
"SATU,,,,DUAAA TTIGGAA!!"
Suara motor sport saling bersahutan meramaikan jalan raya, saling kejar balap menyelip pengendara lain tanpa peduli suara klakson dan terikan umpatan orang lain.
Tangan itu tak bergetar menekan setang motor melaju memutari aspal hingga sampai ke tempat yang dituju.
"YYEY!! MMENANGG LAGGII,,HUHUHUUU!!" teriak cowok yang bernama Garrick belum membuka helemnya.
"Hah, lo mah nggak pernah mau ngalah," keluh salah seorang temannya datang memarkirkan motornya di samping motor Garrick.
"Eh, Radiv. Memang udah takdirnya gue menang terus melawan lo pada," sambung Garrick cengengesan seraya merapikan tatanan rambutnya berkaca ria di spion motornya.
"Eh, Rick! Gue salut lo selalu menang dari kita, tapi gue jijik lihat kenarsisan lo pake berkaca segala," tukas Jaya teman yang sudah turun dari motornya.
"Hebat kan gue, udah jago balapan motor ganteng pula," jawab Garrick tertawa bangga.
"Seterah lo. Ayok masuk," ucap Skyler yang sudah berjalan lebih dulu.
Lobbi sekolah kembali jadi riuh ketika Garrick, Radiv, Skyler, dan Jaya masuk dengan jaket motor andalan mereka apa lagi ganteng-ganteng.
"BBBERHENTII!"
Waduhh, ada Pak Erlan datang jadi lampu merah tiba-tiba tepat di hadapan mereka.
"Pagi Pak Erlan!" sapa mereka ber empat hormat.
Pak Erlan mendengus dengan mata menyalang di balik kaca matanya, bersiap dengan penggaris rotan senjata andalannya yang dipukul-pukulnya di telapak tangannya seolah memberikan sebuah pertanda.
"Penggaris rotan, mampus kita," bisik Jaya pada Radiv.
"Kalian balapan lagi dalam perjalanan mau ke sekolah?" tanya Pak Erlan tegas.
"JJAWWABB!"
"Engh- eh-iy-iya, Pak," jawab Skyler gagap.
"Eshar! Kamu tahu harus melakukan apa?" tanya Pak Erlan memandang pada Eshar yang masih setia mengikutinya dari tadi.
"Cih," Garrick berdecih melihat cowok yang dipanggil Eshar, mata mereka bertemu pandang dengan sorot permusuhan.
"Tahu, Pak. Saya harus melapor pada orang tua mereka," jawab Eshar datar.
Pak Erlan mengangguk.
__ADS_1
"Kalian tahu mengapa sekolah melarang kalian seperti ini? Jangan sembarangan buat ulah saat masih menggunkan seragam SMA BINA INSANI, apa lagi balapan liar seperti tadi. Kalau mau bapalan ya di sirkuit dong, bukan di jalan raya yang dapat membahayakan orang lain terlebih nyawa kalian sendiri."
Setelah mendengar ceramah Pak Erlan mereka menaiki tangga ke kelas mereka, mulut terus mengumpati Beliau.
"Kalau sampai si Eshar ngasih tahu yang tadi sama orang tua kita, mampus gue. Ahkk!" resah Garrick duduk dengan kasar di kursinya.
Skyler sudah duduk tenang di sampingnya, menatap iba pada Garrick.
"Om Robert masih ngelarang lo pakai motor atau sejenisnyalah?" tanyanya menyinggung omnya Garrick.
Garrick menoleh sebentar lalu menghela napas kasar. "Dari dulu gue nggak bisa ngelakuin apa pun yang gue suka sama keluarga om gue, geng motor lah, olahraga lah, main lah. Dari dullu! Gue harus ngikutin apa yang om gue bilangin ke gue, mana bisa otak punya gue buat jadi dokter. Aiss!" curhatnya.
"Kalo dipikir-pikir nih ya-" Radiv membalikan badannya menghadap meja Garrick Skyler. "Kan lo tahu sendiri faktanya lo itu memang berasal dari keluarga dokter, almarhum papah lo dokter dan almarhum mamah lo juga dokter, jadi masih bisa dibilang wajarlah om lo nuntut lo buat lanjutin cita-cita orang tua lo. Kalau lo nggak minat jadi dokter, minimal belajar jadi bos rumah sakit punya orang tuamu. Dari pada hartanya jatuh di tangan orang lain, iya kan?!"
"Hallah! Lo sok nasehatin Garrick segala, Radiv Radiv! Lo juga kan terpaksa harus belajar keras untuk meneruskan jabatan papahmu," Skyler menimpali.
"Gue udah pasrah ajalah, toh gue mau enggak mau harus ngambil itu. Gue anak laki-laki yang pantas kata bapak gue tapi ya, kalau enggak ya gue juga enggak tahu," jawab Radiv terkekeh mengeluarkan isi hatinya.
"Kita berdua sama-sama mempunyai tuntutan yang enggak kita suka, hungg." Garrick sudah bersandar pada sandaran kursinya.
"Gue sih memang enggak punya tuntutan tertentu sama orang tua gue. Tapi gue udah janji di depan mereka, kalau gue mau mewujudkan cita-cita gue jadi arsitek. Padahal kalian tahu sendiri nggak ada keturunan arsitek dari keluarga gue, kalau gue gagal nanti, ya gue malu lah. Itu juga yang menjadi motivasi belajar gue." Itu kisah Skyler.
"GWS, broo! Semoga otak lo besok udah sembuh dari rendah diri yang udah tertanam dalam pikiran lo, Ok!" ujar Skyler pada Jaya.
Itulah Garrick yang tidak menyukai kehidupan keluarga asuhnya, semenjak ke dua orang tuanya meninggal dan mewariskan aset pada putra mereka yang tidak lain adalah Garrick. Umumrnya belumlah cukup untuk mengambil.alih warisan itu, ia harus belajar dibimbing omnya sendiri mendampingi sampai benar-benar siap nantinya. Jurusan IPA bukanlah pilihannya, tapi menjadi dokter adalah tuntutan untuknya menuruni cita-cita sekaligus menggantikan almarhum papanya sebagai direktur rumah sakit milik keluarganya.
Tidak beda jauh demgan Garrick, Radiv bernasib hampir serupa. Sebenarnya Ashira lebih pandai darinya, tetapi karena ia laki-laki jadilah seperti sekarang. Wajib meneruskan perusahasn papahnya, sementara Ashira selalu ditekan untuk seperti kebanyakan perempuan. Andai bisa kecerdasan Ashira bisa ditukar saja padanya, bila perlu Ashira yang dilatih untuk seperti dirinya sekarang. Pasti dirinya bisa sebebas Ashira, tidak terkekang oleh aturan yang menurutnya aneh.
Radiv iri dengan kehidupan Ashira.
Skyler beruntung punya motivasi sendiri, tidak susah mengajar anak itu. Semoga saja cita-citanya berhasil.
Jaya kurang bersyukur atau memang bagaimana? Terlahir dari keluarga kaya, orang tuanya tidak pernah memaksanya, selama Jaya tidak bertindak di luar batas. Harusnya ia lebih bisa menikmati hidup kan? Hati siapa yang tahu, Jaya merasa minder pada teman-temannya yang punya posisi di keluwrga masing-masing.
Ting!
"Hp gue bunyi," ucap Radiv seraya membuka ponselnya. "Ada wa nasuk dari adek gue, kita dengarkan sama-sama isi pesannya."
"Penasaran gue, nyolot apa dia sekarang?!" ucap Skyler tersenyum-senyum.
"Kok bisa-bisanya lo suka sama cewek kayak Ashira," dengusnya menceritai adik sendiri.
__ADS_1
"Div, lo jangan mau mati muda balapan motor begitu, nanti ahli waris papah udah enggak ada lagi. Selalu ingat hidup!"
Tertawa terbahak mendengar Radiv membacakan isi pesan Ashira, sementara Radiv hanya berdecak kesal.
"Ehhem!"
Suara deheman Eshar membuat tawa mereka hilang berganti wajah tidak suka.
"Hai budak sekolah alias ketua osis?" sapa Garrick meledek Eshar.
Eshar tersenyum kecil menanggapi ledekan teman satu kelasnya sekali gus sepupunya ini, melangkah duduk di kursinya dengan tenang.
"Gue enggak jadi ngelaporin kalian, tenang aja."
"Kenapa?" Radiv bertanya, tumben tidak melaksanakan titah sang Pak Erlan.
"Sebentar lagi ada event pertandingan persahabatan basket melawan sekolah Dharma Bakti di sekolah ini, ya dalam penyelenggaraan dari dinas kepemudaan olah raga nanti. Garrick ikut sebagai pemain inti tim sekolah kita untuk ikut," jawab Eshar.
"Cih. Ada maunya juga," ucap Garrick berdecak.
"Santai aja kali. Ini juga kesukaan lo juga, lo boleh melakukan hobby lo dengan dilindungi nama sekolah. Iya kan?!"
Ucapan Eshar membuat Garrick menggeram, untung ada Skyler yang menahannya.
"Garrick, mendingan lo siapin diri lo buat latihan nanti, lawan kali ini tim Willangga. Lo harus tau tim sekolah itu juga basketnya sangat kuat."
"Mau bagaimana lagi,,udah terlanjur terdaftar. Tapi kalian yang harus ngomong sama om gue nanti tentang ini." Garrick sebenarnya sudah sangat jengah berdebat dengan omnya, ia sebenarnya dilarang untuk ikut masuk klub olahraga sekolah yang pasti akan mengganggu konsentrasi belajarnya.
"Pak Erlan sudah menghubungi, dan lo diizinkan dengan catatan hanya untuk pertandingan persahabatan bukan pertandingan lainnya."
Garrick mendesah kecewa, kapan dia bisa bermain dengan sepuasnya?
Inilah Eshar, ketua osis, murid paling teladan, paling pintar di jurusannya, cowok ambis belajar. Tampan sih tampan, tapi orangnya sangat membosankan karena di otaknya hanya belajar terus. Apa lagi ketua osis, musuh murid yang menyukai kenalan seperti Garrick salah satunya
Bukan karena ketua osis juga, Garrick dan Eshar adalah sepupu yang selalu dipertandingkan di keluarga besar. Sudah sampai di usia remaja, mereka diperlakukan disandingkan sehingga menimbulkan kebencian diantara mereka berdua.
Suara bel berbunyi, semua keluar berbaris rapi di depan ruang kelas masing-masing hendak memeriksa kelengkapannya. Mulai dari pakaian, dasi, atribut, sampai ujung kaki.
Meskipun ini sekolah orang kaya, tapi di sini kita dididik disiplin ketat untuk bersekolah. Bukankah ini sesuai dengan biaya sekolah yang mahal, tentu perlakuan dan tingkat pendidikan juga harus sepadan dengan biayanya.
👇👇👇
__ADS_1