
“Ini semua kalau kamu mau tahu, ini ulah Marcho si badung,” kata Lilis.
“Sudah, jangan di perpanjang biarkan saja dia berbuat sesuka hatinya sama aku, aku tidak apa-apa,” kata Allea.
“Kamu itu Allea, memang hati kamu terbuat dari apa? Bisa sesabar itu,” tanya Lilis.
“Kalau aku biarkan saja, karena aku tahu Tuhan itu tidak tidur,” ucap Allea.
Sesudah di obati lalu Allea keluar dari mobil Lilis dan dia berdiri di pinggir trotoar sambil menunggu mobil Lilis berlalu.
Allea lalu ingat akan tugasnya, dia bergegas jalan menuju ke sekolahan ke tiga adik-adiknya.
“Hei Allea, dari pada jalan kaki enak ikut kita saja, senang-senang kita,” ujar mereka dari atas motor mereka.
Allea tidak mau meladeni mereka, karena mereka di sekolah pun terkenal sebagai geng yang sangat kurang ajar.
“Hei Allea, kau tuli ya? Kita ajak untuk bersenang-senang diam saja, kalau seperti ini kamu harus aku paksa,” ujar salah seorang pengendara motor itu.
Salah seorang pengendara motor itu lalu menepikan motornya di pinggir jalan dan dia menantikan Allea yang masih jalan dengan wajah tenang sekali.
“Ini dia aku tangkap kamu sekarang,” dan pemuda yang masih memakai seragam sekolah itu berusaha menaikkan Allea ke atas motornya.
Tetapi Allea lalu melawan sekuat tenaga, dengan menyikut perut pemuda itu, “Ssssh kirang ajar kamu, tapi aku suka dengan perempuan yang berani ini.”
Allea meronta terus dan dia sangat kewalahan karena rombongan pemuda itu sangatlah banyak, lalu dengan sekuat tenaga dia berteriak, “Toollooong, tooloong.”
“Diam kamu brengseik, bisa diam tidak, kamu ini mau aku kasih enak tapi melawan terus,” hardik mereka sambil terus memegangi Allea dan mereka masih berusaha menaikkan Allea ke salah satu motor yang ada disana.
“Hei, boss sudah tunggu kita lho,” kata salah seorang dari mereka.
“Ini perempuan terlalu kuat tenaganya, aku tidak sanggup bantu aku,” teriaknya.
Ketika Allea sedang meronta, tiba-tiba melintas sebuah mobil mewah berwarna hitam dan turun dari dalam seorang pria paruh baya.
Pria paruh baya yang bertubuh kekar itu langsung menghampiri mereka dan mengambil Allea dengan begitu saja.
“Hei kalian, masih kecil kelakuan sudah seperti preman jalanan, ini anak perempuan mau kalian apakan?" tanya pria paruh baya itu.
__ADS_1
“Hei tua bangka jangan ikut campur, ini urusan anak muda, minggir!!!” teriak mereka.
“Kamu masuk lah ke mobil aku dan langsung kunci dari dalam,” ujar pria itu.
Allea lalu masuk ke dalam mobil itu dan dia menuruti perintahnya mengunci mobil dari dalam.
Lalu pria itu menasehati mereka karena salah seorang dari mereka terbuka hoodienya dan menunjukkan mereka sekolah dimana.
“Hei kalian kan sekolah di sekolahan milik aku, kenapa kalian seperti preman, besok orang tua kalian harus datang ke sekolah, dan aku minta pertanggung jawaban dari kalian,
Kalian harus aku keluarkan dari sekolah milik aku itu tanpa surat kelakuan baik dan kalian tidak dapat sekolah dimana pun.
“Jangan pak, kami hanya di suruh seseorang, untuk membawa Allea untuk di beri pelajaran karena dia telah merusak buku ketua kami,” kata mereka.
“Oh ya, aku mau tahu siapa ketua kalian,” tanya pria itu.
Lalu mereka saling tatap dan senggolan, sepertinya mereka takut mengatakannya.
“Cepat katakan sekarang, kalau tidak sekarang juga kalian akan aku laporkan ke polisi,” ancam pria itu.
“Jangan pak, kami beritahu sekarang, ketua kami yaitu Marcho Dewangga,” ucap mereka serempak.
Lalu dia merogoh saku jasnya dan mengambil benda pipih yang sangat canggih itu.
“Marcho!! Cepat kau kesini.”
“Ada apa pa, tumben sekali papa telepon aku,” tanya Marcho pura-pura tidak tahu.
“Jangan banyak tanya sekarang juga kau datang kesini, papa sudah tahu kau ada di sekitar sini, cepat keluar kalau tidak kau akan terima hukuman dari aku,” ujar pria itu yang tidak lain adalah Arya Dewangga.
Maka lalu terlihat sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di belakang mobil Alphard warna hitam milik Arua Dewangga.
Lalu Marcho keluar dari mobil dan dia menghampiri papanya yang sudah sangat marah dengan perbuatan anaknya yang seperti preman itu.
Allea melihat mobil yang berhenti di belakang mobil pria itu dan dia melihat Marcho yang turun dari mobil itu, maka dia pun lalu keluar dari mobil pria itu.
Allea lalu menghampiri pria itu dan berdiri di sampingnya dengan menundukkan wajahnya karena dia memang bersalah telah menabrak anak pemilik sekolah itu.
__ADS_1
“Marcho bagus ya perbuatan kau itu, memang selama ini aku mengajarkan dirimu begitu dan aku sekolahkan kau bukan untuk menjadi preman dan melecehkan perempuan, kau tahu kau lahir darimana?” ucap Arya Dewangga.
Marcho hanya menunduk saja dia tidak berani menatap apalagi menjawab perkataan dari papanya.
“Jawab sekarang!!!” teriak Arya Dewangga.
“Dari perempuan pa,” jawabnya pelan.
“Tapi memang kau anak tidak tahu di untung, sudah bagus kau aku sekolah kan disini, bukan untuk jadi preman, memang darah itu merah,” kata Arya Dewangga.
Perkataan dari Arya Dewangga yang terakhir itu sangatlah menohok perasaan Marcho, dan mengapa perkataan itu ada?.
“Marcho besok pagi, mereka semua yang terlibat dalam pelecehan terhadap Allea, harus menghadap direktur sekolah bersama dengan orang tua mereka,” kata Arya Dewangga.
“Kalau begitu aku, papa yang menghadap direktur sekolah?” tanya Marcho dengan wajah yang sumringah.
“Apa? Aku tidak mau menghadap direktur sekolah biar Andrew yang mendengarkan nasehat dari direktur sekolah," ujar Arya Dewangga.
Marcho langsung kicep tidak berani berkata sepatah katapun.
“Tuan, sudah biarkan saja masalah ini dan tidak usah di perpanjang lagi mereka semua teman saya sekolah di SMA itu,” tutur Allea.
“Apa kau memaafkan mereka? yang sudah melecehkan kau,” tanya Arya Dewangga.
Allea hanya menganggukkan kepalanya saja, dan dia lalu melanjutkan perjalanannya menjemput ketiga adiknya yang mungkin sudah menunggu dirinya.
Ketiga adiknya sudah berdiri di depan gerbang sekolah, dan ketika melihat Allea mereka semua berlari, lalu mereka jarang beriringan menuju ke rumah.
***
Allea dan ketiga adiknya sampai di depan rumah mereka dan memberi salam, “Assalamualaikum,” dan mereka langsung masuk ke dalam rumah.
Lalu mereka mulai mengerjakan pekerjaan rumah yaitu membersihkan rumah, dan Allea memasak dan mencuci baju.
“Assalamaualaikum,” Ameena memberi salam ketika dia mau masuk ke dalam rumah, “Waalaikumsalam, ibu pulang tumben masih sore,” tanya Allea.
“Ibu pulang masih sore karena tuan, sudah pulang sore tadi dan makan malam untuk mereka sudah ibu siapkan, tetapi tadi nampaknya tuan sedang kesal pada anaknya.
__ADS_1
Allea tidak mendengarkan ibunya bercerita apa, karena dia sekarang sibuk sedang menggilas pakaiannya yang kotor kena genangan air.