
Sementara itu Marcho di dalam penjara, dia sudah sangat gelisah sekali, dan tidak betah karena dia harus tidur di lantai yang dingin banyak nyamuk pula.
“Marcho, kau harus tanggung jawab dengan keadaan kita yang seperti sekarang ini, dan kau juga harus keluarkan aku dari sini, semua gegara kau, kalau tahu begini aku tidak mau ikutan melakukan itu pada Allea,” ujar Jerry.
“Iya Marcho kau harus bantu kita untuk mengeluarkan kita dari penjara ini, aku sudah tidak betah sekali disini,” ujar Jefry.
Marcho sudah pusing dengan semua tuntutan teman-temannya yang meminta dia untuk mengeluarkan mereka.
“Jeslyn bagaimana papa kau bisa menolong kami tidak?” tanya Marcho.
“Gawat Marcho, papa aku sudah angkat tangan dia tidak mau menolong kita, karena papa kau mengancam mereka, kalau sampai orang tua kami mengeluarkan kita-kita dari penjara maka seluruh saham dan investasi di perusahaan kami akan di tarik oleh tuan Arya, maka mereka memilih untuk membiarkan kita-kita di dalam penjara,” ujar Jeslyn.
“Shiit!” Marcho mendesis kesal, karena sekarang mereka mengalami jalan buntu.
“Heh Marcho ada yang berkunjung, keluar sana,” ujar petugas sipir penjara.
“Memang siapa sih pak,” tanya Marcho.
“Papa kau dan istrinya,” kata petugas itu.
Marcho mendengus kesal sekali, karena gegara mereka berdua dia masuk ke dalam penjara ini.
“Malas, bilang saja pak aku lagi tidur,” jawab Marcho malas.
“Ya sudah, dasar berandal,” kata petugas itu kesal.
Lalu petugas itu pun berlalu meninggalkan sel tempat tahanan mereka, sekarang mereka itu sudah p 21 tinggal menunggu sidang termasuk mama-mama mereka.
***
Petugas yang menemui Marcho kembali ke tempat ruangan besuk.
“Maaf pak, Marchonya tidak mau, katanya malas.”
Arya Dewangga lalu terkejut dan dia menatap Allea, begitu kecewanya dia terhadap Marcho yang memang sudah jalan sejak bergaul dengan Jeslyn.
__ADS_1
“Ya sudahlah kalau dia memang tidak mau bertemu dengan kita, Cuma aku kasihan dengan masa depannya saja," keluh Arya.
Arya Dewangga lalu merangkul bahu Allea dan dia berjalan menuju pelataran parkir kantor polisi.
“Andy kita kembali ke kantor saja, anak itu sudah tidak mau bertemu dengan papa yang telah susah payah untuk mendidik dan membesarkannya," kata Arya yang kecewa.
“Baik tuan,” lalu Andy melajukan mobilnya dan meninggalkan kantor polisi, menuju ke kantor.
“Marcho itu memang anak yang tidak tahu terima kasih dan tak di untung.”
“Iya, rupanya Marcho memang sudah salah dalam memilih teman untuk bergaul sehingga sampai seperti itu,” ujar Allea.
“Setahu aku, kalau Jeslyn itu sudah biasa hidup bebas karena kedua orang tuanya juga hidup sudah masing-masing, papanya ada dimana dan mamanya juga entah dimana, yang aku heran kenapa kemarin dia muncul dan menjadi ketua yang membully kita berdua," Arya terheran-heran
“Sudah kalau begitu kita tidak salah, kalau tadi dia mau menemui kita mungkin ada solusi untuk mereka," kats Arya.
“Jadi kalau begini bagaimana Mas?” tanya Allea.
“Tetapi sekarang masa bodo, cuma yang aku kasihan dengan almarhumah mamanya yang telah menitipkan mereka untuk aku didik," Arya sedih.
“Memang mereka ini tidak punya keluarga lagi selain mas?” tanya Allea.
“Aku rasa, aku mendidik dia sudah cukup walau aku salah karena mendidik mereka dengan limpahan materi, walaupun sebenarnya mereka adalah hanya anak di atas kertas saja, tetapi dia juga harus menghormati aku yang telah mendidik dan menggendong dia sejak masih bayi dulu, karena mereka yatim piatu,” kata Arya Dewangga dan matanya mulai berembun.
“Mas, apa aku tidak salah dengar kalau mereka berempat anak yatim piatu, bukannya Mas papa kandung mereka?” tanya Allea terheran-heran.
“Mereka bukanlah anak kandung aku, mereka anak di atas kertas dari pernikahan aku yang di atas kertas juga," cerita Arya.
“Mas pemikiran aku tidak sampai kesitu dan aku benar tidak mengerti tentang pernikahan di atas kertas itu.”
“Begini sayang, aku menikahi Athena karena dia telah hamil duluan dengan tukang kebunnya, terus kedua orang tuanya merasa terhina kalau menantunya hanya tukang kebun rumahnya," cerita Arya.
“Terus kenapa Mas yang harus menikahinya?”
“Karena kedua orang tua kami itu bersaudara, jadi aku yang harus menikahi Athena, dengan perjanjian aku di berikan salah satu perusahaan milik orang tuanya itu," cerita Arya.
__ADS_1
“Mas mau dengan di bayar konpensasi seperti itu?”
“Aku tidak mau karena aku juga pada saat yang bersamaan akan menikah dengan kekasih aku yang bernama Leticya, dia juga sedang hamil," cerita Arya.
“Terus.” tanya Allea.
"Tetapi kedua orang tua aku memaksakan kehendaknya dan dia mengharuskan aku untuk menikah dengan Athena karena aib ini jangan sampai tersebar dimana pun karena harga diri dan martabat keluarga bisa jatuh kalau Athena menikah dengan tukang kebun," ukar Arya lagi.
“Wah, mereka melihat derajat ya Mas," ujar Allea.
“Ya kalau menikah dengan aku kan mereka sangat bangga karena aku juga seorang pengusaha muda yang sukses," kata Arya.
“Karena desakan dan ancaman keluarga maka aku tidak datang pada saat hari pernikahan kami, dan aku dengan terpaksa menikah dengan Athena," cerita Arya lagi.
“O o oh tragis.” kata Allea.
“Tetapi sebelum aku menikah, aku temui dulu Athena dan dia harus menanda tangani surat perjanjian," lanjut cerita Arya.
“Surat perjanjian apa yang Mas buat itu, apa surat perjanjian setelah menikah lalu bercerai, atau Mas boleh menikahi kekasih Mas itu yang bernama Leticya?” tanya Allea.
“Surat perjanjian Mas mau menikahi dia hanya di atas kertas saja, dan kita tidak saling bersentuhan satu sama lain," cerita Arya.
“Dia menyetujuinya, tetapi dia ingin bersatu dengan kekasihnya itu yang bernama Althar, maka aku berdua dengan dia, diam-diam kami bercerai," cerita Arya.
“Oh begitu mas, terus kalian benaran bercerai?” tanya Allea.
“Benar kami bercerai dan aku langsung nikahkan mereka berdua, terus dia mengatakan kalau aku harus menikah dengan kekasih aku, yang dulu pernah aku tinggalkan," kata Arya.
“Tetapi aku mencari Leticya tidak pernah ketemu, sepertinya aku sudah pada titik jenuh pencarian," keluh Arya.
“Terus bagaimana Mas bisa jatuh cinta sama aku sedangkan di dalam hati Mas itu masih ada Leticya,” tanya Allea.
“Aku jatuh cinta sama kau sayang, ketika kau ada di ruang direktur sedang mengisi formulir beasiswa, dan aku terkejut melihat mata indah itu yang berwarna biru terang, dan hati aku terasa nyaman san damai sekali," kata Arya.
“Allea sayang, kenapa dari ke empat anak Ameena semua matanya berbeda-beda, seperti kau berwarna biru terang dan berambut coklat, apa kalian ada turunan bule?” tanya Arya.
__ADS_1
“Setahu aku tidak, karena beberapa orang adik aku juga bermata hijau tosca dan si bungsu berwarna coklat terang, tetapi semuanya berambut coklat,” cerita Allea.
***