
Sepanjang jam pelajaran berlangsung, keadaan kelas tidak baik-baik saja. Sesekali mereka curi pandang melirik pada anak baru ini, entah apa maksudnya. Terdengar bisik satu sama lain saling bertanya bagaimana bisa cewek yang bukan dari keluarga konglomerat bersekolah di sini, pasti ada apa-apanya ini. Pikiran negatif teman sekelasnya membuat Artha menahan gurat marah, ternyata tidak mudah ia diterima di sini.
"Woi cewek kampung, lo mau dikunci di dalam? Keluar!"
Artha masih duduk kebingungan belem mengerti semua ini, "Aku di dalam lah, enggak ke kantin."
"Mana mungkin dia ke kantin, pasti uangnya enggak sanggup beli makanan di kantin!" ledek Fana yang tiba-tiba muncul lagi dari balik pintu seraya menatap mengejek pada Artha.
Artha menarik napas jengah, perlahan dia berdiri berjalan melewati mereka begitu saja.
Sang ketua kelas mengunci pintu. "Fana, jangan buat keributan," ucapnya sebelum pergi meninggalkan mereka.
Artha bersandar di dinding menatap sengit Fana dan teman-temannya, melipat tangan gaya sok cool.
"Lo mending diem di sini aja deh. Dari pada entar lo ngiler lihat kita makan di kantin, iya kan?" ujar Fana songong.
Artha mengangguk saja tanpa memandang Fana.
"Ck, udah ah. Ayo jalan." Ashira menarik tangan Fana menjauh dari pintu kelas.
Matanya menerawang pintu ruamg kelas lain, sama terkunci semua, dan loromg kelas pun sudah mulai sepi, semua sudah turun ke kantin. Sekarang mulai paham, tapi bekalnya tertinggal di dalam kelas. Artha merutuki kejadian ini, sombong sekali mereka tidak memberi tahu peraturan sekolah ini.
Seulas senyum terbit di wajahnya.
Kebetulan ada dua siswa cewek yang baru mau turun juga, mengejar mengikuti langkah mereka menerobos masuk dalam lift.
Tentu ke dua cewek ini mengumpatinya, ia tidak peduli, yang penting ia bisa ke kantin sekarang.
Salah satu dari mereka menekan tombol kontrol lift, belum sepenuhnya pintu lift terbuka, Artha sudah keluar lebih dulu mendahului mereka ber dua ini. Masa bodoh dengan teriakan umpatan padanya, tersenyum lebar akhirnya ia tahu dimana letaknya kantin sekolah ini.
Gila kantin ini keren kalii! Pekik Artha kagum.
"Kamu mau ke kantin?"
"HA??!"
"Kok kaget sih? Eh, sorry loh udah buat lo kaget gini," ucap Garrick merasa bersalah.
"Huffhh, hungg," sahutnya singkat seraya matanya menelisik ke seluruh kantin. Ha, itu mereka!
__ADS_1
"Heh, anak baruu!! Yyaa elahh,,main tinggal lagi nih cewek." Garrick kesal sendiri, Artha tidak menoleh padanya sama sekali.
Radiv, Jaya, dan Skyler terbahak meledek kegagalan Garrick yang kali ini mendekati cewek terlebih dulu.
"Hilang sudah ketampan seorang Garrick di mata seorang gadis dari desa, ohh kasihan!!" ledekan Jaya membuat mereka semakin terbahak.
"Diem lo semua!" bentaknya kesal.
"Eh-Eh. lihat dia, Artha ngapain itu sama si Fana dan geng!" pekik Radiv heboh seraya pandangannya tertuju pada sudut kantin tempat biasanya ada Fanna.
.
.
.
Siapa yang bisa berurusan panjang bila menyangkut Fana dan gengnya, hanya Jeslyn dan gengnya saja mungkin yang berani, itu pun masih kalah saing juga.
Tidak ada yang berani mengambil meja kantin yang biasanya terkhusus untuk tempat Fana dan geng. Jika ada yang berani duduk di situ atau sekali pun hanya sekedar bergabung tanpa seizin mereka, ada dendanya sendiri alias harus berani menraktir mereka ber tiga. Hungg, inilah keistimewaan jika lolos seleksi berteman dengan Fana.
Tetapi memang sulit bergabung, harus mengikuti peraturan ketat yang dibuat Fana.
Tetapi tidak dengan Artha, tanpa ragu gadis itu berteriak tidak tahu malu memanggil Fana dan sudah duduk di bangku yang memang masih kosong satu.
Fana tersedak makananya, Otha terbatuk-batuk, Ashira kecipratan dari mulut Fana. Semua itu karena teriakan Artha, Artha tidak merasa bersalah sama sekali justru terbahak merasa lucu dengan kejadian barusan.
"Eeuhhh! Ngapain lo ke sini, hah!" geram Fana me-lap mulutnya dengan tissue.
"Kalau lo mau duduk, cari tempat lain sana! Lo enggak diterima semeja sama kita-kita, gak levell. Kecuali lo mau terima konsekuensi bila satu meja dengan kita, lo harus bayarin semua makanan kita ber tiga." Otha ikut mengomel.
"Ha, nggak boleh satu meja? Jelas-jelas kursinya masih sisa satu. Oh, memangnya ini kantin bapak kau?" Artha mencondongkan badan ke wajah Otha dan menap tajam membuat nyali Otha menciut.
Otha terkesiap.
Belum Otha bersuara, Artha sudah berdiri tegak menatap penuh arti pada Fana. "Panah, tadi kan situ udah janji samaku. Karena aku anak baru di sekolah ini, jadi kau mau traktir aku!" serunya mengeraskan volume suaranya.
"Appa? Gue enggak pernah ngomong gitu." Fana mulai panik. Semua mata kini tertuju pada meja mereka.
Garrick dan teman-temannya pun tercengang melihat keberanian Artha.
__ADS_1
Artha tersenyum girang dalam hati, mari lanjutkan. "Tadi kan Panah, muncung kau yang udah janji mau traktir aku, waktu kita sebelum ke kantin ini. Itu pun lupa, padahal wajah kau belum tua."
"Traktir aja, Fan. Lagian lo nggak langsung miskin hanya gara-gara Artha doang, lo kan anak holang kayaa!" seru Garrick menimpali dari mejanya.
"Iya tuh, bayar aja, Fan," sahut Radiv menimpali.
"Iya Fana. Lagian kan Artha baru tadi pagi masuk ke sekolah ini. Dia mana tahu tentang peraturan yang lo buat-buat itu, jangan pelitlah sekali ini aja kompensisanya." Haa, Skyler sudah angkat bicara.
Artha semakin memperlebar senyumnya, Fana makin terpojok.
Semua mata menanti tindakan Fana selanjutnya, Fana frustasi.
"Fan, lo biarin aja dia duduk sama kita. Itung-itung nggak mempermalukan lo, kan lo memang punya banyak duit jajan?!" bisik Otha.
"Gue setuju, jangan mempersulit semuanya. Cepat berikan izin Artha duduk sama kuta," bisik Ashira.
Fana masih bimbang. Seketika matanya bertemu pandang dengan Garrick, wajah Garrick yang mengancam membuat posisinya sulit. Pada akhirnya ia mengizinkan Artha duduk bersama mereka, dan Fana siap menraktir Artha.
Dengan senang hati Artha duduk kemudian menesan pada kakak pelayan, nasi goreng seafood dan segelas juice jeruk menjadi pilihannya. Tanpa peduli dengan raut wajah ke tiga orang yang di sampingnya sudah tidak berselera makan lagi, Artha dengan lahap menyantap sampai piringnya bersih tak bersisa, juicenya tinggal es batunya.
"Eekkkkhh, ahkk kenyang." Artha bersendawa mengusap perutnya. "Makasih yang udah traktir! Besok-besok juga dong."
"Jangan ngelunjak," ucap Ashira menggeram sendiri.
Tanpa membalas ucapan Ashira, Artha bangkit dari duduknya mengucapkan terima kasih sambil berjalan keluar kantin dengan senyum semriwingnya.
"Gila nih murid baru, berani banget dia ngelawan Fana dan gengnya," ungkap Ayoola menggelengkan kepala.
"Thara, Ayoola. Kita harus merekrut cewek itu untuk gabung ke geng kita, setuju nggak?" usul Jeslyn juga berdecak kagum Artha.
Thara, Ayoola, dan Jeslyn mengangguk setuju.
Wajah Fana memerah menahan kesal, bisa-bisanya ada yang berani mempermalukannya seperti tadi.
"Apa perlu kita balas perbuatan si cewek kampung tadi?" tanyanya napas memburu.
"JANGAN MACAM-MACAM PADA ARTHA! SESENTI AJA KALIAN BER TIGA BERANI MENYENTUH ARTHA, KALIAN HARUS BERHADAPAN DENGAN GUE!"
"Ga-Garrick."
__ADS_1
👇👇👇