ALLEA, SAYAP CINTA YANG PATAH

ALLEA, SAYAP CINTA YANG PATAH
CHAPTER 005 MEMAAFKAN MEREKA


__ADS_3

Allea setelah mengantarkan ketiga adiknya sampai di gerbang sekolah, maka dia langsung berjalan seperti biasa menyusuri trotoar untuk sampai di sekolahnya.


Allea, sampai di gerbang sekolahannya dan memang kebetulan sekali hari masih pagi, dia tidak langsung ke kelas, dia duduk di kanstin sekolah menunggu Lilis sahabat karibnya.


Karena Lilis belum muncul juga, lalu dia bangkit dari duduknya dan dengan santainya dia berjalan menuju ke kelasnya,


GDUBRAK


“Aaahh ssshht,” Allea dia jatuh tersungkur dan meringis memegangi siku tangannya yang berdarah.


“Heh, kalau jalan pakai mata, main tabrak saja,” kata seorang siswi yang seperti foto model.


Allea tidak berkata apa-apa, memang dia selalu mengalah, dan memang tidak pernah ambil peduli apa yang di katakan orang lain kepadanya.


“Heh, aku katakan sama kamu, kamu jangan pernah coba-coba ambil Marcho dari aku, nanti kamu akan tahu akibatnya,” ancam Jeslyn ketua geng sosialita di sekolah elite itu.


Allea tidak berkata apa-apa, dia hanya menatap mereka saja sambil memegangi sikunya yang berdarah karena lukanya cukup lumayan.


“Hei kau, dari setadi kami ajak bicara, jawab kek, apa kek, diam saja memang kau bisu, jadi tidak bisa bicara,” ujar Jeslyn lagi sambil mendengkus kasar.


“Allea!! kamu sedang apa di hadapan cewek-cewek sombong ini?” tanya Lilis.


Lalu Lilis memegang tangan Allea untuk membantunya berdiri, tetapi dia lalu di dorong oleh Melinda gengnya Jeslyn.


“Aih kurang ajar kau mendorong aku, siapa yang berani mendorong aku dan melukai sahabat aku ini maka akan aku laporkan ke direktur sekolah biar kalian di pecat dari sekolah, seperti mereka yang kemarin mencoba melecehkan Allea, termasuk Marcho.


“Jeslyn, benar itu si Marcho di pecat dari sekolah ini karena kemarin dia dengan gengnya telah mencoba melecehkan Allea,” ujar Kristal.


“Tidak mungkin kalau si Marcho di pecat dari sekolah ini karena sekolah ini kan milik papanya sendiri,” kata Jeslyn.


“Eh, kau tidak percaya terserah, sekarang mereka sedang di sidang di ruang direktur sekolah dengan kedua orang tua mereka,” ujar Kristal lagi.


“Marcho pastinya di hadiri oleh papanya dong,” ujar Jeslyn.


“Marcho di wakilkan oleh kakaknya yang bernama Andrew,” ujar Kristal.


“O ooh, kenapa papanya tidak membela anaknya sendiri ya aneh,” ujar Jeslyn lagi.

__ADS_1


Kristal tidak bisa menjawab, dia hanya mengendikan bahunya saja.


“Lis, ayo kita ke ruangan direktur sekolah, karena aku tidak mau ada siswa yang di keluarkan dari sekolah ini gegara aku,” kata Allea.


Lilis terkejut dengan perkataan Allea, dan dia menghela nafas panjang dia tidak habis pikir sahabatnya ini hatinya terbuat dari apa.


“Allea, ini kau kan Allea,” tanya Lilis dengan wajah bingung.


“Ya aku Allea sahabat kau, ada yang berbeda memang?” tanya Allea.


“Ya aku rasa otak kau telah bergeser, kau mau ke ruangan direktur? Nanti malahan kau yang di bully oleh orang tua mereka yang anaknya di pecat,” ucap Lilis.


“Sudahlah, kau mau ikut aku atau tidak?” tanya Allea.


“Ya ya aku ikut kau Allea, sekalian akan aku katakan kalau baru saja di bully oleh geng sosialita kita yang di ketuai si Jeslyn itu,” ujar Lilis.


“Tidak usah biarkan saja mereka membully aku, semua sudah aku maafkan,” kata Allea.


“Wah kalau seperti ini, aku rasa benar perkiraan aku terhadap kau,” kata Lilis lagi.


“Perkiraan apa yang kau katakan benar Lis,” tanya Allea.


“Otak aku tidak bergeser masih pada tempatnya kok,” kata Allea.


“Jadi kenapa pemikiran kau itu tidak cocok dengan pemikiran aku,” tanya Lilis.


“Bagaimana bisa sama cara berpikir kita, kan orangnya pun berbeda,” jawab Allea.


“Iya sih, tapi aku kesal sama kau, kenapa mudah sekali kau memaafkan mereka, mereka itu jahat sama kau,” kata Lilis.


“Lis, ingat kita sebentar lagi akan menghadapi ujian sekolah, dan lulus terus kita kuliah, bagaimana dengan mereka?” ujar Allea.


Lilis terdiam mendengar semua perkataan dari Allea yang seperti itu, dan dia tidak sangka saja akan mendapat jawaban yang seperti itu.


Mereka berdua sudah ada di depan ruangan direktur sekolah, dan Allea melongokan kepalanya ke dalam ruangan itu, karena kebetulan pintunya tidak rapat.


Direktur sekolah mendongakan wajahnya ketika Allea melongokan kepalanya ke dalam.

__ADS_1


“Nah, ini Alleanya ada, masuk Allea, bapak mau bicara,” ujar direktur sekolah.


Allea dengan menunduk dia masuk ke ruangan direktur sekolah, “Kamu duduk disini saja Allea,” kata direktur sekolah.


Lalu Allea duduk di samping direktur sekolah, “Ada apa kamu datang kesini?” tanya direktur sekolah dengan wajah datarnya.


“Pak, saya kesini Cuma mau minta bapak agar jangan memecat mereka, karena sebentar lagi kita mau ujian, saya tidak mau gegara saya mereka tidak bisa melanjutkan pendidikannya,” kata Allea dengan tenangnya.


“Kamu tidak salah Allea? mereka semua telah melecehkan kamu, kalau tidak ada tuan Arya Dewangga maka mungkin hari ini kamu sudah tidak ada disini,” ucap direktur sekolah.


“Biarlah kali ini saja, mereka melecehkan saya, tetapi bila nanti saya sudah menjadi ahli hukum, pasti tidak ada yang berani membully aku kan pak?” kata Allea.


Direktur sekolah mendengar semua perkataan dari Allea dia hanya menganggukan kepalanya saja.


Lalu para orang tua wali murid yang tadi telah memandang sebelah mata pada Allea sekarang mereka terkejut dengan perkataan Allea yang cantik itu.


“Maafkan kami ya anak, dan mulai sekarang anak tante tidak boleh membully kamu, anak yang berhati mulya,” ujar salah seorang dari mereka.


Lalu mereka semua berjabatan tangan mengucapkan terima kasih pada Allea, dan mereka yang telah mencoba melecehkan dirinya, semuanya meminta maaf.


“Allea, maafkan aku ya, aku sampai gelap mata karena hati aku tidak seterang hati kamu,” kata Marcho.


Sesudah semuanya selesai, lalu Allea kembali berjalan bersama Lilis menuju kelas mereka.


***


Di ruang direktur sekolah, setelah semua orang tua wali murid keluar dari ruang sidang itu.


Direktur sekolah kembali ke ruangannya, dan disana telah duduk di singasana kebesarannya Arya Dewangga pemilik sekolah itu.


“Benny, bagaimana hasilnya? Sudah kau pecat semuanya yang telah melecehkan Allea,” tanya Arya Dewangga.


“Tidak jadi di pecat tuan,” kata Benny sambil membuka buku jadwal.


“Kenapa sampai tidak jadi, apa karena kau melihat ada anak aku disitu,” tanya Arua Dewangga.


“Bukan karena anak tuan, semua karena Allea dia sudah memaafkan mereka semua,” ucap Benny direktur sekolah itu.

__ADS_1


“Allea? yang telah memaafkan mereka semua, hebat sekali anak itu, berarti hatinya memang sebesar gunung seluas samudera,” kata Arya Dewangga.


“Ya begitulah Allea, dia itu disini sering sekali di bully tetapi dia tidak peduli dan dia menunjukkan prestasinya yang hebat,” puji direktur sekolah pada Allea.


__ADS_2