Anak-Anak Sultan

Anak-Anak Sultan
Tentang Olimpiade Part 2


__ADS_3

Terhasut hal buruk akhirnya Ashira menangguk setuju dengan rencana yang dibisikan Fana padanya, Otha hanya menurut saja dan bertugas mengajak ke dua teman yang lainnya untuk melancarkan rencana liciknya.


"Baguss! Untung ada orang-orang ini yang bisa gue kambing hitamkan untuk ngancurin si Artha, jadi tangan gue bersih kalau pun nanti rencana ini berhasil, biar cecenguk yang nanggung sendirian. Artha, lo harusnya tahu diri, hanya gue yang pantas untuk Garrick! Hanya Guee!"


Tanpa mereka sadari ada yang mencuri dengar semua itu bersembunyi di belakang, Tara mengesah kasar lagi dan lagi itu Fana.


"Lo mau ngapain, Tar? Ashira nggak akan mau percaya sama apa pun yang lo bilang nanti, dia udah geddek banget sama lo."


"Iya, Tar. Biarin ajalah itu urusan mereka, lo nggak usah ikut-ikutan. Mending kita lanjut makan ke kantin aja!"


Tara tidak mampu berbuat apa lagi, langkahnya mengikuti Jesslyn dan Ayoola menuju kantin. Mungkin benar apa yang dikatakan temannya ini, lebih baik dia tidak ikut campur untuk saat ini.


Bel masuk tetapi Artha belum duduk di bangkunya, guru mendengus kasar melihat betapa tidak pedulinya kelas ini pada sosok Artha, menjawab acuh saat ditanya di mana Artha.


Sepanjang guru menjelaskan di depan, Ashira duduk gelisah tidak konsentrasi. Baru kali ini ia melakukan kejahatan pada orang lain, ada rasa panik takut dan bersalah meninggalkan Artha di lab.


Sampai guru bertanya padanya pun, Ashiraa tidak bisa menjawab karena tidak mendengarkan penjelasan yang tadi. Semua mata berharap padanya untuk menjawab agar menyelematkan kelasnya dari hukuman bersama, jawaban ke tiga kalinya tetap salah dan berujung kelas ini diberikan hukuman meringkas satu bab dan mengerjakan soal-soal akhir bab dikerjakan dalam dua hari ke depan.


Seruan decakan dan olokan membuat Ashira menunduk merasa bersalah.


.


.


.


Fana dan Otha sudah pulang duluan tanpa berniat menunggu Ashira, duduk di depan ruang perpustakaan tempat mereka latihan menunggu waktu mulai. Duduk menyendiri seraya membolak-balikkan bukunya padahal tidak dibaca, ada rasa nyeri di hatinya sahabat-sahabatnya tidak ada saat lagi butuh dukungan dari mereka.


"Ouuhhh, ada yang lagi syyedih nih guyys!" Tiba-tiba Jaya dan Skyler datang menghampiri Ashira mengagetkannya.


"Gue duduk di samping cewek cantik, nggakpapa kali ya." Skyler tanpa izin sudah duduk di samping kanan Ashira. "Selamat siang menjelang sore, Ashira."


Tidak menjawab lalu membuang pandang, wajahnya kesal Jaya juga duduk di sebelah kirinya. Mau pergi tapi cepat Skyler menahannya memaksa duduk kembali, "Mau kemana? Pintunya aja belum dibuka sama Pak Erlan."

__ADS_1


Ashira mendengus kasar, mulutnya malas mengeluarkan suara menanggapi Skyler.


"Ih, diem baek. Sariawan lo neng? Eh, betewe nih ya. Tadi gue lihat si Fana sama si Otha udah pulang duluan tuh, tapi mobilnya bukan ke arah jalan pulang. Kira-kira mereka mau kemana tuh, nggak ngajak bestienya. Ahhk, untung itu bukan my bestie," ucap Jaya menyindir.


"Enggak ada bestie nggakpapa, kan ada gue Skyler!! Siapp memberi semangat! Mendukung! Da-"


"Ccukkupp!! Gue nggak butuh ocehan kalian ber dua, mending lo diam! Suara kalian berdua jadi bikin moood gue rusakk!" raung Ashira emosi.


Perdebatan mereka berhenti, Radiv datang melerai dan memberikan minuman segar untuk teman-temannya. Dengan canggung Ashira menerima pemberian Radiv, abangnya tahu rasa favoritnya.


"Mau lo peduli atau enggak, gue selalu di sini dukung lo. Semangat ya," ucap Radiv tersenyum tulus pada kembarannya ini.


Ya. Radiv tidak jadi menemani Tara siang ini, lebih memilih melihat adiknya latihan terakhir di sini.


Meja perpustakaan sudah terisi semua, tinggal menunggu ke tiga orang lagi yang belum datang. Pintu diketuk, mengalih pada ke tiga orang itu masuk dan Ashira terbelalak ada Artha di antara mereka.


"Selow kawan, aku tetap ikut olimpiade ini. Jangan panik gitu lah, ketahuan tahu," bisik Artha menyindir Ashira.


Kedua tangan Ashira saling meremas merasa terancam di samping Artha, nyalinya ciut sendiri di sini.


Semua buku-buku yang menyangkut olimpiade sudah dikumpul ke meja salah satu pembimbing, soal latihan pengerjaan juga sudah dibagi ke setiap meja.


Untuk pengerjaan soal secara tulisan akan berlangsung selama 20 menit dengan 10 soal isian, semua berjalan lancar dan tiap team sudah mengumpulkan ke depan.


Waktu guru mata pelajaran memeriksa selama 10 menit, dan para murid juga seraya mempersiapkan diri untuk latihan soal lisan nanti. Tidak lupa untuk mencqbut no.or siapa team mata pelajaran yang lebih dulu maju.


Semuanya nilai sudah sempurna, tepuk tangan meriah memberi tanda semangat untuk melanjutkan latihan.


Team AshiraArtha terpilih menjadi nomor terakhir maju untuk sesi lisan, ini sangat menguntungkan Artha sejenak mengistirahatkan otaknya. Rasanya sangat seru sekali menyaksilan team yang sedang di depan sana, menjawab soal lisan dalam waktu yang singkat dan harus benar pula. Apa nanti ia bisa ya?


Ahhhkk! Pesona Garrick benar-benar memikat saat suara teganya menjawab pertanyaan dari guru, Artha tersenyum manis mengacungkan jempol pada Garrick. Pandangan keduanya bertemu membuat Garrick semakin nge-jreng otaknya.


Tak sadarkah mereka ada dua orang yang menahan cemburu?! Ashira mengepal pulpen di tangannya, mengigit bibir bawahnya merasa kesal. Eshar yang kebetulan mendapat tugas untuk membantu-bantu guru di sini juga tak luput menahan napas ada rasa tidak suka di hatinya.

__ADS_1


Waktunya giliran AshiraArtha maju ke depan untuk menjawab soal lisan, duduk bermpingan bersiap diri seraya menghela napasnya pelan.


Ke dua-duanya bergantian menjawab soal dengan benar dan cepat, team ini terlihat lebih menegangkan dari team mata pelajaran yang lainnya. Namun tiba-tiba ada sesuatu yang menghentikan mulut Artha saat sedang menjawab soal selanjutnya.


"Dari mana kamu mendapatkan buku contekan ini Artha?"


Itu buku sele-selenya, kenapa berganti jadi buku contekan soal yang sedang mereka latihankan sekarang ini? Namun jawaban jujurnya tidak diterima guru.


"Ternyata kepintaran kamu palsu, dan sekolah tidak habis pikir ada murid yang sepicik kamu memalsukan data nilai. Berapa uang yang dihabiskan orang tuamu untuk menyogok kamu masuk ke sekolah ini? Oh, atau jangan-jangan anggota keluarga kamu sudah bertindak sesuatu makanya kamu dapat beasiswa di sekolah ini. Hah, lancang juga caramu itu!"


"Kamu sudah melakukan kecurangan, maka kamu akan dicoret dari daftar peserta dan akan digantikan oleh peserta cadangan!"


Tidak boleh terjadi! Dengan kasar merebut buku dari guru yang berteriak padanya ini dan kenapa juga guru ini seperti menahan tarikan tangannya, membuka lembaran demi lembaran buku tulis ini. Bibirnya tersenyum tipis mengangguk kecil. "Sebelum ibu membatalkan saya, ada baiknya membandingkan tulisan yang ada di buku ini dan tulisan yang ada di lembaran jawaban yang tadi. Silakan Ibu Derika yang terhormat!"


Derika pias.


Guru yang satunya menunjukkan kertas jawaban milik Artha, ia kedua tulisan ini hampir mirip tapi ada beberapa huruf yang membedakannya.


"Bisa saja ini pembelaan kamu Artha! Sekarang coba kamu jawab, kenapa bisa isi buku tulis mu ini sama persis dengan soal-soal yang kita kerjakan sekarang!" Bu Derika masih bersikeras.


"Kenapa buku itu bisa ada di tasku, saua tidak tahu, Bu. Saya tidak mungkin sebodoh ini sampai berani membawa buku contekan dan mengumpulkannya pada ibu, saya tidak merasa mempunya buku tulis ini meskipun ada nama saya tertulis di sampulnya."


Semua tersihir dengan keberanian Arta membela dirinya di depan Bu Derika, padahal tadi mereka sudah hampir percaya tentang contekan ini.


"Baiklah begini saja. Kita akan menguji soal lainnya untuk Artha pribadi secara lisan, aturan mainnya masih sama." Putus Pak Erlan memberi usulan.


"Saya Siap!" Dengan lantang Artha berucap.


Tepuk tangan kembali bergema Artha berhasil menjawab sebanyak lima soal spontan dengan cara main yang sama, dirinya mampu membungkam mulut Bu Derika yang menyudutkannya tadi.


Masalah buku contekan itu sudah tidak dihiraukan lagi, sekarang giliran Derika yang panik karena buku tulis itu justru dibawa Pak Erlan untuk ditindak lanjuti.


Ini sangat janggal. Kenapa Bu Derika bisa ikut masuk dan menjadi guru penilai di sini? Padahal jelas Bu Derika tidak ada sangkut pautnya, meskipun Bu Derika sudah bilang bahwa ia datang atas perintah kepala sekolah lewat telepon pribadi bukan melalui pihak sekretaris karena ia juga turut andil di sini walau pun hanya sekedar mem-printer dan menggandakan kertas soal. Alasannya kurang tepat, sepertinya ada sesuatu. Eshar harus mencari tahu ini.

__ADS_1


👇👇👇


__ADS_2