ALLEA, SAYAP CINTA YANG PATAH

ALLEA, SAYAP CINTA YANG PATAH
CHAPTER 004 TIDAK LEVEL


__ADS_3

“Allea telinga kamu sudah tuli ya di ajak bicara dari setadi diam saja,” tanya Ameena sambil berjalan menghampiri Allea yang sedang mencuci baju.


“Masya Allah Allea, itu baju kamu sampai seperti itu bagaimana bisa seperti itu,” tanya Ameena.


“Ibu kan tahu jalanan di depan itu banyak yang rusak, ketika aku jalan ada mobil yang melindas genangan air, jadi deh aku seperti ini,” tutur Allea.


“Ya sudah cuci sampai bersih, setelah itu kamu mandi bersihkan diri dan keramas pakai shampo jangan lupa.” Perintah Ameena.


Allea hanya mengangguk saja dan dia meneruskan mencuci baju, setelah itu dia membersihkan diri karena memang tubuhnya terutama rambutnya banyak lumpur kering.


Allea memang sudah mandi di sekolahan tetapi dia masih merasa belum bersih apalagi rambutnya yang panjang itu.


Sesudah sholat isya lalu mereka berlima duduk di atas tikar lalu Allea menyiapkan semuanya, ibu dan ketiga adiknya hanya duduk menanti semua yang di sajikan oleh Allea.


Malam itu setelah makan malam, mereka masuk ke kamar masing-masing, tetapi Allea lalu masuk ke dalam kamar ibunya.


“Ibu, tadi aku di panggil direktur sekolah untuk menghadap,” kata Allea dan dia belum sempat melanjutkan ibunya sudah bertanya.


“Memang ada apa kamu di suruh menghadap direktur apa ada yang perlu di bayar? Kalau ada yang di bayar kita tunggu ayah kamu mengirimkan uang ya Lea,” tutur Ameena.


“Ibu dengarkan dulu aku bicara, tadi di panggil untuk isi formulir dan menanda tanganinya karena aku di daftarkan masuk universitas ternama dengan jalur beasiswa dan tadi juga ada pemilik yayasan sekolah itu dia juga langsung menanda tanganinya,” kata Allea.


“Tapi, kamu kan belum ujian dan belum lulus sekolah kenapa sudah mengisi formulir untuk kuliah,” tanya Ameena.


“Kalau masalah itu aku tidak tahu bu, Cuma tadi aku baru tahu kalau yang punya yayasan sekolah itu namanya Arya Dewangga,” jawab Allea.


“Oh ya, tuan Arya Dewangga pemilik sekolah itu, berarti pak Benny pegawainya tuan Arya Dewangga yang diangkat sebagai direktur sekolah itu,” kata Ameena.


“Bu, kapan sih ayah pulang, aku mau beritahu kabar gembira ini, kalau aku bisa masuk universitas ternama dengan beasiswa,” tanya Allea.


“Ayah kamu kerja di Jakarta hanya sebagai kuli bangunan, jadi dia tidak bisa di harapkan kapan dia pulang, tapi yang penting kita doakan agar dia sehat selalu, dan bisa pulang berkumpul dengan kita,” kata Ameena.


“Ibu, aku janji untuk sekolah setinggi mungkin dan nanti kalau aku sudah sukses maka ayah dan ibu tidak usah bekerja lagi, biar aku yang menjadi tulang punggung keluarga ini,” tutur Allea.

__ADS_1


“Sekarang sudah malam, kamu harus tidur karena besok kamu harus berangkat sekolah, kan sebentar lagi kamu ujian,” kata Ameena.


“Iya bu, memang aku sudah mengantuk,” ujar Allea.


Lalu Allea berjalan keluar dari kamar ibunya dan menutup pintunya, dia menuju ke kamarnya dia langsung merebahkan diri, dan langsung terlelap.


***


Sementara itu di kediaman Arya Dewangga.


Di meja makan semua sudah berkumpul untuk makan malam dan mereka tinggal menunggu papa mereka yang masih belum turun dari kamarnya di lantai dua.


“Kenapa kalian tidak mulai saja makan malam? Karena papa di atas masih banyak kerjaan kantor yang harus diselesaikan,” kata Arya Dewangga.


“Kami tidak akan mulai makan malam jika papa belum datang atau belum turun dari atas kecuali papa mengatakan agar kami makan malam duluan,” kata Andrew.


Lalu Arya Dewangga menarik bangku untuk dia duduki dan dia berkata perlahan, “Ya sudah sekarang kita mulai makan malam, tapi kau Andrew yang baca doanya,” perintah Arya Dewangga.


Setelah acara makan malam, lalu Arya Dewangga berkata dengan suara perlahan, “Andrew besok kau datang ke sekolahannya Marcho, sebagai wali dari Marcho.


“Tanya sama yang bersangkutan, karena papa sudah malas berurusan dengan masalah,” tutur Arya Dewangga.


“Marcho, apa yang telah kau buat sampai papa semarah itu sama kau?” tanya Andrew.


“Dia itu tidak akan menjawab, besok saja kau akan tahu sendiri perbuatan adik kau itu,” ujar Arya Dewangga.


“Iya pak, besok Andrew akan datang ke sekolah Marcho sebelum ke kampus,” Andrew menyanggupi untuk datang ke sekolahannya Marco.


“Sekarang sudah bereskan? Dan besok kau terima saja keputusan direktur sekolah apapun itu, karena masalah itu papa bukanlah wewenang papa di sekolah itu,” ujar Arya Dewangga.


“Ya pa, Andrew mengerti,” jawabmya singkat.


Arya Dewangga lalu meninggalkan meja makan, dan dia lalu menaiki tangga menuju kamar yang sekaligus ruangan kerjanya.

__ADS_1


Mereka berempat berkumpul di ruang makan, dan Andrew langsung bertanya pada Marcho sebenarnya apa yang telah terjadi.


Lalu Marcho menceritakan semuanya dari awal sampai akhir dan gadis itu di selamatkan papa dari teman-temannya.


“Marcho, Marcho, kau ini adik kami yang paling bungsu kan? kenapa kelakuan kau mirip seperti preman,dan cepat sekali naik darah sama dengan si Albert lama-lama kakak ini lelah, sebentar Albert sebentar Marcho, kalau kalian mau jadi jagoan, kalian tidak usah sekolah masuk saja sasana tinju atau apalah untuk ikut MMA,” Andrew kesal dengan kelakuan mereka.


“Tapi aku kesal dan sebal dengan anak yang bernama Allea Prameswari, dia itu anak yang paling jenius di kelas, aku sebenarnya iri sama dia kak,” kata Marcho.


“Kau benci dan kesal sama si Allea karena dia jenius itu salah besar, karena benci itu artinya benar-benar cinta tahu,” ujar Andrew.


“Mustahil aku mencintai dia, tidak level dia sama aku kak,” kata Marcho.


“Tidak level, tidak level tahu-tahu kau jatuh cinta sendiri, ketika dia telah di ambil orang dan kau akan gigit jari,” celetuk Aldo.


***


Sementara itu di rumah kediaman Allea, mereka terbangun ketika adzan subuh berkumandang, setelah melaksanakan kewajiban sholat subuh, mereka lalu mengerjakan aktivitas masing-masing sesuai dengan tugasnya.


“Lea, kamu sudah buatkan sarapan pagi untuk kita semua?” ujar Ameena.


“Sebentar lagi siap bu,” kata Allea.


Dan mereka sekarang semuanya sudah duduk di atas tikar, menunggu sarapan datang.


Allea lalu membagi sarapan pagi nasi goreng dengan telor ceplok masing-masing satu piring.


Mereka sarapan pagi dengan lahapnya, karena mereka sudah terbiasa sarapan pagi jadi ketika di sekolah mereka sudah tidak jajan lagi.


Setelah selesai makan, lalu mereka mulai bersiap dengan memakai seragam sekolah dan perlengkapannya.


“Lea, ibu berangkat ya lebih dahulu, nanti kamu seperti biasa mengantar ketiga adik kamu ini,” kata Ameena.


“Iya bu, nanti mereka semua aku antar sampai di gerbang sekolahnya,” ujar Allea.

__ADS_1


Setelah ibu mereka berangkat bekerja, tidak lama kemudian Allea bersama ketiga adiknya berangkat sekolah pula.


__ADS_2