
Semenjak Artha dipilih menjadi salah satu peserta olimpiade, terlebih sudah bergabung duduk di kantin bersama Garrick dan geng. Gadis itu semakin mendapatkan banyak cacian, setiap kali lewat selalu ada saja bisikan yang tidak mengenakkan di telinganya. Siswa perempuan lebih banyak mencemooh dan mengejek terang-terangan, perundugan yang menyerangnya tiba-tiba.
Ketika melewati lobbi sekolah ada sekumpulan siswa perempuan yang salah satu dari antara mereka menjegal kakinya ketika berjalan, Artha terjatuh dan menjadi bahan tertawaan. Tanpa peduli dan marah-marah, ia dengan tegap bangkit berdiri berjalan dengan kakinya yang baik-baik saja. Artha masih mendengar umputan dari mulut mereka, bagaimana bisa kakinya tidak pincang.
Kebetulan hanya ia seorang diri dalam lift, matanya mulai berair mata kakinya terasa sakit. Dengan perlahan ia mulai memijit kaki yang terasa ngilu. Cepat mengusap air mata menahan rasa sakit tetap berjalan normal.
Di dalam kelas pun ia masih tidak bertemen, ada salah satu murid lelaki dengan sengaja menarik tempat duduknya saat ia hendak duduk. Untungnya ia bisa menjaga keseimbangan menopang tangan bertumpu pada meja. Emosinya menggebu, badanya berputar dan langsung melayangkan kakinya yang tidak sakit pada lutut cowok yang menarik kursinya tadi.
Lagi, tampa membuang energi untuk bersuara, Artha merebut kursinya dari tangan cowok itu kemudian meletakkan tasnya, lalu keluar kelas menuju toilet.
Entah bagaimana caranya, tiba-tiba Eshar menelusup masuk ke dalam toilet wanita dan berupaya menolong Artha, membantu membuka sepatu dan kaos kaki mengolesi dengan salap lalu memijatnya.
"Makasih ya," ucap Artha tersenyum tulus.
Eshar hanya menangguk saja, di rasa cukup langsung keluar terburu-buru.
Ini sudah ke berkian harinya ia terus di kerjai siswa di sini, padahal kan hanya hari itu saja Artha bersama dengan Garrick dan geng. Dan jujur, ia sudah menjaga jarak dengan Garrick dan geng. Kalau Eshar, mereka hanya bertemu saat sepi dan hanya berduaan saja, komunikasi lancar di ponsel. Itu saja.
Dan setiap kali ia dibully, Garrick akan selalu datang menemuinya diam-diam menolongnya. Pernah kemarin, Eshar juga muncul dari toilet wanita membuka pintu yamg terkunci dan sudah membawa baju seragam perempuan, ada papan namanya pula, ditanya dari mana Eshar tidak menjawab. Ya, hari itu memang Artha dikerjai dengan menumpahkan tepung berisi air dari ember yang muncul dari atap kamar mandi.
Ini tidak boleh dibiarkan begini terus!
Pasti ada yang dalang di balik semua ini, pasti!
Bel istirahat kelas sudah kosong dan terkunci, kali ini Artha tidak bersembunyi seperti biasanya. Jika kemarin ia bersembunyi di balik tembok tangga darurat untuk menghindari Garrick yang tidak pernah absen mencarinya, sekarang ia bertekat untuk menghadapi datang ikut ke kantin dengan bekal yang dibawanya dari rumah.
Obat dari Eshar memang mujarap, mengoyangkan kakinya kini rasa sakitnya sudah berkurang. Berjalan tegap menuju kantin.
Di sana ada Garrick dan teman-temannya juga, ini sangat bagus sekali!
Entah mengapa kakinya melangkah menghampiri Fana dan gengnya, bawaannya emosi setiap melihat tampang mereka.
"Ngapain lo duduk di sini?!" seru Otha tidak suka.
"Suka-sukalah! Mau duduk di sini, duduk di sana, duduk di kursi pemerintahan, itu hakku!" sahut Artha pelan.
__ADS_1
Otha memanas, tampa sadar ia memukul meja kantin yang membuat meja mereka menjadi perhatian semua orang. "Tapi nggak harus di sini juga kan?!"
Suara Otha berteriak marah, ini bagus.
"Lah, kok ngatur!" seru Artha tapi masih mengontrol suaranya.
Otha tidak sadar bahwa Artha memang sengaja memancing emosinya. Tangannya mengangkat juice miliknya hendak menyiramkan pada Artha, namun tanpa diduga Artha gesit menangkis tangannya sehingga gelas plastik bening berisi juice itu jatuh di atas meja menciprat ke samping arah Fana dan Ashira.
Fana dan Ashira berteriak mengumpati Otha, apa kagi Fana yang pas di samping Otha sehingga wajahnya berlumuran juice juga mengotori seragam.
Garrick terkejut dan langsung menarik badan Artha di belakangnya, sorot matanya tajam pada Otha. "Kalian benar-benar keterlaluan, apa lagi lo Otha!" serunya lantang menunjuk Otha dengan jari telunjuknya. "Gue nggak nyangka ya, kalian bertiga pake cara licik menghasut teman-teman untuk membenci Artha. Alasannya karna gue kan! Ashira yang udah cerita apa aja tentang olimpiade itu, entah dilebih-lebihkan atau pun dikurang-kurangin, gue nggak tahu. Tapi kalau lo Ashira, protes ke kepala sekolah bukan mengadu pada geng lo ini! Apa lagi ada lo Fan, otak lo pasti yang udah merencanakan ini semua menghasut siswa lain membuly Artha!"
Suasana kantin menjadi riuh, apa lagi murid-murid yang pada dasarnya tidak peduki tentang mereka mulai berbisik memandang pada Fana dan geng.
"Dengar kalian semua! Pantas atau tidak pantasnya Artha dan gue jadi peserta olimpiade ini, bukan kalian yang menilainya. Kalian lihat saja nanti bagaimana kami membawa sekolah, dukung bukan iri. Hanya karena hasutan tidak jelas, mata kalian tertutup untuk melihat jelas-jelas ada daftar prestasi Artha terpampang di mading. Dan gue mau bilang satu hal. Fana, setelah lo gagal membujuk Eshar untui nggak majangin tuh nilai, lo berhasil memyogok anggotanya kan!"
Yang merasa, seorang murid perempuan sudah berlari dari kantin dan menjadi sorakan seisi kantin.
Garrick menarik Artha keluar dari kantin menyisakan seruan-seruan siswa.
Juga Eshar diam-diam berhasil memulihkan rekaman cctv yang sengaja dihapus Fana dan teman-temannya yang saat itu membuat gantungan ember berisi tepung di atap kamar mandi.
.
.
.
"Kenapa menghindar dari gue?"
"Mana ada."
"Terus lo juga nggak cerita kalau lo dibully sama temen-temen."
"Buat apa juga? Aku masih bisa menghadapi sendirian."
__ADS_1
"Oh gitu. Itu artinya, lo nggak nganggap gue temen lo dong."
"Apa? Bukannya gitu, tapi aku nggak mau makin ribet berurusan sama fansmu itu."
"Gue nggak peduli mereka siapa, pd banget gue banyak fans padahal bukan artis."
"Artis kok, tapi artis lokal," ucap Artha tergelak mencairkan suasana.
Artha dan Garrick duduk bercanda menghilangkan stres penat di kantin tadi, duduk di anak tangga. Tanpa mereka sadari sedari tadi ada Radiv, Skyler dan Jaya yang menjadi nyamuk di belakang layar.
"Ar," panggil Garrick.
"Ou."
"Lo nggak mundur dari olimpiade kan, karena lejadian yang nggak menyenangkan ini?" tanya Garrick.
"Enggaklah, rugi tahu. Justru dengan begini aku jadi tambah semangat belajarnya, biar membuktikan sama mulut mereka yang merendahkan kemampuanku. Itu sekarang jadi tekatku, Artha pasti mampu!" jawabnya menggebu-gebu.
Garrick tersenyum puas. "Lo bener, Ar. Gue juga akan sama kayak kamu, udah iklas lah mengikuti olimpiade ini. Padahal lo tahu sendiri kan, gue udah cerita sama lo kalau gue mau mundur. Tapi dibalik kejadian ini gue jadi ikut teemotivasi sama lo, hehe." ungkapnya terkekeh lucu.
"Apaan wehh, mana bisa gitu. Tapi syukurlah lo nggak jadi mundur, aku ikut seneng. Berarti kau mau belajar bareng kan sama tim mu?"
"Enggak!"
"Ha, kok gitu?"
"Gue mau belajar sama mereka tapi ada satu syarat?"
"Syarat?"
"Lo harus temenin gue malam mingguan nanti malam, jangan ditolak. Pokoknya gue jemput lo nanti malam!!"
Garrick mengurungkan niatnya mundur dari olimpiade, ia semakin yakin untuk tetap ikut. Melihat semangat Artha yang masih bertahan padahal tidak disukai teman yamg lain, ia pun semakin berpikir pasti mampu untuk mengimbangi temannya apa lagi ada sahabatnya yang paling mendukungnya. Etss. Paling terpenting, ada Artha!
👇👇👇
__ADS_1