
“Sekarang kami mau makan malam, dan sekarang kami tidak mau mengganggu papa untuk makan malam, karena mereka berdua selalu makan ketika hampir pagi,” kata Albert.
“Al, kau jangan sembarangan bicara mana mungkin sih orang hampir pagi bangun terus makan,” sambut Aldo.
“Kalian tidak percaya, coba lihat saja nanti malam apa yang akan kalian saksikan dan kalian harus beri aku uang jajan tambahan,” ujar Aldo lagi.
“Bi, bibi mau tahu kalau itu yang dinamakan bucin, papa itu bucin banget sama Allea. jadi Allea tertidur pun dia tidak akan membangunkan, dan lebih senang mengangkatnya, papa juga sangat cinta sama Allea,” ujar Albert.
“Bukan papa saja yang cinta, tapi Allea juga sangat mencintai papa, itu pernah aku tanyakan dengan dirinya secara pribadi, karena kalau Allea terpaksa dengan papa, maka aku akan merebut Allea dari papa,” kata Andrew.
“Kak, kalau bicara jangan sembarangan, papa kalau dengar pasti akan marah dan kita yang pasti akan menerima amukannya, kakak gila ya mengatakan seperti itu,” ujar Aldo.
“Itu kalau Do, tapi aku tahu keduanya saling mencintai, dan aku pasrah saja kalau begitu sih,” ujar Andrew.
“Jadi bibi jangan meragukan papa aku, dia itu memang bucin sekali sama Allea dan dia tidak malu pada siapapun, bahkan sudah pasti orang akan mengatakan papanya sayang sekali sama putrinya sampai di angkat seperti itu putrinya,” kata Albert.
“Ha ha ha ha ha ha,” mereka tertawa sangat keras sekali dan Ameena hanya tertawa sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
“Sekarang kalian segera makan malam, karena sebentar lagi bibi mau pulang kasihan mereka bertiga di rumah sesudah tidak ada kakaknya,” ujar Ameena.
“Siap bi, kami akan makan sekarang juga, kami juga kasihan sama bibi yang malam pulang dari sini dengan berjalan kaki,” kata Andrew.
“Bibi sudah biasa den, kan itu bibi lakukan sejak aden semua masih sangat kecil sekali dan den Marcho belum lahir waktu itu,” cerita bibi Ameena pada mereka.
“Bi, bibi jangan pulang dulu, biar aku antar bibi pulang, karena aku juga ingin tahu bibi ini rumahnya dimana sih, kalau boleh kami mau kenalan dengan ketiga anak bibi Ameena,” ujar mereka serempak.
“Ah kalian ini senang sekali bercanda, kalian ini anak tuan Arya, kenapa mau berkenalan dengan anak seorang asisten rumah tangga,” kata Ameena.
“Bi, asisten rumah tangga itu orang atau bukan?” tanya Andrew.
“Oranglah kenapa aden tanyanya seperti itu,” jawab Ameena.
“Makan nasi juga kan?” tanya Albert.
“Ya makan nasi, memang kenapa?” jawab Ameena.
“Kalau begitu sama kita orang dan makan nasi, dan sekarang itu masih orang bodoh saja yang membedakan itu, kami selama ini tidak pernah menganggap bibi sebagai asisten rumah tangga, dan bibi kami anggap keluarga sendiri, syukur-syukur kami dapat restu untuk menjadi menantu bibi,” kata mereka kompak benar mengatakan itu.
Setelah selesai makan malam, lalu mereka bertiga membuka garasi mobil, dan Andrew yang mengemudikannya.
__ADS_1
“Ayo bi, cepat naik,” kata Albert.
“Den biar bibi pulang jalan kaki saja sudah biasa,” ucap Ameena.
“Cepatan sebelum kami berubah pikiran dan memaksa bibi untuk masuk ke dalam mobil,” ujar Aldo yang berbadan besar itu.
Ameena akhirnya mau juga dia diantar oleh mereka bertiga, “Aldo kau berbadan besar duduk di depan biar Albert bersama bibi di jok belakang,” ujar Andrew.
“Salah kau kak, seharusnya bibi duduk di samping kau, sebab petunjuk jalan menuju ke rumahnya adalah dia, sedangkan aku tidak tahu dimana rumah bibi Ameena,” kata Aldo.
“Oh ya ya,” kata Andrew sambil menepuk dahinya.
Ameena duduk di samping Andrew dan mereka mencandai nya, “Kita ini kompak ya, mau mengantar ibu mertua pulang kerja.”
“Depan belok kanan den, nanti terlewat,” kata Ameena sambil menunjuk ke depan.
“Bibi, kami minta mulai besok bibi memanggil kami jangan seperti itu cukup panggil nama kami saja, kami juga risih mendengar bibi selalu memanggil kami seperti itu,” ujar Andrew.
“Baiklah, mulai sekarang bibi akan memanggil nama kalian saja, tetapi bagaimana dengan tuan Arya takutnya dia terkejut dan marah,” ujar Ameena.
“Papa itu orangnya sangat baik dan tidak mempermasalahkan sebuah panggilan Cuma orang-orang saja yang memanggilnya seperti itu, tapi dia sebetulnya tidak menghendaki panggilan seperti sekarang ini,” kata Andrew.
“Masuk bisa ke halaman rumah bibi kan?” tanya Andrew.
“Bisa Ndrew masuk saja,” kata Ameena.
Lalu Andrew memasukan mobilnya sampai ke depan rumah Ameena.
“Assalamualaikum,” Ameena memberi salam.
“Waalaikumsalam,” jawab dari dalam serempak.
Ceklek
Pintu lalu terbuka maka keluarlah tiga orang bidadari cantik milik Ameena.
“Sayang kenalkan ini anak-anak tuan Arya Dewangga yang ingin berkenalan dengan kalian,” ucap Ameena pada mereka.
Merekapun akhirnya saling berkenalan satu sama lain, setelah mereka bicara ngalo ngidul akhirnya mereka pamit pulang.
__ADS_1
“Bi, kami pamit dulu dan nanti kami akan main lagi kesini dan kami mau mengusulkan agar bibi sekeluarga biar bisa pindah ke rumah kami yang kosong ada di sebelah rumah besar,” kata Andrew.
“Ya bi, biar kami bisa bermain dengan mereka, dan kami sangat suka bicara sama mereka, dan mereka sangat cantik sekali,” kata Albert.
“Ya, kalian mau main kapan saja itu tidak masalah, dan bibi selalu terbuka lebar pintunya untuk kalian,” kata Ameena.
Lalu Andrew melambaikan tangan kepada mereka sambil berkata.
“Nanti kami main lagi bolehkan Stefannya,” ujar Andrew.
“Boleh saja kak,” jawab Stefannya dengan sedikit malu-malu.
Mobil mereka pun meninggalkan halaman rumah Ameena dengan perasaan yang teramat senang sekali.
Dan di dalam perjalanan mereka pun lalu bertanya satu sama lain.
Kak Andrew pilih Stefanny ya,” tanya Aldo.
“Iya aku lebih suka Stefannya yang bermata hijau terang,” kata Andrew.
“Kalau kak Albert pilih siapa?” tanyanya.
“Kau dulu lah, baru aku,” kata Albert.
“Aku sih yang mana saja kak,” jawab Aldo asyik.
“Aku mau yang lebih dewasa seperti Allea,” kata Albert.
“Maksud kakak Stella yang matanya juga hijau terang,” kata Aldo.
“Kalau begitu aku mau Suzanne yang bermata coklat terang dan berambut agak hitam dan kulitnya putih seperti bengkuang saja boleh kan?” kata Aldo lagi.
“Kalau begitu kita deal ya, tapi kalau merekanya tidak mau bagaimana ya kak,” kata Aldo.
“Apa kau minder karena tubuh kau yang sangat besar iya Do,” kata Andrew.
“Ya begitulah kak, aku juga tidak tahu kenapa tubuh aku paling besar di antara kalian kakak-kakak aku,” kata Aldo.
“Tidak usah minder nanti kita ajak kau ke gym biar tubuh kau itu proporsional oke!” kata Andrew.
__ADS_1