alena berhenti mencari dan menatap ke depan.
Oh iya,aku baru ingat...
Ya udah ke rumah aku dulu aja ya.
Baru aku anter kamu pulang..
Saat kembali ke rumah,benar saja benda yang di cari itu ada di atas meja gino.
Saat Alena berbalik,Andra mengahadangnya..
Kenapa lagi??
Andra tersenyum lalu tiba tiba mengangkat badan Alena dan menggendongnya ke kamarnya yang hanya beberapa langkah dari kamar Gino.
Andra lalu mendudukkan Alena di kasurnya.
Alena menatap sekeliling kamar Andra yang penuh dengan poster.
__ADS_1
Kamar ini juga agak beratakan...
Tidak lama Andra membawa sebuah Album foto..
Alena liat deh...
Rupanya di dalam album itu banyak foto Alena yang di ambilnya diam diam saat masa sekolah dulu.
Membuat Alena tersenyum dan teringat lagi masa putih abu abu yang menyenangkan saat itu..
Alena dan Andra saling tertawa melihat kilasan foto foto itu.
Seakan mengulang lagi memori indah yang sudah mereka lalui.
Saat Alena memandang foto,Andra malah sibuk memandang Alena.
Memeperhatikan senyum Alena yang semanis madu dengan lesung pipi yang tersungging saat dia tersenyum.
Andra tidak tahan..
Ia lalu medekat dan meraih wajah Alena.
Lalu menciumi lagi bibir Alena.
Bibir Alena yang lembut dan manis di mainkannya saat ini.
Perlaha Alena juga mulai menyambut bibir Andra.
Kini Andra tidak bermain sepihak lagi...
Andra juga memeluk tubuh Alena mendekap padanya.
Perlahan ia membaringkan Alena dan berada di atas Alena walau dengan posisi menyamping.
Alena melepas bibirnya sebentar..
Walau dengan nafas terengah engah.
Di lihatnya wajah Andra juga sudah merah dan tatapannya sangat liar.
Andra jangan macam macam..
Nanti.....
Belum juga omongan Alena selesai,Andra sudah menyerang bibirnya lagi.
Gemuruh nafas Andra bahkan terdengar kuat.
Nafasnya tidak beraturan,dan kini ia benar benar naik menimpa Alena.
Alena tidak bisa melawannya..
__ADS_1
Terlebih ada sesutu yang keras di bawah sana,membuat Alena tidak nyaman.