ALLEA, SAYAP CINTA YANG PATAH

ALLEA, SAYAP CINTA YANG PATAH
CHAPTER 008 NYARIS


__ADS_3

“Aku tidak mau tahu, cari akal sendiri lah,” ujar Arya Dewangga dia uring-uringan.


Dalam hati Andy berkata,’Tuan ini kenapa sih tumben sekali seperti ini?’


Andy yang sudah biasa menghadapi tuannya yang seperti itu dan terkadang moodnya berubah seperti orang yang sedang PMS, dia hanya memperhatikan dari kaca spion dalam saja.


“Apa kau memperhatikan aku, mau aku pecat sekarang juga kau,” tegur Arya pada Andy.


“Ampun tuan tidak, dan jangan pecat saya, Cuma saya heran tuan sangat panik kelihatannya,” ujar Andy memberanikan diri.


“Marcho dan gengnya mau mencelakai gadisku, kalau terlambat bisa berbahaya ini, aku tidak mau Marcho menjadi salah jalan,” ujar Arya Dewangga cemas.


“Cepaaat Andy, ini sudah hampir jam pulang sekolah, pasti Marcho dan gengnya sedang menunggu gadisku pulang sekolah,” kata Arya Dewangga sangat cemas dan rasanya dia mau terbang saja.


“Gadis tuan masih sekolah?” tanya Andy.


“Iya memang kenapa, kau mau tertawa karena aku sudah tua,” tanya Arya Dewangga.


“Kalau yang sering di bawa ke kantor itu bagaimana tuan?” tanyanya lagi.


“Itu untuk kau saja, aku hibahkan,” kata Arya Dewangga datar.


“Hiiy tidak mau tuan, itu wanita sangat seram tuan, rakus uang tuan,” ujar Andy.


“Kalau ini berlian Andy dan kau pasti suka, kalau belum aku tangkap,” katanya.


“Kok tuan tahu kalau dia berlian,” tanya Andy bingung.


“Tahu lah aku hapal dengan wanita, karena sudah banyak wanita yang singgah dan aku nikmati, tetapi kalau ini lain dari yang lain, aku pasti jadi pecandu dirinya,” kata Arya Dewangga.


Mobil Arya Dewangga terjebak dalam kemacetan parah, karena sudah biasa kota Jakarta bila bubaran anak sekolah pun jalanan jadi macet, dan dia sudah gelisah sekali.


Dan dia melihat anak sekolah sudah bubaran dan mereka nampak ada di pinggir jalan sedang menunggu angkot.


Dia berpikir pasti sekolah Allea pun sudah bubar juga, kemungkinan besar dia sedang menyusuri jalan raya untuk menjemput ketiga adiknya.


***

__ADS_1


Bel telah berbunyi tanda waktu pulang sekolah tiba, dan semua siswa sekolah itu pun mulai meninggalkan kelas satu persatu.


“Allea, kau pulang aku antar ya, karena perasaan aku tidak enak Allea, aku takut kau dapat bahaya, karena Marcho dan Jeslyn itu tidak pernah main-main dengan ancamannya,” kata Lilis mengingatkan Allea.


“Sudah tidak apa-apa, aku percaya Tuhan itu Maha Kuasa dan dapat melindungi umatnya yang taat,” ucap Allea.


“Kau yakin tidak akan di ganggu mereka nanti di perjalanan? Lebih sekarang kau aku antar menjemput ketiga adikmu dan nanti langsung aku antar ke rumahmu, itu aku rasa aman Allea,” kata Lilis.


“Sudah aku tidak mau merepotkan siapapun Lis,” ujar Allea.


“Ya sudah kalau kau tidak mau aku antar, tapi hati-hati ya,” pesan Lilis.


Lalu mereka berpisah di pelataran parkir, setelah mobilnya Lilis tidak kelihatan lagi maka Allea pun lalu berjalan seperti biasa dengan kepala menunduk dia menyusuri jalan hendak menjemput ketiga adiknya.


Dan di dalam pikirannya nanti setibanya di rumah dia akan cuci jas milik tuan Arya Dewangga, seterika lalu akan dia berikan pada ibunya untuk di kembalikan kepada tuan Arya.


Yang sedang jadi pikirannya, apa yang akan dia katakan pada ibunya nanti, mengenai jasnya tuan Arya ada pada dirinya.


“Nah, ini artis yang kita tunggu sudah datang, kita rayakan sekarang juga,” teriak Marcho.


“Tangkap!!!” teriak Marcho.


“Ya, jangan sampai lolos dia,” kata Jeslyn.


“Kita akan bersenang\=senang dan menikmatinya sekarang,” teriak Marcho lagi.


Allea mendengar itu dia merasakan tubuhnya menggigil dan bergidik ngeri, dan ada rasa takut yang terbersit di dalam benaknya.


Kenapa aku tadi tidak menuruti perkataan Lilis untuk di antarkan dan sekarang aku sungguh menyesal, gumam hati Allea.


“Cepat tangkap dia, aku sudah tidak sabar ingin segera menikmati pemandangan yang indah, dan sekalian melihat isinya,” ucap Marcho.


Allea, sangat ketakutan sekali mendengar mereka mulai mengepung dirinya, dan dia membayangkan kalau tubuhnya di jamah mereka, dan sangat menjijikan.


Allea berlari kesana kemari tetapi dia tidak bisa meloloskan diri, karena yang mengepung dirinya banyak sekali.


“Hei, kalian anak-anak orang kaya tetapi kalian sangat sombong dan hati kalian di penuhi ke angkuhan suatu saat dunia ini akan terbalik dan kau nanti di posisi seperti aku baru tahu rasa kalian,” kata Allea.

__ADS_1


“Ya sok nasehati kita, nasehati saja dirinya sendiri,” teriak Marcho.


“Kalian anak orang kaya yang tidak punya rasa kemanusiaan, hati kalian mirip sekali dengan hewan,” teriak Allea.


“Kurang ajar sekali kau menyamakan kami dengan hewan, memang kau ini siapa? berani mengatakan kami seperti itu tadi,” kata Marcho sebagai ketua dari geng mereka.


“Tangkap dia cepaaat sekarang juga,” teriak Marcho.


“Beres boss sekarang kita tangkap dia, dan kita akan segera berpesta menikmatinya,” ujar mereka kompak.


“Tapi nanti kita persembahkan dulu dia pada boss untuk icip icip dulu nanti baru giliran kita, masih mulus lagi,” kata mereka.


“Jeslyn, kau kesini dulu, kau harus melihat lebih intens agar kau nanti lebih pandai dan kau juga harus menikmatinya,” ujar Marcho.


“Kalau begitu sih passti beres boss aku senang melihatnya dan yang pasti aku juga akan menikmati tubuhnya,” kata Jeslyn.


“Hei, kalian menangkap begitu saja tidak becus, pakai akal dong, kalau kejar-kejar seperti itu pasti dia tidak akan tertangkap karena dia pandai berlari, karena setiap hari kerjanya jalan kaki menyusuri jalan ini,” kata Marcho.


“Berarti kau tahu keseharian dia,” tanya Jeslyn.


“Ya tahu lah, karena dia setiap pagi berangkat sekolah selalu bersama ibunya,” kata Marcho.


“Kenapa dia berangkat selalu bersama ibunya sih,” tanya Jeslyn.


“Ya pastilah berangkat bersama karena satu arah dan ketika ibunya masuk jalan arah ke rumah aku, maka dia dengan ke empat adiknya akan jalan kaki menyusuri jalan ini untuk sampai ke sekolah,” ucap Marcho.


“O oh, kau tahu ke seharian dia rupanya, jangan-jangan kau mencintainya diam-diam,” Jeslyn curiga pada Marcho.


“Mencintainya? tidak level lah masa aku mencintai anak asisten rumah tanggaku sendiri, mustahil,” ujar Marcho.


“Awas kau ya, kalau aku dengar kau mencintai dirinya,” ancam Jeslyn.


“Aku kan hanya mencintai kamu sayang, tidak ada yang lain selain kamu di hati aku ini,” rayu Marcho pada Jeslyn.


Jeslyn lalu menghampiri Marcho, dan dia langsung duduk di pangkuan Marcho dia pun bermanja-manja.


“Hei kalian bukannya membantu kami, malah bermesraan sendiri, kami ini sudah lelah dia seperti belut sangat licin sekali,” ujar Jerry anak buah Marcho.

__ADS_1


__ADS_2