
Lalu mereka naik ke atas tempat tidur berdua dan tidur berdampingan.
“Sayangnya Mas, boleh peluk ya, biar aku bisa tidur karena mencium bau harum tubuhmu yang sangat aku kangeni," ujar Arya Dewangga.
“Ya boleh, aku juga merasa sangat nyaman sekali di dalam pelukan Mas,” ujar Allea.
Kemudian Arya Dewangga merentangkan tangannya dan Allea lalu masuk ke dalam pelukannya dan kepalanya dia sembunyikan di dalam dada Arya yang bidang itu.
Arya Dewangga dengan memeluk tubuh Allea mereka pun akhirnya tertidur dengan pulas.
Adzan subuh berkumandang, Allea langsung terbangun, dia pun terbangun karena itu sudah merupakan kebiasaan di rumahnya, dan dia pun masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri.
Harum seseorang yang habis mandi membangunkan Arya Dewangga, dan dia meraba di sampingnya sudah tidak ada Allea.
“Sayang, sayang dimana kau.”
Dan dia duduk di tepi tempat tidur mencari keberadaan Allea, matanya menyipit melihat sosok kecil yang sedang sholat di dekat meja kerjanya.
Arya Dewangga, lalu dia turun dari tempat tidurnya dan langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sesudah itu dia pun duduk sholat di depan Allea yang sedang berdzikir.
Setelah melaksanakan sholat, dia pun bertanya pada Allea apa yang dia doakan, “Sayang, memang apa yang kau doakan setelah sholat subuh tadi, karena terlihat serius sekali dan sangat panjang.”
“Aku berterima kasih sama Allah, kemarin sewaktu aku mau di lucuti pakaiannya aku hanya pasrah saja dan meminta kepada Allah agar datang pertolongan karena saat itu aku sudah tidak berdaya,” ujar Allea.
“Hari ini aku mau masuk sekolah Mas, karena sebentar lagi aku kan mau ujian nasional sekolah,” kata Allea.
“Sebentar lagi Alvin akan mengantarkan pakaian seragam sekolah dan sepatunya, jadi kau sabar dulu sebentar, lagi pula mulai sekarang kau berangkat dan pulang sekolah itu semua urusan aku, karena aku mengkhawatirkan keselamatan kau," kata Arya.
Allea hanya duduk di sofa dalam kamar itu, karena dia tidak ada yang harus di kerjakannya.
“Sayangnya Mas, tolong pasangkan dasi,” terdengar Arya memanggilnya.
Allea lalu berdiri dan berjalan menghampiri Arya yang berdiri di depan kaca rias dia sedang berusaha memakai dasi.
“Mas biasanya bisa sendiri memasang dasi?” tanya Allea.
“Kan sekarang ada kau disini sayang, aku ingin ada yang memanjakan diri aku, karena selama ini aku selalu sendirian," kata Arya Dewangga.
“Oh begitu,” hanya itu yang keluar dari bibir Allea.
__ADS_1
“Sekarang sudah tiba saatnya kita sarapan pagi, kita turun sayang, pastilah Ameena sekarang sudah selesai menyiapkan sarapan pagi," ujar Arya.
Allea berdiri saja memperhatikan kesibukan Arya sebelum keluar dari kamar, dan Allea sudah menenteng tas kerja Arya, tetapi dia masih mengenakan daster yaitu kaos Arya yang dikenakannya.
Mereka berdua menuruni tangga dan Arya Dewangga dengan santainya dia merengkuh bahu Allea.
Semua mata memandang ke arah mereka termasuk Ameena ibunya, Arya lalu menarik bangku untuk Allea lalu dia menarik bangku untuk dirinya sendiri duduk.
Allea melihat ibunya di dapur dia pun lalu berdiri untuk membantu ibunya menyiapkan sarapan pagi di atas meja.
“Bagaimana keadaan kamu sayang apa ada yang terluka?” tanya Ameena.
“Tidak ada bu, Mas Arya yang telah menolong aku dari kejahatan teman-teman aku sendiri, dan kemarin aku sudah di bawa ke rumah sakit oleh dirinya,” ujar Allea.
“Oh begitu,” jawab Ameena singkat.
“Ameena, biar anak kau tinggal bersama aku, dan aku menjamin dia masih utuh, dan aku juga menjamin keselamatannya, sebab kejahatan kemarin di lakukan oleh anak-anak dari orang yang berpengaruh di kota ini," ujar Arya
“Ya tuan, aku serahkan Allea pada tuan,” kata Ameena.
“Papa, aku heran sekali Marcho dari kemarin belum pulang, tetapi aku tanya pak Andy kemana dia, karena pak Andy yang bawa mobilnya,” tanya Andrew.
“Hotel memang ada kegiatan apa dari sekolahan kau Allea sampai dia menginap di hotel sedangkan kau disini bersama papa,” tanya Andrew.
“Tidak ada kegiatan apa-apa, tapi dia sekarang,” Allea belum sempat menerangkan pada Andrew tangannya sudah di tekan Arya.
“Hotel prodeo," jawab Arya.
“Apa itu hotel prodeo pa, yang jelas,” tanya Andrew.
“Penjara kantor polisi, tahu kau sekarang," ujar Arya.
“Maksudnya pa bagaimana? kenapa dia bisa masuk penjara apa yang telah dia lakukan lagi,” tanya Andrew penasaran.
“Dia telah membully Allea dan itu sudah sangat keterlaluan, dan papa melihat dengan mata kepala sendiri apa yang telah di lakukan dia dan teman-temannya terhadap Allea, dan polisi pun melihat semuanya," kata Arya.
“Hah Marcho adik kita yang masih kecil itu kenapa dia bisa seperti itu,” gumam Andrew.
“Papa kalau begini apa tidak bisa pakai pengacara untuk mengeluarkan dirinya, kasihan Marcho pa,” kata Albert.
__ADS_1
“Bisa dia keluar dari penjara tidak usah pakai pengacara yang bayarnya mahal itu, cukup dan minta maaf sungguh-sungguh dan bersujud mencium kaki Allea, dan sama mereka juga semuanya harus berbuat seperti itu terhadap Allea," Arya Dewangga mengatakan itu.
“Kalau tidak mau bersujud minta maaf seperti itu maka bersiaplah untuk mendekam di dalam penjara sampai 15 tahun lamanya, dan ketika keluar dia sudah kakek-kakek," ujar Arya.
“Begitu pa, kalau kasus pelecehan yang dilakukan Marcho and the gang?” tanya Andrew.
“Andrew, kau kan kuliah ilmu hukum masa tidak tahu case itu, payah kau," Arya meledek Andrew.
“Papa, Marcho ini kan sebentar lagi mau ujian, kasihan kalau dia tidak bisa ikut ujian kalau dia di penjara,” kata Andrew lagi membujuk papanya.
“Bisa ujian, walau di dalam penjara, siapa bilang tidak bisa," ukar Arya.
“Oh ya sudah kalau bisa sih tidak apa-apa.”
Andrew, memang sudah sangat lelah dengan semua kenakalan yang di lakukan oleh adik bungsunya itu, dan susah sekali di arahkannya.
Tok tok tok
Terdengar suara pintu di ketok seseorang, “Itu pasti Alvin, Ameena tolong buka pintunya.”
Ameena lalu dengan tergopoh-gopoh dia membuka pintu depan.
Ceklek
“Terima kasih bik.” Dia lalu berjalan terus menuju ke ruangan makan.
“Mana Vin pesanan aku,” tanya Arya Dewangga pada asisten pribadinya itu.
“Ini tuan, memang untuk siapa?” tanyanya.
“Ini untuk calon istri aku,” Arya Dewangga menjawab dengan ringannya.
Semua yang ada di meja makan itu hanya di buat melongo dengan perkataannya.
Lalu paper bag itu di terima Arya Dewangga, lantas dia merangkul bahu Allea, “Sayang, ayo sekarang kau harus ganti baju dan berangkat sekolah.”
“Alvin, kau sarapan dulu lah, barulah kau berangkat ke kantor lagi," perintahnya pada Alvin.
Mereka berdua lalu menaiki tangga, Arya tetap merangkul bahu Allea.
__ADS_1
Alvin hanya menggelengkan kepalanya saja mellihat kelakuan dari tuannya itu, “Tuan ini sedang jatuh cinta rupanya, dengan gadis kecil yang cocok di jadikan anaknya.”