
“Lea, kenapa kamu belum berangkat sekolah juga, ini hari sudah siang, nanti kamu terlambat masuk sekolah,” Ameena menegur anaknya Allea.
“Ya sebentar lagi bu, aku lagi mengerjakan tugas dari sekolah sedikit lagi,” jawab Allea.
“Allea, tapi ibu ini mau berangkat kerja, nanti ibu kesiangan sampai di rumah tuan Arya Dewangga, ibu merasa tidak enak bila setiap hari ibu datang terlambat, karena tuan Arya Dewangga itu orang yang sangat baik dan sering membantu setiap kita menghadapi kesulitan,” ujar Ameena.
“Ya sebentar lagi bu, aku sudah siap berangkat sekolah,” kata Allea
“Lea, sekalian kamu berangkat sekolah antar adik-adikmu sampai di sekolahannya masing-masing,” perintah Ameena.
“Iya bu, setiap hari juga Lea selalu antar mereka sekolah, dan pulangnya juga mereka selalu bersama Lea, ibu jangan khawatir,” kata Allea.
Akhirnya mereka semua meninggalkan rumah, dan mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang ada di depan rumah mereka.
Tempat kerja Ameena tidak terlalu jauh dari rumahnya, begitupun sekolah ke empat anaknya juga tidak terlalu jauh karena dapat di tempuh dengan cara berjalan kaki.
Allea, mengantar ke tiga adiknya sampai di depan gerbang sekolah masing-masing
“Kalian bertiga jangan nakal kalau belajar ya, dan nanti pulang sekolah kalian bertiga harus tunggu kakak dulu, dan ingat jangan pulang sendiri harus tunggu kakak,” kata Allea.
Dan di jawab anggukkan oleh ketiganya.
Setelah itu dia berjalan cepat sambil menunduk dan dia tidak melihat ke depan BRRAAKK.
Allea terjatuh dan seorang pria muda pun berdiri terpaku, memperhatikan dirinya kemudian dia berkata dengan sangat pedas sekali.
“Hei kamu!! kalau berjalan pakai mata,” ujar pria muda itu.
“Maaf kak, saya tidak melihat,” jawab Allea sambil membersihkan seragam sekolahnya.
“Maaf sih mudah, tapi itu buku-buku aku kotor semua akibat dari ulah kamu itu,” katanya kesal.
“Biar saya yang bereskan kak, maaf saya tadi terburu-buru karena saya takut terlambat masuk sekolah,” ujar Allea.
“Terburu-buru? Tidak begitu juga kali, aku juga sedang terburu-buru, kalau seperti ini aku jadi terlambat semua gegara kamu,” ucapnya kesal.
“Huh, dasar gadis menyebalkan,” gumamnya..
Allea mendengar itu semua dia hanya menunduk saja, dia membereskan buku pemuda itu yang berserakan di tanah yang becek.
“Ini buku-bukunya, maafkan saya,” ujar Allea
__ADS_1
Allea memberikan buku-buku itu pada pemuda yang berdiri di pinggir jalan, dan dia menerimanya tetapi lantas dia buang ke tempat sampah.
Allea terdiam dia hanya berdiri memperhatikan pemuda itu berlalu dengan menaiki mobil mewah.
Tetapi sebelum dia menaiki mobilnya, dia masih sempat melontarkan cacian pada Allea.
“Minggir kamu, dan jangan pernah ada di hadapan aku lagi, aku malas melihat wajah kamu,” katanya.
“Bodo amat, aku juga sudah malas kalau ketemu kamu lagi, sombong sok kaya,” jawab Allea.
“Ah, siapa dia? kenapa pemuda itu memakai seragam sekolah sama dengan aku?” gumamnya..
Allea, lalu berjalan setengah berlari karena dia sudah hampir terlambat sekali.
“BYUR”
Tiba-tiba Allea terkejut karena tubuhnya tersiram genangan air yang di lindas mobil.
“Aduh, aku jadi basah kuyup dan kotor seperti ini, sial sekali hari ini aku,” keluh Allea.
Dan dia melihat mobil yang melindas genangan air itu, tetapi dia tidak bisa apa-apa karena mobil itu sudah melaju kencang sekali.
Sementara bel sudah berbunyi, tetapi kelas 12 masih belum ada guru yang masuk untuk mengajar.
“Oh ini tadi ada mobil yang melindas genangan air,” jawab Allea singkat.
“Tapi untung lah pagi ini ibu Marlina tidak masuk mengajar katanya sih sedang sakit,” kata Lilis teman satu kelasnya.
“Padahal aku sudah terburu-buru katanya hari ini ada ulangan dari dia,” jawab Allea.
“Hei lihat dia yang bernama Marcho anak dari pemilik sekolahan ini, wow tampannya,” ujar siswi-siwi yang lainnya.
Marcho berjalan tanpa menoleh sedikitpun ke arah siswa dan siswi yang lain dan dia lalu duduk di bangku barisan paling belakang.
“Marcho, tumben sekali kamu datang terlambat, tidak biasanya?” tanya teman satu kelasnya.
“Aku ini sedang kesal sekali, tadi sewaktu aku habis beli buku tiba-tiba ada anak sekolah yang mungkin sekolah di tempat ini, dia menabrak aku sampai buku aku jatuh semua dan kotor terkena tanah becek ,” ujarnya dengan raut wajah yang kesal.
“Kalau dia sekolah di tempat ini pasti mudah mencarinya, dan kalau ketemu kita bully saja bersama-sama,” ujar temannya itu.
“Marcho, kamu tahu tidak ciri-ciri anak itu, kita cari di sekolahan ini pasti ketemu lah,” ujarnya.
__ADS_1
“Tapi tidak untuk hari ini, hari ini aku lagi fokus untuk ulangan bahasa inggris,” ujar Marcho.
Tiba-tiba masuk wakil direktur sekolah ke kelas 12, dan dia sepertinya mencari seorang siswi.
“Selamat pagi anak-anak, disini siapa yang bernama Allea Prameswari.”
“Saya pak.” Jawab Allea sambil mengangkat tangan kanannya.
“Kamu sekarang juga ikut saya ke ruangan direktur sekolah,” kata wakil direktur itu.
“Ada apa pak, apa ada nilai saya yang harus di perbaiki?” tanya Allea kebingungan.
“Kamu ikut saya saja sekarang, karena kamu kan siswi berprestasi dan masuk melalui jalur beasiswa,” kata wakil direktur sekolah itu.
“Kenapa seragam kamu kotor sekali?” tanya wakil direktur sekolah.
Allea hanya tersenyum saja, dan ia berjalan mengikuti wakil direktur sekolah menuju ruang direktur sekolah.
Sesampainya di depan ruangan direktur sekolah, Allea mengetuk pintu ruangan itu, tok tok tok.
“Masuk,” terdengar suara dari dalam ruangan itu, yang mempersilahkan untuk Allea masuk.
Ceklek
Allea membuka pintu ruangan direktur sekolah itu dan dia melongok ke dalam ruangan, dan dia melihat direktur sekolah sedang duduk di meja kerjanya.
Allea lalu berjalan menghadap direktur sekolah.
“Bapak memanggil saya? ada apa ya pak?” tanya Allea cemas.
“Ya, bapak memang sedang mencari kamu Allea Prameswari, lho kenapa seragam kamu kotor seperti itu?” direktur terkejut melihat penampilan Allea.
“Ada insiden kecil sewaktu saya berjalan kaki menuju ke sekolah, memang ada apa ya pak saya di panggil?” jawabnya singkat.
“Oh karena kamu siswi berprestasi maka kami dari pihak sekolah, mengajukan kamu untuk kuliah melalui jalur beasiswa, kami hanya memerlukan persetujuan kamu dan orang tua kamu saja,” kata direktur sekolah.
“Pak, saya dan orang tua saya pasti sangat senang dan setuju sekali, karena memang itu merupakan cita-cita saya untuk menaikkan derajat orang tua,” ujar Allea.
“Sekarang formulir ini isi dan tanda tangani, karena formulir ini harus di kirimkan secepatnya,’ ucap direktur sekolah.
“Sekarang biar saya isi dulu, nanti saya tanda tangani pak,” ujar Allea.
__ADS_1
Lalu Allea duduk di sofa yang ada di ruangan direktur sekolah dan dia mengisi formulir dengan teliti sekali, sesudah selesai langsung ia tandatangani, dan dia serahkan kembali formulir itu kepada direktur sekolah