ALLEA, SAYAP CINTA YANG PATAH

ALLEA, SAYAP CINTA YANG PATAH
CHAPTER 012 BUCIN


__ADS_3

“Alvin, kau langsung ke kantor dan handle semua pekerjaan aku.”


“Jam berapa meetingnya," tanya Arya Dewangga.


“Jam 10 pagi ini tuan,” ujar Alvin.


“Vin katakan sama Amanda, meeting minta di reschedule, kalau bisa jam 2 siang setelah aku pulang menjemput Allea, karena kalau dia belum pulang sekolah hatiku sangat khawatir akan keselamatannya," kata Arya Dewangga.


“Baik tuan, dan sekarang saya akan langsung ke kantor, dan oh ya tuan hasil meeting kemarin resumenya sudah saya taruh di atas meja kerja tuan,” kata Alvin.


“Iya aku terima kasih, memang kau asisten pribadiku yang bisa di andalkan," puji Arya pada Alvin.


Alvin pun dia langsung keluar dari rumah tuannya itu dan menaiki motornya yang memang sudah terparkir di halaman rumah itu.


Lalu Arya membukakan pintu mobilnya untuk Allea, dan dia lalu masuk dan duduk di sebelah Allea.


“Andy kita berangkat ke sekolah Allea dulu," perintah Arya.


“Baik tuan," jawab Andy.


Andy melajukan mobilnya tidak terlalu cepat karena situasi jalanan banyak yang berlobang.


“Sayang, mas minta maaf ya dulu sekali, pernah terburu-buru berangkat kantor, karena ada acara meeting mendadak pagi-pagi dengan klien dari Jepang, dan kau yang terkena cipratan genangan air kotor itu," Arya mengatakan kejadian dulu.


“Ya sudah mas, itu sudah berlalu, tidak usah di bahas lagi,” kata Allea pelan.


“Andy, bagaimana tadi dengan ketiga adik-adiknya Allea apakah mereka sudah kau antar sampai sekolahan?” tanya Arya.


“Sudah tuan, tadi pagi sekali mereka sudah siap dan mengerti,” jawab Andy.


“Ya sudah nanti biar pulangnya kita jemput bersama, kasihan mereka berjalan kaki," ujar Arya.


Mereka tanpa terasa sudah sampai di depan gerbang sekolah Allea, dan dia pun setelah mencium punggung tangan Arya dia bergegas turun, tetapi Arya menahan tangannya.

__ADS_1


Arya lalu menarik tengkuk Allea dan dia mencium kening dan mencium bibir ranum gadis yang masih kecil itu walau usianya sudah 18 tahun.


“Bibir mu manis sekali sayang, aku sudah sangat ingin memilikimu seutuhnya," Arya berkata seperti itu.


Andy yang mendengar itu hanya menunduk dan bergumam dalam hatinya, “Bucin.”


Allea merona merah wajahnya mendengar perkataan Arya tadi, dan dia dengan refleks membelai wajah Arya Dewangga, “Sabar ya Mas, aku masih mau ujian dulu, nanti kita menikahnya kalau aku sudah kuliah, karena cita-cita aku mau jadi pengacara dan notaris.”


“Iya aku akan mendukung mu sayang, tapi aku sudah ingin menikahimu, karena takut aku tidak mau nanti kau di ambil orang lain," ujar Arya.


“Kalau masalah itu, Mas tenang saja karena hati aku cuma buat kau seorang, karena kau lah yang telah menyelamatkan aku ketika aku dalam kritis kemarin,” ujar Allea.


Allea dengan mesranya membelai wajah Arya Dewangga yang tampan itu walaupun sudah terlihat sangat dewasa.


“Allea, aku ini sudah tua, apa kau tidak malu berdampingan dengan aku yang sudah tua ini,” tanya Arya Dewangga.


“Siapa yang katakan kalau mas itu tua, mas itu bukannya tua tetapi sangat dewasa dan matang, tetapi walaupun begitu aku tidak malu berjalan dengan mas yang tampan dan gagah ini, karena aku sayang dan cinta sama mas,” ujar Allea.


Mendengar perkataan Allea mencintai dirinya, Arya menarik tubuh Allea ke dalam pelukannya dan dia menghujani ciuman pada gadis bermata biru itu.


“Oh ya aku tidak tahu Mas, tapi sekarang sudah tahu,” kata Allea.


“Sudah ya mas, aku takut terlambat masuk kelas,” ujar Allea lagi.


“Mas ikut ke dalam mengantarmu sayang," kata Arya.


“Apa Mas mau ikut belajar dan duduk bersama aku?” tanya Allea.


“Kalau di izinkan oleh direktur sekolah aku mau," kata Arya.


Mereka berdua akhirnya keluar dari mobil dan Andy hanya bisa menelan ludah dan gemetar lututnya mendengar mereka saling menyatakan cinta antara pria dewasa dengan gadis kecil.


Andy melihat kepergian dua orang yang sedang jatuh cinta itu sampai tidak terlihat lagi punggung mereka.

__ADS_1


Arya Dewangga, merangkul bahu Allea menyusuri koridor sekolah dan sampai di kelas 12, lalu Allea mau masuk ke kelas, tetapi Arya dengan mesranya dia mencium kening Allea.


“Oh, ini rupanya yang bernama Allea, kami sudah menunggu kamu lama sekali, dan kamu ke sekolah di antar oleh sugar daddymu, karena takut sama kami,” kata salah seorang ibu-ibu orang kaya atau paling tidak istri pejabat.


“Bu jangan sembarangan kalau bicara, aku bukan sugar daddynya tetapi aku ini pemilik sekolahan ini sekaligus calon suaminya dia," kata Arya Dewangga.


“Hah, kakek-kakek ini calon suaminya, masya Allah memang dunia sudah terbalik,” jawab mereka.


“Allea, sekarang kami minta pertanggung jawaban kamu untuk mencabut semua tuntutan, karena anak kami tidak bersalah, yang bersalah itu kamu, karena suka menggoda mereka,” ujar mereka berang.


Allea hanya menunduk saja, dia tidak bisa bicara apa-apa, karena mereka kalau di jawab pun unfaedah.


“Aku saksi matanya, kalau mereka semua memang bersalah dan sering kali membully Allea, apa kalian tidak sadar kalau anak kalian itu bejad semuanya,” ujar Lilis.


“Hei, kau kan anaknya Darmanto? Kenapa kau membela anak asisten rumah tangga ini?” tanya mereka.


“Bu asisten rumah tangga juga manusia, coba lihat Allea ini walaupun dia anak asisten rumah tangga tetapi dia dapat bersekolah di sekolah elite ini karena dia berprestasi dia mendapatkan beasiswa karena ke jeniusannya,” kata Lilis dengan bangganya.


“Ah bullshiit, pasti dia telah menjual dirinya untuk mendapatkan beasiswa pada pemilik sekolah ini, itu buktinya sekarang dia mau menikahinya mungkin sekarang dia sedang hamil,” ujar mereka.


Arya Dewangga dia hanya diam saja memperhatikan para ibu-ibu itu ngoceh, dan dia sedang menunggu moment yang tepat untuk bicara dengan mereka.


Tiba-tiba para ibu-ibu sosialita mereka membawa spanduk dan menggelar di sekolahan itu, dan mereka meneriakan.


“Allea harus keluar dari sekolah ini, karena selama ini dia jadi simpanan seorang pengusaha alias dia menjadi sugar baby, dan sekolahan ini tidak mau tercoreng namanya gara-gara adanya Allea.”


Arya Dewangga dengan merangkul bahu Allea, dia membawa Allea ke tengah-tengah ibu-ibu yang sedang protes.


“Aku Arya Dewangga pemilik sekolah ini, yang telah kalian fitnah sebagai sugar daddynya Allea, maka aku tidak terima di katakan seperti itu," Arya Dewangga sakit hati.


“Tidak terima buktinya itu dia mesra sekali dengan ****** itu,” ujar mereka.


“Kalian semua telah memfitnah aku, dan juga calon istri aku ini adalah gadis baik-baik, karena aku tidak suka di fitnah seperti itu maka hari ini juga kalian semua yang berkumpul disini aku laporkan ke polisi," Ancam Arya.

__ADS_1


Lalu Arya Dewangga menelepon seseorang, kemudian dia menaruh benda pipih yang selalu setia mendampingi dirinya ke balik saku jasnya.


“Tunggu sebentar lagi petugas polisi akan menjemput kalian, dan aku akan menarik saham yang aku tanamkan di perusahaan suami kalian, karena masih banyak perusahaan yang menawarkan saham yang lebih baik untuk perusahaan aku," ancam Arya Dewangga.


__ADS_2