Anak-Anak Sultan

Anak-Anak Sultan
Basket


__ADS_3

Sebentar lagi pertandingan dimulai, dua tim basket sekolah sudah bersiap berdiri di tempat masing-masing. Namun masih ada yang kurang satu, tim Garrick masih kurang satu. Sementara tim lawan sudah lengkap semua.


"Itu dia yang ditunggu!" pekik pak guru olah raga tersenyum lega. Tubuh cowok itu datang dari arah salah satu pintu masuk penghubung ruangan dengan elegan menuju timnya berdiri.


Hening sementara waktu, saling tukar pandang berbisik tidak menyangka dia ikut juga.


"Eshar!" panggil pak guru olah raga merangkul menepuk pundak Eshar.


Eshar hanya mengangguk kecil, "Terima kasih, Pak. Atas kesempatannya bisa bergabung dengan tim sekolah kita."


"Bapak harap kalian bisa bekerja sama dengan baik bertanding, jangan campur adukkan dengan masalah pribadi. Selamat bermain untuk Eshar!" ungkap pak guru tegas dan menyindir Garrick yang sudah memasang wajah masam.


Jangankan Garrick, satu sekolah mungkin ikut terheran-heran. Sejak kapan Eshar masuk tim inti basket sekolah? Yang mereka tahu cowok itu hanya pandai dalam bidang akademik saja, hadiah olimpiade atas nama Eshar, bukan bidang olah raga.


"Garr, udahlah," ucap Radiv berbisik memperingati Garrick yang sudah misuh-misuh sendiri.


Garrick menatap tidak suka pada Eshar, mengingat kedekatan saat bersama Artha tadi rasanya masih kesal.


Tim cheerleaders juga sudah masuk ke ruangan lapangan basket, kali ini tim tuan rumah yang langsung tampil. Lima belas gadis dengan menggunakan kostum seragamnya dan pompom masing-masing, berbaris sesuai formasi gerakan.


Fana yang menjadi pusat perhatian orang-orang, sungguh gabut sekali harus bermake up segala. Jelas-jelas murid tim lawan sudah cengar-cengir melihatnya aneh, tapi Fana tidak peduli.


"Lo semua harus bisa ngangkat badan gue nanti!" Fana dengan percaya diri memaksa harus berada di posisi Fayer, padahal badannya tidak sesuai untuk menjadi Fayer. Otha yang memang berbadan kecil dan ringan juga sudah biasa menjadi Fayer, tetapi entah mengapa kali ini guru pembimbing mereka membuat keputusan sepihak menunjuk Fana yang mengambil peran fayer.


Mau berkomentar atau melawan, semua bungkam tidak berani karena ini Fana. Semua anggota juga sudah paham apa yang terjadi, sogok menyogok pasti terjadi. Meskipun Otha juga gengnya, tapi kalau sudah berurusan dengan kekuasaan sejenis ini, Otha pun tidak berbuat apa. Harus rela perannya turunn menjadi spottes.


Semua anggota menghela napas saja, semoga mereka bisa mengangkat badan Fana yang tingginya semampai seperti model.


Tim pemandu sorak mulai melengkingkan suaranya, peran spotters bersiap mengambil formasi pertama. Tim cheerleaders harus mampu bekerja sama, terutama peran Bases yang harus menjaga tubuh Fana saat melayang di udara.


Penampilan pertama cheerleaders sudah berjalan dengan baik, tapi tidak dengan tangan Bases yang sudah bergetar karena memaksa menjaga keseimbangan Fana. Spotters paling bawah pun menahan gejalanya.


Fana tampa merasa bersalah tetap tersenyum seraya memandang fokus pada Garrick.


Pluit berbunyi pertanda pertandingan dimulai! Semua bersorak iyel-iyel memberi semangan tim, tiap keberhasilan gawang memecah sorakan ruangan lapangan.


Tim Willangga-Daniel dari Dharma Bakti, menunjukan perfoma yang sangat baik. Kelincahan Willangga mempertahankan shooting bola dan lompatan tinggi Daniel sukses membuat lawan kesusahan.


Garrick sebagai ketua tim berusaha melalukan yang terbaik, kecepatan waktu untuk merebut posisi bola yang masih berada di permainan Willangga. Eshar yang berada di pososinya dengan tangkas menerima bola dan melemparnya ke gawang.

__ADS_1


Pertandingan semakin memamas, ke dua tim sama-sama kuat selalu berhasil mengimbangi angka gol.


Garrik-Eshar versus Willangga-Daniel! Mereka ber empat terlihat paling mendominasi peserta yang bertanding.


Pertandingan berlangsung sengit dengan skor kejar-kejaran, bergantian berhasil memasukkan bola ke dalam gaeang lawan. Berakhir dengan skor seri, tapi tidak ada namanya skor seri dalam pertanndingan basket.


Dalam lima menit yang diberikan juri untuk pengambilan skorsing pemenang, dibutuhkan ketelitian dan kecekatan untuk menambah angka skor. Eshar bergeser tepat di samping Garrick, merangkul pundak sepupunya itu. Membisikan teknik yang akan Garrick lakukan, setelah itu tidak lupa ia menepuk punggung Garrick tiga kali memberi semangat.


"Garrick, lo harus bisa! Dengan keberhasilan ini, gue harap dapat membantu lo untuk bisa tetap bertahan pada hobi yang sebenarnya. Gue siap menanggung akibatnya setelah pertandingan ini selesai," Eshar membatin.


Ggollll!


Teriakan kemenangan Bina Insani menggema di lapangan, pluit panjang tanda berakhirnya pertandingan. Tim lawan pun sagat mengacungi jempolnya puas dengan pertandingan ini.


Teriakan pemain basket tersenyum bangga mengangkat badan Garrick bersama-sama merayakan selebrasi kemenangan, kemudian melompat berputar-putar.


Semoga ini benar-benar menjadi awal yang baik untuk hubungan Garrick dan Eshar, semoga pengorbanan Eshar tidak sia-sia.


Sekarang giliran tim cheerleaders yang kembali tampil menutup pertandingan, berbaris membentuk formasi lagi. Posisi masih tetap sama, tapi mengapa make up Fana bukannya makin luntur justru semakin tebal saja? Bagi yang menyadari keanehan itu hanya menutup mulut menahawan tawa ledekan.


Fana semakin bersemangat mengetahui keberhasilan Garrick, itulah sebabnya ia rela menambah make upnya dan mengganti sepatu cheersnya yang sebenarnya ujungnya licin, agar terlihat semakin cantik Fana tidak mendengar larangan teman-temannya.


Siap menari, tangan dan badan siap menopang Fana yang sudah diangkat. Semakin mengeratkan kekuatan agar kaki tetap seimbang.


Satu kakinya masih bertumpu pada tangan yang menopangnya dan kaki satunya menggantung di udara, rasanya cukup berat apa lagi kehebohan Fana yang di atas semakin menambah beban.


Garrick menyadari bahwa Fana cari perhatian dari atas sana, rasanya menggelitik ia memalingkan pandang berlalu begitu saja tidak peduli pada Fana yang masih berada di atas.


"Aaaaa!!!"


Semua mata melebar mendengar suara teriakan Fana.


"Fanna!!"


Kehilangan fokus membuat keseimbangan kakinya tidak beraturan, berteriak mata terpejam merasakan badannya menghempas dengan irama jantungnya.


Di sinilah tugas spotters harus cepat mengambil tindakan, Otha memberi instruksi dengan sigap untuk menangkap tubuh Fana usahakan jangan sampai ada yang terluka.


Hahhhh!

__ADS_1


Membuka matanya untung saja tidak terjadi apa-apa, mengusap keringat yang menghalangi pandangannya. Tapi kakinya terasa ngilu sekarang, cepat-cepat ia dibawa ke tribun penonton dengan langkahnya yang sedikit tertatih.


Pertandimgan selesai walaupun ada sedikit kecelakaan, tapi masih bisa dikendalikan. Kondisi lapangan sudah mulai kondusif dengan bubarnya penonton keluar dari lapangan, hanya Fana dan gengnya masih setia di tempat menemani sampai kakinya agak membaik.


Baik pihak UKS dan panitia tidak ada yang membantu mereka, berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.


Ashira dan Otha hanya bisa diam sambil memijit kaki Fana, sementara mulut cewek ini tidak berhenti mengomel mengumpat. Apa lagi Garrick sama sekali tidak menoleh padanya tadi, sial sekali rasanya!


"Fan, tangan gue udah pegel tahu!"


"Fana, gue tadi udah bilang jangan ganti sepatuny-"


"Dddiammm! Jangan berkomentar lagi, pijitin kaki gue lagi!" hardik Fana memerintah.


Menahan kesal, Ashira dan Otha tetap melaksanakan perintah sang ketua.


"Hhuyyyy!!"


Artha berteriak berlari kecil menghampiri perkumpulan Fana, membawa kantongan plastik yang cukup besar.


Tidak peduli dengan ekspresi tidak suka mereka ber tiga, Artha bersikukuh duduk di antara Ashira dan Otha menyengir kuda.


"Nihh, aku baik sama kalian. Tadi ada cowok yang pake baju basket yang nyuruh aku ngantarin ini sama kalian," ucapnya seraya membuka kantung plastik dan mengeluarkan isinya. "Ini minuman dingin untuk kalian tiga," ucapnya membagikan botol minumannya. "Dan ini salap atau balsem untuk mengurangi rasa nyeri di kaki kau, Fan," ucapnya membuka tutup salap sambil tersenyum penuh arti.


"Lo nggak yang aneh-aneh'kan?" Ashira mencium gelagat yang kurang enak.


"Oh yaudah kalau nggak mau, sini aku amb-"


"Eeetsss,,,tunggu!! Iya-iya. kita mau, kok." Otha sudah merebut dari tangan Artha.


Fana dan geng langsung meneguk minuman dingin itu tanpa menyadari ada rasa yang aneh pada minummannya, tangan Artha sibuk mengoles salap yang panas ke permukaan ke dua kaki Fana.


Sudah meneguk habis minumannya dan mengoles salap, Artha cepat-cepat pamit meninggalkan mereka dengan senyum yang merekah sangat merekah. Membayangkan apa yang terjadi setelah ini saja sudah membuatnya menahan tawa.



๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡


Satu kata buat Fana๐Ÿ•ถ

__ADS_1


Satu kata buat Garrick๐Ÿ•ถ


Satu kata buat Eshar ๐Ÿ•ถ


__ADS_2