Anak-Anak Sultan

Anak-Anak Sultan
Perkenalan Terasa Nyaman


__ADS_3

Siang ini tepat pulang sekolah, semua murid berkerumun berkumpul di lapangan basket sekolah untuk menyaksikan pertandingan persahabatan basket antar sekolah SMA BINA INSANI dan SMA DHARMA BAKTI. Apa lagi mendengar kabar Gaarick akan ikut kali ini, setelah sempat vakum dari dunia olahraga pada hari ini para fans akan menuntaskan rindu pada Garrick.


Team Cheerleaders sudah siap dengan kostum abu-abu putih hitamnya, pompom putih bergoyang ria menambahkan semarak. Tinggal menunggu Otha dan Fana yang belum ikut bergabung.


Fana sudah cantik dengan kunciran rambut warna putihnya, membuka lokernya mengambil pompomnya. bercermin sekali lagi di layar ponselnya, sudah cantik.


"Fan, kok lo pake make up sih? Kan mau tampil, bukan mau ke pesta," ujar Ashira menatap bingung pada sahabatnya ini.


"Ya biar kelihatan cantik, muka gue tetap seger walaupun udah siang bolong begini," jawab Fana tersenyum cerah.


"Iya. Tapi kan nggak sampe harus pake bedak juga terus lo pake lipstik lagi. Maaf nih ya, kelihatan norak jadinya " Ashira mengomentari.


"Heh! Tersersh gue lah, jangan banyak komentar!" serunya sedikit menekan suaranya. Semoga saja Garrick tertarik melihat wajahnya yang cantik saat ia menari melayang di lapangan nanti, tersenyum sendiri membayangkannya.


Di tengah perdebatan itu, Otha datang dengan suara melengkingnya berjingkrak kesenangan. "Gguyys! Tuhh, murid Dharma Bakti udah datang. Cuus kita lihat dulu!"


Penasaran juga seperti apa wajah mereka.


Saat berjalan menuju lobby gedung sekolah, dari arah berlawanan Artha berlari ngosngosan mencari-cari di mana lapangan basket yang diumumkan dari podium tadi. Sungguh malang sekali nasib Artha, tak ada satu murid pun yang mau berjalan bersamanya di sekolah ini. Padahalkan dia belum tahu seluk-beluk sekolah ini, belum lagi tidak tahu caranya naik lift, jadilah ia berjalan sendirian dari tangga darurat. Huhh!


Apa lagi si Fana dan gengnya tadi, angkuh sekali sok tidak mendengar saat dipanggil tadi. Padahal.suaranya sudah cukup kencang, tapi mereka tidak berbalik justru berjalan terus berlari menghindarinya. Awass aja nanti!!


Artha melepas tas ranselnya yang berat menggulung rambutnya kemudian duduk selonjoran di atas keramik, lorong mau kemana lagi ini? Sepi tidak ada orang.


Tubuhnya berkeringat kelelahan menuruni anak tangga, air matanya mengalir miris sekali pengalaman pahit di sekolah barunya.


Dari balik badan Artha masih di loromg yang sama, Eshar memincingkan matanya ketika melihat masih ada siswa yang belum berkumpul di lapangan, sampai duduk di keramik segala. Sayup-sayup dari arah orang itu ada suara isakan, perasaanya menjadi cemas.


"Hay!" ujarnya memanggil murid cewek yang masih terisak kecil.


Artha terkesiap, seketika isakannya berhenti menoleh menghadap suara dari arah belakangnya. Pipinya memersh malu, cowok ini melihatnya menangis.

__ADS_1


Eshar tersenyum kecil seraya ikut berjongkok mensejajarkan badan mereka, Artha murid yang baru datang tadi pagi.


"Lo kok bisa nyasar sampe sini?" tanyanya membuka percakapan.


"Ah-eng. A-aku belum tahu arah-arah sekolah ini," sahut Artha mencicit menunduk malu.


Eshar tertegun sesaat, netranya tertarik untuk melihat ekspresi menggemaskan gadis ini. Tadi pagi saat bertemu di ruang guru, ekspresinya cuek dan terlihat garang. Tapi sekarang cukup membuatnya pangling. Menelisik wajah yang manis dan poninya yang basah oleh keningnya yang berkeringat membuat gadis ini semakin menarik di matanya. Tekstur wajah yang manis bukan cantik, pas sesuai umur mereka. Eshar tersenyum simpul.


"Ayok ikut gue," ajaknya seraya mengulurkan tangannya.


Artha meragu masih menunduk malu.


"Jangan takut. Gue enggak bakalan aneh-aneh sama lo, cukup ikuti arah kaki gue berjalan kita ke lapangan," ajaknya lagi.


Tanpa berucap, Artha menerima uluran tangan Eshar.


Mata mereka bertemu beberapa saat saat Eshar membantunya berdiri, saling pandang satu sama lain mengunci wajah di ingatan. Degup jantung keduanya membuat tanpa sadar mereka sudah berjalan berpegangan tangan sampai ke dalam lift.


"Eh. Ma-maaf." Gugup Artha melepaskan tangannya. Membuang muka rasanya malu sekali, baru pertama bertemu sudah lancang main pegang-pegang tangan segala.


"Enggak apa-apa, kok. Wajarlah, kan belum tahu denah gedung sekolah. Jadi mungkin lo takut ditinggal, makanya lo refleks megang tangan gue," ucapnya mencaurkan suasana.


"O-oh gitu. Haha, iya-iya."


"Eshar." Mengulurkan tangannya ke depan Artha.


"Aku Artha." Tidak segugup yang tadi, lapang menerima uluran salam perkenalan.


"Namanya bagus."


"Apa yang bagus?"

__ADS_1


"Artha, nama lo bagus banget."


"Makasih, aku memang Artha. Harta, itu arti namaku. Karena aku adalah harta yang paling berharga bagi orang tuaku," ungkap Artha tersenyum bangga.


"Eshar, yang artinya sejahtera dan kaya. Ya. finansial gue memang kaya, tapi hidup gue rasanya kurang sejahtera. Kok jadi curhat sih!"


Sepanjang perjalan lift mereka sudah berkenalan, sesekali tertawa kecil saling menanggapi. Tidak biasanya Eshar bicara banyak pada orang lain, ini baru pertama kalinya ia mengobrol dengan orang lain. Jujur, Eshar merasa nyaman berkenalan dengan Artha!


Cewek ini mampu membuat ia berbicara dengan ucapan dan pertanyaan konyolnya, Eshar tidak keberatan menjawabnya. Gerak-geriknya pun tidak sekaku saat ia berinteraksi dengan orang lain, senyumnya terpancar dari sudut bibirnya. Padahal masih baru pertama kali jumpa tetapi ia sudah merasa nyaman seperti ini, semoga Artha mau menjadi temannya.


Suara dentingan lift menghentikan obrolan keduanya, Eshar mengajari tutorial memakai lift yang membuat mereka semakin dekat.


Tubuh mereka keluar dari pintu besi itu, dengan raut wajah yang ceria dan senyum keduanya. Tanpa mereka sadari, ada sesosok murid cowok yang sudah berpakain kostum basket kebetulan lewat tanpa sengaja melihat pemandangan itu.


"Eshar!" Garrick mencengkram bola basket yang ditangannya, menatap tidak suka dengan wajah ceria Artha saat berjalan bersama Eshar keluar dari lift.


"Jaga emosi lo, Rick. Itu bisa menganggu permainan lo di lapangan!" peringat Skyler tegas.


"Ahkk!!" Garrick melempar bola basketnya merasa kesal sendiri, berjalan meninggalkan Skyler.


Skyler memungut bola basket yang dilempar Garrick tadi. "Hehh, semoga pertandimgan nanti tidak terjadi apa-apa. Ck! Sepertinya Garrick udah ada rasa sama si Artha," gumamnya sendiri menggelengkan kepala.


"Garr-loh. Garrick mana?" Ashira sudah datang baru saja membeli minuman dari kantin hendak memberikannya pada Garrick.


Skyler berdehem merapikan rambutnya, tersenyum manis pada cewek yang disukainya. "Udah duluan pergi ke lapangan," jawabnya asal.


Ashira cemberut. "Terus minumannya ini?"


"Sama gua aja, sini." Skyler mengulurkan tangannya seraya mengedipkan matanya menggoda Ashira.


"Enggak! Ini untuk Garrick, bukan lo! Beli sendiri sanna!" hardiknya ketus. Sudah berlalu sambil mengomel meninggalkan Skyler.

__ADS_1


"Ditinggal lagi. Enak banget jadi Garrick disukai cewek-cewek, Ashira juga. Ck, hah!! Sepertinya gue harus berguru sama Garrick, minta mantra! Siapa tahu Ashira bisa suka sama gue, enggak ngejar Garrick lagi. Ashira suka sama Garrick, tapi Garrick enggak suka balik. Gue yang suka sama Ashira, tapi justru Ashira enggak suka sama gue. Nasib,,nasib!!"


👇👇👇


__ADS_2