ALLEA, SAYAP CINTA YANG PATAH

ALLEA, SAYAP CINTA YANG PATAH
CHAPTER 007 KHAWATIR


__ADS_3

Lalu Arya Dewangga menghampiri Allea dan dia melepaskan jasnya kemudian dia pakaikan pada tubuh Allea, walaupun kebesaran.


Allea yang kedinginan lalu mendongakkan kepalanya ke atas dan mereka beradu pandang.


Hati Arya Dewangga terkesiap melihat sorot mata dari Allea yang berwarna biru terang sangat menyejukan hatinya.


“Terima kasih tuan,” kata singkat dari Allea.


Lalu Allea bursama dengan Lilis berjalan menuju kelas mereka, dan Arya Dewangga hanya memperhatikan mereka saja sampai punggung mereka tidak terlihat lagi.


“Tuan, terima kasih karena telah di beritahu kalau siswa dan siswi sini sedang membully Allea, dan tuan boleh lihat sendiri tidak ada perlawanan apapun dari dirinya sehingga mereka sangat senang membully dirinya,” ucap Benny.


“Sudah Ben, aku mau kembali ke kantor, karena kantor aku serahkan pada asisten pribadiku Alvin,” kata Arya Dewangga.


“Baiklah selamat jalan, semoga sukses pekerjaan tuan,” ujarnya.


Lalu Arya meninggalkan halaman sekolah itu dengan menaiki mobil yang di kemudikan oleh Andy sopir kantor.


***


Di kelas 12 terjadi kehebohan lagi, karena Allea yang masuk ke dalam kelas dengan memakai jas mahal milik seseorang.


Marcho mengenali kalau jas yang ada di tubuh Allea adalah milik papanya dan dia pun lalu berteriak dengan kerasnya.


“Hei, kau mencuri dimana jas yang kau pakai itu,” tanya Marcho dengan lantangnya.


Allea memegang tangan Lilis agar dia tidak meladeni Marcho, dan mereka lalu duduk di bangku paling depan, memang itu bangku biasanya mereka duduki.


“Hei dasar pencuri, diam saja kau di panggil, mungkin ibu kau yang mencuri dari kamar papa aku ya,” teriak Marcho.


Seluruh siswa yang ada di dalam kelas itu pun menoleh pada Marcho dan bertanya, “Marcho, apa benar ibunya Allea itu asisten rumah tangga di rumahmu?” tanya mereka.


“Ya begitulah, kalau orang miskin seperti dia, apa yang bisa di lakukan selain mencuri di rumah orang kaya,” kata Marcho.

__ADS_1


Lilis bertanya pada Allea apa yang di katakan Marcho dan di jawab dengan anggukan oleh Allea.


Lilis merasa sedih, dan dia langsung memeluk Allea dengan erat sekali sambil menangis.


“Marcho, mulut kau itu seharusnya ada yang menamparnya dengan keras, dan jas ini adalah pemberian dari papa kau sendiri, karena dia malu melihat kau menyiram tubuh Allea sampai seperti ini,” ujar Lilis.


“Bohong kau, mana ada papa aku disini, papa aku ada di perusahaannya sekarang,”


Jawab Marcho lantang.


“Mata kau yang buta, tadi papa kau melihat sendiri semua apa yang telah kau perbuat pada Allea,” ucap Lilis dengan wajah kesal.


Marcho terdiam karena dia juga berpikir, kalau nanti sampai rumah dia pasti akan disidang lagi oleh papanya.


Direktur masuk kelas 12 secara tiba-tiba dan dia memanggil siswa-siswi yang tadi melihat apa yang dilakukan oleh Jeslyn beserta geng sosialitanya dan Marcho, “Kalian besok pagi sekali bawa kedua orang tua kalian dan harus hadir di ruang sidang direktur sekolah.”


“Kenapa kami lagi sih pak yang di panggil, itu saja orang tuanya .Allea, dia itu disini bikin mata kita rusak pak,” kata Marcho dengan lantangnya.


“Marcho, kau ini ya kelakuannya tidak berubah seperti preman pasar saja, ini sekolahan Marcho, kau mulai besok tidak usah masuk sekolah kau aku skors sekarang juga, kau keluar dari kelas ini,” ucap direktur sekolah.


“Aku tahu siapa kau sebenarnya, kau adalah anak Arya Dewangga, tetapi hanya di atas kertas saja,” kata direktur sekolah itu dia sudah mendapat izin untuk mengatakan itu.


Perkataan direktur sekolah itu langsung menohok perasaan Marcho dan dia kicep tidak bicara sombong lagi.


“Marcho kalau di bandingkan kau dengan Allea lebih berharga Allea, kau tidak ada apa-apanya kau zonk,” kata direktur sekolah.


“Sekarang kau dan Jeslyn berikut gengnya tinggalkan kelas ini, kembali besok bawa orang tua kalian untuk menghadap saya di ruang sidang sekolah,” ucap direktur sekolah.


Lalu mereka sekumpulan perusuh sekolah itu meninggalkan kelas dan mereka semua mengancam pada Allea.


“Hati-hati kau, perusak pemandangan di sekolah ini,” ujar Marcho.


“Marcho kau senang sekali mengancam orang, apa salah Allea sama kau, sampai kau benci sekali dengan dia,” ujar Benny.

__ADS_1


Mereka akhirnya keluar dari kelas itu sambil berteriak-teriak agar Allea di keluarkan dari sekolah itu.


“Allea harus keluar dia, Allea harus keluar dia, Allea harus keluar dia, kenapa anak asisten rumah tangga bisa masuk sekolah ini, ini kan sekolah elite,” teriak mereka sambil membuat corat coret di tembok sekolah.


Semua para guru sampai keluar, karena mereka melihat anak pemilik sekolah elite ini menjadi biang keladi kerusuhan di sekolah.


***


Arya Dewangga yang sedang meeting dengan para investor penting di dalam perusahaannya tiba-tiba ada notif masuk ke dalam ponselnya.


“Lihat kelakuan anak anda, yang merusak citra sekolah elite ini,” caption yang di sertai video nampak di layar ponsel Arya Dewangga.


“Anak anda sudah di jatuhi hukuman skorsing oleh direktur sekolah dan di usir dari sekolahan dan mereka semua mengancam Allea,” notifnya.


“Tuan Arya Dewangga, kau harus menolong Allea, karena kami takut ancaman mereka pada Allea akan menjadi kenyataan, kasihan sekali anak jenius itu,” notifnya.


Konsentrasi Arya Dewangga terpecah, karena notif itu telah mengganggu pikiran dan fokusnya dalam meeting.


Dia tidak mau gadis idaman hatinya tertimpa masalah yang di buat oleh Marcho dan teman-teman jahatnya itu.


Dia harus segera menyelamatkan Allea, kemudian dia berdiri di ruang meeting, “Maaf sekali aku harus pergi karena ada sesuatu yang harus di selesaikan dan meeting ini biar di gantikan Alvin saja.”


Lalu Arya Dewangga menghampiri Alvin dan dia berbisik di telinganya dan berkata, “Vin tolong gantikan tugas aku, nanti aku beri bonus dua kali lipat kalau ini berhasil.”


“Memang tuan ini mau kemana?” tanya Alvin.


“Marcho ini buat masalah dan dia mau mencelakai gadisku,” ucap Arya Dewangga.


Alvin lalu membolakan matanya, karena mendengar gadis tuannya akan di celakai Marcho, kapan tuannya memiliki seorang gadis, karena biasanya ****** yang di ambil dari mami di sebuah club malam.


Alvin hanya menganggukkan kepalanya saja sambil tersenyum dan dia langsung mengambil alih meeting itu, memang dia asisten yang briliant.


Arya Dewangga lalu berlalu dari ruang meeting itu dengan wajah yang sangat cemas sekali, karena dia memikirkan Marcho yang tingkah lakunya sangat memprihatinkan, semakin besar semakin tidak benar pergaulannya.

__ADS_1


Arya Dewangga memerintahkan Andy agar dia cepat sampai di sekolahan Marcho, “Andy kau bawa mobil jangan seperti siput pelan sekali, kau bisa bawa mobil tidak.”


“Sekarang ini sedang ramai tuan, bagaimana bisa cepat saya mengendarai mobilnya,” jawab Andy memang logis.


__ADS_2