
pagi ini Artha sudah lengkap dengan seragam sekolahnya seraya bercermin bersenandung ria memperhatikan penampilannya yang sudah rapi. Meskipun bentuk dasinya tidak seperti dasi sekolah pada umumnya, Artha dengan cepat beradaptasi sudah tidak merasa aneh lagi saat pertama kali melihat model dasi yang menurutnya mirip seperti bentuk pita ini.
"Aku bawa hp apa enggak ya?" tanyanya pada diri sendiri seraya tangannya menggengam ponselnya. Pada akhirnya ia memutuskan membawanya saja, jaga-jaga untuk pulang nanti.
"Artha, ingat nasehat orang tua. Baru pertama masuk sekolah baru itu harusnya cari temen dulu, bukan cari masalah. Ini bukan kampungmu," peringat mamanya. Iya, mama mendesak Artha untuk menceritakan tentang sekolahnya.
"Iya lo, Ma. Orang itu yang cari masalah duluan, bukan aku."
"Astaga, anak ini!"
Perdebatan antara ibu dan anak ini berhenti setelah bapak datang melerai dan mengeluarkan mobil pik up dari garasi. Pergi mengantar Artha ke sekolah dulu, setelahnya berangkat ke tempat kerja.
Artha minta diturunkan di ujung persimpangan jalan raya lokasi sekolahnya saja, bukan sampai depan gerbang, malas rasanya mengalami kejadian seperti semalam. Masih punya kaki yang sehat untuk berjalan tidak jauh lagi untuk sampai ke depan gerbang utama gedung sekolah, mobil itu berlalu meninggalkan Artha.
Artha cewek pemberani dan percaya diri, ayok jalan dan jangan pedulikan orang-orang yamg sedari tadi memandanginya.
Belum sampai satu menit berjalan, suara klakson motor yang mengikutinya terpaksa menghentikan langkahnya. Berbalik badan menatap bingung pada sosok cowok yang sudah membuka helemnya ini, masih ingat dengan wajahnya tapi tidak tahu namanya.
"Kok lo turun di sini?"
"Memangnya kenapa?" Bukannya menjawab, justru bertanya balik. Badannya sedikit bergeser menghindari dari cowok yang turun dari motor menghampiri dirunya.
"Ehhem,,,ehemm!!"
"Apa?" Artha masih bingung.
"Lo enggak kenal gue?"
"Buat apa harus kenal samamu?"
"Ya harus kenal, dong. Kita'kan satu sekolah, jadi harus saling mengenal."
"Oh, gitu!"
"Ahk, iya. Nama gue Garrick."
__ADS_1
Artha masih terdiam tidak menjabat uluran tangan cowok ini, sejenak kemudian ia mengulurkan tangannya. "Arthauli."
"Nama yang cantik," sahut Garrick memuji.
"Oh, makasih. Tapi aku enggak ada uang untuk membayar pujianmu tadi," ucap Artha tersenyum kecil. Entah mengapa dengan cepat ia beranggapan bahwa Garrick murid yang baik dan mungkin tidak seperti murid di kelasnya. Baiklah Artha, jangan sok cuek begitu.
"Ahaa! Lo enggak usah bayar pake uang segala, uang gue udah banyak. Gimana kalo lo temenin gue sarapan bentar sebelum kita nyampe ke sekolah?"
"Eh. Itu'kan tadi cuma bercanda!" Artha gelagapan.
"Tapi pujian gue tadi enggak bercanda, dan ajakan sarapan ini seriusan. Ayok temenin gue sarapan dulu!!"
"Enggak mau! Ini kreta, eh motornya tinggi kali. Cara naiknya gimana ini??"
Gerakan cepat, Garrick berinisiatif menggendong untuk membantu Artha naik motornya.
Sejenak tatapan mereka bertemu, saling diam menikmati detik degup jantung masing-masing. Tangan Garrick berada di punggung Artha untuk menopang badan, wajah mereka hanya berjarak lima centi, deru napas terasa hangat di pipi.
Satu detik,, 30 detik....1 menit..!!
"Eehhh!!"
"Ma-maaf," lirih Garrick.
"Jadi sarapannya, nggak? Bentar lagi lonceng tahu."
"Okee! Pegang pinggang gue erat, ya!"
Menetralkan degup jantung dulu, rileksss. Berputar membawa motornya ke tempat biasanya Garrick singgah sarapan, tadi pagi ada sedikit perdebatan di meja makan yang membuat selera sarapannya hilang.
"Ya amplopp!! Kalo dilihat-lihat si Garrick ini ganteng juga ya, kok aku baru sadar sih? Pantesan semalam cewek-cewek ini heboh kali waktu main basket. Tapi kok dia mau ya, temenan sama aku, padahal'kan aku orang kampung. Aihhh! Pasti nanti mereka bakalan gangguin aku lagi karena udah dekat sama si Garrick, ck. Yaudahlah, urusan nanti lah itu. Sekarang mari nikmati dulu dibonceng cowok ganteng, kapan lagi aku kekgini ya'kan!"
"Aduhh, salting gue. Nggak munafik, tapi Artha memang cantik dan manis. Hanya saja, kalau diperhatikan dari dekat, Artha belum terlalu rutin perawatan wajahnya. Ahk, jangan gitu Garrick. Dia bukan cewek menor, Artha versi berbeda. Tadi saja dia belum tahu nama gue, padahkan harusnya dia udah tahu siapa gue, secara'kan gue banyak penggemar di sekolah. Apa jangan-jangan dia nggak menikmati permainan basket semalam? "
Gumam dalam hati masing-masing, sampai motor berhenti di depan warung penjual bubur yang tidak jauh dari persimpangan tempat mereka tadi. Garrik membantu Artha turun dari perboncengannya, melepaskan helem yang dipakai Artha dengan hati-hati.
__ADS_1
Memilih duduk di sudut dinding memesan dua porsi bubur ayam, saling mengobrol hal yang pertama kali Artha lihat di warung ini. Pesanan datang kemudian makan dengan hikmat sesekalu wajah Artha berbinar memuji rasa bubur yang istimewa di lidahnya. Garrick tidak merasa canggung atau malu melihat cara makan Artha yang belum teratur memakan bubur, dengan telaten mengajarinya tanpa peduli orang sekitar yang makan seperti mereka juga. Wajar saja Artha masih barbar, ini kali pertama cewek itu dan baru datang hidup di ibu kota. Tidak lupa saling bertukar nomor ponsel.
Artha sempat merasa minder, berkat bujukan Garrick ia pun tidak merasa rendah lagi. Jujur saja. Memang sudah sarapan juga dari rumah, tapi perutnya masih sanggup kok menampung makanan lagi.
"Lo mau enggak, Nanti malam atau lusa juga boleh, kita naik motor bareng keliling-keliling kota?"
"Mau,,mau,,mauu!" pekik Artha antusia.
.
.
.
"Pokoknya gue enggak terima kalau si cewek kampung itu beneran jalan sama Garrick!" sungut Otha cemburu.
"Apa lagi gue!"
"Hah?" Otha dan Fana menatap Ashira mengintimidasi sahutan Adhira.
"Iy-iya. Kan gue juga enggak suka lihat Artha deket sama gebetan sahabat gue sendiri, gitu maksud gue," ucap Artha gelagapan mengelak. Padahal ia pun merasa cemburu.
"Iiiiihh! Thanks ya, Ash. Lo udah berbela rasa sama gue sahabat lo." Otha merasa terharu merangkul Ashira.
"Iyah." Ashira hanya tersenyum kecut.
Mobil Fana sempat berpapasan pada saat motor Garrick berputar balik. Jelas-jelas mereka melihat Artha yang dibonceng Garrik.
Setelah memasuki kelas, mereka memutuskan mendatangi kelas Garrick. Benar saja, Garrick belum ada di dalam kelasnya. Semakin yakin saja dengan pengelihatan mereka tadi, Artha juga belum datang sampai sekarang.
"Gue harus balas dendam atas perbuatannya semalam. Gara-gara tuh cewek kampung, perut kita mules, kaki gue panas banget salap sialan ituu!" Fana memaki Artha.
Setelah mereka menghabiskan minuman pemberian dari Arha, tiba-tiba perut terasa mulas seperti diaduk-aduk. Belum lagi kaki Fana terasa panas sekali setelah salap itu diolesi. Sembuh sih sembuh, tapi panasnya itu lohh.
"Terus kita harus ngerjai tuh cewek pake apa?" tanya Otha.
__ADS_1
Fana tersenyum devil membisikkan sesuatu pada ke dua temannya ini.
👇👇👇