
Tiba-tiba pintu ruangan direktur sekolah itu terbuka, dan masuk seorang pria separuh baya.
“Selamat siang pak Benny, ada yang perlu saya bantu atau tanda tangani,” tanya pria itu.
“O oh pak Arya Dewangga selamat siang, memang ada yang perlu di tanda tangani untuk pengajuan formulir siswi terpandai di sekolah ini akan masuk universitas dengan jalur beasiswa atau prestasi,” ujar direktur sekolah.
“Oh ya, mana yang perlu saya tanda tangani,” kata Arya Dewangga.
“Ini pak, baru saja di isi oleh siswi yang bersangkutan,” direktur sekolah memberikan formulir itu pada Arya Dewangga.
Arya Dewangga menerima formulir itu dan dia langsung menanda tanganinya, kemudian dia bertanya pada direktur sekolah.
“Siswi nya mana ya pak Benny, karena saya sangat suka dengan anak-anak yang pandai, apalagi dia mendapatkan beasiswa,” katanya.
“Ini siswi nya yang masuk sekolah ini juga melalui jalur beasiswa, karena memang dia siswi terpandai di sekolah ini, dan namanya Allea Prameswari,” kata direktur sekolah sambil membawa Allea untuk di perkenalkan pada Arya Dewamgga.
Arya Dewangga mendongakan wajahnya dan dia melihat seorang siswi yang sangat imut kecil mungil dan berotak cerdas, tapi kenapa penampilannya sangat kotor sekali.
Allea dengan malu-malu dia tersenyum sambil menganggukan kepala kepada Arya Dewangga.
“Oh kamu Allea Prameswari siswi terpandai di sekolah ini, selamat ya semoga kamu bisa masuk universitas ternama dengan jalur beasiswa saya doakan,” katanya.
“Tapi kenapa kamu sekolah sekotor ini?” tanyanya.
“Saya pak terimakasih atas doanya, ” kata Allea.
“Bapak tanya saya kenapa se kotor ini?, karena tadi ketika saya menuju ke sekolah ada sebuah mobil melaju dengan kencang sekali, dan air yang menggenang menyiram tubuh saya semuanya,” kata Allea dengan lancarnya.
Sesudah itu Allea keluar dari ruangan direktur sekolah, tanpa menoleh lagi.
“Aduh anak ini tadi yang tersiram genangan air, ketika pagi tadi aku terburu-buru meeting pagi dengan klien dari Jepang,” gumam hati Arya Dewangga.
Sementara Allea dengan santainya dia berjalan menuju ke kelasnya lagi.
“Kamu tadi di panggil direktur ada apa?” tanya Lilis kepo.
“Itu isi formulir untuk masuk universitas melalui jalur beasiswa atau prestasi,” kata Allea.
__ADS_1
“Kalau kamu memang hebat, sekolah disini saja pakai jalur beasiswa iya kan?” ujar Lilis.
“Iya Lis, kalau aku masuk sekolah ini pakai jalur normal pasti tidak bisa, karena ini sekolahan kan hanya untuk anak-anak orang kaya termasuk kamu,” kata Allea.
“Ah, tidak begitu juga kali Allea, buktinya kau bisa masuk sekolah ini,” ujar Lilis.
“Masuk sekolah ini kan aku memakai jalur khusus tidak seperti kamu, yang orang tuanya mampu untuk menyekolahkan kamu di sekolah elit ini,” kata Allea.
“Allea, selagi guru belum datang kamu membersihkan diri dulu sana, jadi tidak sekotor ini,” ujar Lilis.
“Tapi aku tidak bawa ganti Lis, yang kupakai cuma ini saja,” keluh Allea.
“Tenang saja kamu, aku bawa ganti dan handuk tapi sebentar ya aku ambil di mobil aku dulu dan kamu tunggu aku di toilet wanita,” ujar Lilis dan dia bergegas menuju area parkir.
Allea dengan bantuan Lilis dia membersihkan diri, karena dia memang kotor sekali, Lilis merupakan teman yang paling baik diantara teman satu kelasnya.
Allea dan Lilis dengan santainya mereka berjalan di koridor sekolah, dan memasuki kelasnya.
“Hei Jerry, itu dia anak itu yang membuat aku kesal tadi,” ujar Marcho.
“Oh dia si kutu buku namanya Allea Prameswari,” kata Jerry.
“Hei, rupanya kamu sekolah disini juga, aku pikir kamu anak sekolah mana?” kata Marcho.
“Kalau iya memang kenapa, memang sekolahan ini hanya untuk kamu anak para orang kaya, dia juga berhak di sekolah ini kali,” jawab Lilis dengan wajah kesal.
“Heh, aku tidak bicara sama kamu, aku mau si Allea ini yang menjawab pertanyaan aku tadi,” ujar Marcho.
“Heh, kutu buku kamu jangan diam saja, jawab aku,” teriak Marcho.
“Sekarang aku tanya, aku harus jawab apa?” tanya Allea.
“Begini saja sebagai ganti rugi atas buku-buku aku yang kotor, aku ingin kamu duduknya pindah sekarang,” kata Marcho sambil memegang tangan Allea.
“Tidak bisa! Enak saja kamu, karena merasa sekolahan ini milik papa kamu ya?” kata Lilis.
“Kamu diam saja, kamu tidak tahu masalah Allea sama aku,” ujar Marcho dan menarik tangan Allea.
__ADS_1
Lilis lalu memegang tangan Allea, dan Allea lalu mengedipkan mata, kemudian Lilis melepaskan pegangannya, karena dia tidak menginginkan ada ketegangan di kelasnya.
Marcho lalu membawa Allea dan tasnya duduk di samping bangku yang dia duduki di belakang.
“Kalau duduk disini, mata dan pendengaran aku jadi berkurang Marcho,” ujar Allea.
“Diam kau, jangan banyak protes,” hardik Marcho.
Allea di hardik Marcho seperti itu dia pun lalu tertunduk lesu, dan dia hanya menatap ke arah Lilis yang masih memperhatikan dirinya.
“Selamat siang anak-anak karena hari ini guru bahasa inggris kalian tidak bisa masuk, maka kalian semua di ijinkan untuk pulang sekarang,” ujar wali kelas 12.
Allea lalu berdiri hendak menghampiri Lilis, tetapi dia cegah Marcho, Allea melihat Marcho memegang tangannya kencang sekali.
“Marcho, kamu menyakiti aku,” kata Allea sambil meringis menahan rasa sakit.
“Diam kau! jangan banyak bicara, sekarang bawakan tas aku dan semuanya sampai ke mobil aku,” perintah Marcho.
Lalu Allea dengan sangat patuh sekali dia membawakan seluruh perlengkapan sekolah Marcho sampai ke dalam mobil, kemudian dia letakan di jok belakang.
“Allea, mau saja kamu di begitu kan oleh si Marcho itu, memang kamu salah apa sama si arogan itu,” tanya Lilis.
“Tadi di jalan aku menabraknya sampai semua buku pelajarannya jatuh kena becek aku punguti tetapi oleh dia semua bukunya di buang ke tong sampah pinggir jalan,” cerita Allea.
“Oh begitu ceritanya, pantas sekali dia marah sama kamu ya?” ujar Lilis.
“Ya begitulah,” jawab Allea.
Mereka berdua berjalan di koridor sekolahan sambil berbicang-bincang tetapi tiba-tiba GDUBRAK, Allea jatuh terjungkal karena di terjang oleh sekolompok anak siswa dari kelas lain.
Allea terjungkal dan wajahnya mencium lantai, dan Lilis dengan sigap dia menarik tangan Allea, karena takut terinjak dengan mereka yang berlari.
“Aduh Allea, hidung dan bibir kamu terluka, ayo kita ke mobil aku dulu, nanti aku obati,” kata Lilis.
“Sudah tidak apa-apa Lis, nanti juga ini sembuh sendiri, karena selama ini kalau terluka hanya di cium ibu saja sudah sembuh,” ucap Allea.
“Ayo ikut aku sekarang, di mobil aku ada kotak P3K,” ujar Lilis sambil menyeret tangan Allea agar mau.
__ADS_1
Dengan terpaksa Allea lalu mengikuti Lilis ke mobilnya, di sana Lilis dengan telaten mengobati luka-luka yang ada di wajah dan siku tangan Allea.