
Arya Dewangga dan petugas polisi akhirnya dapat menemukan mereka di rooftop, dan Arya melihat Allea dalam keadaan yang menyedihkan dengan tubuh penuh dengan lebam dan luka bekas cakaran, juga pakaian sudah sebagian terlepas.
Arya Dewangga lalu membuka jasnya lalu dia membungkus tubuh Allea dengan jasnya, kemudian dia angkat dan di peluknya dengan mesra dia juga menciumi pucuk kepala dari Allea.
“Kau sekarang selamat ada di tangan aku, biar mereka yang menanggung akibat semuanya, dan jangan sekali-sekali membela mereka biarkan mereka membusuk di penjara,” kata Arya Dewangga.
“Tapi tuan,” Allea baru saja mau bicara tetapi jari telunjuk Arya Dewangga telah menutupnya.
Dan dia lalu menunduk menatap wajah Allea dengan lekat, dan berkata, “Sekarang kau berada di bawah perlindungan aku, dan aku tidak suka di bantah.”
Lalu dengan membawa tubuh Allea yang kecil mungil dan sudah tenggelam semuanya di dalam jasnya, dia pun menuruni dari lantai demi lantai, dan Allea berpegangan erat pada leher Arya Dewangga.
“Pak Arya terima kasih atas infonya, dan nanti calon istri bapak harap bisa datang untuk memberikan kesaksiannya,” ucap petugas polisi tersebut.
“Baik akan saya atur itu,” jawab Arya Dewangga lagi.
“Andy kau bawa mobil Marcho dan pinta kunci mobilnya sama dia, dan ambil semua perlengkapan yang melekat di dirinya,” perintah tuanya pada Andy.
“Baik tuan laksanakan,” jawab Andy singkat.
Tidak lama kemudian Andy sudah membawa semua barang yang melekat pada diri Marcho dan dia menghampiri tuannya, “Ini tuan kepunyaan Marcho semuanya.”
“Mobilnya kau bawa saja, dan jemput ketiga adik-adiknya Allea di sekolahnya tidak jauh dari sini,” ujar Arya Dewangga.
“Terus antarkan ke rumahnya tuan?” tanya Andy.
“Mereka bawa ke rumahku lah, memang kau tahu dimana rumah mereka? dan kemungkinan besar Ameena masih ada di rumahku dia belum pulang,” jawab Arya.
“Baik tuan kalau seperti itu,” kata Andy.
“Papa!! Tolong aku dan maafkan semua perbuatan aku yang telah membuat papa malu karena aku,” Marcho berusaha meminta maaf pada Arya tetapi dia tidak menghiraukannya lagi.
“Penjarakan mereka semuanya pak polisi jangan ada yang di beri keringanan, kalau mereka minta keringanan mereka harus mencium kaki calon istri aku ini,” ujar Arya Dewangga.
Polisi itu akhirnya membawa mereka yang berjumlah 15 orang semua teman dari Allea dan beberapa orang lagi dari kelas sebelah.
Arya Dewangga lalu membuka pintu mobilnya dan meletakan Allea duduk di depan disamping dirinya.
__ADS_1
Lalu dia memakaikan save belt, Arya membawa Allea ke rumah sakit untuk di periksa keadaannya, juga di buatkan visum untuk memperkuat hukuman mereka.
Allea karena memang dia terlalu lelah fisik dan mentalnya, maka dia dengan mudahnya tertidur dalam dekapan Arya Dewangga.
Allea terbangun karena merasa perutnya sangat lapar sekali, dan dia sangat terkejut mendapati dirinya tidak tidur di kamarnya.
“Lho aku sekarang ada dimana dan ini kamar siapa?” tanyanya dalam hati.
Kemudian mencoba turun dari tempat tidur, dan dia terkejut karena mendapati dirinya memakai kaos lelaki yang sudah seperti daster untuknya.
Dan dia lalu turun dari tempat tidur dengan pelan sekali, tetapi pandangannya jatuh pada satu sosok pria yang sedang tertidur di atas sofa dan di sudut kamar ada meja kerja dengan berbagai berkas.
“Oh dimana aku sekarang? Dan siapa lelaki itu?” gumamnya.
Allea berjalan mendekati ingin melihat siapa dia, tetapi dia sangat terkejut karena lelaki itu terbangun dan langsung bertanya.
“Kau sudah bangun sayang? Kau lapar ya?” tanya Arya Dewangga.
“Ya, aku lapar Om,” jawab Allea singkat.
“Jangan panggil Om dong sayang,” kata Arya Dewangga.
“Panggil saja Mas ya.” ujar Arya Dewangga.
“Baik Mas, sekarang aku mau tanya ini aku ada dimana?” tanya Allea.
“Kau sekarang ada di rumahku, karena aku tidak tahu rumah kau," kata Arya Dewangga lagi.
“Terima kasih ya Mas telah menolong aku dari mereka yang jahat itu,” kata Allea sambil menunduk.
“Sudah lupakan lah, sekarang kau laparkan, mau makan sama apa?” tanya Arya Dewangga.
“Apa saja, dan dimana dapurnya biar aku sendiri yang masak,” ujar Allea.
“Dapur ada di bawah, kau mau turun dalam keadaan seperti ini?” Arya Dewangga menunjukkan dapurnya.
“Memang kenapa Mas?” tanyanya.
__ADS_1
“Sebab sekarang semua orang sudah tidur dan Cuma kamu dan aku yang baru saja terbangun karena lapar,” kata Arya Dewangga.
“Tidur? Memang sekarang sudah jam berapa Mas?” tanya Allea.
“Sekarang sudah jam 1 malam, karena kau sejak pulang dari rumah sakit tertidur terus," kata Arya lagi.
“Aduh ibu kasihan pasti sekarang dia sedang duduk menunggu aku pulang,” Allea dia baru teringat akan ibunya.
“Aku sudah telepon Ameena, dan mengatakan kau aman bersama aku, tetapi aku tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya, karena aku takut dia syok," ujar Arya Dewangga.
“Ya Mas, jangan beritahu ibu apapun yang terjadi, dan aku juga tidak mau bertemu ibu dulu sebelum lebam di wajah dan tangan aku hilang, karena dia akan merasa cemas,” tutur Allea.
“Baiklah kalau begitu, mulai besok kau berangkat sekolah biar aku yang mengantar ya sayang," kata Arya Dewangga.
“Ketiga adik-adik aku bagaimana Mas kasihan mereka aku sedih kalau mereka biasanya selalu bersama aku dan sekarang mereka tidak bertemu aku,” ucap Allea.
“Mereka itu semua biar Andy yang mengantarkan, sedangkan kau akan aku jemput dan antar mulai sekarang, tidak boleh berjalan sendiri, karena kau ini sekarang dalam bahaya, banyak yang mengincar dirimu,” ujar Arya dan terlihat cemas.
“Baik Mas, aku akan menuruti semua apa yang telah Mas katakan,” kata Allea.
“Ya memang itu yang harus kau lakukan sayangnya Mas,” kata Arya.
“Ini Mas nasi goreng spesialnya,” ujar Allea sambil meletakan piring di hadapannya.
Lalu mereka makan berdua seperti sepasang suami istri yang lagi kasmaran.
Setelah selesai makan malam, lalu mereka menaiki tangga menuju ke lantai 2 dan berjalan menuju kamar utama yang letaknya paling depan.
Kemudian mereka berdua masuk ke kamar dan Allea lalu menghampiri Arya dan berkata dengan perlahan sekali.
“Mas, sebaiknya tidur di tempat tidur, aku tidak tega melihat Mas kakinya tergantung seperti itu, dan yang tidur di sofa biar aku saja,” kata Allea.
“Tidak sayang, biar Mas tidur disini saja," ujar Arya
Allea lalu berdiri mematung dihadapan dia, dan dia lalu bertanya, “Ada apa sayang," tanya Arya
“Kalau begitu Mas tidur di tempat tidur saja di sebelah sana dan aku di sebelah satunya lagi,” ujar Allea.
__ADS_1
“Apa kau tidak takut sayang, aku ini pria dewasa, yang sudah banyak pengalaman dengan wanita," tanya Arya.
“Aku percaya sama Mas dan tidak melanggar sesuatu yang selama ini aku jaga yaitu kesucian yang akan aku berikan pada malam pertama di saat aku menikah nanti,” tutur Allea.